Flower On The River

Flower On The River
Percintaan Alex 2



Badannya terasa panas, tubuhnya seperti menggigil, ruzy merasa demam telah menyerangnya. Dia menghapus peluh di pelipisnya, dia mengibaskan kain-kain panjang itu lalu menjemurnya di terik mentari, masih banyak lagi yang harus di kerjakannya.


Ruzy duduk sebentar di depan sungai yang mengalir, menghilangkan sedikit penat yang menyergapnya. Tanpa disadarinya kain itu terlepas begitu saja dari tangannya, ruzy terkejut kain itu hanyut dibawa aliran sungai yang cukup deras, wajah cantiknya begitu panik, dia mengikuti kain yang dibawa air di sungai itu.


"Bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan"? Terdengar percikan air, seseorang telah turun di sungai itu, ruzy berbalik dan menatap Nick yang tubuhnya basah karena mengambil kain ruzy yang hanyut .


"Tuan Nick? Ruzy terkejut menatapnya, rambutnya yang pirang kecoklatan terlihat basah, seluruh pakaiannya sudah melekat basah ditubuhnya. Dia menyentakkan rambutnya yang basah kebelakang.


"Nona ceroboh, sepertinya kau melepaskan sesuatu di sungai", senyumnya.


"Apa yang kau lakukan nick?" dua orang pria turun dari kudanya, memegang tali tunggangannya, lalu berjalan mendekati ruzy.


"Apa yang terjadi dan kenapa kau basah Nick?" tanya Alex dengan tatapan tidak suka.


"Kainnya terbawa air sungai Alex." jelas Nick yang memberikan kain yang diambilnya dari sungai ke Ruzy.


"Oh ya, beruntung sekali." Kata Alex memandang ruzy dengan menaikkan satu alisnya.


Nick tertawa lalu menggeleng, "Apa yang kau keluhkan alex, kau mau ruzy melompat kedalam sungai yang cukup deras itu?" Wajah Alex sedikit tenang.


"tidak, Tentu saja tidak." Alex memandang ruzy dengan pakaian pelayannya yang sering kali dipakainya, kain yang basah itu menetes-netes di roknya.


"Sebaiknya kau segera mengganti pakaianmu ruzy, bajumu menjadi basah." Tanpa menatapnya dia pergi bersama nick dan Ricky. Ruzy memandang Alex dengan segala pikiran yang ada dibenaknya, ada apa dengannya? mengapa tiba-tiba dia berubah menjadi dingin padaku? Apa karena aku bicara dengan nick? atau karena pakaian pelayanku ini?


Ruzy menggelengkan kepalanya, berpikir keras membuat kepalanya bertambah sakit dan berat.


"Kau kenapa Alex? Kenapa sikapmu tiba-tiba berubah?" tanya nick sambil menyesap kopinya di taman, alex menyilangkan kakinya lalu menghembuskan napasnya.


"Entah, aku juga tak tahu mengapa aku seperti ini." Matanya menerawang menatap langit-langit.


"Apa yang kau keluhkan bung!" tanya Ricky. Dia bersedekap mengambil napas panjang, "Aku seperti tersadar, melihatnya berpakaian seperti itu.....dia seorang pelayan."


"Apa maksudmu Alex?" Mata nick menyala memandang alex yang lagi-lagi menatap langit-langit. "Apa sekarang kau menyadari status tidak?" kata nick jelas.


Alex memandangnya, sedikit kerutan terukir di pelipisnya, "Ya...selama ini aku bertemu dengan Ruzy aku.....ya kalian tahu semua, aku menyerangnya, jadi sedikit sekali perbincangan diantara kami."


Nick melengkungkan bibirnya. "Jadi, kini kau menyesal bersama dengannya?" tanya Nick. Alex sedikit terperanjat. "Tidak...tentu saja tidak, aku...hanya tersadar siapa ruzy, itu saja!"


Rick menggeleng lalu tersenyum mengejek, "Jadi kenapa kalau dia seorang pelayan? kau sudah tidur dengannya." Katanya dengan blak-blakan. Nick menyandarkan tubuhnya di kursi yang terbuat dari anyaman bambu itu lalu matanya melirik ke belakang taman, seseorang tengah berdiri di sana.


~


Ruzy menghapus air matanya, tapi...air matanya tidak berhenti mengalir. Kepalanya begitu sakit berdentum-dentum. Tubuhnya begitu panas. Hari ini dia sama sekali tidak menyentuh makanannya, selera makannya tiba-tiba menghilang mendengar pembicaraan mereka. Hatinya sakit... meskipun tidak bisa dipungkiri kalau memang dia seorang pelayan, tetapi mendengar langsung kata-kata alex terasa pedih, apakah perkataan bibi Emy benar?


Ruzy dengan malas berdiri dan mengganti pakaiannya, dia ke dapur dan mendapati beberapa pelayan berbisik-bisik. Dia memandang beberapa nampan yang terisi teh dan cake. Sepertinya ada tamu yang datang.


"Kau terlihat pucat ruzy." Kata Joan menatapnya, ruzy tersenyum lemah. "Sepertinya aku sedikit demam, dimana bibi emy?" tanyanya.


Bibi Emy kembali dengan wajah masam, sedikit membanting nampan di atas meja, wajahnya seperti marah, lalu tiba-tiba dia menarik tangan ruzy. Dia menutup pintu kamarnya, bibi emy mengambil napas panjang, mulutnya menipis.


"Ruzy, apa kau sudah tahu kalau tuan Alex akan pergi ke pesta malam ini?" katanya tajam.


Ruzy menggeleng, "Aku tidak tahu bibi." Kata ruzy menunduk.


