
Alyena baru saja selesai mandi, handuk masih menggantung di tubuhnya, dia menatap ponsel yang bergetar di atas meja. "Pesan dari paman Jafier?" Ucap Alyena dia lalu membaca pesannya.
"Bagaimana keadaanmu, apa kau baik-baik saja di sana? Ah, sebentar malam aku akan mampir di mansion, kita akan makan malam bersama."
Alyena membalas pesan Jafier, "oke paman, aku akan menantikannya." Setelah membalas pesan Jafier, Alyena segera mengenakan dress yang ada di kamar khusus yang di sediakan untuknya.
Ketukan terdengar dari pintu kamarnya. Alyena segera membukanya, Willy berdiri didepan pintu kamarnya. "Alyena kita akan makan malam sebentar lagi, kau sudah selesai mandi?" Tanyanya.
"Iya kak, baru saja selesai, tadi ada pesan dari paman Jafier, dia akan mampir ke mansion untuk makan malam bersama." Ucap Alyena.
"Dia mengganggu sekali." gerutu Willy, dia memegang tangan Alyena, mereka segera menuju lantai bawah.
"Di mana kak Audrey, dia tidak makan malam?" tanyanya.
"Jangan khawatir, dia akan keluar dari kamarnya sebentar lagi, dia sedang sibuk mendesain atau sekarang dia sedang tidur." Ucap Willy.
"Kau ingin makan apa Alyena?" Tanyanya.
"Apa saja, aku suka semua jenis makanan." Ucap Alyena. Dia bukanlah gadis pemilih apalagi dalam memilih-milih makanan, dia bisa menyantap semuanya.
"Jika saja kau menginginkan sesuatu, jangan sungkan dan jangan ragu memintanya kepadaku dan kepada Audrey, kau mengerti Alyena." Ucap willy sambil menepuk sayang kepala Alyena.
"Baik kak Willy."
Terdengar langkah seseorang dari luar mansion, senyumnya terlihat dari kejauhan ketika menatap Alyena yang telah duduk di meja makan bersama Willy.
"Kau datang? Aku tidak tahu kalau aku mengundangmu makan malam." Ucap willy menaikkan satu alisnya.
"Ada ingin yang ingin aku bicarakan kepadamu, jadi sekalian saja aku makan malam bersama kalian, lagi pula Alyena tidak keberatan sama sekali." Ucap jafier tidak perduli dengan sarkas Willy apalagi mata tajamnya yang seakan ingin mengusir Jafier sekarang juga.
"Ah, lain kali aku akan memberimu hadiah untuk kerja kerasmu Jafier, karenamu Belinda tahu kalau aku ada di Seattle." Jafier lalu tertawa, dia kemudian menaikkan bahunya.
"Aku terlalu bosan dengan gangguannya, dia selalu meneleponku, ingin mengadakan kerja sama dengan perusahaannya, hanya alasan saja, jadi aku sedikit keceplosan memberitahu jika kau ada di Seattle."
Willy mendengus mendengarnya, "Entah apa yang di pikirkan wanita itu, dia pikir kita bisa menjadi mainannya, dengan mengandalkan kerja sama bisnis, aku sama sekali tidak mau bekerja sama dengan perusahaannya, mungkin, setiap dia bekerja sama dengan sebuah perusahaan, dia akan tidur dengan pria-pria itu." Ucap Willy.
Alyena hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka dan mendengarkan nama seorang wanita bernama susan, dia mengingat-ingat kembali wajah wanita yang mendelik kepadanya dan terlihat marah.
"Berhenti membicarakan wanita itu. Kau sudah berbincang dengan Alyena? Apa dia sudah nyaman tinggal di sini."
"Tentu aku nyaman, paman." Ucap Alyena sambil tersenyum.
Audrey segera turun ke lantai satu di ruang makan, dia terlihat kelelahan dan mengantuk. "Apa aku masih belum ketinggalan makan malam? Tch, kalian tidak memanggilku." Ucap Audrey, "Ugh aku ngantuk sekali, tetapi karena aku mau makan malam bersama Alyena jadi aku berusaha tidak tidur dulu." Ucapnya.
"Kau di sini Jafier? Apa kau datang ingin melihat Alyena? Kau baru bertemu dengannya, apa kau sudah merindukannya?" Ucap Audrey dengan santainya tanpa memandang wajah willy yang terlihat marah kepadanya.
