
Dua pria itu baru saja keluar dari ruangan rapat, mereka berhasil mengadakan kerja sama antara perusahaan mereka masing-masing. "Saya berharap ke depannya semuanya berjalan dengan lancar Mr.Javier."
"Tentu Mr. William," ucap keduanya lalu saling berjabat tangan, semua yang hadir di sana menyaksikan kerja sama di antara dua perusahaan. Mereka berdua berjalan keluar dari ruangan rapat. Mereka saling berbincang.
"Bagaimana, apa kau tertarik mengunjungi perusahaan Regan?" Tanya Javier, mereka berdua berjalan beriringan, tatapan para karyawan tampak takjub melihat dua taipan tampan yang berjalan bersama.
"Perusahaan Regan berada di mana?" Tanya william.
"Di London, tetapi informasi yang saya dengar, dia kembali ke Swiss dan melanjutkan usaha perkebunan anggur milik ayahnya."
"Swiss? Dimana tepat perkebunan itu?"
"Hemm, tunggu sebentar, kalau tidak salah di sebuah desa bernama Desa Gimmelwald." Ucap Javier.
William berhenti berjalan, membuat javier berbalik dan melihatnya dengan heran. "Ada apa? Apa kau tertarik pergi ke sana? Aku berniat ingin berkunjung ke sana dan membicarakan kerja sama perusahaan kita dengan keluarga Regan."
"Kau baik-baik saja?"
William mengangguk, "Tentu, aku baik-baik saja, kapan kau berencana akan berangkat ke desa itu."
"Dalam waktu dekat ini, hanya kunjungan singkat, bagaimana?" Tanyanya.
Willy terdiam sejenak, "Aku akan menghubungimu, aku harus memikirkannya dulu." Ucapnya.
Williy segera pergi dan keluar dari perusahaan itu, dia segera masuk ke dalam mobilnya dan menundukkan kepalanya, jantungnya berdegup kencang, emosinya terasa memenuhi kepalanya. Dia masih mengingat dengan jelas ketika mendengar kabar mengenai kematian ibunya dan itu membuatnya hancur dan terpukul sangat dalam.
Flash back on
Setelah pernikahan ibunya dengan sahabat ayahnya sendiri yang bernama Nick Adams, membuat Willy tidak pernah lagi menampakkan dirinya di depan ibunya, meskipun dia selalu melihat ibunya hanya dari kejauhan, ibunya tampak bahagia bersama pria itu, mulanya dia tidak menyetujui pernikahan ibunya dengan seorang buron yang paling di cari di Amerika, tetapi selama ibunya bahagia, dia akhirnya merelakan, Willy menatap mereka berdua dari kejauhan, melihat senyuman bahagia ibunya, dia akhirnya menyerah dan pergi dari desa itu.
Beberapa tahun kemudian, William kembali bertemu dengan ibunya, dia nampak canggung, tetapi beda halnya dengan Ruzy, dia memeluk putranya dan menangis dan meminta maaf kepadanya, wajah tuanya terlihat lemah, sayu matanya memandang putranya yang paling dicintainya. Dia mengingat hari itu, seorang gadis kecil berlari dan tiba-tiba memeluk ibunya, William sangat terkejut.
"Mom, siapa dia?" Tanyanya.
"Dia adik perempuanmu, namanya Alyena." Wajah anak kecil itu sangat mirip dengan wajah ibu, di bandingkan wajah Audrey yang lebih mirip dengan wajah ayahnya Alex, wajah gadis cilik itu begitu cantik dan putih, hanya warna matanya saja yang berbeda, matanya berwarna coklat seperti warna mata pria itu.
Setelah pertemuan dengan ibunya, willy kembali ke Amerika, dan beberapa bulan kemudian dia mendengar ibunya telah wafat, dunianya terasa hancur, dia berlari keluar dari perusahaan seperti orang gila dan mengambil penerbangan pertama menuju ke swiss.
