Flower On The River

Flower On The River
Keinginan 2



Pandangan matanya membuatku tidak nyaman, gerakannya membuatku ingin segera menjauh dari pria bermata biru ini, rahangnya yang kuat dan bibirnya menipis melihatku mundur beberapa langkah, dia menjilati bibirnya seakan aku membuatnya kelaparan, mataku memutar mencari cara melarikan diri darinya tanpa diketahui atau membuat keributan.


'Klak.....'.


Suara itu membuat dokter max dan aku berbalik ke jendela besar di dekat meja makan, sepertinya suara itu berasal dari luar jendela.


"Kau sudah selesai Ruzy?" sebuah suara dari arah pintu membuatku bernapas lega, Joan menatapku yang kebingungan, aku berhutang terima kasih pada joan, Aku..aku sudah selesai." Dengan langkah gesit aku berjalan dengan beberapa peralatan makanan di tanganku.


Aku mendengarnya mendesis, sikapnya berubah ketika dia melihat joan, kembali kepada sikap kepura-puraannya yang baik hati dan di kagumi banyak orang di rumah besar itu.


Aku mengambil napas panjang memijat dahiku karena begitu tegangnya. Aku mencibir menatap Joan yang menatap kagum pada pria itu, andai dia tahu siapa max, hah tak tahulah, baik buruknya dokter max mungkin masih dipujanya oleh Joan, tapi aku begitu tidak peduli, setidaknya aku harus menjauh dari pria itu. Aku tahu dia berfantasi liar tentang diriku.


Membantu bibi didapur membuatku melupakan dokter itu. kupijit sedikit pundakku dan menepuk-nepuknya. Aku mengambil beberapa peralatan dapur, aku hendak mencucinya di luar ruangan dapur, saat aku berjalan beberapa langkah, sesuatu menyambar pinggangku dan menarik diriku paksa mengikuti tubuhnya, aku mencoba bersuara tapi suaraku teredam oleh tangan besarnya.


Aku menghentakkan kakiku, mencoba segala upaya meloloskan diri, tapi sia-sia tangannya sangat kuat di perutku.


"Sstt Ruzy sayang, jangan banyak bergerak atau aku akan menyakitimu." Aku berhenti meronta lalu mengikuti arahan tangannya yang membalikkan diriku menatapnya. Mata biru itu lagi, menatap lapar diriku.


"Lepaskan aku dokter max, apa yang kau lakukan." Aku mendorongnya keras tapi dia menangkap kedua tanganku lalu membawanya ke atas pohon dan menahannya di sana.


"Jangan meronta sayang, atau kau akan menyakiti dirimu sendiri."


Dia melengkungkan bibirnya, aku mengeluh karena tanganku sakit di tekannya di pepohonan yang kasar. "Sudah kubilang jangan bergerak Ruzy." Bentaknya.


"Lepaskan aku brengsek!" mataku menyala menatapnya, dia terkekeh dengan kemarahanku.


"Aku menyukai dengan kemarahanmu ruzy, membuatku ingin membungkam bibir cantikmu itu di bibirku." Suaranya serak berbahaya, Sinar matanya terpantul dari balik sungai dengan rembulan yang menyinarinya.


Beberapa lama dia menatapku, aku memalingkan wajahku darinya, lalu bibirnya menyambar bibirku dengan kasar. Aku terkejut dengan serangannya, dia sangat kasar, bibirku sangat sakit, dia mencoba membuka bibirku, tapi dengan mata terpejam aku menutup rapat bibirku, Suara napas kasarnya membuatku ketakutan, tangannya mulai bermain di tubuhku, dia mengelus perutku, aku sedikit berjengit lalu serangan brutalnya membuatnya berhasil membuka bibirku, dia tersenyum miring dan menciumku untuk beberapa lama, aku mengeluh kesakitan, dan terisak dia melepaskan bibirnya dariku, matanya menatapku lalu mengecup lembut bibirku kembali.


"Jika Alex bisa memilikimu ruzy, begitupun aku, kau tahu sayang, air matamu hanya ingin membuatku berbuat kasar padamu, dan membuatku ingin melakukan lebih".


"Saran untukmu ruzy.. berusahalah menghindariku, karena aku tidak akan membuatnya lebih mudah seperti malam ini."


Dia tersenyum miring lalu berbalik pergi, aku membeku di tempatku, merasakan angin malam menyergapku, bibirku terasa perih.


Dadaku bergemuruh, marah, ketakutan dan benci menjadi satu, aku membenci mereka para pria kaya tampan, mereka bencana bagiku.


Aku memeluk diriku di kamar tidur menyandarkan diriku di dinding tempat tidur, ingatan akan kampung halamanku membuatku sangat merindukannya, aku menutup wajahku dengan kedua tanganku, dan merasakan bibirku bengkak karena serangan dokter max..


@


Angin malam terasa menusuk-nusuk punggungnya, menolehkan wajahnya kekiri dan kanan, berjalan cepat menembus hutan di malam berkabut itu, wajah bengisnya mulai mencari mangsa, sesuatu menarik perhatiannya, dua insan sedang bergelut di keremangan malam, suara isakan dari seorang wanita membuatnya berhenti, berjalan perlahan dan mengintip mereka.


Wajah bekunya menatap ruzy yang berjengit dan terisak karena serangan pria di hadapannya yang menciumnya untuk beberapa lama, perasaan tidak suka bergelayut di dadanya.


" Dokter sialan itu....haha dia binatang juga."


suara asing terdengar dari mulutnya, seperti bunyi kawat beradu dengan giginya, klak klak. tangannya mencakar pohon, dan suara asing itu terdengar lagi dari mulutnya klak..klak..


Dokter max berbalik sedikit mengernyitkan matanya memandang di kedalaman hutan mencari sumber suara.


Kilatan matanya dari kejauhan membuat dokter max melepaskan ruzy, dengan cepat mengecup tangannya dan mencari suara aneh itu dan sinar mata seseorang dari kejauhan. Kekehannya membuat dokter max berbalik.


"Halo, aku tahu kau ada di sana, keluarlah sebelum aku memanggil seluruh penghuni rumah."


"Klak klak, hehe." Kekehannya membuat dokter max mengambil sebatang pohon yang mirip pemukul bisbol sebagai senjata untuk menamengi dirinya.


"Keluar kau brengsek, jangan sembunyi seperti pengecut." Teriaknya, peluh membasahi wajah dokter max, malam itu angin cukup kencang, pepohonan yang bergoyang menambah keseraman di hutan itu.


'Klak..klak....klak'. Suara itu membuat dokter max memutari tempatnya berdiri. 'Klak...hehe'. Suaranya kini semakin menjauh, kegelapan dan desiran angin membuat dokter max meninggalkan hutan dan segera kembali ke kediaman Collagher.