Flower On The River

Flower On The River
Vol 22



Setelah dua hari kepergian Willy dan Audrey, mereka akhirnya kembali ke mansion, wajah mereka berdua puas seketika, setelah melakukan keinginannya. Mereka kembali larut malam, padahal mereka bisa mampir dulu di hotel dan beristirahat, tetapi Willy bersikeras pulang malam itu juga.


Sementara itu di mansion sosok mereka berdua saling berpelukan erat, selama kepergian Willy, Jafier selalu menemani Alyena, dia betul-betul menghabiskan waktu untuknya. Alyena tentu saja senang, tetapi hal itu membuat Alyena khawatir, telepon Jafier tidak berhenti berdering, terkadang dia belum tidur hingga larut malam karena menerima panggilan telepon yang penting.


"Paman sepertinya sibuk, apa sebaiknya paman menyelesaikan pekerjaan paman, aku tidak apa-apa sendiri di mansion." Ucap Alyena.


"Aku memang sibuk, tetapi aku bisa mengatasinya, jangan khawatir sayang, aku senang karena perhatianmu." Ucap Jafier lalu menghadiahi ciuman kilat di bibirnya. Alyena terus memandangi Jafier yang sedang bekerja hingga matanya memberat dan tidur di sampingnya. Sementara Jafier menyelimutinya dengan selimut dan kembali mengerjakan pekerjaannya. Malam sudah sangat larut, Jafier meletakkan laptopnya di atas meja dan menoleh ke arah Alyena yang tertidur pulas di sampingnya.


Dia membaringkan tubuhnya di samping Alyena dan setelah menatapnya cukup lama, diapun tertidur pulas dan merasakan ketenangan ketika dia memeluk Alyena, tubuh mereka saling menempel erat di bawah satu selimut, hanya saling berpelukan, dan itu membuat kenyamanan di wajah Jafier.


"Tch, apa ini?"


Malam itu juga mereka kembali dan hal pertama yang di lakukan oleh willy adalah memeriksa keadaan Alyena, dia membuka pintu kamar Alyena dan mendapati Jafier ada di sana masih dengan pakaian lengkap tertidur pulas dengan Alyena berada di lengan tangannya, sementra Jafier memeluknya dengan posesif.


Mata Willy seketika membelalak, ingin sekali dia berteriak tepat di pintu kamar, tetapi Audrey menariknya sekuat tenaga dan menutup pintunya.


"Apa yang kau lakukan, kau tidak lihat, Jafier berada di dalam selimut Alyena, apa dia tidak bisa memegang kata-katanya sebentar saja?" Ucap Willy dengan marah, kedua tangannya di pinggang, dia berkata seperti itu sambil memijat keningnya.


"Apa kakak tidak lihat? mereka itu hanya tidur, coba lihat sekali lagi pekerjaan Jafier ada di mana-mana, sepertinya dia mengerjakannya di kamar Alyena dan ikut tertidur di sana."


"Sudahlah kak, bagaimana kalau kakak merestui saja hubungan mereka berdua, Alyena pasti akan sangat bahagia."


Willy duduk di kursi dekat jendela dan menatap Audry yang berdiri di hadapannya. "Andaikan semudah itu Audrey, jika saja Jafier tidak memiliki masa lalu dengan wanita mengerikan itu, mungkin aku akan menyetujui hubungan mereka, apalagi sepertinya Alyena tergila-gila terhadap Jafier, tetapi kau tidak lupa kan dengan wanita bernama Cecilia Fernanz, dia wanita yang menjadi cinta matinya Jafier, ketika ada wanita yang mendekat ke Jafier, wanita mengerikan itu akan datang dan merusak hubungan mereka, setelah itu Jafier akan mengamuk dan meninggalkannya ke negara lain yang tidak bisa dia jangkau."


"Tch, wanita itu? dia itu cinta pertama Jafier yang tidak bisa dia lupakan? entah mengapa kedengarannya lucu, kalau begitu sejak awal seharusnya kakak tidak membiarkan mereka, lihat saja nanti, wanita itu akan menemui Alyena kita.


~


Pagi sekali Alyena telah terbangun, tetapi Jafier sudah tidak ada di sampingnya, semua pekerjaannya juga sudah tidak ada di kamarnya.


"Uhmm jam berapa paman pergi, aku sama sekali tidak mendengarkan kepergiannya." Alyena segera bangun dari tidurnya dan segera mandi, wangi cologne Jafier masih kental tercium di kamar Alyena. Setelah mandi dan bersiap, Alyena segera turun ke bawah, dia mendengar suara-suara dan sedikit pertengkaran dari ruangan kakaknya.


