Flower On The River

Flower On The River
Percintaan Alex 1



"Dimana Ruzy?" bibi Emy begitu kaget, dia melupakan penjagaannya kepada Ruzy. "Aku menyuruhnya membawa peralatan makan bibi Emy, ada apa dengan ruzy? mengapa kau sangat protect padanya." tanya Jessy curiga.


"Tidak... tidak ada apa-apa", tegasnya.


"Kenapa kalian semua berbincang sebentar lagi makan malam akan dihidangkan!" teriak tuan Ollie dengan kumis panjangnya yang mencuat.


~


"Sakit? tanyanya, Ruzy menggeleng, "hanya sedikit." Alex menghembuskan napasnya.


"Nenek tua itu betul-betul membuatku muak." dia mengusap lembut wajah ruzy yang duduk di pangkuannya.


"Berbaringlah sayang." Dia memeluk ruzy didadanya.


"Tapi Alex aku harus segera ke dapur, bibi pasti mencariku."


"Dengarkan aku kali ini ruzy, berbaringlah sebentar, Hem." Ruzy menyandarkan tubuhnya di dekapan Alex yang hangat dia memeluk tubuhnya dan merasa nyaman di pelukannya.


"Kunci pintumu Alex jika kau ingin bersama dengan ruzy, bisa-bisa ibu jantungan melihatmu bermesraan dengan ruzy." Kata ellena yang menyilangkan tangannya.


Ruzy ingin bangun dari dekapan Alex tapi pelukannya terasa lebih dalam di tubuhnya. "Jangan bergerak-gerak Ruzy." bisik Alex padanya.


"Dan aku tidak mendengar ketukan di pintuku ellena", sindirnya.


"Sebaiknya kau Lepaskan dia alex, sepertinya bibinya mulai mencari-carinya. Ellena berjalan menghampiri Ruzy dan menarik tangannya.


"Kemarilah ruzy, aku akan memperbaiki dengan lebih baik bengkak di bibirmu, kakak hanya mengoleskan obat merah lihat saja bibirmu semakin memerah." kata ellena menatap bibir ruzy yang semakin memerah.


Ruzy berada di kamar ellena yang membersihkan luka di bibirnya, "Maafkan kami ruzy, perempuan tua itu sejak awal memang tidak menyukai siapapun kecuali cucunya yang menghilang itu." Senyumnya. Ruzy tersenyum tipis dan sedikit meringis dengan robekan di bibirnya.


"Aku sarankan jangan biarkan alex menciummu dulu sampai lukamu sembuh, atau lukamu akan semakin robek jika kau membiarkannya menciummu." Ledek ellena pada ruzy, rona di pipinya kini muncul di balik kulit putihnya.


"Terima kasih nona ellena", senyum Ruzy.


"Aku harus segera kembali ke dapur. Ellena mengangguk. Sebelum ruzy mencapai pintu kamar dia memanggilnya.


"Ruzy, jika kau butuh bantuan jangan ragu menghubungiku, dan jangan sungkan." Ruzy mengangguk sambil tersenyum.


~


"Dasar nenek tua keparat, cucu dan neneknya sama saja, sangat ringan tangan." Napas Jessy tersengal-sengal mendengar cerita dari ruzy.


"Apa dia tidak kapok, atau sedikit bermurah hati, cucunya kan menghilang, harusnya dia tidak perlu heran kenapa cucunya bisa menghilang dengan sikap buruknya". Joan mendelik kepada Jessy.


"Jessy pelankan suaramu bagaimana kalau mereka mendengarnya?" kata Joan menutup mulut jessy.


Bibi Emy mengambil kain lalu mengompres bibir ruzy, dia tidak bicara tetapi raut wajahnya begitu sedih melihat ruzy dengan luka di bibirnya.


~


Kota di Pittsburgh dengan rangkaian menara tinggi menjulang di samping bangunan besar itu terdapat kantor detektif yang letaknya tidak jauh dari sentral kota.


"James ada apa? sepertinya isi kepalamu berputar-putar, memikirkan sesuatu?" Tanya jedan salah satu partner James brown yang mengunjungi kediaman Collagher.


"Dia menyilangkan tangannya di atas mejanya yang di penuhi kertas-kertas.


"Chandelier..." bisiknya, jedan yang menyeduh kopi untuk mereka berdua berbalik menatapnya.


"Berapa banyak nama candhelier di kota ini jedan?" tanya James padanya. "Chandelier? Hem tidak banyak, dan hanya satu yang terkenal dengan sebutan itu, Tuan Rojes Chandelier, jika dia yang kau maksud, tentu aku tahu siapa dia."


"Ya, kau benar Rojes Chandelier." Tiba-tiba dia menyunggingkan senyum tipisnya. "Sepertinya aku harus lebih mengetahui tentang gadis itu." Senyumnya.


~


Malam kian larut, desiran pohon pinus dari arah hutan, seperti menyejukkan tapi suasananya yang dibawanya begitu mencekam. Terdengar beberapa ketukan kecil di kamar ruzy, beberapa kali ketukan membuat ruzy berjinjit bangun dari tempat tidurnya. "Ruzy kau sudah tidur? tanyanya. ruzy membuka kamarnya dengan begitu pelan membiarkan alex masuk dengan pelan.


"Maafkan aku ruzy, aku tidak bisa melindungimu." ruzy menatapnya, "Tidak usah kau pikirkan Alex, aku baik-baik saja."


