
"Kau dari mana saja Alex?" Nick menatap Alex dengan tatapan mencurigakan, "dan baju apa yang kau kenakan itu, bukankah bajumu itu kau kenakan kalau saat musim dingin saja?"
dengan melengkungkan bibirnya, "Aha kau kesana ya?, bersama siapa..Hem?" dengan pandangan menuduh.
"Jangan cari masalah Nick, aku hanya ingin tidur." kata Alex yang merebahkan tubuhnya di sofa berwarna coklat.
"Tidur? sepagi ini, memang apa yang kau lakukan semalam?"
Alex memandangnya, "Berhenti bertanya nick atau aku akan memanggil penjaga dan menyeretmu keluar."
Nick tertawa sambil menyeringai, "Ok Alex aku akan berhenti tapi, aku penasaran siapa wanita malang itu?"
Alex lalu berdiri dan melempar Nick dengan bantal yang dia gunakan, dia lalu berbalik dan masuk ke kamarnya. Nick hanya tertawa pelan mengetahui kalau Alex tidak berhasil mendapatkan wanita itu semalam, sikapnya akan seperti ini, dia akan frustasi dan marah-marah sepanjang hari .
~
"Sebaiknya kita sarapan dulu Ruzy sebelum aku mengantarmu, er semalam aku menghubungi bibimu, dia sangat khawatir jadi kubilang saja kau dirumahku karena kau terkena demam."
"Terima kasih dokter max, biarkan aku yang memasak sarapannya dokter max."
Dia tersenyum, "Ide yang bagus Ruzy, sesekali aku juga ingin mencoba masakan yang dibuatkan untukku."
Ruzy menatapnya, "Tidak ada yang memasakkan untukmu tuan max?"
"Aku memasak makananku sendiri atau makan di luar rumah, aku jarang sekali memasak akhir-akhir ini." Ruzy tersenyum, dengan cepat Ruzy kedapur lalu membuka kulkas yang hanya tersedia roti keju dan telur.
"Kau menemukan sesuatu?"
Ruzy kembali terkejut, suara dokter max yang begitu dekat di telinganya, membuatnya merinding.
"ya, aku akan mengerjakannya dengan cepat."
Ruzy mengambil roti keju dan telur lalu cepat-cepat mengerjakannya.
"Maaf Ruzy kalau aku membuatmu terkejut, kau sangat mudah terkejut ya." dia tersenyum minta maaf, tapi pandangan matanya seperti dia menikmatinya.
Tidak butuh waktu yang lama makanan itupun tersedia, kami duduk berdua di meja kecil di dekat dapur, dia terlihat antusias dengan masakan yang kubuat. "Kelihatannya lezat Ruzy."
Setelah sarapan yang singkat, aku bersiap-siap untuk pulang, aku mendengar suara dokter max di luar rumah.
"Ada apa dokter max?" tanyaku yang memandangnya sambil mengutak Atik mesin mobilnya.
"Sepertinya mesinnya bermasalah Ruzy, tunggulah sebentar lagi".
Aku mengangguk lalu kembali masuk ke ruang tamunya, aku duduk dan memandang beberapa album foto di atas meja coklat yang terletak di sudut tembok. Foto keluarga dokter max, sepertinya dia anak tunggal, mataku sangat berat sehabis makan, aku tertidur di sofa sambil terduduk.
Langkah kaki itu kian mendekat, napasnya dapat kurasakan menerpa wajahku, tangan yang panjang menelusuri kening hingga ke rahangku, aku mencoba membuka mataku tapi kantuk ini sangat sulit kulawan, gerakan tangannya di leherku membuatku berjengit di dalam tidurku, aku merasakan panas di bibirku, samar terdengar suara kecupan. 'Kecupan'? Aku terbangun dengan tiba-tiba, wajah dokter max berada dihadapan wajahku, Mata birunya langsung menatapku.
"Aku membangunkanmu Ruzy?" Suaranya kembali berbeda lebih berat dan serak.
Pancaran matanya membuatku takut, wajahnya yang tampan tampak mengeras dengan napas yang memburu. Aku perlahan menjauh darinya.
