
Mereka akhirnya berangkat ke Club, Alyena baru saja keluar dari mobil Nick dengan gaya anggun dan seksi, para pengunjung yang akan masuk tampak terhipnotis ketika dia berjalan di dampingi teman-temannya. Sensual dan daya tarik memikat siapa saja yang melihat kecantikan dan keseksiannya.
"Nick, apakah kita akan baik-baik saja? mereka terus menatap ke arah kita." bisik Alyena.
Mereka menatap kita karena kita keren, coba lihat, berapa banyak porsche Cayman yang terparkir di sana."
"Ada 7 bodoh, jadi jangan terlalu banyak berkhayal cepat berikan uangnya agar kita dapat masuk." Ucap Clara.
Jantung Alyena berdegub kencang, masuk ke tempat yang terlarang baginya membuat rasa penasarannya semakin besar. "Apa ini yang di namakan pemberontakan remaja? Ck, anggap saja kita sedang mengunjungi teman yang kebetulan bekerja di club jadi kita tidak akan merasa bersalah sama sekali." Ucap Nick.
Musik menggelegar menyambut ketiganya, dentuman musik membuat Alyena ingin sekali menutup telinganya. "Tidak bisakah suaranya dikecilkan lagi? Ugh telingaku sakit." Ucap Alyena.
"Ayo, kita ke sana." Mereka berjalan menuju ke meja bar, sepertinya tempat ini bukan tempat orang-orang biasa akan masuk, kau harus memiliki member tetap atau kau akan membayar berdollar-dollar untuk sekedar masuk ke Club ini.
Alyena memperhatikan di sekitarnya, dia dan clara sedang berdiri sambil memegang gelas berisi minuman, berpura-pura menikmati musik, dan sedikit menggoyangakn tubuh, Nick telah mengajari mereka bagaimana bersikap santai dan terlihat biasa saja, tidak kikuk atau kelihatan takut.
"Kenapa Nick lama sekali?" Bisik Alyena kepada Clara.
"Sepertinya mereka ngobrol dengan asyik." Alyena memperhatikannya.
"Kuharap dia tidak mengatakan sesuatu kepada wanita itu yang terdengar kalau dia konyol dan idiot." Ucap Clara, matanya terlihat sinis menatap mereka berbincang.
"Sepertinya pria itu terus menatapmu Alyena." Ucap Clara.
"Siapa?"
"Dia duduk di sana sejak tadi memperhatikanmu, sepertinya aku mengenalnya." Ucap Clara dengan mata menyipit.
"bukankah dia paman yang pernah mentraktir kita makan?" Ucap Clara.
"Siapa? maksudmu Kilian Regan, T-tidak mungkin."
"Itu mungkin saja karena sekarang dia berjalan ke arah kita."
Mata Alyena membelalak ketika pria itu berjalan ke arahnya, "Sial, aku harus pergi, aku tidak mau berbicara dengannya, apalagi dengan pakaian sialan ini."
Alyena berjalan cepat dan meninggalkan Clara, dia telah berada di pintu keluar ketika seseorang menarik tangannya hingga Alyena berbalik.
"Aku tidak menyangka gadis cantik yang sejak tadi menjadi perhatian orang-orang adalah kau Alyena, kau tampak sangat..cantik dan seksi." Matanya terlihat memperhatikan Alyena dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"A-aku hanya menemani Nick bertemu dengan temannya di club ini." Jawab Alyena dengan kikuk.
"Mau menemaniku minum, kali ini kita berdua saja." Tangannya tidak terlepas dari tangan Alyena, pancaran matanya terlihat memaksa dan kuat tangannya merengkuhnya.
"Lepaskan dia."
Suara itu sangat berat dan kasar, terdengar napas menghembus di tengkuknya. Alyena berbalik dan menatap Jafier ada di sana dengan wajahnya yang marah dan rahangnya terkatup rapat, tatapannya seakan ingin membunuh kilian sekarang juga.
Sial, dia datang
Alyena melepaskan tangannya dari Kilian, tetapi tangannya begitu erat hingga tidak bisa terlepas. "Lepaskan tangannya." Ucap Jafier sekali lagi dengan gigi menggertak kuat.