"Dia pergi dengan seorang wanita kenalan tuan Ricky yang dibawanya dari clubnya." Matanya memanas memandang ruzy, "Dan sekarang apa yang akan kau lakukan ruzy? rupanya tuan alex hanya bermain-main denganmu !"


Ruzy menyeka keringatnya, dia merasa panas di tubuhnya sudah tidak tertahankan lagi, "bibi bolehkah aku beristirahat malam ini? sepertinya aku terkena demam." kata Ruzy lemah, Bibi emy memegang kening ruzy.


"Astaga ! panasmu tinggi sekali." Dia menarik ruzy untuk berbaring di tempat tidur bibi emy, "Tidurlah di sini dan jangan kemana-mana." Ruzy kembali mengangguk.


Apa yang harus aku lakukan, aku terlanjur begitu mencintainya, dia menutup matanya menahan panas di tubuhnya, setetes air mata jatuh di pelupuk matanya.


~


"Sudah siap? tanya ricky pada mereka berdua . Wajah Alex begitu tidak tenang.


"Alex? ada apa? ayo kita pergi." Kata seorang wanita yang memegang lengannya. Tatapan Alex menangkap mata bibi ruzy yang memandangnya dengan tidak percaya, dan melihatnya mendengus.


Dia menggeram, Aku hanya pergi ke sebuah pesta, ada apa dengannya? pikir Alex. Lagi pula ini pesta partner, dan rick sudah mencarikanku partner malam ini, matanya menatap dokter max yang baru turun dari mobilnya, dengan berjalan terburu-buru dia masuk ke dalam.


"Ada yang sakit?" tanya ricky, alex hanya mengangkat bahunya. "Mungkin madam Janet, kepalanya mungkin sebentar lagi akan pecah." rutuknya.


Mereka akhirnya berada diparkiran, sebentar lagi mereka akan pergi, Alex lalu mendengar pembicaraan dua orang pelayan yang membawa nampan kosong.


"Pantas saja wajahnya pucat, bibi emy menelepon dokter max, demam ruzy sangat tinggi." Kata Joan yang mengumpulkan cangkir-cangkir kosong itu.


Wajah Alex membeku tanpa disadarinya dia hempaskan tangan wanita yang bergelayut di lengannya. dia kemudian berlari menuju kamar ruzy. Dia membuka kamar ruzy yang tidak terkunci tapi ruzy tidak ada di sana.


Suara-suara terdengar dari kamar sebelah, dan mendengar pembicaraan dua orang, alex melihat dokter max dan bibi ruzy tengah berbincang.


"Berikan obat ini ketika ruzy terbangun, sepertinya ruzy tidak makan, kondisi tubuhnya sangat lemah."


Bibi emy mengantar dokter max keluar dari kamarnya. Ruzy tidak menyadari alex berada di sampingnya, diangkatnya ruzy tanpa sepengetahuan bibi emy, dia membawa ruzy ke kamarnya. Setelah membaringkan ruzy, dia melepas tuxedonya dan segera menemui bibi'nya.


"Ruzy Sekarang bersamaku, biar aku yang merawatnya." Katanya tanpa basa-basi. Wajah bibi Emy sangat terkejut.


"Ta..tapi tuan Alex, bagaimana bisa? biar aku yang menjaganya." Satu tatapan tajam alex membuat bibi Emy terdiam dan tidak bertanya lagi. Alex meminta kompres dan obat dari dokter max agar diberikan kepadanya.


Tubuh Ruzy begitu panas, dia mengigau dalam tidurnya, "Sstt tidurlah sayang aku ada di sini." Alex berbisik padanya, dia berada di sampingnya terjaga di malam itu, mengganti kompres di kening ruzy.


Ruzy membuka matanya, menatap sekelilingnya, kamar itu nampak familiar, dia menatap sekelilingnya dan sedikit terkejut menatap alex duduk di sampingnya sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya. Alex memegang kening Ruzy, dan mengecup bibirnya. "Kau sudah bangun?" tanyanya, Dengan cepat Ruzy memalingkan wajahnya.


"Ada apa sayang? kau marah padaku?" bisiknya sambil mengambil beberapa helai rambut ruzy yang menutupi pipinya.


"Kenapa aku ada disini?" tanya ruzy tanpa memandang Alex.


"Aku yang membawamu, kau tidak suka?" bisiknya, kedua tangannya memeluk tubuh ruzy yang membelakanginya.


"Mengapa kau membawaku ke kamarmu? bukankah aku hanya seorang pelayan?" Suara ruzy teredam. Alex setengah bangun dari pelukannya ke ruzy, membalikkan tubuh Ruzy agar menatapnya, "Jadi...kau mendengarnya?maafkan aku Ruzy, Aku....


"Aku ingin kembali ke kamar bibi Emy." Bisiknya. Bibir Alex menipis dia menatap ruzy dengan tidak sabar, lalu mengambil obat yang diberikan oleh dokter max, memasukkannya kedalam mulutnya dan minum sedikit air, dengan cepat dia membuka mulut ruzy dengan bibirnya lalu meminumkannya di mulut ruzy. Genggaman tangannya begitu erat di wajah Ruzy.


Ruzy merasakan sesuatu melewati tenggorokannya, dan meneguk air langsung dari mulut Alex. Dengan napas tersengal-sengal, ruzy mencoba bangun dari tidurnya, "Kau mau kemana rumah?" kata Alex tajam. Terdengar ketukan beberapa kali di kamar Alex...


"Alex? Kau didalam? buka pintumu ibu ingin bicara sebentar padamu." Keduanya terperanjat...."Mom?" bisik Alex.