Flower On The River

Flower On The River
Vol 17



Hari itu Jafier sama sekali tidak pergi kemanapun, sepanjang hari dia terus bersama dengan Alyena, menemaninya mengobrol. Mereka sedang berada di ruang nonton saling bercerita, Jafier suka dengan semua cerita Alyena, wajahnya terlihat ceria, matanya bersinar ketika menceritakan tentang desanya dan pemandangan indah di sana.


"kau merindukan teman-temanmu?" Tanyanya.


"Ya, aku rindu dengan mereka, aku ingin melihat wajah mereka."


Mereka terus berbincang sambil tertawa, Jafier seakan terhipnotis ketika bersama dengannya waktu seakan cepat bergerak, tanpa terasa mereka telah berbincang cukup lama, Jafier menutup kedua matanya mencoba beristirahat, sedangkan Alyena berada di sampingnya menatap pemandangan dari jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan indah kota Seattle. Dia lalu berbalik dan melihat pria itu menutup kedua matanya sambil meluruskan kakinya dan bersedekap.


"Paman tidur?" Alyena mengangkat satu tangannya dan menggoyangkannya di depan wajah Jafier.


Alyena mengambil ponselnya yang ada di atas meja dan mengarahkannya ke depan wajah Jafier dia memotretnya selagi jafier tertidur. Dia kemudian terkikik dan kembali memotretnya.


Alyena membaringkan kepalanya menghadap ke jafier dan menatapnya, tangannya terjulur kedepan, dia ingin memastikan bahwa jafier tertidur lelap, tiba-tiba saja tangannya di genggam erat oleh Jafier, mereka saling menatap, Jafier menarik tangan Alyena dan memeluknya ke dalam pelukannya, jantung Alyena berdetak kencang, napas Jafier terdengar keras, dia membaringkan Alyena di atas sofa dan dia menciumnya, ciuman lembut dari Jafier membuat Alyena seakan terhipnotis, dia tidak menolak ciuman itu, jantungnya berdetak kencang, merasakan bibirnya mengulum lembut bibir Alyena dengan lembut.


Jafier menarik bibirnya, mereka saling menatap, Jafier melanjutkan kembali ciumannya membuat tubuh Alyena seakan melayang, dia membalas ciuman Jafier, membuat jafier mengerang dan memeluk Alyena semakin erat, pertahanan Jafier hancur seketika, dia akan membuat Alyena lupa dengan kejadian yang terjadi di perpustakaan, ciuman itu semakin intens, Alyena mulai mengeluh ketika ciuman Jafier yang ahli membuat Alyena tidak bisa meraup oksigen, kedua tangannya berada di punggung Jafier, mencakar punggungnya karena ciuman Jafier yang ahli. Setelah ciuman panjang itu berlangsung dan mereka saling melepaskan pertautan mereka masing-masing, Jafier menarik dagu Alyena ke arahnya.


"Sepertinya aku tidak akan kuat lagi jika menahan-nahan diriku Alyena, semakin aku menghindar darimu, semakin kuat keinginanku untuk memilikimu." Bisik Jafier. Entah mengapa Alyena tidak menolak Jafier, apa dia sudah menyukainya tanpa disadarinya? Apa jafier yang selama ini dia dambakan?


Jafier memberikan kecupan ringan dan melihat kembali reaksi Alyena, wajahnya merona dengan warna yang cantik di kedua pipinya.


"Aku...aku menyukaimu, paman." Ucap Alyena dengan berani, Alyena menyadari perasaannya, siapa pria yang diinginkannya.


"Kau menyukaiku?" Ucap Jafier sambil tersenyum miring.


Alyena menyembunyikan wajahnya dan menolehkan ke samping tidak mau bertatapan dengan jafier.


"Mungkin." Ucapnya.


"Mungkin?"


"Aku menciummu dan kau masih mengatakan mungkin menyukaiku?" Ucap Jafier. Alyena tersenyum malu-malu, dia menolehkan wajahnya ke samping tidak tahan dengan pandangan intes pria ini.


