
Wanita itu menunggu sejak tadi pagi, tapi yang di tunggu tidak datang juga, sekarang pukul 10 malam, dengan wajah cemberut Susan keluar dari ruangan Kilian, dia mencoba mencari-cari udara segar di halaman mansion yang luas itu, dia berpikir akan menunggunya 15 menit lagi, setelah itu mungkin dia akan pulang.
ruangan di mansion itu gelap, dia berjalan sambil memegang dinding dan terus berjalan. Mungkin keluar bukan solusi terbaik di malam larut seperti ini, dia kemudian berbalik dan sangat terkejut ketika seseorang berdiri di tengah-tengah koridor dan menatapnya tajam.
"Apa yang kau lakukan di sana, kau membuatku terkejut." Ucap Susan sambil memegang dadanya, pelayan itu hanya berdiri saja dan menatapnya.
"Hei, apa kau tuli? kenapa kau tidak menjawabku?"
"Sebaiknya anda pulang Nona, malam ini tuan kami tidak kembali, dia akan bermalam di luar karena urusan mendadak."
Kerlingan matanya membuat susan tidak suka, pelayan ini tampak aneh, "Sepertinya aku pernah melihatmu di suatu tempat, bukankah kau yang bekerja di perkebunan Gimmelwald, dialekmu sangat aneh. Siapa yang merekomendasikanmu untuk bekerja di sini." Tanyanya sambil melipat kedua tangannya.
"Anda Nona, saya di tunjuk langsung oleh anda sewaktu di desa." Matanya melirik pada sesuatu yang di kenakan wanita itu dan hal itu membuat Rudith marah. Wanita itu mengenakan jaket tuan Kilian, apa yang direncanakan wanita ular ini, padahal tuan Kilian tidak akan datang.
"Aku akan menginap di sini malam ini, aku tidak bisa pulang selarut ini kan," Ucap Susan sambil menguap dan meninggalkan Rudith yang mematung.
Apa? menginap? yang benar saja, wanita itu ingin merayu tuan Kilian ....
Rudith mengikutinya diam-diam dari belakang, dia berjalan di belakang wanita itu menunggu kesempatan apapun untuk melukainya.
"Rudith?"
Dia terkejut dan segera berhenti, kemudian menghadap kepada kepala pelayan itu. "Apa yang kau lakukan? kenapa kau membuntuti nona Susan, apa yang kau pikirkan, dia adalah teman tuan Regan sejak lama, kalau dia melihatmu membuntutinya, bisa-bisa dia melapor kepada tuan Regan dan memecatmu."
"Maafkan saya. Nona itu terlihat kebingungan menemukan kamar, saya mengikutinya untuk menunjukkan kamar tamu untuknya."
Wanita itu menatap curiga pada Rudith. "Kau boleh pergi, jangan berkeliaran lagi, segeralah tidur."
"Baik." Rudith segera pergi dan menjauh dari omelannya.
***
Alyena berada di dalam kamarnya dia membuka-buka ponselnya dan menutupnya kembali, sudah dua hari Jafier keluar kota, dia sangat sibuk akhir-akhir ini dan tidak punya waktu, begitupun dengan Willy, semuanya sibuk. Alyena ragu untuk menghubunginya, "Ugh, semua sibuk sekali, bahkan Nick dan Clara pun sibuk."
Siang itu Alyena mengambil Jaketnya dan mengenakannya, dia memutuskan untuk berjalan-jalan dan mengelilingi kota York dan setelah itu berbelanja di mall, dia sekarang berada di parkiran penthousenya, dari kejauhan dia melihat pria tua yang sedang merawat kebunnya dan menyiramnya.
Alyena masuk ke dalam mobil dan segera keluar dari penthousenya, 25 menit perjalanan, akhirnya dia tiba di pusat perbelanjaan, dia segera turun dan berjalan sambil menikmati waktunya seorang diri. Alyena hendak masuk ke salah satu toko ketika melihat seorang wanita menatapnya tajam.
