
Jafier menerima informasi mengenai Cecilia, pengawal itu memberitahukan bahwa wanita itu membuntutinya sejak dari kantor, "Kau sudah menemukan dimana lokasinya?" tanya Jafier.
"Sepertinya dia berada di restaurant yang sama dengan anda tuan."
"Sial." Umpat Jafier dia kemudian berdiri dan mencari Alyena.
Wanita itu masih berdiri di hadapannya, dia menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, tampak wajah sangar mengerikan terlihat di wajahnya, bibir merah merona dengan make-up menutupi seluruh wajahnya, gaun ketat yang melekat pas ditubuhnya, serta rambut yang jatuh indah di punggungnya bergelombang berwarna kemerahan.
Dia melangkah mendekati Alyena, tatapannya terarah pada tubuh Alyena.
"Apa yang dilihat dari gadis kecil sepertimu, belum ada apa-apanya, memalukan sekali Jafier menyukai gadis seusianya, tubuhnya saja belum matang sempurna, tidak ada yang bisa di lihat." dia berguman tidak sopan dan berbicara seakan-akan Alyena bukan masalah besar jika dia mendengar semua ocehannya.
Alyena tidak mundur sedikitpun, dia bisa menghadapi wanita tinggi dan besar ini, tubuhnya memang terlihat sempurna di beberapa tempat yang biasa di tonjolkan oleh wanita.
Alyena masih berdiri di sana tanpa goyah sedikitpun, tatapannya lurus menatap wanita itu.
"Kau tidak takut anak kecil? aku bisa saja menghajarmu sampai kau pingsan, di sini tidak ada kakakmu dan Jafier, di sini hanya ada kau dan aku, bahkan cctv pun tidak ada, tidak akan ada saksi yang dapat melihat apa yang akan aku lakukan kepadamu." Ucapnya.
"Menarik." Ucap Alyena.
Ucapan yang keluar dari bibir gadis di hadapannya membuat langkahnya berhenti, dia tersenyum dengan sudut bibir yang bergetar.
"A-apa kau bilang, menarik?" Ucapnya terheran-heran.
"Ya menarik, tidak ada seorangpun yang ada di sini, tidak ada saksi, bahkan cctv pun tidak ada, jadi bagaimana kalau kita memulai saja?" Ucap Alyena.
"Memulai apa?"
Senyum Alyena membuat wanita itu sedikit terkejut, merasa di remehkan seperti itu, Cecilia melayangkan tangannya kepada Alyena, tetapi karena tubuh Alyena cukup kecil dia bisa berkelit dan menghindari tamparan itu, dia melewati wanita itu dari arah samping, dengan cukup kuat dia menendang punggung belakangnya hingga wanita itu jatuh ke depan dan mendarat di lantai kamar mandi.
Alyena berdiri di sana sambil menyeringai, "Ayo berdiri Nyonya, aku tidak perduli kau cinta pertama atau kau cinta kedua atau apapun itu, berdirilah dan hadapi aku." Ucap Alyena sambil memandang meremehkan wanita itu.
Tubuhnya bergetar hebat, dia berusaha berdiri tetapi sayang sekali, karena sepatu tinggi yang licin itu menyulitkannya untuk bergerak sama sekali, dia selalu berusaha berdiri tetapi dia terjatuh lagi, luka memar terdapat di kedua lutut wanita itu.
Alyena hanya berdiri mematung memperhatikan perjuangan wanita itu bangkit dengan susah payah.
"Jadi nyonya, apa yang harus aku katakan kepada paman jafier? Apa aku harus menangis di pelukannya dan mengatakan bahwa kau telah memukulku dan aku terjatuh di kamar mandi dan bersusah payah untuk berdiri kembali seperti seorang bayi yang merangkat ketakutan?"
Alyena tertawa, membuat wanita itu menggeram hebat, dia tidak perduli lagi, dia melepaskan sepatu kebanggaannya dan akhirnya dia dapat berdiri di lantai, saat itu juga dia berteriak keras, kedua tangannya terbuka seperti hendak mencekik Alyena.
"Rasakan ini kau gadis kurang ajaaaar." dia berteriak dengan suara sekencang-kencangnya, tetapi sayang sekali ketika dia baru saja memegang leher Alyena pintu menjeblak terbuka dan Jafier melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika Wanita itu mencekik Alyena sekuat tenaganya.