~


Alyena duduk dikursi di balkon kamarnya, dia memeluk dirinya, lalu memegang kedua pipinya, merasakan pipinya menghangat, "Ugh memalukan sekali, aku telah mengakuinya kalau aku menyukai paman Jafier, apa yang akan dipikirkannya tentangku, kau gila Alyena, apa yang telah kau lakukan? Kak Willy akan mengamuk jika dia mengetahui ini." Ucap Alyena merasakan jantungnya berdetak kencang.


Dia membuka pintu kamarnya, lalu mengintip dari balik pintu, tidak ada seorangpun di sana, "Apa paman sedang bekerja dikantornya? Apa aku harus membuatkan minuman untuknya? Uh, tidak-tidak, nanti dia berpikir aku ingin melakukan hal yang tidak-tidak." Ucap Alyena kembali menutup pintu kamarnya.


Dia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, dia kemudian menarik selimutnya sampai menutupi dagunya, Alyena kembali terbayang dengan ciuman Jafier siang tadi, membuatnya malu tetapi dia tersenyum senang. "Apa paman, merasakan hal yang sama, seperti yang kurasakan?" Ucap Alyena.


~


Setelah makan malam tadi, Jafier sengaja menyuruh Alyena agar lebih cepat masuk ke kamarnya, dia tidak mempercayai dirinya sendiri, bisa-bisa dia akan menyerang Alyena dan kehilangan kontrol, Alyena masih sangat muda, rasa sukanya bisa menghilang tiap saat, masih banyak yang harus dia lakukan, dia harus sekolah dan menyelesaikan studynya.


Jafier menatap ruangan kosong kamarnya, dia lalu bangkit dari tempat tidurnya, lalu menuju ke balkon kamarnya dan menyalakan cerutunya. Dia menatap langit malam, lalu menghembuskan asap rokok dari mulutnya.


"Willy akan membunuhku jika dia mengetahui apa yang telah kulakukan kepada Alyena." Ucapnya.


°°°


Audrey telah datang ke Mansion, dia membawa setumpuk barang-barang setelah menghabiskan waktunya bekerja, dia sengaja berbelanja untuk Alyena.


"Alyenaaa, kakak datang." Teriak Audrey pagi itu.


"Kemana semua orang?" Dia lalu melihat Willy keluar dari kamarnya masih dengan kimono tidurnya berwarna hitam.


"Dimana Alyena? Kenapa dia tidak ada?" Tanya Audrey.


Willy lalu menjelaskan apa yang telah terjadi di mansion, dan menjelaskan kalau Alyena sekarang berada di tempat tinggal Jafier, dia akan menginap di sana sampai dia mengetahui siapa penyusupnya.


Audrey menatap kakaknya seakan pandangan matanya mengatakan bahwa dia idiot. "Apa kakak serius membawa Alyena ke tempat Jafier?" Ucap Audrey tidak percaya.


"Kakak betul-betul tidak peka, kau menempatkan Alyena ke sarang harimau setelah mengeluarkannya dari sarang singa? Aku tidak tahu siapa pria yang menyusup itu tetapi dia sama berbahayanya jika Alyena tinggal di rumah Jafier.


"A-apa maksudmu Audrey? Kau ingin bilang, Jafier sama sekali tidak bisa di percaya?" Ucap willy.


"Ukhh aku akan menjemput Alyena sekarang juga, biar aku yang menjaganya." Ucap Audrey kesal, Dia lalu mengenakan Jaketnya dan segera ke pelataran parkiran dan mengendarai mobilnya.


Audrey tahu jafier adalah teman Willy dan dia pria yang baik, tetapi jika menyangkut masalah wanita, pria itu akan menjadi mengerikan, dia adalah pria dewasa yang tahu apa yang diinginkannya dan lagi pula usianya cukup jauh dari Alyena, pria itu bisa saja lepas kendali ketika melihat kepolosan Alyena.


