
Alyena masih terisak di pelukan Willy di dalam mobilnya, Willy sangat marah dan geram, selagi dia menyetir, dia tidak langsung membawa pulang Alyena, dia singgah di satu toko pakaian dan membeli sepasang pakaian casual untuk Alyena, setelah Alyena berhenti menangis, dia menyuruh Alyena mengenakan pakaian yang telah di belinya, Hoddie berwarna biru dan jeans hitam. Sementara itu Willy bersandar di luar mobil, menunggu adiknya selesai memakai bajunya.
Willy kemudian masuk dan menatapnya. "Kau baik-baik saja?" tanyanya, dia melihat wajah Alyena yang merah dan beberapa bagian di tubuhnya penuh dengan warna kemerahan, hal itu kembali menyulut amarah Willy.
"Mm, aku baik-baik saja." Alyena menggigit bibirnya dan mengintip ke arah Wily, kali ini dia betul-betul sangat marah. Jantung Alyena masih berdebar-debar. Meskipun tadi menakutkan bagi Alyena tetapi kemarahan Willy sangat mengerikan.
Alyena tertunduk, lalu kembali mengingat apa yang telah terjadi kepadanya. Dia kemudian menghembuskan napas pelan, tangannya terkepal kuat, hatinya terasa teriris, entah bagaimana perasaan Jafier sekarang ini, ketika dia melihat Alyena, dia terlihat lebih menyedihkan.
"Alyena? kita akan pergi dari Seattle, kau akan ikut denganku ke london, aku ingin kau ikut bersamaku." Ucap Willy, dia mulai melajukan mobilnya dan membawa mereka pulang ke mansion.
Alyena hanya diam, dia hanya mengikuti apa yang diinginkan Willy."
****
Pria itu masih tidur di sofa, tangannya memegang minuman yang setengah tumpah di lantai, dia bertelanjang dada, hanya mengenakan jeans birunya, matanya terbuka, dia masih mengingat wajah Alyena ketika dia mendorongnya sekuat tenaga, mendengarnya merintih karena sentuhan kasarnya. Dia menutup wajahnya dengan lengannya.
Ponselnya tiba-tiba berbunyi, entah berapa kali ponselnya terus berbunyi, tetapi jafier mengabaikannya. Setelah dering ke 12 kali Jafier meraih ponselnya yang berada di atas meja.
"Halo."
Apa sih yang kau lakukan Jafier, mengapa tiba-tiba Willy membawa Alyena pergi dari Seattle?"
Audry bersuara lantang ketika meneleponnya. Suaranya keras terdengar marah. Jafier membuka matanya lebar-lebar.
"Willy membawa Alyena?" Ucapnya. Dia lalu duduk membeku, terasa seperti air dingin menyiram tubuhnya ketika mendengar berita itu dari Audry.
Ya, malam ini mereka akan berangkat, apa yang sebenarnya yang kau lakukan pada Alyena sampai-sampai Willy semarah itu. Dia hanya mengabariku kalau dia akan tinggal di penthousenya yang berada di Manchester bersama Alyena.
Jafier, Halo kau masih ada di sana?
Jafier menurunkan ponselnya, dia terdiam dan duduk di kursinya tanpa bergerak sedikitpun. Ponselnya tergeletak begitu saja, dia lalu berdiri dan segera mengenakan pakaiannya dan jaketnya, dia mengambil kuncinya lalu segera naik ke mobilnya.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi Alyena, tidak akan."
Kecepatan mobilnya sangat kencang, dia melewati beberapa tikungan tajam untuk segera sampai ke mansion Willy. dia telah tiba di mansion, wajahnya menjadi pucat dan ketika sampai, dia segera berlari dan masuk ke dalam mansion.
Kepala pelayan Walt melihatnya lari menuju ke dalam. "Maaf tuan Jafier, anda tidak bisa masuk ke dalam."
"Dimana Alyena."
"Maaf tuan, saya tidak bisa memberitahukan kepada anda." Ucap kepala pelayan walt dengan menyesal.
Dia menarik kerah kemejanya dengan wajah marah dia lalu mengancamnya.
"Dimana dia?" Suaranya pelan dengan nada mengancam.
"Mereka telah pergi tuan." Ucapnya tenang. Matanya membelalak, dia melepaskan tangannya dan segera berlari menuju ke mobilnya, Jafier kali ini akan pergi ke bandara, mencari Willy dan Alyena. Entah perkataan apa yang akan diucapkan oleh Jafier, tapi dia akan berusaha keras menahan kepergiannya, bagaimanapun caranya.
