
Alyena sedang berendam di bathub, merasakan segala kepenatannya menghilang ketika tubuhnya berendam di air hangat. "Aku pergi begitu saja, haah aku tidak mau merasakan perasaan itu lagi, ketakutan dan merasa terperangkap, mungkin sekarang ini tuan Regan sedang mencariku." Ucap Alyena sambil memainkan busa di tangannya, "ugh aku tidak mau memikirkannya, yang terpenting aku sudah menemukan kak Willy dan kak Audrey."
~
"Apa kau bilang? Alyena meneleponmu? Jafier, kau serius, di mana dia sekarang?"
"Tenanglah, sekarang Alyena ada bersamaku, sekarang dia sedang beristirahat."
"Kenapa dia datang ke Seattle?"
"Dia datang ke Seattle untuk mencarimu, sejak dulu dia ingin mencari kalian berdua, tapi baru sekarang dia melakukannya."
"Benarkah? Aku akan segera menghubungi Audrey agar dia menjumput Alyena di penthousemu." Ucap Willy dengan suara tergesa-gesa.
"Sebaiknya, kalian berdua yang datang menjemputnya, dia pasti sangat senang jika dia melihat kakak-kakaknya menjemputnya."
"Hmm, kau benar, baiklah jafier, jaga Alyena baik-baik, jangan biarkan dia kemana-mana, dan satu hal lagi, jaga jarak dengannya, jangan mengobrol terlalu dekat dengan Alyena, aku nanti akan bertanya kepada Alyena jika saja kau melakukan sesuatu yang aneh kepadanya." Ucapan Willy terdengar serius memperingati.
"Aku tidak bisa menjaminnya Willy, Alyena lebih nyaman bersamaku, kami sudah semakin dekat dan akrab, berbeda denganmu, Tch kau pikir aku apa Willy? tentu saja aku akan menjaganya."
"Hei, Jafier !"
Jafier segera memutuskan sambungan teleponnya, dia tertawa mendengar suara Willy yang panik. "Dia sudah menjadi kakak yang protektif padahal dia belum pernah bertemua dengan Alyena." gumamnya.
Jafier keluar dari ruangannya dan mengetuk pintu kamar Alyena, tidak lama kemudian Alyena membuka pintunya, dia terlihat sangat cantik mengenakan baju yang di sediakan jafier untuknya, dress panjang mencapai lutut berwarna biru dengan motif bunga di pinggirannya.
"Kita makan siang, kau pasti lapar." Ucap Jafier membawa Alyena ke meja makan dan menarik kursi untuknya. Makanan lezat tersedia di atasnya, segala macam pilihan pun sengaja di pesan oleh Jafier, agar Alyena dapat memilih makanan mana yang ingin di santapnya.
"Kau suka?" Tanyanya.
"Tentu, aku menyukai semuanya, terima kasih paman." Ucap Alyena sambil tersenyum, dia mulai menyendokkan makanan ke mulutnya.
Wajah tersenyum Alyena yang terlihat cantik alami membuat Jafier dengan cepat memalingkan wajahnya, dia takut terlena dengan senyuman indah itu, dia terus mengulang di memorinya bahwa Alyena usianya masih sangat muda, usia mereka pun terlampau jauh, dan dia adik dari Willy, dia harus membuat Alyena merasa aman dan nyaman bersamanya, dia harus membuat Alyena yakin bahwa dia sama seperti Willy kakaknya, yang akan melindunginya seperti seorang kakak terhadap adiknya.
"Alyena, boleh aku bertanya?" Tanya Jafier.
Dia mengangguk sambil mengunyah makanan yang baru saja di masukkan di mulutnya. "Apa saja paman, aku akan menjawabnya." Ucap Alyena.
"Apa yang terjadi antara kau dengan Kilian Regan, sepertinya kau takut sekali dengannya." Ucap Jafier memandangnya dengan wajah serius seakan memindai segala gerakan Alyena, dia menuntut jawaban dari Alyena.
Alyena terdiam, dia sedikit tertunduk, tangannya mengepal kuat, "T-tuan Regan? Kenapa paman bertanyan seperti itu? Kenapa aku takut kepadanya, aku baik-baik saja." Ucap Alyena memaksakan senyum dari bibirnya. Senyum getir yang terlihat dari wajahnya.