"Bagaimana jika dia hanya mempermainkan Alyena seperti wanita-wanita yang pernah di temuinya sebelumnya, anak itu masih belum mengetahui taring pria itu.


"Kau pikir aku akan mempercayaimu Jafier? Kau itu sama saja dengan Willy, tidak pernah cukup hanya satu wanita saja." Ucap Audrey, dia mendengus, lalu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju penthouse Jafier.


~


"Paman akan masak apa?" Tanyanya.


Jafier menoleh dan tersenyum, "Hanya sarapan simpel, kau suka sandwich kan." Ucapnya.


Alyena mengangguk dengan senang, melihatnya tersenyum manis seperti itu membuat Jafier menghentikan kegiatannya dan menarik Alyena ke dalam pelukannya, dia lalu memberikan kecupan ringan dan memegang kedua pipinya.


"Apa aku pantas mendapatkanmu? Aku terlalu beruntung dengan dirimu di sisiku Alyena." Bisik Jafier, dia mengangkat tubuh Alyena ke dalam pelukannya dan mendudukkannya di meja, sementara Alyena mengalungkan kedua tangannya ke leher Jafier. Mereka saling menatap dan tanpa menunggu lagi Jafier menciumnya, hingga tubuh Alyena jatuh kebelakang menahan berat tubuh Jafier di tubuh kecilnya.


Mereka melepaskan pertautan bibir mereka, dan saling menatap membutuhkan, "Apa yang harus aku lakukan? Aku sangat ingin membawamu sekarang juga ke tempat tidur." Bisik Jafier, membuat Alyena merona memerah di kedua pipinya hingga ke lehernya.


Alyena menarik wajah Jafier mendekat ke arahnya, dia menciumnya meskipun ciuman ringan, wajahnya semerah tomat ketika menyadari apa yang telah dilakukannya. Jafier tersenyum dan memeluk erat Alyena, hingga tubuh Alyena terlihat tenggelam berada di rengkuhannya.


"Cukup sampai di sini lovely dovey kalian, hentikan sekarang juga Jafier, sebelum Alyena terluka, aku tidak akan mengizinkannya." Ucap Audrey sambil menyilangkan kedua tangannya menatap pergelutan mereka berdua.


~


Alyena sangat terkejut, dia lalu duduk dan memperbaiki penampilan dirinya, "K-kak Audrey?" Ucap Alyena gugup juga merasa malu.


"Ambil tasmu sekarang juga, Alyena akan ikut bersamaku." tegas Audrey tanpa memalingkan wajahnya menatap tajam Jafier.


Alyena tidak menunggu dua kali untuk di suruh, dia segera berlari-lari kecil menuju ke kamarnya menuruti segala ucapan Audrey.


Sebaliknya Jafier terlihat santai saja, tanpa ada ketegangan di wajahnya. "Kau datang? aku harusnya menempatkan pengawal yang tidak mengizinkan siapapun masuk tanpa izinku." Ucapnya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan Audrey.


"Aku datang ingin menjemput ADIKKU, jadi kau tidak perlu menjaganya, Alyena lebih aman bersamaku." Ucapnya sambil mendelik kepada Jafier.


"Willy telah memberikan tanggung jawab kepadaku untuk menjaga Alyena, kau tidak bisa begitu saja membawanya Audrey." Ucap Jafier keras kepala.


Audrey tersenyum tipis, "Tch, kau dan willy sama saja, aku tidak akan mempercayai pria seperti kalian, apalagi menempatkan Alyenaku kepadamu, jangan memberitahuku bagaimana untuk bertindak, Jafier, tapi aku tahu betul bagaimana reputasimu setidaknya diantara wanita-wanita yang telah kau temui, dan bagaimana aku bisa menempatkan Alyenaku bersamamu, aku tidak segila itu untuk melakukannya."