Kilian tersenyum tipis, "Apa yang membuatmu seperti menguasai Nona Alyena, tuan Jafier? sepertinya tidak ada hubungan diantara kalian yang mengharuskan Alyena harus mendengarkan kata-katamu." Ucapnya dengan tenang.
"Kau akan lihat, bagaimana Alyena akan menjadi bagian dari diriku yang harus dia dengarkan." Alyena berada di antara dua pria dewasa yang terlihat ingin saling memukul.
Jafier menarik tangan Alyena kearahnya hingga tubuhnya menabrak tubuh Jafier. "Aku tidak akan membiarkan Alyena sekejap pun bersamamu." Ucap Jafier.
Dia menariknya keluar dari club, Alyena mengikuti kemana Jafier pergi dan membuka pintu mobil untuknya, dia sama sekali tidak bicara dengan Alyena, dia hanya diam, setelah Alyena masuk ke dalam mobil, tidak ada pembicaraan diantara mereka berdua. Hanya pandangan tajam ke depan ketika dia menyetir dan gerakan tangannya yang terlihat memegang kuat kemudi sampai urat lengannya dapat Alyena lihat.
Apa yang akan terjadi padaku?
"Paman, kita... mau kemana?"
Jafier tidak menjawabnya, dia hanya mengemudi dengan diam, tetapi Alyena tahu diamnya jafier berarti dia sedang mencoba menahan kemarahannya.
"Paman, kenapa kita ke tempatmu? aku mau pulang." Ucap Alyena dengan suara cukup besar, meskipun dia sangat takut saat ini, tetapi Alyena harus bicara.
"Turun."
Alyena tidak bergeming, dia masih duduk di sana dengan dressnya yang memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya, tatapan Jafier tajam menatapnya, apalagi dia menatap keseluruhan diri Alyena.
"Turun, atau aku akan menggendongmu masuk ke dalam."
Alyena bersusah payah turun dari mobilnya karena gaun yang dikenakannya begitu ketat, apalagi high heelsnya membuat Alyena sulit untuk berjalan.
Dia berdiri di pelataran parkiran menunggu kemarahan pria itu, Alyena berdiri di sana dengan tidak nyaman, karena pandangan mata Jafier yang tidak lepas darinya.
Dia memegang tangan Alyena, dan berjalan kemudian masuk ke penthousenya, beberapa pengawal yang berjaga berdiri di sana, Alyena masuk mengikuti kemana pria itu membawanya.
Tiba-tiba saja dia berbalik dan menatap Alyena, seakan tatapannya sedang menelanjanginya. "Kenapa kau pergi ke club itu, Alyena? Apa kau kesana sengaja bertemu dengan Regan?" Suaranya pelan tetapi dingin, penuh dengan nada ancaman.
"Tidak paman, aku hanya menemani Nick bersama dengan Clara menemui seorang wanita di sana." Ucap Alyena jujur.
"Kau berbohong Alyena?"
"Tentu saja tidak, aku tidak berbohong."
"Jadi kau ingin mengatakan bahwa kau kebetulan bertemu Regan siang-siang dengan mengenakan gaun menggoda seperti itu di club? kau berharap aku mempercayai kata-katamu?"
"Paman bisa menelepon Nick dan Clara kalau paman tidak mempercayaiku." Ucap Alyena merasa jengkel.
Pria itu berjalan di hadapan Alyena, kedekatannya sangat intens hanya berjarak tiga jari darinya, napasnya yang berat dapat Alyena rasakan di wajahnya.
"Apa yang harus aku lakukan denganmu?" Ucapnya.
Dia menatap Alyena seakan menusuk langsung manik mata coklat milik Alyena, tatapan tajam, kemarahan dan tatapan menginginkan, terlihat di wajahnya, dia seperti sedang berpikir keras, tetapi sekali umpatan dari bibirnya membuat Alyena terkejut ketika dia sudah berada di dalam gendongannya.
"Damn, Alyena kau tidak membuatku membuat pilihan, kau tidak tahu bagaimana aku menahan hasratku setiap kali aku menatapmu agar janjiku kepada Willy dapat kujaga, tapi kali ini salahkan dirimu yang terlihat menggoda."
