Flower On The River

Flower On The River
Vol 32



Pagi-pagi sekali Alyena berangkat ke sekolah, dia sengaja bangun pagi karena tidak mau bertemu Jafier. Jadi dia berusaha pergi ke sekolah pagi-pagi sekali. Sesampainya di sekolah, murid-murid disekolahnya belum begitu banyak, Alyena duduk di taman sekolah sambil mengirimkan pesan kepada Nick dan Clara agar segera berangkat ke sekolah.


"Hei tuan putri, aku tidak tahu sepagi ini kau juga sudah datang? terima kasih yang kemarin, berkatmu aku harus dikeluarkan dari sekolah dan keluargaku mendapatkan kesulitan." Suara pria itu membuat Alyena terkejut, pria itu bernapas dengan cepat, kemarahannya membuat dirinya seperti lupa diri.


"Aku datang hanya mengambil barang-barangku, berkatmu aku harus pindah sekolah, kenapa kau harus datang di sekolah kami?"


"Kenapa itu menjadi salahku? Apa aku yang mengganggumu pertama kali? Kau yang membuat onar, apa kau pikir semua kata-katamu akan ku turuti? kau harusnya berpikir sebelum bertindak."


Pria itu ingin melayangkan tangannya kepada Alyena, tetapi sesuatu menahannya, seseorang memegang tangannya, lalu memelintirnya hingga dia terjatuh dan berteriak kesakitan karena tangannya di putar secara paksa.


Alyena menatapnya, Jafier tiba di sekolahnya, dia hendak menjemputnya tetapi Alyena telah berangkat terlebih dahulu.


"P-paman Jafier?"


"Kau tidak apa-apa?" Ucapnya marah.


"Aku tidak apa-apa."


Jafier sangat geram, dia menyerahkan anak itu kepada pengawal yang tadi berlari hendak mengahalaunya, tetapi Jafier terlebih dahulu telah datang menolong Alyena.


"Kau sama sekali tidak mendengarkan aku, Alyena, kenapa kau pergi sepagi ini ke sekolah? apa karena kau ingin menghindar dariku?"


Alyena lalu menganggukkan kepalanya dengan jujur. Jafier mengambil napas perlahan. "M-maafkan aku paman." Ucapnya.


Jafier menarik tangan Alyena dan membawanya ke luar bangunan sekolah. "Kita sarapan di sana, kau pasti ke sekolah tanpa sarapan kan?" Ucap Jafier sambil menunjuk sebuah rumah makan untuk sarapan yang tidak begitu jauh dari sekolah Alyena. Mereka masuk ke sana dan memesan makanan.


Jafier memesan Sandwich serta dua cangkir teh dan kopi, muffin serta makanan lain yang dihidangkan semua di atas meja.


"Makanlah, sebelum bel sekolahmu berbunyi."


Alyena mengangguk, dia cukup senang karena dia memesan makanan cukup banyak, apalagi Alyena juga kuat makannya. "Kenapa paman tidak makan?" tanyanya.


"Oke, aku akan makan."


Mereka sarapan bersama di tempat itu, mereka makan tanpa ada pembicaraan. Jafier meneguk kopinya, lalu menatap Alyena yang masih makan sarapannya dan belum berhenti.


"Sepulang sekolah aku akan menjemputmu."


"Apa paman tidak kerja?" tanyanya.


"Kerja, tapi aku akan menjemputmu, dan satu hal lagi, jangan naik ke motor temanmu yang bernama Nick, kau mengerti." Alyena lalu menganggukkan kepalanya.


"Semalam, Regan yang meneleponmu?" tanyanya. Alyena lalu terbatuk-batuk mendengarkan pertanyaannya. Setelah meneguk air putih, Alyena menganggukkan kepalanya.


"Dia menelepon untuk menanyakan kabarku, itu saja." Ucap Alyena.


"Bukankah kau sudah di belikan ponsel lain oleh Audry?" Jafier mengerutkan alisnya ketika dia mengambil ponsel Alyena dan memeriksanya, dia kemudian mengambil nomor telepon Regan yang lainnya dan menyimpannya di ponselnya.


"Aku belum menggunakannya, aku masih memakai ponsel yang paman berikan.


"Aku harus pergi paman, sebentar lagi bel akan berbunyi." Jafier mengantarnya hingga ke depan gerbang sekolah. Normalnya dia mencium Alyena ketika hendak berpisah, tetapi karena mereka berada di area sekolahan, Jafier hanya mengantarnya sampai ke pintu gerbang dan kemudian berjalan dan masuk ke dalam mobilnya.


~


"Kau kemana saja Alyena, kau mengirimkan pesan untuk kami agar segera berangkat ke sekolah dan kau yang tidak muncul dari tadi."


