
Ruzy bersembunyi di kamarnya, detak jantungnya tidak teratur, mengapa dia membiarkan alex melakukan hal itu? menatap dirinya di cermin dengan bercak-bercak merah di tubuhnya, ruzy mengingat dirinya mendesah karena sentuhan Alex padanya.
Betapa memalukannya, apa yang telah aku lakukan? apakah aku segampang itu memberikan diriku kepadanya hanya karena dia menyukaiku saja? aku memang bodoh, pria itu hanya menginginkan tubuhku, dia tuan muda di rumah ini dan siapa aku? seorang pelayan...tidak ada masa depan yang membuat kami bisa bersama.
Ruzy menghapus air matanya mencoba menghilangkan bengkak di kedua matanya, aku menangisi diriku dan kebodohanku, pikirnya.
"Kau dari mana saja ruzy? beberapa jam ini aku tidak melihatmu sayang?" bibi Emy melihat Ruzy yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Aku sedikit kurang enak badan bibi, maafkan aku." Ruzy tertunduk, "Kau kenapa sayang?" bibi Emy dengan wajah khawatir memeluk ruzy, "Kalau begitu kau istirahat saja, pekerjaan hari ini juga hampir selesai."
Ruzy menggeleng padanya, "Aku baik-baik saja Sekarang bibi." Dia tersenyum lemah lalu mereka berdua kembali ke dapur.
"Wah, banyak sekali makanannya bibi?" tanya ruzy melihat hidangan yang beraneka ragam di atas meja.
"Beberapa kerabat Collagher akan datang sore ini, mereka baru saja datang dari liburan di Eropa, mereka akan mengunjungi nyonya Collagher, dan jangan lupa mertua nyonya juga ikut datang madam Janet Collagher, dia sungguh pemilih, beberapa tahun yang lalu dia datang kemari dan memecat beberapa pelayan hanya karena sebuah kesalahan kecil."
"Apa dia sebegitu menakutkannya?" tanya Jessy yang mendengar pembicaraan mereka. Bibi Emy memegang pinggangnya menjelaskan kepada siapa saja yang ada di dapur.
"Menghadapi madam Janet bukan perkara mudah sayang, dia sangat detail dan segala pelayanan untuknya harus sempurna, dia sangat cerewet, dia seperti pencabut duri, kau tahu maksudku kan? menghapus siapa saja yang dirasanya tidak pantas menyandang gelar Collagher."
Ruzy menelan ludah, matanya membelalak menatap bibi Emy. "Semoga saja aku tidak melayaninya ketika dia berada di sini." Jessy mengatupkan tangannya seperti berdoa.
"Ya dia wanita yang menyeramkan, kau tahu! bahkan urusan teman-teman tuan alex pun di cekcokinya, sampai-sampai tuan Alex mengamuk di buatnya." Jelas bibi emy tidak berhenti cerita mengenai madam Janet yang menyeramkan itu. Ruzy merinding mendengarnya, memikirkannya membuat ruzy semakin yakin tidak ada masa depan buatnya dan Alex.
Tepat pukul 6 sore, mereka tiba di kediaman Collagher, madam Janet dan beberapa kerabatnya telah tiba di sana.
"Selamat datang ibu, bagaimana kabarmu selama ini?" nyonya Collagher menyambut mereka di teras rumah. Wanita dengan usia 65 tahun itu berjalan elegan dengan topi mencuat dari kepalanya.
"Aku sangat lelah Susan, perjalanan panjang ini membuatku ingin cepat beristirahat."
"Dimana Alex dan ellena mengapa mereka tidak menyambutku?" Wajah madam Janet terlihat kesal lalu menatap rumah dengan menggeleng beberapa kali, dan melihat seluruh pelayan dengan pakaian yang sama menyambutnya di teras.
"Seandainya saja anakku masih hidup, rumah ini akan lebih terawat." Gumamnya, dia mengelilingi setiap sudut kediaman Collagher dan mengeluhkan segala sesuatu yang di temuinya.
Alex beserta ricky dan nick baru saja tiba di teras depan, matanya seketika memandang Ruzy, gumaman terdengar dari belakang Alex.
"Selamat Alex Sepertinya kau menang jackpot hari ini! Ricky terkekeh melihat tampang Alex yang gusar.