"Ada apa dengan wanita itu? Siapa dia." Alyena tidak memperdulikannya karena dia tidak mengenalnya, dia tetap melanjutkan langkahnya, tetapi tanpa dia duga, wanita itu berjalan cepat dan langsung menyerang Alyena. Untung saja ada cermin di depan Alyena sehingga dia bisa menghindar ketika wanita itu menerjangnya.
Wanita itu terjatuh di lantai karena terjangannya tidak berhasil, dia kemudian berdiri dengan marah.
"Ternyata kau ! karena kau Kilian Regan memutuskan tinggal di Manhattan, dan tiba-tiba dia memutuskan tinggal di negara ini, semuanya karena kau ! Aku mengira gadis seperti apa yang membuatnya tergila-gila, rupanya kau juga bekerja di perkebunan Kilian." Ucap Susan dengan suara menggelegar.
Alyena melipat kedua tangannya. "Kau siapa? aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Kilian Regan, kenapa kau seperti orang gila, menyerang orang sembarangan." Ucap Alyena berusaha bicara setenang mungkin, orang-orang mulai melihat ke arah mereka.
"Pembohong, kata pelayan itu kau selalu merayunya dan berusaha menarik perhatiannya, dasar j4lang kecil." Ucapnya sambil berjalan, dia hendak menyerang Alyena.
Alyena dengan sigap menghindarinya. "Coba lihat dirimu sekarang ini? kau terlihat seperti wanita gila yang berteriak-teriak bodoh tanpa mengerti situasi," Alyena mencoba mengulur waktu, dia memegang ponselnya dan menekan angka 7 agar pengawalnya segera tiba, karena saat ini dia tidak mau bertarung dengan wanita gila di hadapannya, dia terlihat tidak waras.
"A-apa? Wanita gila? Sekali lagi dia hendak menyerang Alyena tetapi tiba-tiba saja tangannya di pegang oleh seseorang. Dia kemudian mendorong wanita itu menjauh.
"Maafkan saya Nona, saya terlambat." Ucap salah satu pengawal. Dua pengawal datang tepat waktu. Alyena berdiri di sana dengan tenang. Wanita itu menatap bingung kepadanya.
"Siapa kau? Nona? kata pelayan itu kau hanyalah wanita yang bekerja di perkebunan Gimmelwald."
Pengawal itu berjalan di depan Susan, dia menatapnya tajam. Tanpa basa basi dia memegang kedua tangan wanita itu seperti seorang kriminal dan memutarnya.
"Lepaskan aku, kau tidak tahu siapa aku. Lepaskan aku."
"Kami harus membawamu ke kantor polisi, kau sudah menyerang Nona kami." Ucapnya datar, dia mendorongnya agar berjalan, wanita itu berteriak sepanjang jalan.
"Apakah anda baik-baik saja Nona?"
"Ya, saya baik-baik saja, terima kasih."
"Yah, sepertinya itu lebih baik." Alyena segera berjalan di temani seorang pengawal di belakangnya, dia sempat melirik karena merasa ada yang bersembunyi di balik tembok, Alyena terkejut ketika melihat siapa gadis yang bersembunyi di sana, dia tidak tahu pusat perbelanjaan ini di penuhi dengan cermin, pantulan wajahnya terlihat jelas, ketika wajahnya yang menatap benci kepada Alyena dan ketika dia berjalan, dia menyembunyikan wajahnya, tapi percuma saja karena Alyena melihatnya.
"Rudith?" Gumam Alyena.
***
Malam itu ....
Susan Richard menunggu Kilian di kamarnya, dan tertidur di ranjangnya, lewat tengah malam Kilian Regan datang dan mendapati Susan masih di mansionnya, dia bahkan tidur di tempat tidurnya. Kilian membuka kemeja dan dasinya, dia lalu mengambil handuk untuk mandi. Suara air dari kamar mandi membangunkan Susan, dia lalu duduk dan berjinjit, dengan wajah senang dia berlari-lari dan berpura-pura tertidur, setelah Kilian selesai mandi dia mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, dan menatap wanita itu yang masih tertidur di tempat tidurnya.
"Mmh Kilian? aku tidak mendengarmu kembali?"
"Kenapa kau masih di sini." Ucapnya sambil mengambil kimono tidurnya dan mengenakannya.