***
Mereka sedang berada di bandara, William dan Alyena sebentar lagi akan berangkat, penerbangannya akan memakan waktu cukup lama, mereka membatalkan perjalanan ke London, mereka akan ke Detroit menginap beberapa malam di sana dan setelah itu, Willy akan membawa Alyena ke mansionnya di Manchester Inggris.
"Kau tidak apa-apa Alyena."
Willy sejak tadi memperhatikan Alyena dan selalu menggenggam ponselnya dengan erat.
"Aku baik kak, tapi aku tidak sempat mengucapkan apa-apa pada Nick dan Clara kalau aku akan pergi." Ucapnya sedih.
"Mereka nanti akan berkunjung, kalau kalian telah menyelesaikan sekolah kalian masing-masing, masih banyak waktu yang akan kalian lakukan."
***
Jafier berlari dan mencari mereka, setelah itu dia melihat jadwal keberangkatan ke london, "masih sejam lagi." Ucapnya dengan napas sesak karena berlari.
"Tapi di mana mereka?" Dia terus mencarinya tetapi sayang sekali, tidak ada Willy dan Alyena di sana meskipun dia mencarinya kemana-mana.
Jafier menelepon Willy, tetapi dia tidak mengangkatnya, dia terus meneleponnya sampai akhirnya dia terhubung dengannya.
"Halo Willy, kau dimana?"
"Bukan urusanmu aku dimana." Ucap Willy dengan suara dingin.
"kau akan membawa kemana Alyena?" dia menahan suaranya agar tetap terdengar normal.
"Aku membawa Alyena juga bukan sesuatu yang harus kau urusi, apa kau kehilangan akal? apa kau masih bisa menemuinya setelah kau memaksanya?" Suara Willy terdengar menggeram.
"Aku memang bersalah, tapi jangan bawa Alyena dariku, aku sudah mengatakannya berapa kali kepadamu, aku akan menikahinya, katakan, kau dimana."
Suaranya tidak terdengar lagi, Willy mematikan ponselnya. "Sialan, brengsek kau Willy, aku akan melakukan apapun agar Alyena menjadi milikku, meski harus menculiknya darimu." Ujarnya sambil mengepalkan tangannya erat. Dia lalu berbalik dan menelepon seseorang.
"Russel, ini aku Jafier Alvaro, aku ingin kau siapkan orang-orangmu, aku ingin kau mengambil sesuatu yang berharga milikku, yang telah di rebut dariku."
"Baik tuan,"
Jafier menggenggam erat ponselnya lau berjalan keluar menuju parkiran.
Pria itu melajukan mobilnya dan menembus jalanan kota Seattle yang lengang kala siang itu. "Kita akan lihat, apa kau bisa mencegahku Willy, aku akan mengambil Alyenamu dan menjadikannya milikku."
***
"Kau gila ya, kau kenapa sih Willy, apa kau serius ingin bertarung dengan Jafier?" Ucap Audry saat mereka telah tiba di Detroit di apartement Audry.
"Aku harus gila untuk melawan pria keras kepala itu, aku tahu dia menginginkan Alyena, aku mendengar informasi kalau Jafier sampai menghubungi Russel, kau tahu apa artinya jika dia menghubungi orang-orangnya yang tersembunyi di San Fransisco? dia akan melakukan segalanya untuk mengambil Alyena dariku."
Audry menghela napasnya, tidak mengerti dengan kakaknya yang satu ini. "Apa kau tidak akan menyesal melakukannya, apalagi kita masih belum bertanya bagaimana perasaan Alyena kepada Jafier, mungkin saja dia mencintainya tapi belum menyadarinya, dan nanti kau akan menyesalinya saling menyerang dengan sahabatmu sendiri." Ucap Audry, dia lalu meninggalkan Willy dan segera masuk ke kamarnya.
Jantung Alyena berdetak kencang, dia tidak mau kakaknya sampai melakukan hal mengerikan dengan Jafier, dia tidak mau hanya gara-gara dia, mereka akan saling menyerang dan terluka. "Apa yang harus kulakukan?" Ucapnya.
Alyena berada di kamarnya dia sedang berpikir keras, apa yang akan di lakukannya untuk mencegah kedua pria dewasa itu saling membunuh. Alyena mengingat perkataan Audry saat itu.
Mungkin saja Alyena mencintainya, tapi dia tidak menyadarinya.