Sesampainya di sana, hanya pusaranya saja yang didapati willy, dia berlutut, dan menangis di samping makam ibunya sejadi-jadinya, setelah kematian ibunya, willy tidak lagi mendengar kabar mengenai pria itu dan gadis cilik yang menjadi adik perempuannya, dia sudah mencarinya kemana-mana tetapi dia tidak kunjung menemukannya. Sudah bertahun-tahun telah berlalu, sampai sekarang keberadaan mereka berdua belum dapat ditemukan. Willy terus mencari informasi tentang mereka berdua melalui seorang detektif terkenal dan beberapa bulan kemudian, dia mendapatkan informasi jika mereka telah pergi dan pindah dari satu desa ke desa lain, dan tidak lama setelah kepergian ibunya, pria itu wafat, meninggalkan putrinya seorang diri, meskipun sudah beberapa tahun telah berlalu, willy masih mencari-cari adik perempuannya itu, begitupun Audrey, mereka berdua masih mencari keberadaan gadis kecil itu.
•••
"Tuan Regan, ada informasi yang mengatakan tuan Jafier Alvaro dan William Collagher akan segera datang, dia memiliki bisnis di swiss, dan ingin bertemu dengan anda." Ucap sekertaris pribadi keluarga Regan bernama Doghlas.
"Benarkah? Kapan mereka berdua akan datang."
"Secepatnya tuan."
"Hem, bagus sekali, dua perusahaan raksasa itu sengaja datang ingin bertemu denganku, itu berita yang hebat, kau bisa menyambut kedatangan mereka, ketika mereka datang di mansion."
"Baik tuan."
Dia mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Tiba-tiba saja wajah penolakan gadis itu muncul di ingatannya. Dia sedikit tersenyum merasa bodoh memikirkan sesuatu yang tidak penting.
•••
Alyena menguap, dia membuka kedua matanya di pagi yang cerah itu, "Haaah, semoga hari ini berjalan dengan lancar, hari ini mereka akan memberikan kami upah, apa aku akan ke kota ya untuk membeli persediaan, semuanya telah habis, apalagi stok makanan di lemari sudah menipis, dan aku harus menyisihkan sedikit uang untuk menabung, agar aku bisa mencari kakak di kota besar itu." Gumam Alyena, dia meregangkan tubuhnya dan akan bersiap-siap berangkat kerja.
"Hai Alyena, pagi sekali kau datang." Ucap Rudith.
"Kenapa kau bertanya? Sudah jelaskan, sebentar lagi kita akan mendapatkan upah, tentu saja aku harus berangkat pagi-pagi, antrian akan panjang sebentar lagi, jadi kita harus bergegas."
"Dimana Nalia, kenapa dia belum datang juga?"
Di ujung jalan, mereka melihat kedatangan Nalia bersama seorang pria berambut ikal, mereka saling berbincang sambil tertawa-tawa.
"Itu Nalia, siapa pria di sampingnya?" tanya Alyna.
"Kau tidak tahu ya, pria itu sudah lama mengejar Nalia, mereka sepertinya sudah jadian, huuh aku juga ingin punya kekasih, setidaknya ada yang menghilangkan rasa bosanku ini, bagaimana jika hari-hariku berlalu begitu saja dan aku tidak memiliki apapun bahkan kekasih sekalipun tidak ada, kau tidak merasa seperti itu Alyena?"
"Entah, yang aku pikirkan sekarang, berapa gaji yang akan aku terima dan uang laukku selama ini, aku kan tidak pernah makan selama di perkebunan, aku membawa bekal sendiri dari rumah." Ucap Alyna sambil menghitung-hiung dengan jarinya.
"Ukh, apa hanya uang yang ada di dalam kepalamu."
"Tentu, kalau bukan uang apalagi." Jawabnya.
"Kau sama sekali tidak bisa si ajak ngobrol dari hati ke hati, oh ya, kapan kau berencana pergi ke kota?" tanyanya, mereka berdua meninggalkan Nalia, karena dia terlampau sibuk berbincang dengan pria itu.
"Emm, mungkin setelah menerima upah kita, aku perlu ke kota untuk membeli beberapa barang kebutuhanku yang habis."
"Yaaah, aku tidak bisa menemanimu, aku harus mengantar ibuku ke rumah bibi di desa seberang, apa kau tidak bisa menundanya dulu?" tanyanya.
"Sorry Rud, aku harus secepatnya pergi ke kota, aku tidak bisa menundanya, kau ajak saja Nalia, mungkin dia juga ingin berangkat ke kota."
Setelah berbincang-bincang, tibalah saatnya penerimaan upah setiap pekerja, mereka harus antri dan menunggu nama mereka di panggil. Suara-suara begitu heboh, para gadis-gadis saling berbisik, membuat perhatian Alyena teralihkan, dia berbalik dan segera mengetahui apa yang menjadi sumber kekacauan, pria itu datang dan dia sedang berbincang dengan kepala pimpinan.