"Apa yang kau katakan Audrey, Jafier kemari hanya untuk membicarakan masalah bisnis, bukan untuk menemui Alyena, iya kan Jafier?" Ucap Willy.
"Mungkin iya, tapi selain berbicara denganmu aku ingin menemui dan mengetahui keadaan Alyena." Ucapnya, sambil mengedikkan bahunya.
"Dia baik-baik saja, jadi berhenti mengkhawatirkan adik orang lain."
Mereka makan malam bersama, saling mengobrol dan Alyena sangat senang menjadi bagian dari mereka semua, dia sangat beruntung, dia tidak menyangka bahwa kelak dia akan di manja dan di jadikan oleh kakak-kakaknya bagaikan seorang putri dan adik yang harus mereka lindungi.
"Alyena, mulai besok kau akan belajar privat, kau harus menyelesaikan studymu setelah itu kau akan kuliah di universitas pilihanmu." Ucap Willy, Alyena hanya mengangguk mengiyakan segala keputusan Kakaknya.
Setelah makan malam, Alyena hendak mengangkat piring-piring itu ke dapur, tiba-tiba Audrey memegang tangannya, "Alyena, bagaiamana kalau kita jalan-jalan di luar mansion, udaranya juga cukup segar."
"Oke kak Audrey."
Mereka berdua berjalan-jalan sambil mengobrol. Audrey menatap Alyena, dia kemudian menepuk pundaknya.
"Kau akan terbiasa dengan semuanya, kau jangan khawatir, kak willy sudah menghubungi semua orang yang profesional yang ahli di bidang mereka masing-masing, mereka akan mengajarimu menjadi seorang anggota keluarga Collagher di rumah ini."
"Baik, kak Audrey.
Saat itu Alyena duduk di salah satu gazebo di taman mansion, dia masih mau menyaksikan pemandangan malam seorang diri, sedangkan Audrey telah kembali ke ruangannya karena sedang bekerja menyelesaikan desainnya.
"Kau sendirian?"
Suara itu mengagetkan Alyena, dia berbalik ketika melihat Jafier berjalan ke tempatnya duduk. "Kak Audrey sedang bekerja jadi dia harus kembali ke dalam, paman sudah selesai bicara dengan Kak Will?"
"Ehm ya, sudah selesai, aku hanya ingin bertemu denganmu lalu segera kembali." Dia lalu duduk di samping Alyena.
"Kau suka di sini?" Tanyanya.
Alyena mengangguk, "Tentu saja, aku sangat senang berkumpul dengan kak willy dan kak Audrey."
"Aku juga suka tinggal di rumah paman, memangnya paman sedang kesepian?" Ucap Alyena sambil bercanda, dia tertawa lalu menatap wajah pria di sampingnya yang tampak serius dan tanpa tersenyum sama sekali.
"Emm, aku cuma bercanda, ada apa paman? Kenapa wajah paman seperti itu?" Tanya Alyena.
Tangan jafier terangkat, dia menghalau rambut-rambut yang melengket di kening Alyena. "Ya, jujur saja aku kesepian sejak kepergianmu."
"A-apa, paman bercanda ya, lagi pula aku di sana tidak sampai seminggu di rumah paman, bagaimana paman bisa merasa kesepian." Alyena menatapnya, matanya terlihat berbinar ketika kedua mata mereka bertemu, sulit untuk Jafier menghindarinya.
"Aku hanya bercanda." Dia menepuk lembut kepala Alyena dan menarik Alyena ke dalam pelukannya. "Sebentar saja Alyena, jujur saja aku merindukanmu, tapi jika Willy melihatku sekarang, mungkin dia akan membunuhku." Bisik Jafier di telinga Alyena sambil menyandarkan kepala di bahunya, dia bersandar di tubuh kecil itu, entah mengapa wangi Alyena sangat disukai oleh Jafier, setelah beberapa lama, dia lalu melepaskan pelukannya.
"Saatnya aku pergi, sebentar lagi Willy berteriak-teriak mencarimu, sebaiknya kau masuk Alyena, jangan lama-lama di luar, anginnya makin dingin." Ucap jafier menarik tangan Alyena agar berdiri.
