
Penthouse Collagher
Seminggu didalam penthouse membuat Alyena bosan setengah mati, meskipun willy dan Audry berusaha menyelesaikan pekerjaannya tetapi hal itu hanya berlangsung selama tiga hari, setelah itu mereka kembali sangat sibuk dan pulang jika malam telah larut.
Alyena mencoba mencari kesibukan, kadang dia menelepon Nick dan Clara, sengaja menelepon mereka ketika waktu perkuliahan dan mengganggunya belajar. Setelah itu dia menyuruh mereka untuk datang ke penthouse dengan memesan segala macam makanan.
"Ugh mereka pulang. Aku kembali sendiri. Bagaimana kalau aku jalan-jalan ke taman saja? tapi ini sudah ketiga kalinya aku ke taman."
"Atau belajar memasak di dapur? Koki Lein akan menatapku seakan mengatakan sebaiknya jangan belajar masak kalau hanya setengah-setengah saja, dapur akan kotor dan itu menyusahkanku. Ck, sudahlah sebaiknya aku ....
"Bagaimana kalau menghabiskan waktu bersamaku?"
Alyena berbalik, dia melihat Jafier berjalan di belakang Alyena yang berbicara seorang diri. Alyena berlari kearahnya dan melompat di pelukannya.
"Aku tidak melihatmu datang. Aku bahkan tidak mendengar mobilmu masuk." Ucap Alyena masih di dalam gendongan Jafier.
"Aku khawatir kau akan mati kebosanan di rumah seharian. Aku membawa banyak makanan, kita bisa menghabiskan waktu seharian sebelum Willy pulang." Alyena sangat gembira, dia memeluk erat Jafier dan menciumnya, tanpa memperdulikan banyak penjaga menatap mereka berdua.
Jafier menurunkan Alyena dan melepaskan ciumannya. Dia memeluknya erat. "Bagaimana kalau kita makan ini sambil nonton?" Ucap Jafier
"Oke setuju, aku akan mengambil gelas dulu di dapur. Bawa cemilan ini ke kamarku, paman." Ucap Alyena.
Jafier berhenti bergerak. "Kita akan di kamarmu? "
"Mm, kita nonton dalam kamarku saja."
Jafier terlihat ragu, dia kembali duduk di kursi dan menyimpan kembali barang-barang itu di atas meja.
"Sebaiknya kita menonton di ruang tengah saja, mungkin kau akan haus, kau tidak perlu turun ke dapur untuk mengambil air." Ucap Jafier. Alyena tampak berpikir keras.
"Hm okey, kalau begitu kita nonton di ruang tengah saja, aku akan membuat dua minuman di dapur. Jafier mengambil napas dan menghembuskannya.
Apa Alyena tidak tahu betapa berbahayanya jika aku masuk ke dalam kamarnya? kali ini mungkin aku akan lupa diri dan tidak peduli lagi dengan kemarahan Willy. Aku akan melakukannya jika Alyena juga menginginkanku.
Jafier membawa semua makanan itu ke ruang tengah tempat anggota keluarga Collagher menghabiskan waktu bersama.
Jafier membuka-buka lemari dan mencari koleksi film milik Willy, semua tersusun berdasarkan tahunnya.
"Ini lumayan bagus. Apa Alyena sudah menontonnya?"
"Aku tidak menonton koleksi kak Willy, semua film itu aku tidak begitu suka, coba saja lihat tahun pembuatannya. Aku tidak menyukai film klasik. Bagaimana kalau drama korea?"
"Tidak. Aku menolak, kalau drama itu yang kau putar. Aku lebih baik tidur saja dan menemanimu."
"K-kenapa? Teman-temanku banyak yang membicarakan film-film itu."
"Tapi aku lebih suka film action, bagaimana?"
"Tsk, Hm ok aku ikut kau saja." Ucap Alyena duduk di samping Jafier sambil makan cemilannya. Alyena melirik kepada Jafeir yang terlihat serius menonton, bahkan alisnya berkerut serius.
Bagaimana kalau aku sedikit mengganggunya?
Alyena sungguh bosan, dia tidak menyukai film action. Jadi dia memutuskan untuk mengganggunya. Mula-mula dia menyandarkan kepalanya di bahu Jafier, setelah itu, tangannya berada di atas paha jafier. Alyena meliriknya.
Tsk tidak ada reaksi. Bagaimana kalau seranganku yang ini?
Alyena mengalungkan kedua tangannya ke lengan Jafier dan menempelkan tubuhnya ke lengannya. Dia tampak seperti biasa saja.
Cih apa aku kurang berusaha?
Alyena kembali melancarkan serangannya memeluknya sambil menjalankan tangannya di pahanya.
"Alyena kau akan menyesal kalau kau mencoba lebih jauh lagi, karena aku tidak akan mudah melepasmu."Ucap Jafier. Matanya masih terpaku di tv tetapi sikapnya terlihat tidak tenang.
"Terlambat. Kau yang memulai Alyena. Jadi kau harus menerima resikonya. Jafier membuat Alyena tidak bekutik di tempatnya, bibir mereka saling menyatu dengan intens, kedua tangan Alyena berada di atas kepalanya, dia terjebak di tubuh Edmund. Napasnya menggelitik leher jenjang Alyena, dia mulai melancarkan aksinya dengan menyentuh tubuh Alyena, tetapi suara mesin mobil membuat Jafier tersadar. Mereka saling menatap.
"Willy." Ucap Jafier. Saat pintu ruang tengah terbuka, Willy menatap mereka sedang duduk santai dan menonton film.