Audrey menantang Jafier yang terlihat sangat marah. "Jika kau memikirkan kebaikan untuk masa depan Alyena, maka lepaskan dia, perjalanan anak itu masih panjang, dia tidak harus merasakan sakit hati karena laki-laki seperti kalian." Ucap Audrey memukul telak Jafier, karena semua ucapan Audrey memang benar, dia tahu dia adalah pria yang tidak bisa terikat dengan wanita manapun, tetapi kali ini berbeda, dengan Alyena ada di sampingnya membuat segalanya berbeda.


Jafier tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya berdiri dengan rahang terkatup rapat. Alyena baru saja keluar dari kamarnya dengan tas ransel di belakang punggungnya, dia terlihat cantik dengan senyum malu-malu di wajahnya.


"P-paman aku pergi." Ucap Alyena melambaikan tangannya.


Jafier tidak bisa mengolah kata-katanya dia hanya diam memandang kepergian Alyena. "Aku akan menemuimu." Ucap Jafier, matanya menantang melihat Audrey menyipitkan matanya kepada Jafier.


Pintu menutup, akhirnya mereka pergi, Jafier berdiri di depan pintunya, merasakan kekosongan dan membuatnya merasakan kehilangan, hingga dia memegang dadanya, dia kembali merasakan nyeri di dadanya.


"Aku tidak akan semudah itu menyerah Audrey, Alyena menginginkanku sama halnya aku menginginkannya, jadi tidak ada yang biaa memisahkan kami, aku tidak akan melepaskan Alyena." Ucapnya.


~


Mobil mereka melaju ke jalanan besar kota Seattle, Alyena mengintip takut-takut kepada Audrey, rambut panjangnya yang berwarna coklat terurai hingga pundaknya, dia terlihat sangat cantik. Alyenapun suatu saat ingin menjadi cantik dan dapat diandalkan seperti halnya kakaknya Audrey.


"Alyena kita akan ke kantorku dulu, setelah itu kita akan menuju ke apartemenku." Ucapnya.


"Baik kak." Ucapnya.


Audrey tidak membahas mengenai apa yang telah di lakukannya bersama Jafier, apakah dia berpikir aku gadis yang semaunya saja di sentuh oleh pria? dia lalu mematap Audrey, ingin memulai pembucaraan.


"Kak, kak Audrey mengenai tadi, aku....


"Anggap saja aku tidak melihatnya Alyena, tetapi jangan pernah memberitahu kak Willy, dia pasti akan menghajar Jafier, tetapi entahlah mungkin saja mulutku akan terlepas dan keceplosan begitu saja." Ucap Audrey tanpa menatap wajah Alyena yang terlihat terkejut.


"J-jangan memberitahu kakak Willy, please kak Audrey, aku tidak mau kak Willy menghajar paman, dan aku tidak mau merusak hubungan pertemanan mereka gara-gara aku." Ucap Alyena sambil memegang tangan Audrey.


Audrey menghembuskan napasnya. "Sepertinya kau sangat menyukai Jafier, apa yang kau suka darinya?" Tanya Audrey.


Pipi Alyena memerah, " Dia...tampan dan juga dia sangat baik kepadaku, setiap paman bersamaku jantungku berdegub kencang dan aku nyaman berada bersamanya." Ucap Alyena menjelaskan perasaannya, Pipi Alyena merona.


Audrey menepuk puncak kepala adiknya dengan lembut, "Aku tidak melarangmu menyukai siapa saja Alyena, tetapi apa kau akan siap menghadapi siapa saja yang akan datang kepadamu jika kau menginginkan pria itu?"


"Apa maksud kak Audrey?" Ucap Alyena tidak mengerti.


"Jika kau nanti telah mengenal Jafier dengan baik, maka kau akan mengetahuinya." Ucap Audrey.


Tapi apa mungkin pria petualang seperti Jafier akhirnya akan melabuhkan hatinya kepada Alyena? siapa yang tahu? tapi yang pastinya sampai dia betul-betul serius kepada Alyena, aku tidak bisa melepaskan pengawasanku terhadapnya.