
Ruzy berdiri dihadapan jendela besar dengan mengenakan gaun pengantin berwarna putih yang begitu indah, gaun dengan bahu terbuka tanpa tali dengan potongan lengan unik seperti puff sleeves, gaun pengantin long dress lace off shoulder dengan ekor panjang dan detail renda bermotif bunga dengan panjang yang menyapu lantai. Gaun ini menampilkan pesona ruzy yang memiliki kulit seputih porselen sehingga kecantikannya begitu nampak.
gaun pengantinnya menjuntai hingga menyeret bunga- bunga yang bertebaran di lantai, dia begitu sangat cantik dan menawan, meskipun begitu sempurna kegugupan ruzy tidak bisa di tutupi, dia selalu mengambil napas panjang dan menghembusnya agar rasa gugupnya bisa berkurang.
Hari ini adalah hari bahagia bagi ruzy dan Alex, dan juga hari berbahagia bagi dua keluarga besar karena terikatnya jalinan keluarga antara Keluarga Collagher dan keluarga Chandelier, pernikahannya akan di selenggarakan sebentar lagi, tamu-tamu undangan sudah menunggu di aula besar yang telah di hias sedemikian rupa di kediaman tuan Chandelier di Pittsburgh.
Ruzy memegang bunga yang ada di kedua tangannya, tiba-tiba ingatannya kembali kepada nick yang bertemu dengannya.
Semalam begitu mengagetkan bagi ruzy, mengapa nick ada di kediamannya? apakah dia melarikan diri dari penjara? tapi anehnya ruzy tidak memberitahukan semua yang terjadi semalam kepada alex, ruzy mengingat tatapan matanya yang menyedihkan seakan-akan hatinya begitu terluka ketika memandang ruzy.
Ruzy membelakangi jendela besar ketika mendengar suara pintu yang dibuka oleh seseorang. Kakeknya tuan Chandelier membuka pintu membuatnya berbalik lalu tersenyum.
"Sudah saatnya ruzy."
Dia menggandeng cucunya membawanya kepada pria yang dicintainya.
Hari itu begitu berbahagia bagi mereka semua, keluarga Chandelier dan keluarga Collagher dipertemukan di tempat itu.
Ellena bersama ricky tersenyum senang menatap ruzy yang berjalan diiringi oleh tuan Chandelier menuju kepada alex yang berdiri di sana dengan mengenakan tuxedo sehingga alex telihat begitu tampan.
Serempak pelayan-pelayan termasuk teman-teman ruzy sewaktu bekerja di kediaman Collagher menatap Ruzy dengan mulut ternganga.
"Ru..Ruzy bukankah itu ruzy??"
teriak Jessy kepada Joan yang menutup mulutnya karena suaranya yang berisik, meskipun begitu Joan juga terbelalak menatap wanita cantik yang berjalan dengan begitu cantik dan anggun.
"Bukankah tuan Alex akan menikah dengan cucu tuan Chandelier??" teriak Jessy lagi.
"Ruzy adalah cucu dari tuan Chandelier", Ellena nimbrung menjawab pertanyaan Jessy yang kembali terkejut begitupun pelayan-pelayan yang ada di sana.
Ricky menatap seluruh ruangan di tempat itu tetapi harapannya tentu saja mustahil nick tidak ada di sini, sebagai teman yang selalu bersamanya dia merasa bersalah, dia tidak tahu penderitaan yang dialami oleh nick. Dia kembali tersenyum selagi menatap Alex dan Ruzy yang berdiri disana berucap janji setia.
Semua mata tertuju kepada mereka berdua, mereka akhirnya resmi menjadi sepasang suami-isteri.
Mereka berdua berdansa di tengah para tamu yang menyambut kebahagiaan mereka. Semua tamu begitu berbahagia melihat mereka berdua. Mereka berdansa dengan Willy berada digendongan Alex.
"Tidak ada lagi pintu kamar yang dikunci malam ini??" bisik alex kepada ruzy di sela-sela dansanya.
"Jika kau menginginkannya, kapanpun sayang." Mereka berdua mencium Willy di pipi kiri dan kanannya.