"Jangan berbohong, katakan semuanya kepadaku, apa yang telah pria itu lakukan kepadamu, apa dia menyakitimu?" Tanyanya, tanpa sadar tangannya mengepal keras.
Alyena tertunduk. "Jangan memberitahu kak William, aku tidak mau pertemuan awal kami sudah membuatkan masalah untuknya, aku tidak mau itu." Ucap Alyena masih sambil menunduk.
Jafier berdiri dan memutari meja makan, dia menarik kursi dan duduk tepat di samping Alyena. "Kalau begitu katakan kepadaku, apa yang sebenarnya terjadi, jika kau tidak memberitahuku, aku bisa mencari tahu sendiri, dan aku pasti akan mendapatkan semua informasi yang aku inginkan, jadi Alyena katakan padaku, jangan menunduk."
Jafier menarik dagu Alyena agar dia menatap wajahnya.
Dengan ragu Alyena, mengangkat wajahnya lalu menatap mata indah itu balas menatapnya, dengan senyuman menenangkan.
"Erm, itu...tuan Regan menciumku." Jawab Alyena, dia begitu malu untuk menjawab pertanyaannya, dia lalu memalingkan wajahnya ke samping.
"Mencium? Berapa kali?" Tanyanya lugas.
Pertanyaan itu semakin membuat Alyena semakin memalingkan wajahnya, pipinya nampak bersemu merah. Jafier menarik dagu Alyena, "katakan kepadaku dia menciummu berapa kali semenjak kami berangkat malam itu." Ucapnya, rahangnya bergerak-gerak tajam matanya seakan menembus manik mata Alyena, napasnya terdengar berat.
"D-dua kali." Jawab Alyena.
"B-berhenti bertanya lagi, aku tidak mau mengingatnya, dan paman harus menepati janji paman, jangan memberitahu kak William, aku tidak mau pertemuan kami yang pertama kali menjadi buruk karena aku telah membuat masalah." Ucap Alyena sambil menatap jafier dengan memohon.
Jafier menatap tajam kepada Alyena, mereka sangat dekat, hingga tidak ada jarak di antara mereka berdua. Jafier menarik Alyena dan memeluknya erat. Dia mengelus rambut panjangnya dan menariknya semakin mendekat ke tubuhnya.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhmu lagi, aku berjanji." Ucap jafier, dia semakin memeluknya erat, dia menurunkan kepalanya hingga bibirnya jatuh ke pundak Alyena, tanpa jafier sadari dia menghirupnya memasukkan kepalanya ke leher jenjang Alyena memberikan satu kecupan ringan yang begitu lembut.
"P-paman? Apa yang kau lakukan?" Ucap Alyena mencoba mendorong tubuh pria itu, tubuh besarnya sanggup menutupi seluruh tubuh Alyena.
Dengan cepat Jafier melepaskan pelukannya, dia terkejut dengan perbuatannya sendiri, mereka saling menatap, "Kau baik-baik saja paman? Sepertinya kau terlihat sakit?" Ucap Alyena, tangannya berada di kening pria itu.
"Tidak panas koq, kenapa wajah paman menjadi merah, apalagi telinga paman." Ucap Alyena sedang berpikir.
"Ehhm, sebaiknya kau beristirahat di kamarmu Alyena, aku akan kembali keruanganku, jika kau butuh sesuatu, kamarku ada di sebelah sana."
"Baik paman, terima kasih dengan semuanya." Ucap Alyena, Jafier hanya membelai rambutnya dengan lembut lalu segera meninggalkan meja makan dan masuk ke ruangannya. Dia menutup pintu kamarnya, lalu bersandar di pintunya.
"Apa yang telah kulakukan?" Ucapnya sambil menutup wajahnya dengan satu tangannya.
~
Pria itu telah berada di sebuah Mansion mewah di Seattle, dia terlihat sedang menelepon seseorang.