Dengan pandangan mata membunuh, jafier menarik keras tangan Cecilia dan menghempaskannya ke luar kamar mandi hingga dia terhuyung dan terjatuh di lantai dengan keras, Jafier memegang kedua pipi Alyena, dia terlihat shock.
"Alyena, kau baik-baik saja? Alyena?" Jafier lalu mengangkat Alyena dan menggendongnya keluar dari kamar mandi, sedangkan Jafier sama sekali tidak melihat Wanita itu, dia tidak memperdulikan raungannya yang menangis kesakitan akibat dorongan keras Jafier, sehingga tubuhnya menjadi luka.
"Dia gadis licik, jafier. Kau harus berhati-hati terhadap wanita itu." Teriaknya. Sesaat mata Alyena bertemu dengan mata Wanita itu, senyuman miring terpancar di wajah Alyena, membuat wanita itu bertambah kesal, sangat kesal. Seumur hidupnya baru kali ini dia di perlakukan sehina ini, dia menangis berteriak sampai pengawal-pengawalnya akhirnya datang menjemputnya.
Alyena berada di dalam mobil Jafier, dia terlihat tidur dan menutup matanya, meskipun tadi dia berusaha kuat, sebenarnya dia takut sekali, entah dari mana keberanian itu datang, dia sangat terdesak kala itu, jadi dia hanya berpikir tidak ada yang dapat menolongnya pada saat itu kecuali dirinya sendiri, tidak ada yang mampu menghentikan wanita itu kecuali keberaniannya sendiri.
Tubuh Alyena tampak bergetar, dia sekarang berada di dalam mobil Jafier yang sedang membeli sesuatu di market terdekat, dengan cepat dia segera kembali dan masuk ke dalam mobil.
"Alyena? Alyena sayang, kau baik-baik saja?" tanyanya. Dia memegang pipi Alyena, memeriksa tubuhnya jika saja ada luka atau apapun yang membekas gara-gara wanita itu. Alyena membuka kedua matanya dan menatap wajah khawatir Jafier yang tampak lebih pucat dari biasanya.
"Aku baik-baik saja paman, sebelum wanita itu berusaha mencekik leherku, paman sudah membuka pintu itu, jadi aku tidak apa-apa." Ucap Alyena dengan jujur, meskipun dia tidak menceritakan secara keseluruhan cerita sebenarnya.
Jafier menghembuskan napasnya, "Aku lengah, seharusnya aku menemanimu ke kamar mandi saat itu." Ucapnya.
Alyena lalu tersenyum, "Jangan bertindak seperti kak Willy paman, cukup dia saja yang seposesif itu, aku bisa melindungi diriku sendiri."
Jafier menarik tubuhnya dan memeluknya erat. "Maafkan aku, hampir saja kau terluka gara-gara aku Alyena." Ucapnya.
~
Pria itu berjalan dengan perlahan, dia berdiri tepat di depan wanita yang masih menangis seperti dia adalah korban sesungguhnya, "Gadis licik, culas, awas saja aku tidak akan diam saja." Ucapnya dengan mulutnya yang terbentuk tidak beraturan. Bibirnya masih bergetar, karena pengalaman di perlakukan seperti itu baru untuknya, dia adalah nona besar yang sejak kecil dilayani tanpa pernah merasa kesulitan apapun, apalagi diperlakukan seperti tadi, dia sungguh geram, marah yang sudah mencapai batasnya.
Wanita itu menyadari seorang pria telah berdiri di hadapannya, tajam mata pria itu serasa menembus manik matanya.
"Siapa?" Ucapnya, dia berhenti menangis dan berhenti mengeluarkan sumpah serapah dari bibirnya semarah apapun dia, wanita itu tidak mau ada yang melihat sisi dirinya yang lemah tidak berdaya dan memperlihatkan perasaannya yang marah.
"Maaf, anda siapa?" Ucapnya sambil memperhatikan wajah pria bermata tajam itu, wajah tampannya sempat membuat Cecilia tergoda tetapi aura gelap darinya membuatnya tidak nyaman.
"Apa yang kau lakukan kepada Alyena." Tanyanya.
Wanita itu dengan cepat memahami apa maksud pria dingin di hadapannya.
"Tch, jadi kau penggemar gadis cilik itu juga?" Ucapnya malas dan terdengar marah.
"Apa yang kulakukan padanya bukan urusan anda, lagi pula aku sama sekali tidak mengenal siapa anda." Ucap wanita itu dengan sinis dan pandangan tajam.
