
~Pitthsburg
Mereka telah tiba di mansion ibunya di Pittsburgh, raut wajahnya yang lelah membingkai wajah ruzy menggendong Willy yang terbaring di pelukannya, ruzy kemudian membaringkan willy di tempat tidur kemudian keluar dari kamar.
Mansion milik ibu ruzy sangat luas dan begitu besar, ruzy pernah kesasar hanya karena berkeliling sendirian di sekitar taman hingga mencapai hutan. Ketika ruzy melangkah menuju tangga dia mendengar suara seseorang dari dalam ruangan, meskipun begitu samar ruzy dapat mendengar pembicaraan mereka.
Suara itu sangat familiar di telinga ruzy, ia kemudian mendekati pintu itu karena begitu penasaran, ruzy lalu membuka pintu itu sedikit lalu mencari sumber suara. Dia mendekatkan wajahnya di balik pintu besar itu, pintu itu adalah ruangan kakek ketika menerima tamu.
"Bagaimana kabar keluargamu tuan Collagher?" tanya tuan Chandelier yang menatap Alex di hadapannya.
Dengan sikap tenang alex bersandar di kursi yang berhadapan langsung dengan tuan Chandelier.
"Seperti yang anda tahu tuan Chandelier, ibuku baru-baru ini telah meninggal, tentu bukan berita baru bagi anda."
Wajah tuan Chandelier sedikit tersenyum.
"Ya aku mengetahuinya tentu saja, juga hubunganmu dengan cucuku ruzy." Wajah ruzy begitu terkejut, dia menutup mulutnya dan masih mendengar dibalik pintu itu.
"Tidak ada satupun berita yang terlewati oleh anda tuan Chandelier, tentu saja...satu persatu perusahaan milik keluarga Collagher jatuh di tangan anda dengan mudah, amarah anda sudah cukup memperlihatkan bagaimana keadaan keluarga Collagher sekarang ini." Kata alex tenang.
Ruzy menggigit bibirnya mendengar pembicaraan mereka.
"Jadi, apa tujuanmu mendekati cucuku? meskipun aku tahu Willy darah dagingmu sendiri, tapi....aku masih riskan melihatmu dekat dengan cucuku dengan kondisimu Seperti sekarang ini, sekarang kau tidak memiliki apa-apa lagi." Kata tuan Chandelier menatap tajam alex.
Alex tertawa mendengarnya, "Kondisiku sekarang tidak ada hubungannya dengan ruzy, meskipun tidak bisa ku pungkiri ruzy adalah peluang besar bagiku untuk mengangkat kembali nama Collagher, aku masih bisa menerima jika aku tidak bisa bersama dengan ruzy jika itu yang kau inginkan tuan Chandelier, tetapi....Willy! aku tidak akan membiarkan kau menjauhkanku dengan anakku sendiri." Kata alex dengan garis tegas menatap langsung mata hazel milik tuan Chandelier.
"Jadi, maksudmu kau tidak menginginkan Ruzy?" kata tuan Chandelier tajam. Alex melengkungkan mulutnya.
"Jika itu yang kau inginkan, kau sudah melihatku terpuruk seperti ini tuan Chandelier, aku tidak akan hancur hanya karena seorang wanita bukan?" jelas Alex.
Tanpa sadar ruzy terisak, alex tidak menginginkanku lagi? aku hanyalah ibu dari anaknya, dia tidak mencintaiku, jadi semua itu hanya kebohongan alex untuk melihat Willy? isakan ruzy membuat tuan Chandelier dan alex berbalik ke depan pintu yang di buka oleh Roger.
Alex lalu berdiri dengan terkejut menatap ruzy yang menangis, "Kau berbohong padaku? Kau mengatakan kau mencintaiku?" Kau membohongiku?" teriak ruzy padanya.
"Jadi kau mendekatiku karena kakek mengambil semua milikmu?" alex berjalan mendekati ruzy. "Jawab aku Alex !" teriaknya.
Alex menatap tajam ruzy, "Kau sudah mendengar semuanya." Jelas alex padanya. Dengan terisak ruzy menampar alex.
"Jangan pernah kau mendekatiku lagi ! kau pembohong, aku membencimu." Ruzy lalu berlari meninggalkan Alex dan pergi menjauh dari mereka.
Alex terduduk di kursi, dia menatap tajam tuan Chandelier. "Ini kan yang anda inginkan, menyuruh ruzy datang ke pitthsburg?" Wajah Alex menjadi pucat.
