
Setelah kejadian semalam, penghuni di kediaman Collagher menyisir setiap tanah di hutan itu. Ruzy Joan dan Jessy berjalan bersama menuju hutan, mereka bertiga melewati taman ketika orang-orang di kediaman itu tengah berbincang, ruzy melirik beberapa orang tengah berbincang di sana sambil tertawa-tawa. Terdengar suara dengan nada yang riang dari seorang gadis, suara manjanya seperti merajuk.
"Ellena, beritahu pria di sampingmu itu agar lebih antusias jika dia serius menginginkanku", matanya menatap Alex yang duduk bersama teman-temannya.
Ellena memutar matanya, lalu berdecak menatap Cendy.
"Cendy Jika dia memang serius padamu hari ini juga dia pasti akan melamarmu, tapi kelihatannya kenyataan berkata lain, sampai aku kembali ke Pittsburgh kalian tidak ada perkembangan sama sekali."
Wanita bernama Cendy melirik dengan wajah sedikit masam lalu menatap ellena yang selalu berbicara blak-blakan.
Alex duduk bersama ricky dan nick dengan dua wanita yang bersama mereka. Cendy merupakan teman ellena, mereka berdua selalu menggoda cendy karena ketertarikannya pada Alex sejak dulu, tapi Alex hanya menatapnya seperti halnya serangga yang ingin di buangnya ketika melekat di tangkai bunga di tamannya. Mata tajam alex menatap ketiga pelayan yang melewati taman ketika mereka tengah duduk bersantai, dia tidak melepaskan pandangannya dari ruzy yang berjalan sambil tertawa bersama Jessy dan joan, hal itu tidak luput dari perhatian temannya nick yang terkekeh melihat perubahan ekspresi di wajah Alex.
"Ruzy jangan berjalan terlalu jauh, kau bisa saja kesasar, apalagi pelakunya belum di temukan." teriak Joan padanya, Jessy merinding mendengar perkataan joan.
"Tenanglah, aku hanya berjalan sampai di sekitar pohon itu saja." teriak Ruzy dari kejauhan.
Kencangnya angin membuat pepohonan di hutan seakan tumbang, semak belukar serta bau jamur bercampur dedaunan yang merambat dan sulur-sulurnya yang memanjang membuat suasana di hutan itu tampak mengerikan, ruzy mempercepat langkahnya membayangkan jika pembunuhnya masih berkeliaran di hutan yang sepi ini, sesuatu menarik perhatiannya, sebelah sepatu berwarna merah berada di tanah di dekat pohon yang besar, ruzy mendekatinya hendak mengambil sepatu merah itu, tiba-tiba sebuah lengan memeluk pinggangnya dari belakang, ruzy ingin teriak tetapi tangan besar itu dengan cepat menutup bibir Ruzy.
"Sstt jangan ribut Ruzy, ini aku". Ruzy berbalik menatap wajah tampan di hadapannya. Dia tersenyum menatapku, "Aku senang ketika melihatmu terkejut Ruzy." senyum Alex memicingkan matanya pada ruzy.
Aku menatap sebal kepada Alex, lalu tanpa membuang waktu dia menarik pinggangku hingga menyentuh tubuhnya lalu dia menciumku seperti tak ada lagi hari esok. Aku sangat kewalahan menerima ciumannya.
"Hmphh, lepaskan...lepaskan aku alex aku tidak bisa bernapas." Aku mendorong dadanya yang menempel padaku dengan bernapas pendek-pendek.
"Aku merindukanmu ruzy", tangannya menahan tengukku sehingga aku tidak bisa menghindari ciumannya, "kau seperti udara bagiku."
Ruzy mendorongnya dengan keras.
"Udara? jangan membuatku tertawa, kau hanya mempermainkanku saja. Semua yang kau lakukan padaku? itu hanya nafsumu saja kau menyentuhku seenaknya, aku memang seorang pelayan dan kau tidak memiliki hak mempermainkan perasaanku brengsek"! Ruzy menahan isakannya, matanya memerah memandang alex yang rahangnya terkatup. Alex mendekati Ruzy kemudian menariknya kembali ke pelukannya.
Tangan Alex lembut menyentuh Ruzy, "jujur saja awalnya aku melakukannya hanya karena menginginkan dirimu, tubuhmu ! tapi kini..aku melakukannya karena aku betul-betul menginginkanmu ruzy, dan aku tidak mempermainkanmu."