"Paman bercanda ya, di desaku lebih dingin di bandingkan di sini." Ucapnya.
°°°
Wanita itu berada di salah satu Club malam yang terkenal di Seattle, dentuman musik serta lantai dansa yang di penuhi oleh pria dan wanita yang sedang menari, seakan melupakan waktu dan kesulitan yang mereka hadapi.
Seorang wanita sedang duduk di salah satu ruang VIP, dia sedang menggigit kukunya ketika mengingat seorang gadis ada di sana. "Adik? dia bercanda? sejak kapan keluarga Collagher memiliki putri ketiga? Cih, aku tidak begitu jelas menatapnya waktu itu, tetapi Willy terlihat begitu melindunginya, aku akan memeriksa latar belakang gadis itu, bisa saja dia seorang pembohong dan mengaku-ngaku sebagai bagian keluarga Collagher, di zaman seperti ini, orang akan melakukan apa saja, siapa yang tahu?" Ucapnya sambil meneguk minuman di tangannya.
~
Pagi-pagi sekali Alyena telah bangun dari tidurnya, dia harus bangun pagi untuk memulai perkenalannya dengan guru-guru yang akan mengajarinya selama di mansion, dia akan melanjutkan belajarnya secara privat.
Alyena turun ke lantai satu, para pelayan sudah sibuk dengan aktivitasnya, mereka mengerjakan tugas mereka masing-masing, mereka menunduk sedikit ketika Alyena berjalan.
Sebelum sarapan, Alyena berjalan-jalan di taman menikmati udara di pagi hari, taman yang luas itu di penuhi dengan bunga-bunga, salah satu bunga yang menarik perhatian Alyena adalah bunga Rose yang indah berwarna merah, mekar dengan sempurna dan wangi.
"Apa ini semua tanaman kesukaan mommy?" Ucapnya, "Mommy juga menanam beberapa macam bunga di halaman rumah, dia suka sekali memetik bunga di atas bukit dan membawanya pulang lalu merangkainya, kemudian menaruhnya di meja makan sehingga tampak indah.
"Anda suka dengan bunga itu?" tanyanya.
Alyena terkejut bukan main, Seorang pria paruh baya berada di belakangnya. "Maaf nona saya tidak bermaksud mengagetkan anda." Ucapnya.
"tidak apa-apa, saya hanya sedikit terkejut, ya saya sangat suka bunga-bunga di sini."
"Bunga-bunga ini adalah kesukaan mendiang Nyonya Ruzyana, dia sangat suka bunga, apalagi bunga Rose ini." Pria itu menunjuk satu bunga merah menyala yang hampir memenuhi taman itu.
"Oh ya? Ah terima kasih memberitahuku." Senyum Hanna.
"Apakah ayah anda bernama Tuan Nick Adams?" tanyanya lagi.
"Alyana mengangguk, "Iya itu benar, ayahku bernama Nick Adams." Jawab Alyana.
Mata pria tua itu berbinar, "anda tahu? saya pernah melayani tuan muda di mansionnya, dulu saya seorang kepala pelayan di keluarga Adams, tetapi karena kasus....
"Alyena, kau sedang apa di sini?" Suara itu membuat Alyena berbalik, Willy telah berada di sampingnya dan menatap curiga kepada pria tua yang mengobrol dengan Alyena.
"Ah, kak Willy, aku tadi berjalan-jalan dan melihat bunga-bunga di sini, katanya bunga Rose ini adalah kesukaan mommy." Ucap Alyena.
"Oh ya, bunga ini memang kesukaan ayah dan ibu." Willy membenarkan perkataan Alyena. Matanya tajam menatap pria tua itu yang mundur beberapa langkah ketika dia datang.
"Ayo masuk, sebentar lagi kita akan sarapan."
"Baik kak."
"Kak Willy?" Ucap Alyena.
"Huh? Ada apa?" tanyanya.
"Berhenti memandangi wajahnya seperti itu, dia ketakutan sejak kakak datang tadi." Ucap Alyena.
Willy berhenti dan berbalik kepada Alyena, "Jangan berbicara dengan orang asing sembarangan Alyena, bagaimana jika orang itu jahat, dan ingin melakukan sesuatu kepadamu, dan bagaimana jika aku tidak ada di sana?"