"Perasaanku? bagaimana perasaanku terhadap paman Jafier?" Alyena menunduk dan memeluk dirinya sendiri, dia masih mengingat bagaimana kekuatan pria itu ketika dia berada di atasnya, menerjangnya dan memaksanya membuka mulutnya dengan kasar, dan memegang tubuhnya dengan semaunya. "Perasaanku saat ini, aku masih belum mengerti, aku...aku tidak tahu." Ucap Alyena sambil menutup wajahnya dengan selimut, dia sangat bimbang dengan perasaannya sendiri.
***
Pagi-pagi sekali Alyena bangun, dia keluar dan segera ke dapur, dia mau membuat sarapan tetapi ternyata sudah ada William di sana, dia terlihat sibuk membuat pancake.
"Morning, Kau bangun pagi sekali."
"Morning too, kakak masak apa?" Ucapnya sambil melihat makanan yang telah tersaji di atas meja.
"Aku membuat sarapan, kemarilah kita makan bersama, sebentar lagi Audry akan bangun, aku sudah membangunkannya agar kita sarapan bersama." Tidak lama, Audry turut bergabung dan mereka sarapan bersama.
"Kapan kalian akan berangkat?" Tanya Audry.
"Besok pagi kami akan berangkat, kami menunggumu Audry jangan terlalu lama di Detroit sebentar lagi ulang tahun Alyena."
"Kakak ingat ulang tahunku?" Ucap Alyena kaget.
"Tentu sayang kami mengingatnya, apa yang kau inginkan untuk ulang tahunmu, ini kan pertama kali kita merayakan bersama." Ucap Audry sambil mengusap wajah adiknya.
"Emm, apa saja, aku pasti senang dengan hadiah yang kalian berikan."
"Kau tidak seru Alyena, katakan sesuatu yang betul-betul kau inginkan, apa saja." Tambah Audry.
"Mm, apa ya? Kalau barang-barang, kak Audry sudah menyiapkan semua untukku, Oh ya, aku ingin belajar menyetir nanti di london, kakak akan mengajariku kan? anggap saja itu hadiah ulang tahunku." Bujuk Alyena.
Willy seketika memperdalam kerutan di keningnya.
"Kau ingin punya mobil sendiri?" Ucap Willy terlihat khawatir, membuat Audry memutar bola matanya. "Willy kakakku tersayang, Alyena bukan lagi anak kecil, apalagi dia akan berulang tahun sebentar lagi, bagaimana kau bisa memperlakukannya seperti anak kecil terus? juga dia akan kuliah, tentu saja dia butuh mobilnya sendiri." Jelas Audry.
"Mm, oky baiklah, kakak akan mengajarimu di sana, aku ingin lihat juga, apa kau bisa mengemudi atau tidak."
"Ok, trims kak Willy." Mereka makan bersama, setelah itu Willy sibuk mengerjakan pekerjaan kantornya di ruangannya sendiri begitupun dengan Audry.
Alyena sedang duduk di balkon apartemen Audry dan melihat ponselnya berdering. Matanya tiba-tiba membulat ketika tahu siapa yang menelepon. Jantungnya berdegub kencang, ada perasaan aneh yang dirasakan oleh Alyena ketika melihat nama Jafier di layar ponselnya, dia merasakan napasnya menjadi sesak, jantungnya tidak berhenti berdetak kencang, serta sesuatu bergejolak di perutnya. Alyena dengan berani mengangkatnya.
"H-halo."
Dia tidak segera menjawabnya, hanya suara dari napasnya saja yang terdengar.
"Halo Alyena, Kau di Detroit?" Ucapnya.
"Mm, ya kami di Detroit di apartemen kak Audry."
"Bagus, karena sekarang aku berada di depan apartemen Audry, aku berada di dalam mobil Porsche hitam, kau bisa melihatnya dari balkon apartemen." Alyena mencoba berdiri tegak dan hanya menjulurkan kepalanya mencari-cari mobil yang ada di sana.
"Sekarang kau melihatnya?"
"Mm, ya." Mereka terdiam sesaat.
"Aku merindukanmu Alyena, aku ingin memelukmu sekarang juga."
Alyena terdiam.
Apa pria ini tidak akan minta maaf kepadaku mengenai kejadian itu? Jafier yang memaksa bercinta denganku? pikirnya.
Alyena menutupnya begitu saja, dia bahkan tidak mengatakan apapun mengenai kejadian kemarin. Ponselnya kembali berdering, tetapi Alyena tidak mengangkatnya.
Jika kau tidak mengangkatnya aku akan masuk ke dalam apartemen Audry, sekarang.
Alyena mengangkatnya, "Maafkan aku Alyena, aku memang bersalah kepadamu."
Alyena hanya diam, tidak menjawab pertanyaannya.
Aku mencintaimu Alyena.