Dia membawa Alyena ke sofa empuk yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri, tubuh Jafier telah menjulang di atas Alyena, tanpa menunggu lama dia sudah menguasai bibirnya dan memainkannya, membuat Alyena mengeluh karena kasarnya ciuman Jafier, panas tubuhnya dapat Alyena rasakan, jika lelaki ini sangat berhasrat padanya. jantung Alyena berdegub kencang merasakan desakannya pada dirinya.
Dia mengangkat wajahnya agar Alyena dapat meraup oksigen, setelah itu dia kembali menguasai bibirnya, tangannya mulai bermain di berbagai tempat di tubuh Alyena, membuat Alyena memekik karena sentuhannya. Alyena mendorong kuat tubuh itu dengan sekuat tenaganya tetapi tentu saja sia-sia, kekuatannya takkan sanggup mengimbangi kekuatan seorang lelaki apalagi tubuh Jafier yang besar dan berotot, tidak bisa Alyena lawan.
***
"Apakah tuan Jafier ada di dalam?" Ucap seorang pria, dia kebetulan saja selesai bertemu dengan rekan bisnisnya di salah satu restaurant yang berada dekat dengan penthouse Jafier, dia bermaksud mampir untuk mengajaknya berdiskusi mengenai proyeknya yang berada di Manhattan.
"Beliau ada di dalam tuan, tetapi dia sekarang bersama seorang wanita." Ucap salah satu pengawal.
"Bersama wanita?" Gumam Willy. "Apa wanita itu Alyena? aku sudah melarangnya untuk membawa Alyena ke penthousenya, tetapi dia tidak mendengarkanku."
Willy masuk dan membuka pintu, dia berjalan ke ruang tamu dan dia berdiri di sana dengan tangan terkepal kuat. Suara rintihan yang terdengar di seluruh ruangan dan pekikan tertahan dari wanita yang sedang berada di bawah Jafier, dia mendorongnya dan mencoba meloloskan diri darinya, sementara pakaian wanita itu telah dirobek di sana sini, membuatnya menggeram mendesaknya ingin segera menguasainya.
Satu pukulan keras mendarat di wajahnya, tangan Willy bergetar hebat ketika mengetahui wanita yang berada di bawahnya adalah Alyena. Dia mencengkram bahunya dan memberikan dua kali pukulan keras hingga sudut bibirnya berdarah.
"Beraninya kau melakukan hal itu kepada Alyena, padahal dengan bodohnya aku sudah
mempercayaimu." Suara Willy seperti menggeram dalam merangkai setiap suku katanya.
Jafier dengan cepat menguasai dirinya, setelah di landa hasrat dan nafsu hebat, kini dirinya tersadar siapa yang berada di bawahnya dan berteriak ketakutan ketika dia hampir memaksakan kehendaknya kepada Alyena. Tanpa memperdulikan William yang memukulnya hingga berdarah, dia malah terlihat sangat bersalah ketika melihat keadaan Alyena yang memeluk tubuhnya hampir tanpa sehelai benangpun yang menempel, gaunnya telah robek dan jatuh di lantai dengan menyedihkan.
Dia diam mematung, tiba-tiba tubuhnya menjadi kaku, ketika menyadari wanita yang menangis itu Alyena, dia telah menyakitinya.
Dia mencoba mendekati Alyena entah apa yang akan di katakannya agar Alyena berhenti menangis seperti itu, dia akan rela melakukan apa saja agar Alyena tidak menangis.
"Jangan mendekati Alyena, sialan ! jangan menyentuhnya, atau aku akan membunuhmu, aku tidak akan membiarkan kau menemui Alyena lagi." William melepaskan jasnya dan memakaikannya kepada Alyena, dia kemudian menggendongya dan segera keluar dari penthouse Jafier. Napasnya sangat berat dan tajam, dia mengacak rambutnya, dan berdiri di sana bagaikan patung, dia masih mengingat bagaimana Alyena memohon kepadanya agar berhenti melakukannya tetapi semakin Alyena memohon semakin kuat hasrat untuk memilikinya.