"Maaf kak Willy, tadi paman itu bilang kalau bunga-bunga itu milik ibu." Alyena berucap dengan mata berbinar. "Dulu sewaktu di desa mommy suka sekali memetik bunga dan merangkainya, lalu menaruhnya di atas meja."
Willy mendengarnya sambil tersenyum dia lalu membawa Alyena. Dia menoleh sebentar, sambil menatap pria itu yang telah kembali merawat tanaman-tanaman di sana. Willy menatap Alyena, dia tahu siapa Nick, pria yang merebut hati ibunya kala itu, pria yang mencintai ibunya diam-diam, sepeninggal ayahnya Alex barulah dia mendekati ibunya, dan memintanya untuk menghabiskan hari tuanya bersama ibunya. Nick Adams atau nama lainnya Juan Tevez, tentu saja Willy tahu apa yang menimpa Nick dan kasusnya yang sempat menggegerkan kota ini dengan kasus pembunuhan berantai.
Satu hal yang di syukuri diantara semua hal yang terjadi, Bersatunya mereka berdua sehingga Alyena ada di dunia ini, tanpa sadar Willy sudah sangat sayang kepada Alyena.
~
~
"Bagaimana keadaan Nona Alyena?" Tanya pria itu, dia sedang berada di kantornya, dia cukup sibuk mengerjakan urusan kantornya, tetapi dia tidak pernah lupa menanyakan mengenai kabar Alyena.
"Dia baik tuan, hari ini tuan Collagher akan mengirimkan orang-orang untuk mengajar Nona Alyena secara privat, karena masalah sekolahnya yang sempat terputus."
"Oh ya?" Pria itu tersenyum tipis, dia tahu siapa William, seorang pria posesif bahkan kepada adiknya sendiri, apalagi sekarang ada Alyena yang menjadi tangung jawabnya, meskipun begitu, tidak ada yang bisa menahannya menemui gadisnya, dan dia berjanji akan menemuinya ketika pekerjaannya telah selesai.
~
Alyena menunggu di ruang belajarnya dengan jantung berdetak, sudah begitu lama sejak dia meninggalkan sekolahnya, demi bekerja di perkebunan. Dan hari ini adalah harinya dia mulai belajar kembali.
Tiga orang wanita masuk dengan busana yang berbeda, mereka tampak profesional di bidangnya masing-masing. Mereka bertiga menjelaskan segala sesuatu yang akan Alyena pelajari.
Hari itu juga Alyena belajar dengan mereka. Willy memperhatikannya dari jauh, dia menyandari salah satu dinding dan mengawasi Adiknya yang mendengarkan dengan penuh semangat tiap kata-kata dari tutor mereka.
Willy memanggil Mr Walt ketika dia hendak berangkat ke kantor. "Mr Walt aku akan ke kantor, erm jangan biarkan seorangpun masuk ke dalam mansion kecuali aku berada di tempat itu, jaga Alyena baik-baik, sebentar malam aku akan kembali."
"Baik tuan Collagher." Ucap pelayan itu.
~
Alyena akhirnya keluar dari ruangan itu setelah beberapa jam belajar, besok dia akan melanjutkan pelajarannya kembali.
"Nona Alyena, apakah anda ingin makan sesuatu sebelum makan siang? kami memiliki beberapa Cake yang baru saja selesai di buat, anda bisa berisitirahat dan kami akan segera membawakannya.
"Ah Ok Walt, aku berada di ruang perpustakaan." Ucap Alyena, dia kemudian berjalan di ruangan khusus tempat membaca dan banyaknya buku-buku yang berderet rapi di sana.
Alyena masuk ke dalam, tempat itu tentu saja kosong, ruangan yang di penuhi buku-buku jenis apapun, Alyena berjalan pelan, dia melangkah memasuki setiap lorong tempat di simpannya buku-buku, dia berjinjit mengambil salah satu buku yang ingin di bacanya, tetapi sayang sekali kakinya tidak sampai, dia berusaha berjinjit kembali, tiba-tiba saja wangi Wood dan Mint menyentaknya dan menghantam hidungnya, tangan panjang itu mengambil buku yang diinginkan Alyena, dari atas kepalanya, Alyena tidak berbalik, tetapi dia tahu siapa pria yang berdiri di belakangnya.