"Aku hanya sarapan di seberang sana."


"Bersama siapa?"


Pipi Alyena tiba-tiba memerah. "Dia pasti makan bersama paman Jafier, iya kan?" Ucap Nick.


"Kau berisik sekali Nick." tegur Alyena.


~


Akhirnya Alyena selesai, dia menunggu di gerbang sekolah, menunggu kedatangan Jafier yang katanya akan menjemputnya, tetapi sampai sekarang dia sama sekali tidak datang.


"Aku minta maaf, aku tidak bisa menjemputmu, teleponlah pengawal untuk segera menjemputmu."


Alyena mengambil napas, "Ugh, Seharusnya dia mengirimkan pesan dari tadi, aku tidak perlu menunggu di taman."


"Alyena."


Suara itu mengagetkan Alyena, dia menatap Kilian Regan berada di ujung jalan, setelah berjalan sebentar, dia menghampiri Alyena.


"Kau baru pulang dari sekolah?"


"Iya, aku baru pulang, kenapa anda ada di sini?" tanyanya.


"Aku sengaja ke sini untuk mengajakmu makan siang, bagaimana?" Dia tersenyum kepada Alyena.


"Emm Ok."


Alyena hendak masuk kedalam mobilnya ketika Nick memanggilnya, dia berhenti tepat di samping Alyena. "Siapa?" Ucapnya berbisik.


"Ada apa Nick."


"Bagaimana kalau kita makan bersama, Clara menunggu di sana."


"Apa?" Matanya tertuju kepada Kilian, tatapannya jatuh kepada kilian. "Boleh aku mengajak teman-temanku?"


"Tentu, kau boleh membawa mereka." Terlihat dari wajahnya sedikit kecewa. Nick lalu berbisik kepada Alyena.


"Dia, siapa lagi, kenapa banyak pria-pria tampan mencarimu." Tanyanya.


"Ck berisik, dia kenalanku sewaktu aku tinggal di desa." Jawabnya.


"Sepertinya dia menyukaimu." Ucap Nick curiga.


"Berisik, nanti dia mendengarmu." Bisik Alyena.


"Dia mendengar kalian, bodoh. Kecilkan suara kalian." Ucap Clara.


Mereka makan siang di sebuah restaurant yang tidak begitu jauh dari sekolah mereka, Kilian makan dengan tenang dan terkadang berbincang dengan Nick yang cerewet, sehingga suasana lebih ceria.


"Jadi kalian teman kelas Alyena?"


"Ya paman, kami teman kelasnya, dan satu hal lagi, apa paman menyukai Alyena?" tanya Clara blak-blakan. Sontak Alyena terbatuk-batuk ketika meneguk minumannya. Dia menatap membelalak kepada Clara yang masih memperlihatkan wajah datar tidak mengerti.


"Hm, iya bisa dibilang begitu."


"Kenapa, dia kan masih sekolah, apalagi paman itu tampan, apa tidak ada wanita yang menarik perhatian paman?"


Alyena lalu mencubit tangan Clara sampai dia mengaduh.


"Alyena lebih membuatku tertarik di bandingkan yang lainnya, lagi pula sudah cukup lama aku mengenal Alyena, sejak dia tinggal di desanya."


"Oh ya, Jadi bagaimana dengan paman Jafier." tanya Nick.


"K-kalian ini, tutup mulut." Ucap Alyena sambil kembali mencubiti Nick.


Alyena salah tingkah dengan semua pertanyaan temannya yang terbuka itu. Setelah mendengar pertanyaan temannya yang membuatnya canggung, tiba-tiba suara seseorang membuat Alyena berbalik, suara itu adalah suara William dan Jafier.


"Alyena? apa yang kau lakukan di sini?" Tatapan matanya jatuh kepada Kilian Regan bersama teman-teman Alyena yang lain. Jafier menatap Alyena sambil bersedekap. Mereka dan beberapa rekan bisnisnya akan makan di tempat ini, sementara itu mereka semua baru saja menyelesaikan makan mereka.


"Selamat siang paman Jafier, anda tenang saja, saya masih memihak kepada anda, tetapi sepertinya Clara memihak kepada paman Kilian." Ucap Nick, sementara Alyena menutup wajahnya dengan tangannya karena malu.


"Alyena, selesai makan, kalian langsung saja pulang ke mansion." Ucap William dengan suara datar.


"Tapi sir, setelah ini kami akan ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas." Ucap Nick.


Matanya langsung menatap tajam pria berkacamata di hadapannya. "Aku yang memutuskan Alyena akan kemana, kalian bertiga kembali ke Mansion, sekarang. Di mansion juga ada perpustakaan." Ketiganya lalu mengangguk menurut melihat wajah mengerikan William.