"Apa kak Willy telah kembali?" Alyena mendekati kamar yang tidak jauh dari kamarnya sendiri, pintu kamarnya sedikit terbuka, sehingga Alyena bisa mendengarkan dengan jelas setiap percakapan mereka.


"Cecilia sepertinya telah datang, Jafier, sekarang apa yang akan kau lakukan, kau berjanji akan melindungi Alyena, jika wanita itu akan menyakiti Alyena karena ketidakwarasannya sebaiknya kau hentikan dia, atau aku akan bergerak untuk melindungi Alyena.


"Jangan bicara seperti itu Willy, aku tahu apa yang harus aku lakukan untuk mengirim Cecilia, meskipun dia bersikap seperti itu, dia tidak akan menyakiti Alyena seperti halnya belinda dan aku akan memastikannya."


"Apa kau akan mastikannya dengan menemuinya? dan berakhir bercinta dengannya karena kau tidak mampu menolaknya? ketika itu terjadi lebih baik jangan pernah lagi menemui Alyena, jangan memberi harapan pada anak itu, kau akan membuatnya terluka."


Jafier mengatupkan rahangnya, dia sangat ingin marah tetapi semua yang diucapkan Willy memang benar dan itu membuat dirinya begitu marah.


"lebih baik aku kembali sekarang."


Willy hanya diam, dia memegang tasnya dan segera keluar dari ruangan William, Alyena yang mendengar Jafier akan keluar, dia segera berlari-lari kecil dan bersembunyi pada suatu tempat di belakang tembok. Alyena kembali mengulang nama yang di sebutkan tadi. "Cecilia? apa wanita itu begitu penting?" Ucapnya.


Setelah kepergian Jafier, Alyena turun ke lantai bawah dan menunggu yang lainnya untuk sarapan, tetapi hanya Willy saja yang keluar dari kamarnya. Dia lalu mengecup pipi Alyena dan mengacak-acak rambutnya.


"Bagaimana harimu di mansion? apa kau tidak bosan?"


"Tidak juga, ada paman di sini menemaniku, lagi pula mansion dan taman yang luas tidak membuatku bosan sama sekali kak, apalagi aku juga belajar, jadi tidak akan membosankan."


Willy terkekeh, dia merasa lucu dengan apa yang di dengarnya dari Alyena.


"Kakak tertawa?" tanyanya heran.


"Aku tertawa karena kau begitu berbeda dengan Audrey, kau bilang kau tidak akan bosan karena belajar? jika Audrey mendengarnya dia akan mendengus dan mengatakan kau gila, gadis itu selama sekolah dia hanya hangout bersama genk-genk nakalnya dan nongkrong di berbagai tempat, dia juga kadang berkelahi, biasanya beberapa bulan sekali, aku di panggil pihak sekolah karena kenakalannya." Ucap Willy sambil mengenang memori itu.


Alyena hanya tersenyum tipis mendengarnya, tentu saja dia berbeda dengan Audrey yang cantik dan hebat. bagaimana dia bisa membandingkanku dengan kak Audrey, aku suka belajar, mengenal berbagai ilmu yang sebelumnya tidak kuketahui, belajar banyak hal dan membaca banyak buku, aku menyadarinya ketika aku putus sekolah dan tidak bisa melanjutkan sekolah karena harus bekerja di perkebunan, itulah mengapa, aku sangat bahagia jika aku mulai belajar.


"Apa kau ingin bersekolah? bukan secara privat tetapi kau bisa bertemu dengan banyak teman seusiamu, kau juga akan belajar menjalin pertemanan di antara teman-teman sekolahmu, jika kau menginginkannya, kakak akan dengan senang hati akan melakukan untukmu."


"Aku akan memikirkannya kak."


~


Ruangan itu glamour di penuhi dengan dekorasi berwarna merah dan gold yang dilengkapi dengan berbagai hasil buruan belanjaannya, dia wanita yang gila dan terobsesi dengan shopping, setibanya di Seattle, dia beristirahat sebentar, tidak lama kemudian pelayan mengetuk pintu kamarnya.


"Nyonya, saya membawakan secangkir teh untuk anda, saya akan menyimpannya di atas meja."