~
Dia memakai tuxedo hitam panjang, berdiri diantara kerumunan para tamu, mata coklatnya yang terang memandang kebahagiaan diantara keduanya, sahabat dan orang yang dicintainya. Dia masih menyisakan senyum diwajahnya.
"Semoga kalian berbahagia", gumamnya. kemudian dia berbalik dan pergi, semenjak itu Nick tidak pernah muncul lagi di kehidupan Alex dan Ruzy.
~
"Biar Willy bersamaku selama kalian berbulan madu", kata tuan Chandelier.
"Tidak usah khawatir sayang, Willy aman bersama kami." Kata bibi emy menenangkan.
"Jangan nakal selama kami pergi sayang." Ucapnya.
Akhirnya mereka tiba di Colorado tujuan utamanya di telluride Colorado, mereka menginap di Madeline hotel dan residence, destinasi yang menyenangkan untuk berbulan madu karena Auberge resort itu menghadap langsung ke kota kuno dengan pemandangannya yang sangat menawan dan spektakuler.
"Kau lelah sayang?" tanya alex padanya. Dia memeluk ruzy didepan jendela kaca yang terbentang luas dihadapan mereka.
"Sangat indah bukan?" kata Ruzy menatap bangunan tua dihadapannya.
"Tentu sayang, kau sangat indah."
Bisik alex yang mulai mengecup telinga ruzy dan lehernya meninggalkan jejak-jejak basah membuat ruzy mengerang. Ruzy memutar tubuhnya memandang alex dengan mata hazelnya yang menginginkan, dia mengecup bibir Alex lalu melompat ke pelukannya.
"Kau ingin ruzy yang lembut atau ruzy yang liar?" Bisiknya di telinga Alex. Alex tersenyum miring dan mulai menggoda tubuh Ruzy dengan tangannya. "Aku menyukai keduanya Mrs Alex."
Alex melucuti seluruh pakaian ruzy hingga terjatuh dilantai begitu saja, dia mengagumi pemandangan indah wanita yang sekarang ini menjadi isterinya dan berdiri dihadapannya. Alex mengecupnya, ruzy mengerang dengan sensasi nikmat yang dirasakannya.
"Alex, jangan menahannya, aku ingin dirimu seluruhnya." Bisik ruzy yang membantu alex membuka kancing kemejanya.
"Jika kau menginginkannya sayang." Alex mulai mengecup bibirnya tanpa ampun dan memulai percintaannya dengan perlahan, sebelum alex mulai melanjutkan percintaannya tiba-tiba perut ruzy bergejolak.
"Alex? berhenti alex aku pusing."
Seru ruzy yang mulai mendorong tubuh alex.
"Ada apa sayang", kata Alex yang tidak berhenti menggerakkan tubuhnya.
"Tolong berhenti alex aku ingin muntah."
Ruzy mendorong keras tubuh alex dan berlari ke kamar mandi dia kemudian muntah-muntah, Alex segera menyusulnya dan memijit-mijit tengkuknya.
"Kau tidak enak badan?" sambil memijat tengkuknya dan mengusap punggungnya.
"Aku sangat pusing dan mual."
Kata ruzy yang mulai muntah lagi.
"Sepertinya Willy sebentar lagi akan memiliki
adik." Gumam alex di sela-sela pijatannya.
Tidak terasa bulan berganti, haripun berlalu, akhirnya mereka berdua memiliki putri kecilnya yang begitu cantik, di saat musim semi tiba di saat bunga bermekaran, keluarga kecil mereka hidup berbahagia.
~
Untaian kata 'hidup berbahagia selamanya', terlalu naif untuk dikatakan karena suatu saat perpisahan akan merenggut kebersamaan mereka meskipun hal itu terjadi dalam waktu yang sangat lama.
Tahun-tahun pun berganti dan terlewat begitu saja dengan cepat, wanita paruh baya itu duduk menatap sungai yang mengalir deras sama derasnya ketika dia masih gadis dahulu.
Mata hazelnya yang cerah masih begitu cantik, dia tersenyum menatap bunga-bunga yang bermekaran ditepi sungai itu.