Pria itu tersenyum miring, tangannya tiba-tiba menarik wajah wanita itu ke depan sehingga bibirnya menyatu dengan paksa, dua pengawalnya ingin menghentikannya tetapi pengawal pria itu lebih banyak sehingga mereka tidak bisa berbuat banyak untuk Nyonyanya.
"Kau seharusnya berupaya keras mengganggu Jafier, bukan menyakiti Alyena, apa kau bodoh, jangan menyakiti Alyena, demi kebaikanmu sendiri, kau mengerti?"
~
Pukulan keras melayang dan mendarat di bibir Jafier, ketika dia membawa pulang Alyena, William berdiri di depan pintu mansion, dia sudah mendengar semuanya dari pengawal yang mengawasi Alyena sejak dia berangkat ke sekolah.
"Aku sudah mengatakan kepadamu jafier, jika kau ingin bersama Alyena, bereskan dulu masa lalumu dengan wanita itu, karena pada akhirnya Alyenalah yang akan menanggung kecemburuan dari wanita gila cinta pertamamu itu." Ucap William marah.
Jafier sama sekali tidak berkutik, dia merasa pantas menerima pukulan dari William. Tetapi Alyena berlari di depan tubuh jafier, dia menghalangi kakaknya agar dia berhenti menyerang Jafier.
"Ini bukan salah paman, lagi pula aku tidak apa-apa, aku bisa mengatasinya." Ucap Alyena dengan suara lantang. Dia lalu berbalik dan memegang bibir Jafier yang merah dan sedikit berdarah karena pukulan William.
"Jangan khawatir Alyena aku tidak apa-apa, sebaiknya kau masuk dan memeriksa tubuhmu, mungkin saja ada yang terluka." Ucap Jafier sambil mengusap puncak kepala Alyena.
"Jafier benar Alyena, masuklah dan mandi, setelah itu kita akan makan malam bersama berdua saja." William membesarkan suaranya agar jafier segera pergi, dia masih sebal dengannya.
"Emm baik, jangan bertengkar lagi, aku tidak terluka sama sekali koq."
Alyena menatap jafier sebentar setelah mendapatkan anggukan darinya, Alyena segera naik ke lantai atas menuju kamarnya.
Alyena sekali lagi berbalik dan melihat mereka berdua berbincang. Dia akhirnya masuk ke dalam kamarnya, dia berjalan di depan cermin dan menatap dirinya dengan heran, "bagaimana aku bisa seberani itu? bagaimana mungkin aku tersenyum saat wanita itu menyerangku?" bisiknya.
Alyena menatap wajahnya yang sedikit pucat, dia kemudian menggelengkan kepalanya, mungkin keberanian itu datang karena instingnya saja, bukankah manusia seperti itu? jika dalam keadaan sangat terdesak dia bahkan bisa melakukan apa saja seolah bukan dirinya sendiri? "Apa ini di sebut mekanisme pertahanan manusia? melindungi dirinya dengan impulsif dari orang yang akan menyakitinya? Tch entahlah seperti bukan aku saja." gumam Alyena di depan cermin.
Alyena membuka seragamnya dan terjatuh begitu saja di lantai kamarnya, dia hanya mengenakan pakaian dalam berwarna putih yang senada, dia hendak mengambil handuk, tiba-tiba saja ponselnya berdering beberapa kali, dia lalu melihat nomor yang tertera di layar ponselnya dan dia tahu nomor itu adalah telepon dari tuan Kilian Regan.
"H-halo?" Ucap Alyena.
"Apa kau yakin berdiri seperti itu di dalam ruanganmu? bisa saja aku berada di sana dan entah apa yang akan kulakukan."
"A-apa, anda, anda ada dimana." Ucap Alyena dia menatap kekiri dan ke kanan kamarnya, dia lalu menatap dirinya yang hanya mengenakan pakaian dalam, dengan cepat dia berjongkok dan menutupi tubuhnya. "Dimana, anda ada di mana? Jangan bersembunyi, aku bisa saja memberitahu kak Willy tentang anda yang menyusup ke dalam mansion."
"Hehe, katakan saja kepadanya, kenapa sampai sekarang kau menyembunyikan dari kakakmu itu?"
"I-itu karena aku tidak mau membuat masalah kepada kak Willy, aku sudah cukup membuat masalah dan menyusahkannya, jadi sampai sekarang aku masih diam saja, K-katakan anda ada di mana." Ucapnya.
"Kau ingin tahu?"
"Iya, aku ingin tahu." Ucapnya.