"Bagaimana? Kau sudah menemukan keberadaannya? Segera hubungi aku jika kau menemukannya, aku tidak suka menunggu lama, kau tahu itu." Dia segera menutup ponselnya.
Wanita itu adalah Susan Richard, dia adalah putri dari rekan bisnis ayah Kilian, sejak remaja mereka sudah saling kenal, tetapi wanita itu memiliki perasaan khusus kepada kilian, dia menyukainya sejak dulu tetapi sudah sejak lama dia di tolak oleh Kilian, sejak mengetahui kedatangan Kilian di seattle dia buru-buru datang ke kota ini, padahal dia tinggal jauh dari kota Seattle dan segera datang ke mansion keluarga Regan.
Kilian hanya meliriknya dan sekali lagi menatap ponselnya tanpa menggubris wanita yang sudah berdiri di sampingnya.
"Huuh, kau selalu begitu, seperti aku tidak tampak saja, setidaknya ucapkan sesuatu, kita sudah lama tidak bertemu, kau selalu dingin kepadaku, aku jadi penasaran apa sikapmu sama seperti ini kepada wanita-wanita lainnya?" Tanyanya sambil menyenggol lengannya.
"Kau berisik, aku sedang sibuk." Jawab Kilian, dia kembali menelepon seseorang dan menjauhi wanita itu, wajahnya cemberut memandangnya dari belakang sambil melipat kedua tangannya menatapnya dengan sebal.
"Ck, menyebalkan, sifatmu sama sekali tidak berubah, tapi itu semua butuh waktu dan aku akan membuktikan waktu akan berpihak padaku, bukan Susan Richard namanya jika aku menyerah dengan mudah." Ucap Wanita itu sambil tersenyum, "melihatnya saja ada di sini sudah membuatku bahagia." Ucap Wanita itu lalu menuju ke dapur, dia ingin menyiapkan makan siang untuk mereka berdua.
~
Hari telah menjelang malam, Alyena sejak tadi memainkan ponsel yang dibelinya dengan harga murah, dia begitu senang dengan ponselnya yang sekarang, dia lalu mengambil gambar dirinya cukup banyak dan menyimpannya di album fotonya sambil tersenyum sendiri.
"Ada yang lucu?"
Suara itu membuat Alyena berbalik, dia menatap Jafier yang baru saja keluar dari kamarnya, hanya mengenakan kaos putih dan jeans yang sobek di bagian lututnya, rambutnya yang hitam kecoklatan terlihat acak-acakan, dia terlihat muda dari usianya, dia segera menuju ke dapur dan membuat dua cangkir minuman hangat dan memberikannya kepada Alyena.
"Apa itu ponselmu?" tanyanya, ketika melihat ponsel di tangan Alyena.
"Apa? ya, ini ponsel yang baru kubeli di toko tadi, harganya cukup murah." Ucap Alyena sambil membolak balik ponsel berwarna pink itu dan memperlihatkannya kepada Jafier.
"Berikan kepadaku." Ucap Jafier memintanya kepada Alyena.
"Ponsel ini keluaran lama, kenapa kau tidak memberikan ponsel ini padaku dan aku akan menggantinya dengan ponsel keluaran terbaru sama seperti milikku, ponsel ini akan mudah rusak, mungkin beberapa bulan pemakaian." Ucap Jafier sambil membuka-buka foto-foto Alyena yang baru saja di ambilnya, sudah begitu banyak pose yang dipotret oleh Alyena di dalam ponsel itu, ketika dia memotret dirinya dengan berwajah imut, berwajah cemberut dan memanyunkan bibirnya dan berpose ketika dirinya baru saja selesai mandi dan hanya mengenakan handuk.
Jafier menghela napasnya, "Alyena, jangan mengambil gambarmu sembarangan, apalagi dalam keadaan seperti ini." Ucap Jafier memperlihatkan pose seksi Alyena hanya mengenakan handuk sambil duduk di atas tempat tidur.
"A-apa paman melihatnya? jangan di lihat, itu...aku hanya bermain-main, bukan untuk diperlihatkan untuk orang-orang koq." Gumam Alyena.
"Aku akan menyimpan ponselmu yang ini, sebentar lagi aku akan memberikanmu ponsel yang baru untukmu." Ucap Jafier lalu mengantongi ponsel Alyena begitu saja di sakunya.