Matanya tajam menatap Ruzy, "Kau tidak merasakan apapun padaku? tidakkah kau memiliki perasaan padaku?" Mata ruzy membelalak cantik menatap Alex.
"A..aku.." hati Ruzy menjadi ragu mendengar ucapan Alex, angin yang dingin menerpa mereka, sangat terasa di musim gugur saat itu.
"Aku tidak bisa mengatakannya, aku..". Sebelum ruzy melanjutkan kata-katanya, Alex sudah menyambar bibirnya, diangkatnya Ruzy dipelukannya mereka berdua mengerang diantara pepohonan, alex menyandarkan ruzy di balik pohon dan mereka larut di dalamnya.
Suara napas mereka bersahutan, mereka saling memandang membutuhkan.
"Berikan dirimu padaku ruzy." bisik alex di antara rahang ruzy dan lehernya. Ruzy menutup matanya karena sentuhan alex yang menggelitiknya, "Aku..aku harus pergi alex".
"Jangan menghindariku Ruzy!" bisik Alex di bibirnya sambil meremas pinggangnya.
"Tergantung sikapmu tuan Alex, turunkan aku please." Ruzy mendorongnya lalu berlari.
~
Mata biru itu menangkap sosok mereka yang tengah bercumbu di hutan, lalu berbalik dengan melengkungkan senyum jahat di wajahnya.
"Kau dari mana saja ruzy, bibi Emy sangat khawatir, dia mencarimu dari tadi kupikir kau sudah kembali." kata Joan yang menyilangkan tangannya di dada.
"Aku..aku tadi ketiduran waktu aku mengambil cucian di hutan, maafkan aku." Ruzy menunduk merasa bersalah pada Joan dan Jessy, mereka khawatir jika ruzy hilang di dalam hutan.
"sudahlah yang penting kau sudah pulang, oh ya sebentar lagi makan malam, sepertinya nyonya akan kedatangan tamu." Kata Jessy buru-buru mengambil wortel yang akan di kupasnya.
Ruzy mengambil kentang-kentang yang menggunung itu di hadapannya. "Oh ya siapa mereka?" tanyanya.
"Beberapa kerabat Collagher dan dokter max, sepertinya pertemuan mereka penting." Joan yang sibuk mengupas wortel sambil melirik ke meja makan depan.
"Sebentar lagi mereka akan datang kita harus bergegas, tuan Ollie sepertinya sangat sibuk, dia ingin kita memakai kostum berwarna kuning, konyol bukan sangat norak dan kampungan lihat saja desainnya."
Ruzy tertawa mendengar pembicaraan di antara mereka, Lalu semburat merah tiba-tiba muncul di pipinya mengingat kejadian tadi siang bersama tuan alex di hutan.
Makan malam akhirnya selesai, peralatan makan yang menumpuk tengah menunggu mereka. Ruzy hendak menggulung lengan bajunya, lalu bibi emy menahannya.
"Ruzy biar bibi yang membersihkan piring-piring ini bersama yang lainnya, ambillah peralatan makan yang lainnya di atas meja makan, bibi sudah tidak kuat mengangkat piring dan gelas yang menumpuk itu."
"Baik, bibi Emy." Ruzy berjalan ke ruang makan, mengumpulkan cucian kotor di keranjang yang besar.
"Halo Ruzy", mata birunya tidak pernah berhenti menatap setiap pelayan yang lewat, tapi kini akhirnya matanya menangkap sosok ruzy di meja makan. Ruzy terkejut menatapnya.
"Dokter max?" bisik ruzy, dia tersenyum kepada ruzy lalu melangkah mendekatinya.
"Sepertinya kau sibuk." Bisiknya, ruzy menelan ludahnya, tangannya sedikit gemetar merasakan wangi parfum dokter max yang mendekatinya yang memenuhi ruangan itu.
Wajahnya berkilat jahat menatap mangsa yang ketakutan di hadapannya ini, tangannya sudah gatal, entah sejak kapan dokter max sangat tertarik padanya. Kulitnya yang seputih porselen sangat cocok dengan Matanya yang berwarna hazel, raut wajahnya yang sangat cantik dan kekanakan membuatnya sangat ingin memilikinya.
'Klak....'
Ruzy berbalik, mengernyit mencari suara aneh dibalik jendela yang gelap....