"Aku tentu saja ada di kediamanku, kau pikir aku akan ada di sana dan mengendap-endap di kamarmu?"
Pria itu kemudian terkekeh. "J-jadi kenapa anda tahu kalau aku hanya mengenakan pakaian dalam saja?" Ucap Alyena dengan lugu.
"Jadi benar kau hanya mengenakan pakaian dalam? biasanya aku paling pandai menebak."
"A-apa? Menebak?" terdengar kekehan dari suaranya, dengan cepat Alyena menutupnya dengan keras. "Uhhhh, memalukan sekali, kau bodoh sekali Alyena." Ucapnya.
~
Jafier telah berada di dalam mobilnya, dia sejak tadi menghubungi nomor ponsel Alyena tetapi nomornya sedang sibuk. "Apa dia sedang menelepon seseorang?" Ucapnya, dia kembali mengetik pesan lalu mengirimkannya.
Segera mandi dan makan malam, setelah itu kau harus istirahat, besok kita bertemu lagi.
Mobil itu melaju kencang memecah malam, dia sangat geram dan marah kepada Cecilia, entah apa yang akan dia lakukan untuk menghentikan wanita itu.
Jafier kembali ke penthousenya, dia segera masuk ke dalam dan membuka kemeja bajunya, dia masih memikirkan Alyena, sambil duduk dan menyesap minumannya, tiba-tiba saja seseorang telah berdiri di sana, di dalam gelap dengan hanya menggunakan kemeja Jafier. Dia sangat terkejut ketika melihatnya ada di dalam penthousenya. Jafier segera berdiri, "Apa yang kau lakukan di sini, siapa yang menyuruhmu masuk." Bentak Jafier.
Wanita itu berdiri di sana, tampak wajahnya yang sedikit terluka dan tangannya yang terlihat memar, "Luka-luka ini, wanita itu yang melakukannya, kau tidak percaya padaku, wanita itu yang mendorongku hingga aku jatuh seperti ini, dan kau datang dan mendorongku seperti barang yang tidak berharga, kenapa kau sangat tega kepadaku Jafier." Ucap wanita itu sambil menangis.
Jafier menatap luka-lukanya, tiba-tiba perempuan itu berlari kepadanya dan menangis tersedu-sedu di dada Jafier, "Kenapa kau berubah, aku membiarkanmu pergi kepada wanita siapa saja dan bermain dengan mereka untuk menebus kesalahanku karena menikah dengan pria lain, tetapi kenapa kau melabuhkan hatimu kepada gadis kecil itu?" Ucapnya.
"Tidak bisakah kita kembali seperti dulu? saatnya kau kembali padaku Jafier, sudah saatnya kau menerimaku kembali setelah sekian lama kau telah bermain-main di luar sana."
Jafier kemudian memegang kedua bahu wanita itu, dia memandang Jafier dengan mata sayu dan bibir membuka. "Jafier, aku menginginkanmu, sekarang. Aku ingin kau memilikiku malam ini." Bisik wanita itu.
Senyum smirk tampak di wajah Jafier.
"Enyah."
"A-apa? apa kau bilang?"
"Aku bilang pergi dari hadapanku, aku sudah muak dengan semua tingkah lakumu, kau mengerti? sekarang, pakai bajumu sebelum pengawalku datang dan menyeretmu keluar dari sini dengan busana memalukan yang kau pakai itu."
Jafier menghempaskan wanita itu, dia kemudian duduk di sana sambil kembali meneguk minumannya.
"K-kau sungguh berubah Jafier, apa karena gadis kecil itu?" Ucapnya dengan suara bergetar.
"Pergi." bentaknya.
Perempuan itu masih berdiri dengan tubuh bergetar, sementara itu jafier tidak memperdulikannya, dia lalu berbalik dan segera memakai kembali gaunnya dan mengambil tasnya. Tiba-tiba saja dia terkekeh, membuat Jafier berbalik menatapnya.
"Sepertinya aktingku cukup buruk sampai kau tidak terlena, Oh ya, sebelum aku pergi ada cerita yang menarik, kau mau mendengarnya? sepertinya bukan kau saja yang peduli dengan gadis itu, tetapi ada seorang pria tampan yang sembunyi-sembunyi melindunginya." Perempuan itu tersenyum sinis, meskipun dia masih merasakan tubuhnya bergetar hebat, tetapi dia menahannya, dia ingin segera tiba di mobilnya dan ingin menangis sekeras-kerasnya.