
Setelah semalaman menonton, Alyena tertidur begitu saja di depan televisi, kepalanya jatuh terkulai di atas sofa tanpa bantal ataupun sebuah selimut yang menutupi tubuhnya, saat itu Jafier keluar dari kamarnya pukul 3 pagi, matanya lalu mengarah kepada suara-suara dari televisi, dia kemudian berjalan ke arah sofa panjang dan melihat Alyena ketiduran di sana dengan tv yang masih menyala. Dia mematikan televisinya dan segera mengangkat Alyena ke kamarnya.
“kau sungguh ceroboh Alyena.” Ucap jafier. Dia mengangkatnya lalu membawanya ke kamarnya. Jafier menatap gadis itu sebentar, dia kemudian menyelimutinya dan segera keluar dari kamarnya.
Telepon kembali berdering, membuat Jafier melihat ponselnya dan cukup terkejut ketika mengetahui siapa yang tengah meneleponnya.
“Regan?” ucapnya.
Jafier lalu mengangkatnya. “Halo, apa kabar Kilian Regan, aku tidak menyangka anda meneleponku pada jam seperti ini.”
“Saya tidak akan bertele-tele, aku hanya ingin mengetahui apakah Alyena baik-baik saja, apa yang dia lakukan?”
Sebuah seringai terlihat di wajahnya, “Sepertinya anda telah mengawasiku, bagaimana anda tahu Alyena ada di sini? Keamanan di penthouseku sepertinya perlu di tingkatkan lagi."
“saya tidak akan menyangkalnya, karena saya telah menyelidiki keberadaan Alyena, dia adalah pekerjaku di perkebunan, tentu saja saya harus tahu dimana keberadaannya.”
“Anda jangan khawatir karena Alyena aman bersamaku, dia tidak akan kemana-mana, dan saya akan pastikan dia tidak akan menjadi pekerja anda lagi, selamat malam.” Jafier menutup teleponnya dengan marah.
"Sialan."
Mobil di luar penthouse berhenti di tepat di depannya, dia membuka sedikit kaca mobilnya dan menatap penthouse itu.
"Jalan."
Mobil itu melaju di tengah malam buta, tangannya berada di keningnya seperti sedang memikirkan sesuatu, matanya menatap kedepan. Selama ini tidak ada satupun keinginannya yang tidak terpenuhi, dan jika dia menginginkannya, dia pasti akan memilikinya, bagaimanapun caranya.
Jalanan pada jam seperti itu cukup lengang, hanya lampu jalan menerangi setiap pengendara yang lewat, "Sepertinya akan semakin menarik, apa yang kuinginkan tidak akan bisa kau dapatkan Jafier Alvaro." Ucapnya.
~
Pekikan tertahan terdengar dari suara Audrey, dia sedang berada di Detroit, ketika willy meneleponnya dan mendengar kabar bahwa dia telah menemukan adik perempuannya, dia tampak senang bersorak dengan gembira.
"Kapan kau akan tiba di Seattle?" tanya Audrey.
"Mungkin dua jam lagi, kepalaku sangat pusing, aku harus kembali dulu ke mansion, setelah itu aku akan langsung menjemput Alyena ke penthouse milik Jafier.
"Perjalanaku mungkin cukup lama, kita sama-sama saja menjemputnya, aku akan ke singgah di mansion, lalu menjemputmu dan kita sama-sama ke tempat Jafier." Ucap Audrey terdengar senang.
"Oke, jangan terlalu lama Audrey, aku tidak mau Alyena berlama-lama di rumah Jafier, siapa yang tahu apa yang dipikirkan di kepala mesumnya."
"Kau betul-betul memiliki pemikiran yang kacau Willy, bagaimana bisa kau mencurigai temanmu sendiri, apakah itu disebut teman?" Ucap Audrey mendengus.
"Ck, kau tidak tahu apa yang dipikirkan seorang pria, adikku tersayang? Berhentilah menjadi lugu dan lihat di sekitarmu, aku juga tidak begitu suka pacarmu itu, kali ini, berhati-hatilah dengannya." Audrey memutar bola matanya.
"Aku tutup, Liam sebentar lagi datang." Ucap Audrey memanas-manasi willy. Dia tersenyum dan menutup ponselnya
"Selamat datang di dunia William yang over protektif Alyena, kau akan lihat bagaimana posesifnya kakakmu itu." Gumamnya.