Alyena tidak bisa merebut ponselnya kembali karena sudah ada di saku pria itu, dia hanya duduk dan menonton tv sesekali melirik ponsel yang ada di saku Jafier.
Jafier menyadari Alyena meliriknya terus menerus, membuatnya tidak konsentrasi dengan tontonan yang ada di hadapan mereka berdua, dia ingin tertawa melihat gadis itu, dia seperti ingin menyerangnya.
"Kalau kau mau ponselmu kembali, kau bisa mengambilnya sendiri, ponselmu ada di kantong celanaku." Ucap Jafier tiba-tiba, matanya masih terpaku kedepan Tv layar datar di depannya, dia kemudian melirik Alyena.
"A-apa? aku tidak mau mengambilnya, lagi pula paman akan memberikanku model yang terbaru, jadi paman bisa menyimpan ponsel itu dan....
Alyena tiba-tiba menyerang Jafier dan memeriksa kantung di celana jeansnya, lalu mencari ponselnya yang di sembunyikan.
"Paman...berikan padaku, aku ingin menyimpannya." Ucap Alyena, tangannya berada di saku celana Jafier, dia menyusupkan tangannya, memeriksanya dan menyerangnya tiada henti.
Dengan suara menggeram, pria itu memegang kedua tangan Alyena dan mendorongnya hingga Alyena tersudut di kursi dengan Jafier berada di atasnya. Napasnya memburu dan menggenggam kedua tangan Alyena.
"Jangan berani menyerang seorang pria dengan bermain-main Alyena, kau nanti akan menyesal sayang, kau mengerti." Ucap Jafier dengan suara tegas, wajah mereka begitu dekat, napas Alyena menghembus wajahnya hingga pertahanannya hampir saja runtuh, dia segera mengangkat Alyena agar kembali duduk, dia segera berdiri dan meninggalkan Alyena dengan wajah bingung.
"Ada apa dengan paman?" gumamnya.
~
Jafier berbaring di atas tempat tidur, sambil menghela napasnya, dia mengambil ponsel Alyena yang ada di kantungnya dan membuka semua foto-foto yang tersimpan di dalamnya.
Dia kemudian tersenyum melihat semua foto-foto Alyena yang cantik dengan berbagai ekspresi. Dia berhenti dan menatap foto Alyena yang hanya mengenakan handuk dan duduk di atas tempat tidur, dia lalu menutup ponselnya dan menyimpannya di atas meja, "Alyena adik perempuan Willy, dia masih berusia 17 tahun, dia masih anak-anak." Dia mengucapkan kata-kata itu beberapa kali, hal itu menjadi mantra baginya agar tidak terjerumus di dalam pesona Alyena, seperti halnya Kilian Regan yang pertahanannya telah roboh gara-gara gadis itu.
~
Suara ketukan terdengar dari luar pintu.
"Masuk." Ucap pria itu.
Seorang pria masuk dan segera berdiri di hadapan pria berwajah dingin itu.
"Tuan, saya sudah menyelidiki keberadaan Nona Alyena Adams." Ucapnya.
Wajah Kilian terangkat, nampak khawatir terlihat jelas di wajahnya. "Di mana dia?" tanyanya.
"Nona Alyena Adams berada di penthouse milik tuan Jafier Alvaro, sepertinya Nona Alyena menghubunginya dan pria itu menjemputnya."Jawabnya.
"Jafier Alfaro? kenapa pria itu? kenapa Alyena bisa menghubunginya?" Ucap Kilian dengan marah, tangannya mengepal kuat.
"Dimana tempat tinggal Jafier." tanyanya.
"Erm ini alamatnya tuan." Pria itu memberikan secarik kertas kepadanya, setelah melaporkan semuanya, pria itu akhirnya pergi dan segera menutup ruangan tuannya.
"Sial !" Umpatnya.
Dia berdiri di depan jendelanya, memikirkan cara agar Alyena dapat kembali lagi kepadanya. "Aku tidak akan membiarkanmu berlama-lama dengan pria itu." gumamnya.