"Kau darimana saja Alex, kau seharusnya menyambutku, kau tidak tahu nenekmu ini akan datang?" Madam Janet berdecak lalu wajahnya seperti menyalahkan nyonya Collagher. "Susan, seharusnya kau lebih disiplin mengajarkan anakmu", mata Alex berkilat memandang tidak suka wanita di depannya.
"Dan kau masih berteman dengan mereka?" menunjuk Ricky dan Nick, "Ckckck seharusnya aku tinggal lebih lama di sini, mengajarkan hal yang benar di keluarga ini."
Seluruh pelayan saling menatap. Wajah Alex memerah dengan kemarahan, dia ingin membantah nenek tua ini, tapi nyonya Collagher menggeleng memperingatkannya.
"Bawa barang-barangku." Dia menjentikkan tangannya pada tuan Ollie. Seorang gadis berlari dan menggandeng tangan Alex dan memeluknya, wajahnya yang kekanakan tersenyum senang, rambut pirang pendeknya melambai, tubuhnya sangat seksi meskipun umurnya belum sampai 20 tahun.
Alex terkejut menatap gadis yang memeluknya, " Grace?" Senyum hangat tiba-tiba muncul di wajah Alex dia membalas pelukan Grace sepupunya ini. Ruzy mengintip dari balik punggung Jessy, wanita pirang cantik, begitupun tubuhnya dia bergelayut manja di tangan Alex. "Alex aku begitu merindukanmu, nenek kesini karena aku yang memintanya."
"Oh ya, bagus sekali." Senyum alex dengan nada sarkastik, Nick hanya terkekeh melihat ekspresi alex, gadis bernama Grace itu menempel terus pada Alex, dengan sengaja menempelkan dadanya yang besar ketubuh alex membuat ricky menggeleng tidak percaya, "Apakah betul dia masih 19 tahun?" bisiknya pada Nick.
Ruzy tertunduk tidak ingin melihat mereka, Mata coklat nick tanpa sengaja menatap wajah ruzy di tengah-tengah pelayan yang berdiri, mata mereka bertemu, nick mengedipkan satu matanya pada ruzy, membuatnya terkekeh melihat Ruzy terbelalak melihatnya.
"Ada yang lucu?" tanya ricky kepadanya, "Banyak yang lucu Rick jika saja kau memperhatikan, dan hentikan pandangan mesummu ke sepupu Alex, matamu itu tidak lepas dari dada grace."
"Ck, aku hanya tidak percaya mengapa dia memiliki tubuh seksi wanita dewasa dengan umurnya yang belum cukup 20 tahun." Kata Rick sambil kembali menatap Grace dengan pandangan menyelidik.
"Hentikan pembicaraan kalian tentang Grace, dia sepupuku dan dia masih kecil dibandingkan pria tua seperti kalian." Kata Alex yang mendengar percakapan mereka.
"Masih kecil? umur 19 sudah masuk kategori dewasa Alex, kau tidak tahu? dan apa salahnya dengan umur kita? 30 tahun bukan usia yang tua Alex." Rick berdecak lalu kembali memandang Grace dengan menggelengkan kepalanya sambil bersedekap.
Mata Alex menangkap sosok ruzy bersama pelayan-pelayan lainnya yang tengah mengangkat barang-barang madam Janet ke dalam. ruzy mengacuhkannya, dan dengan cepat masuk ke dalam dengan barang yang berat di tangannya.
"Biar aku yang bawa barang itu Ruzy." Seorang pelayan dengan tubuh tinggi tegap kulit kecoklatan dengan wajah seperti pria latin mengambil bawaan ruzy, dia tersenyum memandangnya dan masuk ke dalam.
Tajamnya mata alex tidak lepas dari ruzy dan pria latin itu, umpatan kecil keluar dari mulutnya membuat Grace terkejut menatap Alex yang mengutuk seseorang. Grace sudah lama tertarik pada alex meskipun dia sepupunya dia tidak perduli, tetapi gadis ini tidak akan melepaskan matanya dari pria-pria tampan yang ada di depannya, dia menatap Nick dan Ricky menilai mereka, bahkan matanya tidak lepas dari pelayan yang membantu Ruzy tadi, 'Banyak pria seksi di sini, ide berkunjung ke sini benar-benar tepat', gumamnya sambil mengedipkan matanya pada Ricky.