"I-itu ... bukankah kau bilang terserah padaku? aku menunggumu atau tidak, jadi aku putuskan aku menunggumu saja, ngomong-ngomong kau sudah menciumku, jadi kali ini jangan menolakku." Dia berdiri dan berjalan mendekati Kilian.
"Kilian A-aku ingin malam ini kita bersama, apa tidak boleh? kau sudah tahu bagaimana perasaanku, dan selama kita saling mengenal, baru kali ini kau menciumku seperti tadi siang, bukankah itu harapan untukku?" Ucapnya sambil memeluk tubuh Kilian dari belakang.
"Aku memang menciummu tadi siang, hanya mengeluarkan frustasiku karena seseorang, jadi anggap saja ciuman itu tidak ada artinya, kau datang di waktu yang salah." Ucap Kilian dingin.
"A-apa maksudmu karena seseorang? Apakah ada wanita lain yang kau cintai?" Dia menatap Kilian dengan wajah terkejut.
"Bukan urusanmu susan, sebaiknya kau tidur di kamar lain, aku akan memanggil pelayan untuk mengantarmu ke sana."
"Tidak mau, sudah aku bilang aku ingin bersamamu, kenapa kau memperlakukanku seperti ini Kilian, sejak dulu aku menyukaimu."
"Sebaiknya kau pergi susan selagi aku masih bicara baik-baik, pergilah !" Kilian duduk di kursi sambil menyesap minumannya dan tidak memperdulikan Susan yang berdiri di sana, sambil menahan air matanya.
Dengan menahan marah, susan keluar dari kamarnya, dia berjalan dan bertemu dengan Rudith.
***
Alyena masih mengingat wajah Rudith yang menatapnya tajam ketika dia melewatinya. Dia mengenakan kardigan hitam tetapi dari balik bajunya, dia seperti mengenakan pakaian seorang pelayan. "Jadi Rudith tahu tentangku, apa yang di rencanakannya? kenapa dia tidak menyapaku, apa dia masih membenciku?" Alyena melipat kedua tangannya memikirkan gadis itu.
Dia akhirnya tiba di penthouse dan Willy sudah berdiri di sana menunggunya. "Kau baik-baik saja?"
"Mm, iya kak Willy aku baik-baik saja."
"Kenapa kau tidak membawa pengawal ketika kau keluar? kita tidak tahu apa yang akan terjadi padamu, kenapa kau ceroboh sekali Alyena, aku sangat khawatir."
"Maafkan aku, kupikir aku ingin menghabiskan waktuku berjalan-jalan dan berbelanja tetapi tidak di sangka ada wanita yang menyerangku, aku tidak tahu siapa wanita itu."
"Sepertinya wanita itu, kenalannya Kilian, lain kali aku akan memperingatinya." Ucap Willy, dia memegang tangan Alyena membawanya masuk ke dalam. "Sebaiknya kita makan di rumah saja, aku akan hubungi Audry agar dia cepat pulang."
***
"Lepaskan aku, memangnya siapa wanita itu? kenapa kau berlagak seperti pengawalnya, dia hanya gadis yang bekerja di perkebunan."
"Sebaiknya anda diam sebelum tuan William memperbesar masalah ini, jika anda bersikeras melawannya, anda sendiri yang akan rugi."
"Memangnya siapa gadis itu, pelayan itu mengatakan kepadaku, dia hanyalah pekerja di perkebunan."
"Anda tahu William Collagher?"
"Tentu saya tahu, apa urusannya dengan tuan William?"
"Nona Alyena adalah adiknya, yang anda serang tadi, dia bukan pekerja di perkebunan seperti yang anda katakan, jika Nona terluka sedikit saja, anda harus siap-siap, karena tuan William tidak akan membiarkan anda begitu saja." Pengawal itu menurunkan Susan di pinggir jalan sesuai perintah kepala pengawal, dan dia pergi meninggalkannya.
"Sial ! pelayan itu membohongiku."
Rudith berlari-lari sambil mengambil bus dan duduk, dia menarik napas panjang, "Dasar bodoh, tidak ada satupun rencanaku yang berhasil, sial."