"Apa tidak ada telepon dari Jafier? ketika aku tiba di sini, biasanya dia akan menelepon dan memperingatiku agar tidak mengganggu hidupnya dan menjauh darinya, tapi pada akhirnya dia jatuh juga di pelukanku, selalu seperti itu, dia akan memberikan dirinya agar aku tidak melukai siapapun yang ingin di lindunginya, Haaah, aku tidak sabar menunggunya berada di pelukanku."


Wanita mengerikan


"Saya harap Tuan Jafier menyadari kedatangan anda."


Dasar nenek sihir


"Saya permisi Nyonya." Pelayan itu menundukkan kepalanya, dia sudah lama melayani nyonyanya itu, saking lamanya kadang dia suka menyatakan pikirannya dan berbicara buruk tentang majikannya.


~


"Sekolah? bertemu dengan teman-teman seusiaku? terdengar menarik, apa tidak apa-apa? baiklah, aku akan mengatakannya kepada Kak Willy." Ucap Alyena.


Kepalanya masih di penuhi wanita itu, wanita yang menjadi cinta pertama Paman Jafier, apa yang akan paman lakukan? atau apakah paman Jafier masih menyimpan perasaan kepada wanita itu?


Alyena menghembuskan napasnya, aku hanya harus menunggu dan melihat bagaimana selanjutnya kisahku dengan paman, apakah kami akan bisa bersama? Alyena segera menemui para pengajarnya dan belajar dengan serius.


~


"Selamat siang Jafier, sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat, kau sibuk sekali." Wanita itu berdiri dengan gayanya yang glamour, kacamata hitamnya masih bertengger di hidungnya, dia menatap Jafier sambil tersenyum manis. Stilettonya menghentak terdengar di kantornya.


"Aku tidak heran kalau kau datang, apa yang kau inginkan, Cecilia? apa kau tidak bosan selalu seperti itu, aku sibuk jadi sebaiknya kau pergi." Jafier tidak menatapnya, dia hanya berbicara sambil lalu tidak memperdulikan dengan keberadaannya.


"Hemm, seperti biasa kau mengacuhkanku, tetapi lihat saja pada akhirnya kau akan menenangkanku dengan kembali kepadaku, dan aku tidak akan membiarkan kau berakhir bersama wanita manapun."


Jafier melengkungkan senyumnya, mendengarnya seperti itu membuatnya menyadari bahwa selama ini dia membuang-buang waktunya hanya demi perempuan gila ini. Dia menggelengkan kepalanya seakan apa yang di katakan wanita itu hanyalah angin lalu yang tidak penting baginya.


"Kudengar namanya Alyena Collagher? Ooh, jadi adik dari Willy Collagher, hemm menarik, bolehkan aku bertemu dengannya? pasti akan menyenangkan." Senyumnya sambil menundukkan tubuhnya di atas meja Jafier.


Dengan tenang Jafier menatapnya, "Oh ya, apa kau mendengar bagaimana kabar Belinda Haven?" tanyanya tiba-tiba.


"Hem wanita itu? ya aku sempat mendengar kabar menyedihkan darinya, wanita yang terobsesi dengan William Collagher, akhirnya berada di tempat mengerikan yang tidak pernah dia bayangkan." Ucapnya.


"Kau tahu kenapa dia berada di sana?" tanyanya.


"Entah, aku tidak begitu terlalu peduli kepada wanita yang tidak tertarik denganmu." Ucapnya.


"Karena dia berani mengganggu adiknya, seluruh keluarganya hancur dan dia berakhir di penjara mengerikan itu entah bagaimana nasibnya sekarang." Ucap Jafier.


Wanita itu lalu tertawa terbahak, "Apa kau coba mengancamku Jafier?" Ucapnya tajam.


"Aku hanya memperingatimu, jika kau berani melayangkan satu jarimu kepada adik tersayangnya, kau akan lihat bagaimana kau akan berakhir, Cecilia, dan Willy tidak akan pernah perduli siapa kau, dan pada saat itu aku mungkin hanya bisa melihatmu saja, jadi pikirkan itu semua di kepala kecilmu itu sebelum bertindak atau kau akan menyesalinya."


Ucapan Jafier menyulut api kemarahan Cecilia, dia merasa di remehkan, "Aku berbeda dengan Wanita j4lang itu, aku memiliki kekuatan yang mampu melawan keluarga Collagher." Ucapnya jengkel.