"Apa..apa yang dokter lakukan?" merasakan sedikit basah dibagikan leherku.
Aku memberontak dari tangannya yang mencengkramku kuat.
"Tenanglah ruzy, aku tidak akan melakukan apapun padamu, kumohon tenanglah." Dia menggeram, perkataannya tidak sesuai dengan perbuatannya. Tanganku dicengkram kuat diatas kepalaku tubuh tingginya berada di atasku.
"Menjauh dariku", teriakku padanya. Kakiku mencoba menendang tubuhnya, aku melihatnya terkekeh.
"Kau sama brengseknya dengan alex, kupikir kau berbeda dokter max." teriakku padanya.
"Aku mencoba ruzy,...sangat mencoba untuk menahannya ruzy, kini aku tahu apa yang dirasakan Alex jika menyentuhmu."
Pandangannya mengabur, pupil matanya membesar, dengan satu kali serangan dia menciumku, aku meronta-ronta, mendorong dan menendangnya. Dia lalu menjepit kedua kakiku di antara kakinya. Ciumannya begitu kasar, membuatku melengkung mengikuti tubuhnya. Ciumannya begitu berbeda dengan Alex, dia sangat kasar, wajahnya membentuk seringai jahat.
Ponselnya berdering, dia menggeram lalu mengambil ponselnya di kantung celananya, aku mengambil kesempatan itu mendorongnya keras, lalu berlari mengitari kursi dan membuka pintu, dia berteriak mengejarku, tapi aku berlari sekencang-kencangnya sambil menangis.
Aku terus berlari di pinggir jalan tanpa mengenakan alas kaki, perih dapat kurasakan di kakiku sampai ke betis, bunyi klakson membuatku terkejut, seseorang menjulurkan kepalanya dari jendela mobilnya dengan wajah terheran.
"Hei bukankah kau gadis itu? yang bekerja di rumah Alex?" Aku menatapnya, lalu berlari padanya meminta pertolongan.
"Tolong...tolong aku", napasku memburu, kakiku yang memerah terasa perih, wajah pria yang selalu bersama Alex ini turun dari mobilnya.
"Ada apa?" tanyanya heran, kemudian matanya menangkap seorang pria yang turun dari mobilnya.
"Dokter max?"katanya heran.
"Halo Nick?" wajah palsunya tersenyum seperti tidak terjadi sesuatu.
Aku bersembunyi di belakang pria bernama Nick ini. Dia menatapku dengan wajah heran, "Apa yang terjadi denganmu?" Tanpa sadar aku memegang lengannya, "tolong aku", bisikku pelan.
"Naiklah keatas mobil, aku akan mengantarmu." Nick lalu memandang dokter max.
"Apa yang kau lakukan padanya dokter max?" Nick tersenyum sinis menatapnya. "Aku tidak tahu kalau kau juga bisa seperti serigala, menyerang kapan saja!"
"Apa yang kau katakan?" rahang dokter max menegang.
"Lupakan yang kukatakan, jangan mengejarnya dokter...wanita itu milik Alex, jika dia tahu kau akan hancur."
Nick kembali ke mobilnya, dia melepas jaketnya dan memberikannya kepada Ruzy.
Napas ruzy masih belum teratur karena
ketakutan dari pelariannya tadi. Mata dokter max menatap Ruzy yang membuang wajahnya tidak mau menatapnya. Mobil silver itu berbalik arah menuju ke kediaman keluarga Collagher. Suara umpatan keras terdengar dari kejauhan.
~
"Kau baik-baik saja?" tanyanya.
Suara cegukan ruzy karena tangisnya belum mereda. "Kau menginginkan sesuatu?" sambil menatap toko-toko yang mereka lewati. Ruzy lalu menggeleng.
"Baiklah kita langsung pulang saja."
Mereka tiba di kediaman keluarga Collagher, Ruzy menunduk lalu berterima kasih pada Nick, kemudian dia berjalan tertatih-tatih menuju kamar dibelakang kediaman itu. Nick menatapnya dari kejauhan berpikir apakah berita ini harus di sampaikannya ke Alex? kalau dia tahu tentang ini, pria pemarah itu akan mengamuk.