~
Alyena membuka kedua matanya menyambut pagi, dia kemudian terduduk di tempat tidurnya dan menatap di sekelilingnya, Nghh, ini kan kamarku? Semalam aku ketiduran di sofa luar sampai larut malam menonton tv, apa paman Jafier yang membawaku ke kamar? Ugh, aku merepotkannya lagi, aku memang ceroboh." Alyena segera bangun dan membuka jendela kamarnya, "Wah, udaranya segar, meskipun di desa udaranya lebih segar dan dingin."
Setelah Alyena membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya, dia lalu keluar dari kamarnya.
"Tidak ada orang, apa paman masih tidur, apa sebaiknya aku membuat sarapan? Tapi sarapan apa ya? Apa sarapan paman sesuai dengan apa yang akan aku buatkan, atau aku buat sandwich yang sederhana saja ya?" Alyena berdiri diantara dapur dan kulkas dan memikirkan apa yang akan di masaknya.
Dia lalu menatap sebuah kotak yang berada di atas meja, sebuah kotak segi empat berwarna biru dengan pita di atasnya. "Apa ini untukku?" Ucap Alyena setelah membaca kertas kecil yang ada di atasnya.
"Woah ponsel, apa ini yang dimaksudkan oleh paman ponsel tipe terbaru? Hebat, terlihat mewah dan berbeda dari ponselku yang kubeli di toko itu." Ucapnya.
Ponsel itu tiba-tiba berdering, Alyena segera mengangkatnya. "H-halo? Paman?"
"Bagaimana? Apa kau suka dengan ponselnya?"
"Iya, suka sekali." Ucap Alyena, dia tersenyum sumringah.
"Aku senang mendengarnya, oh ya sekarang aku sedang tidak berada di penthouse, tetapi sebentar siang aku akan menjemputmu, kita akan makan siang bersama."
"Oke paman, terima kasih ponselnya."
Alyena menutup ponselnya, tiba-tiba pintu terbuka dan dua orang pelayan segera meletakkan makanan di atas meja sarapan untuk Alyena. Setelah menyiapkan sarapannya, dua pelayan itu pergi begitu saja meninggalkannya sendirian di ruangan itu.
~
Siang itu Jafier menjemput Alyena tepat pukul 12 siang, Alyena sudah menunggunya sejak tadi, pakaian yang digunakan pun telah di gantinya, karena setelah mengenakan pakaian yang berasal dari desanya, seorang pelayan menghampirinya dan membawakannya gaun yang akan di pakainya ketika makan siang bersama Jafier.
Alyena sudah menunggu dan duduk di sebuah taman, dia tidak mau menunggu di ruangan luas itu seorang diri, jadi dia lebih baik memilih menunggu di taman, sambil memainkan ponselnya yang baru.
Alyena mengambil beberapa fotonya dan mengambilnya dari segala arah, dia membuat wajah-wajah cute, dan tersenyum cantik, tanpa menyadari sebuah mobil hitam sejak tadi ada di sana memperhatikannya sambil tertawa, bunyi klakson mobil membuat Alyena terkejut, dia kemudian berbalik dan menatap Jafier melambaikan tangannya dari dalam mobil.
"Akh, sejak kapan paman ada di sana? Apa dia melihatku? Ukhh Memalukan sekali." Bisik Alyena kepada dirinya sendiri.
Alyena masuk ke dalam mobilnya dan menatap sembunyi-sembunyi wajahnya yang masih terlihat menahan senyumnya.
"K-kenapa paman tertawa?" Tanyanya.
"Tidak ada, hanya ingin tertawa saja, oh ya tadi aku sudah menelepon Willy dia akan menemuimu besok bersama dengan Audrey, dia masih berada dalam perjalanan ke seattle."
"Benarkah? Wah aku sudah tidak sabar bertemu dengan mereka berdua, bagaimana rupa kak William dan kak Audrey?"
"Memangnya kau tidak pernah bertemu dengan mereka? Jangan khawatir, sebentar lagi kau akan menemuinya." Ucap Jafier sambil menghalau rambut Alyena yang menempel di keningnya, lalu menyelipkan rambutnya dibelakang telinganya.
Alyena tiba-tiba membeku merasakan tangan pria itu ada di pipinya. Dia tersenyum kemudian kembali fokus mengemudi ketika lampu lalu lintas kembali berwarna hijau.
Restaurant itu bernama Lach Restaurant, bangunan itu terlihat mewah dan antik, ketika mereka berdua masuk, dua pelayan telah menyambut kedatangan mereka berdua dan melayaninya.