"Kalau begitu selamat mencoba, aku tidak akan ikut campur lagi urusanmu, tapi kau harus ingat, bukan hanya Willy saja yang kau hadapi, kau juga akan menghadapiku jika kau berani melakukan sesuatu kepada Alyenaku." Ucap Jafier tajam.


"A-apa? Alyenaku? Jafier kau tidak bercanda kan, kau tidak melihatku? aku ada di sini, aku cinta pertamamu, apa kau sudah lupa? bagaimana kerasnya kau menginginkanku? bagaimana kita menikmati waktu kebersamaan kita dulu." Ucapnya sambil memegang meja Jafier dengan kedua tangannya.


Jafier menghembuskan napasnya, dia seperti bosan mendengarnya, "Apa kau sudah lupa, kau itu masa lalu yang sudah lama kulupakan dan tidak berbekas sama sekali di ingatanku, aku bosan dengan sikapmu, sebaiknya kau pergi sebelum aku memanggil pengawalku." Ujarnya, matanya masuh terpaku pada kertas-kertas yang ada di hadapannya, tanpa melihat bagaimana wajah wanita itu telah memerah karena egonya terasa diinjak-injak.


"Kau akan menyesalinya Jafier." Gumamnya, dia lalu berjalan keluar dari ruangan kantor Jafier dengan stilettonya yang menghentak keras.


"Haah? Dia betul-betul wanita gila, apa yang telah kulakukan dulu sampai-sampai pernah menaruh hati untuk wanita seperti itu, apa aku gila." Ucap Jafier. Dia lalu membuka ponselnya dan menatap foto Alyena dan mengusapnya.


~


Hari itu, Willy meninggalkan semua pekerjaannya, dia menghabiskan waktunya semua untuk Alyena, dia mengajaknya seharian keluar berjalan-jalan, mereka berdua menghabiskan waktu di berbagai tempat di kota Seattle, saat itu dia menemani Alyena shopping apapun yang diinginkannya. Dia bahkan memposting dirinya sedang makan siang bersama Alyena dan mengirimkannya kepada Audrey dan kepada Jafier.


"Apa dia Willy? dia tampak konyol ketika bersama dengan Alyena." Ucap Audrey sambil tertawa, dia kemudian mengirimkan di ponselnya.


"Hentikan senyum konyolmu itu, perutku tiba-tiba mual melihatnya."


Audrey mengirimkannya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Jafier melihat foto yang dikirmkan Willy, dia lalu tersenyum sambil memperhatikan Alyena yang berada di belakangnya sedang tersenyum senang menikmati kebersamaannya bersama Willy. "Aku bisa saja datang, tetapi pekerjaanku tidak bisa di tunda lagi." gumamnya, sambil terus menatap foto Alyena yang tersenyum manis.


~


"Kak Willy?"


"Hem? ada apa?" Tanyanya, saat mereka sedang makan siang di salah satu restaurant di seattle.


"Aku akan mengikuti saran kak Willy, aku ingin bersekolah dan bertemu dengan teman-teman seusiaku, meskipun hanya sebentar saja, tapi aku menginginkannya." Ucap Alyena.


"Kau sudah memutuskannya?" Ucap Willy lalu menghentikan makannya.


"Ya kak, aku sudah memutuskan, sebaiknya sebelum sekolahku berakhir, setidaknya aku mengenal suasana sekolah." Ucapnya.


"Hemm, baiklah kakak akan mengaturnya."


Saat itu Alyena sangat senang mendengarnya, setelah mendengarkan keputusan Alyena, Willy segera mengaturnya. Mereka telah kembali dari jalan-jalan, Alyena tampak letih, dia membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya dan membuka-buka ponselnya.


"Apa paman sedang sibuk ya." Ucapnya. Kembali ponselnya berdering, dan nomor itu sama dengan nomor yang pernah menelponnya. Alyena segera mengangkatnya.


"Apa kabar Alyena."


Suara tenang itu membuat Alyena kembali gugup.


"Aku baik tuan...maksudku Kilian."


Terdengar suara senyuman dari pria itu. "Kau sedang apa?" tanyanya.


"Aku hanya sedang berbaring saja." Jawab Alyena.


"Apakah mungkin kita bertemu?"


"A-apa? sepertinya itu tidak mungkin, kak Willy ada di sini bersamaku." Ucapnya.


"Kalau begitu sampai jumpa Alyena, aku pastikan kita akan bertemu."


Jantung Alyena berdetak kencang, dia tidak ingin menemui pria itu, dan dia akan coba menghindarinya, tapi apakah itu mungkin?