"Kakak sudah pulang?" Ucap Alyena senatural mungkin tanpa kegugupan di wajahnya. Pandangan Willy terlihat fokus kepada mereka berdua. Mendeteksi jika sedikit saja ada yang aneh dari sikap mereka.
"Aku langsung pulang ketika ada yang menghubungiku kalau Jafier datang berkunjung. Aku tidak bisa membiarkan kalian berdua berada dalam satu ruangan." Ucap Willy memandang curiga Jafier.
"Ck kau sungguh tidak mengerti bagaimana perasaan kami, kau seperti ibu tiri jahat memisahkan putrimu dan kekasihnya yang saling mencintai." Ucap Jafier sambil mendengus.
"Aku suka jadi ibu tiri jahat, jadi aku bisa memisahkan kalian kapan saja." Ucap Willy sambil tersenyum.
"Alyena ada pesan dari Clara, malam ini dia mau menginap dan menemanimu."
"Benarkah?" Alyena terlihat senang.
"Sepertinya sebentar lagi dia tiba."
"Kalau begitu aku akan menunggunya di taman, dia tidak perlu mengalami dua kali pemeriksaan dari luar." Alyena segera pergi, tetapi sebelum itu dia memberikan kecupan singkat di bibir Jafier dan segera berlari, dia tidak mempedulikan kehadiaran Willy yang melotot ketika Alyena melakukannya.
***
Alyena tertawa tertahan, dia tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Willy ketika dia mencium Jafier di depan matanya. Alyena berlari-lari kecil menuju taman. Dia duduk disana sambil memainkan ponselnya. Tidak lama suara langkah kaki mendekati Alyena, membuat dia tersenyum.
"Clara. Aku sangat senang kau akan menemaniku malam ini, aku sangat ...." Alyena membelalakkan matanya, ketika melihat siapa yang datang. Rambutnya memang pendek berwarna hitam, pakaiannya pun seperti Clara, dia selalu mengenakan pakaian sesantai mungkin. Tetapi, dia bukan Clara, dia Rudith yang memakai Wig pendek berwarna hitam dan kacamata hitam, dia mengenakan baju Clara, sehingga anjing penjaga tidak mendeteksi dan dia masuk dengan sempurna.
"Apa kabar Alyena, sepertinya sudah beberapa hari kau bersembunyi seperti kelinci yang ketakutan, sampai-sampai kau sudah tidak keluar dalam beberapa hari, jadi tindakan ini terpaksa kulakukan. Oh ya tenang saja. Aku tidak menyakiti temanmu. Dia ada di mobil duduk manis dan menunggu kerja samamu, jika kau bersikap mencurigakan di depan para pengawal, nasibnya tidak akan aku jamin.
"Kau. Apa yang kau lakukan dengan Clara."
Tenang saja, kau tidak perlu khawatir. Dia ada di mobilnya. Aku khusus datang ke sini untuk bertemu denganmu, karena semua ini sudah terjadi, jadi aku harus menyelesaikannya, bukan?"
"Masuk ke dalam pohon-pohon lebat itu, sekarang !"
Ucap Rudith sambil tersenyum miring. Ayo cepat. Mungkin saja temanmu sekarang sudah kehabisan napas." Ucap Rudith santai. Alyena sangat khawatir dengan Clara, dia kemudian berdiri dan mengikuti apa yang di inginkan gadis gila itu.
Rudith merampas ponselnya dan membuangnya ke tanah. "Sekarang aku akan menghapus wajah angkuhmu untuk selamanya."
***
Mobil hitamnya bergoyang tidak wajar, mobil itu berada di pelataran parkiran. Salah satu pengawal segera mendekati mobil itu karena bergoyang aneh. Dia kemudian membukanya, pengawal itu sangat terkejut karena seorang wanita berambut pendek sedang terikat dengan mulut yang tersumpal serta kaki dan tangannya terikat sempurna. Matanya melotot dan tubuhnya bergoyang.
Pengawal itu segera menghubungi Willy dan memberitahukan apa yang terjadi. Willy segera menjawab ponselnya ketika berbunyi.
"Ada apa?"
"Tuan, kami menemukan seorang wanita terikat di dalam mobilnya. Sepertinya dia teman Nona Alyena."
Willy segera berdiri dan berlari dengan cepat. Wajahnya menjadi pucat.
"Willy apa yang terjadi." Ucap Jafier berlari mengikutinya.
dia keluar menuju ke halaman diikuti oleh Jafier. Wajahnya menjadi pucat ketika melihat Clara terikat.
"DIMANA ALYENA." Teriak Willy.
"Nona ada di taman Sir bersama seorang wanita, pengawal lainnya sudah menuju ke taman, sir. Willy dan Jafier segera berlari menuju taman, dia masuk ke dalam pepohonan dan melihat tubuh mereka berdua di tanah. Alyena terluka parah di bagian dada bagian atas dan beberapa sayatan di tangannya, tubuhnya mengeluarkan banyak darah, dia terluka parah.
Sedangkan Rudith juga terluka sangat parah, di lehernya terdapat bekas sayatan, serta kepalanya mengeluarkan darah
"ALYENA." Teriak Willy dan Jafier ketika melihat Alyena terbaring di tanah dengan pakaiannya berlumuran darah, wajahnya lebam dan bibirnya bengkak mengeluarkan banyak darah. Willy segera mengangkat Alyena dan berlari menuju ke rumah sakit, bersama Jafier yang segera membawa mobilnya.