Mata Alex mengelilingi seluruh wajah ruzy, mengecup satu persatu seluruh wajahnya, kening mata hidung kedua pipinya dan berhati-hati mengecup bibirnya. "Masih perih?" tanyanya.


Ruzy menggeleng, "tidak begitu sakit lagi." Dia lalu mengangkat Ruzy dan dibawanya ketempat tidurnya, membaringkannya lalu mengecup perlahan bibir ruzy. Suara mereka beradu di kegelapan malam, suara napas mereka yang memburu mengalahkan suara serangga di keheningan malam. "Gigit jariku sayang", bisik Alex..ruzy menggigit jari alex agar suara teriakannya teredam. "Beberapa kali ruzy tidak tahan untuk teriak, hingga beberapa kali jari Alex menjadi korban karena percintaan panas mereka semalaman.


Mereka berpelukan dibalik selimut, "Kau tidak pergi? sebentar lagi fajar alex."


"Hem.. sebentar lagi sayang." Kata Alex mengantuk.


Terdengar engsel pintu yang bergoyang, mereka berdua terperanjat, mereka bangun dan memandang pintu kamar ruzy.


"Apakah itu bibimu ruzy?" bisik Alex. Ruzy menggeleng, "Bukan...jika itu bibi, dia akan memanggilku." Mereka terduduk di tempat tidur ruzy yang kecil dan hanya selimut yang menutupi tubuh mereka.


Terlihat getaran engsel yang di paksa untuk di buka. Jantung ruzy berdebar, bagaimana jika itu bibi Emy, mereka akan ketahuan, dengan cepat alex berpakaian. Dia berjinjit di balik pintu.


'Ruzy'?


Alex mengernyitkan alisnya mendengar dengan seksama suara di balik pintu. Dia melarang Ruzy untuk bergerak.


"Klak".....


Wajah Alex memucat, mereka saling tatap, suara itu lagi, siapa dia? Dengan geram Alex ingin membuka pintu kamar tapi dengan cepat di tahan oleh ruzy, dia menggeleng keras padanya.


Suara aneh itu teredam, seperti menjauh. Alex menghela napasnya, dia duduk di kursi lalu menatap ke Ruzy.


"Sejak kapan kau mendengar suara aneh itu?" Ruzy masih membungkus tubuhnya dengan selimut lalu berdiri dihadapan Alex. "Beberapa Minggu ini, suara itu terdengar di sepanjang koridor di antara kamar-kamar."


Mulut Alex menipis. Dia tiba-tiba berdiri marah, "Kau tidak bisa tidur di kamar ini terlalu berbahaya ruzy, apakah setiap hari kau mendengar suara itu?" tanyanya.


Ruzy menggeleng, "Tidak Alex, baru kali ini lagi aku mendengarnya." Alex memijit-mijit kepalanya.


"Aku harus menangkap **** itu, kemungkinan besar dia pembunuhnya." Wajah Ruzy terkejut, "Benarkah Alex?" tanyanya.


"Ini hanya dugaanku saja, kita harus menangkap orang itu, aku harus pergi sayang." Dia mencium ruzy begitu lama, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, "Aku seperti mabuk dengan ciumanmu ruzy." Dia tersenyum lalu keluar dari kamarnya.


Rona kemerahan tampak dari wajah ruzy, jika bibi Emy tahu, dia akan memborgolku di tangannya, pikirnya.


~


"Kenapa kamarmu kosong kakak?" tanya ellena yang menyilangkan kedua tangannya. Alex yang baru saja selesai mandi hanya mengangkat bahunya. "Jangan bilang kau bersama Ruzy semalaman." Tuduh ellena padanya.


"Memang kenapa ellena? aku memang bersama Ruzy semalam." Jawabnya jengkel. Ellena masih menatapnya dengan pandangan menuduh.


"Maksudmu bersamanya, kau bukan hanya sekedar tidur bukan?" selidiknya.


Alex tertawa tidak percaya, "Kenapa kau begitu tertarik dengan percintaanku ellena?" Ellena menyipitkan matanya memandang Alex tidak percaya. "Aku cuma perduli pada ruzy, apa kau siap bertanggung jawab pada ruzy jika sesuatu terjadi padanya?"


Alex mengernyitkan alisnya, "Apa maksudmu?" Ellena memegang keningnya menatap kakaknya yang seperti orang bodoh.


"Bagaimana jika Ruzy hamil? apa kau tidak memikirkannya!" Jelas ellena menatap kakaknya.


"Tentu aku akan bertanggung jawab ellena, aku mencintai Ruzy." Jawabnya singkat.


"Kau pikir semudah itu? bisik ellena apa kau pikir mom...".


"Sudahlah ellena kau terlalu memusingkannya, Ruzy akan baik-baik saja." Ellena mencibir padanya.


"Selama kau melakukannya apa kau tidak menggunakan pengaman?" tanya ellena blak-blakan.


Wajah Alex seperti di tampar mendengar pertanyaan ellena yang begitu pribadi, apalagi pertanyaanya dari adiknya sendiri, "ELLENA please, jangan mencekcokiku terus aku tahu apa yang kulakukan." Tegasnya.


"Baguslah kalau kau mengerti, aku hanya tidak ingin Ruzy nanti menderita karenamu." dengusnya, kemudian dia keluar dari kamar Alex.