"Kau sendiri yang mengatakan tidak menginginkan ruzy lagi." Kata tuan Chandelier tenang sambil menautkan jemarinya.
Alex berdiri, "Meskipun begitu aku akan tetap datang menemui Willy. Permisi tuan Chandelier." Alex mengatupkan rahangnya menahan kemarahannya, jelas lebih mudahkan! Untuk membalas dendam kepada Rojes Chandelier, dia tidak bisa bersama dengan ruzy, meskipun begitu aku akan mencoba menerimanya, Pikir alex membuka pintu mobilnya, menatap ruzy dari kejauhan yang terisak di taman seorang diri.
Dia menghentikan mobilnya, menatap sebentar wajah ruzy lalu dia berpaling pergi, meskipun aku sangat ingin menikahimu, tetapi terima kasih untuk kakekmu yang menghancurkan semua rencanaku untuk bersamamu.
~
Mata ruzy bengkak, dia mencoba menghilangkanya dengan handuk yang dihangatkan, sudah dua hari alex tidak pernah menghubunginya semenjak pertemuan mereka di Pittsburgh. Hal itu membuat ruzy betul-betul merana, meskipun kata-kata yang didengarnya begitu kejam, tapi dia masih sangat merindukan alex.
"Siapa yang datang?" tanyanya kepada seorang pelayan.
"Tuan Collagher, nyonya." Mata ruzy membelalak, dia cepat-cepat mengenakan make up agar menutupi bengkak di matanya.
Dia pasti datang ingin melihat Willy, pikir ruzy matanya kembali memanas, air mata sialan ini tidak pernah berhenti, dengan kasar ruzy menghapus air matanya, apakah dia akan menemuiku? dengan cepat ruzy memperbaiki penampilannya. Tetapi hanya pelayan saja yang datang.
"Tuan Alex ingin melihat tuan William sebentar nyonya." Pelayan itu lalu menggendong Willy dari ruzy.
Ruzy terpaku, apakah alex tidak ingin melihatku lagi? apakah dia begitu benci dengan kakek sampai-sampai akupun tidak ingin dilihatnya lagi?
Air matanya begitu saja mengalir di pipinya, dia cepat-cepat menghapusnya dengan kasar. ruzy mengintip dari balik tangga, Alex sedang menggendong willy dan mengecupnya, ruzy memperhatikannya, wajahnya tidak terawat, janggutnya tumbuh dan tidak dicukurnya. kapan dia kembali ke California? pikir ruzy.
Mata tajam Alex menatap ruzy yang mengintip padanya dari balik tangga, ingin rasanya dia menariknya dalam pelukannya sekarang juga, tapi kemudian dia menggeleng, tidak ada gunanya, tuan Chandelier akan mengancamnya lagi akan menghilangkan perusahaannya yang baru dirintisnya hanya dengan sekali tepukan.
Alex berbalik menghalau wajah ruzy yang masih menatapnya.
Ruzy menutup matanya, mencoba menenangkan dirinya, aku sendiri yang mengatakan aku membencinya, jangan mendekati aku lagi! pikir ruzy, dia menghembuskan napasnya kembali ke kamarnya dan berbaring di tempat tidur mencoba menenangkan pikirannya yang selalu berputar tentang Alex di kepalanya.
~
"Wajahmu sangat mengerikan Alex." Kata Nick yang mengamati Alex sedang berkutat pada pekerjaannya.
"Tidak usah kau pedulikan, aku harus menyelesaikan ini sebelum fajar." jelas alex mengabaikan nick yang terus menatapnya.
Tiba-tiba saja senandung yang aneh keluar dari bibir nick sehingga menghentikan pekerjaan alex sejenak.
"Kau bersenandung? kau membuatku merinding Nick." kata alex mengernyitkan alisnya menatap nick bersenandung dengan wajah datar.
"Tidak usah kau pedulikan Alex." Senyum Nick mengembang.
Alex menggeleng heran menatap nick yang akhir-akhir ini bersikap aneh.
"Kau bertemu ruzy hari ini?" tanya Nick padanya.
Alex menggeleng, tanpa menatap wajah nick, "Kau sudah berpisah dengannya?" tanya nick sambil menyesap minumannya.
"Mungkin!" jelas Alex, Kembali nick bersenandung pelan, 'Cant help falling in love with you'. hem..hem...
Alex melirik curiga padanya, pandangan nick datar memandang langit malam dengan tersenyum.