"Kau ingin makan apa Alyena?" tanyanya.
"Paman saja yang pesankan." Ucap Alyena sambil menatap menu-menu yang tidak di mengertinya. Jafier memesannya dan mereka mengobrol ketika makanan mereka sedang di siapkan.
"Paman pergi ke kantor pagi-pagi sekali." Ucap Alyena membuka pembicaraan. Dia tersenyum.
"Ya, bisa dibilang aku tidak punya waktu bersantai, Alyena." Dia menyandarkan tubuh besarnya sambil menyilangkan kedua tangannya.
Langkah sepatu itu mulai mendekat ke tempat mereka sedang duduk, dia datang seorang diri, sejak tadi pria itu mengikuti mobil yang dikendarai oleh Jafier dan mengamatinya dari belakang.
"Selamat siang tuan Alvaro, aku tidak menyangka kita bertemu di tempat seperti ini." Ucap pria yang tidak lain adalah Kilian Regan, wajah tampannya terbingkai di balik senyum palsunya ketika melihat kedekatan mereka berdua, senyuman gadis itu membuat Kilian menatap tidak suka.
Jafier menatap kepada pria yang berdiri diantara mereka berdua, matanya beralih kepada Alyena yang duduk di hadapan Jafier, matanya membelalak, senyuman hilang dari wajahnya seakan di gantikan dengan wajah terkejut seakan teror mengerikan berada di hadapannya
"Halo Alyena, Suratmu untuk Sir Alfon telah aku baca, jangan khawatir, aku sangat mengerti jika kau sedang ingin berjalan-jalan di kota besar ini, terkadang kita butuh hiburan dan udara segar bukan?
"Selamat siang tuan Regan, kebetulan yang menyenangkan anda berada di restaurant yang sama dengan kami," Jafier menatap Alyena, dia terlihat diam dan ketakutan.
Jafier kemudian berdiri, dia menghalau Alyena dari pandangan intens Regan. "Saya ingin menjelaskan hal yang penting kepada anda, tuan Regan."
Kilian Regan mengangkat alisnya, memindahkan matanya dari Alyena. "Oh ya, apa itu Mr. Alvaro?"
"Alyena tidak lagi bekerja di perkebunan anda, dia tidak akan kembali ke sana, semua keluarga Alyena tinggal di Amerika, dan saya tidak akan membiarkan dia kembali ke desa itu."
Dia memberikan senyum menantang dengan keraguan yang pasti kepada Jafier. "Oh ya, jadi katakan kepadaku, siapa keluarga yang anda maksudkan Mr. Jafier?"
Jafier bersedekap, dia melengkungkan senyumnya, "Rupanya anda tidak tahu, kakak Alyena tinggal di negara ini." Ucap Jafier.
"Oh ya, siapa kakak Alyena?"
"Selamat siang, maaf aku dan Audrey sedikit terlambat, jalanan macet dan saya harus menungguinya berdandan dan.....
Ucapannya terhenti ketika melihat Regan Kilian ada di sana, lalu matanya beralih kepada gadis yang ditolongnya malam itu, sewaktu di desa Gimmelwald, dan dia menyadari gadis yang ketakutan yang di tabraknya itu adalah Alyena adiknya.
"Saya Kakak Alyena, ada masalah?" Dia menatap kedua pria yang terlihat seperti ingin adu tinju, mengeluarkan taring mereka masing-masing.
Willy mendekati adiknya yang duduk dengan wajahnya yang terlihat pucat, Alyena pun sontak berdiri dari tempat duduknya ketika menatap kakaknya. Tanpa ragu Alyena menghambur di pelukan Willy dan memeluknya erat, meskipun pertama kali dia melihat wajah kakaknya itu, tetapi rasa rindu yang sangat membuat Alyena menitikkan air matanya.
Audrey segera mendekati mereka berdua dan beralih kepada Alyena dan memeluknya.
"Selama ini kau baik-baik saja? kau mirip sekali dengan Mom." Ucap Audrey memperhatikan wajah cantik yang pipinya basah oleh air mata.
"Benarkah aku mirip Mommy?" tanyanya. Audrey mengangguk dan kembali memeluknya. "Mulai sekarang kami akan melindungimu, mereka harus berhadapan dengan kami, jika ada yang berani mengganggumu apalagi mendekatimu." Ucap Audrey sambil mendelikkan matanya kepada Jafier dan Kilian.