"Alyena, kau lihat? kau lihat pria itu bukan, dia tuan muda kita." Ucap Rudith sambil mengguncang bahu Alyena.
"Ya ya, tuan mudamu bukan?" Ucap alyena, Rudith memukulnya sambil terkikik.
Alyena membuang wajahnya ke samping, dia tidak mau bertatapan mata dengan pria itu, lagipula pria itu seperti tipe orang yang suka memaksa, sikapnya juga terlihat arogan, apanya yang lembut dan baik hati, Pikirnya.
•••
"Alfon?"
"Ya tuan Regan." ucapnya.
"Kau kenal dengan gadis yang semalam bukan?" Ucapnya.
"Oh, maksud tuan, Alyena Adams? tentu saja saya mengenalnya."
"Bawa dia ke ruanganku, aku ingin makan siang dengannya." Matanya masih menatap ke arah Alyena.
Gadis kecil itu sengaja tidak mau menatapku.
"Baik tuan Regan."
Kepala perkebunan yang bernama Alfonso itu berbalik dan melihat Alyena dari kejauhan, dan berpikir mengenai ketertarikan tuannya ini kepada gadis itu, tetapi biar bagaimanapun, Alyena masih sangat muda, dia mungkin seusia dengan putrinya yang berusia 17 tahun, sedangan tuan Regan berusia 29 tahun, apakah tuan regan menyukai gadis-gadis muda, Alyena adalah seorang gadis yang sebatang kara, ayah dan ibunya telah meninggal dunia, dia menghidupi dirinya seorang diri dengan bekerja sebagai buruh di perkebunan ini, lagi pula, sebelum ayahnya wafat, dia berpesan kepada Alfon agar menjaga putri kecilnya.
"Apa perlu aku mencarikan wanita yang sesuai dengan tuan Regan?" gumam Alfon, dia berjalan sambil menggeleng.
•••
Setelah menerima upah beberapa Franch Swiss, Alyena segera saja berangkat ke kota hari itu juga, dia telah berdiri dan menunggu bis di halte yang akan membawanya berangkat ke kota sebelum siang. Setelah melihat dari kejauhan bis berwarna kuning, dia segera tersenyum dan segera naik ke dalam bis itu, ada sebuah mobil jip yang mengejarnya dan dia adalah sir Alfon. Dia tidak sempat mengejar kepergian Alyena, setelah mencarinya dan mendengarnya akan berangkat ke kota, Sir Alfon segera mengambil kunci mobilnya dan mengejar Alyena, tetapi sayang sekali, bisnya telah menjauh dan tidak terkejar.
Perjalanan cukup jauh di lewati Alyena, setelah 2 jam, akhirnya dia tiba di pusat kota, sebelum dia beranjak untuk membeli barang kebutuhannya, dia sempat mampir di sebuah Cafe, dia sangat suka mencicipi secangkir kopi yang hangat dan manis. Dia berjalan sambil membawa nampannya, tiba-tiba seorang pria menabrak pundaknya dan kopi itu tumpah dan membasahi bagian depan pakaiannya.
"Oh tidak, tidak." ucap Alyena, sebelum rasa panas menjalar ke tubuhnya dia segera berlari ke westafel dan menyiram air dingin di pakaiannya dan segera membersihkannya dengan tissue.
Alyena kembali ke ruangan Cafe dan menatap pria yang menabraknya tadi, dia duduk santai seperti tidak melakukan kesalahan sedikitpun.
"Pria itu bahkan tidak meminta maaf, dia kan sudah menabrakku." Ucapnya, Alyna berjalan ke tempat duduk privat pria berambut hitam yang sedang menikmati kopinya seorang diri, Alyena telah berdiri di hadapannya.
"Paman, apa kau tidak akan mengatakan apapun kepadaku setelah menabrakku dan menumpahkan kopiku?" Ucap Alyena, kemarahannya tidak bisa dia bendung.
"Anak kecil saja akan meminta maaf ketika dia melakukan kesalahan," Ucap Alyena tajam.
Pria itu meletakkan cangkir kopinya dan menatap seorang gadis yang marah-marah di hadapannya.
Manager Cafe tiba-tiba berlari tergopoh-gopoh ketika melihat Alyena sedang marah-marah di hadapan pria itu.
"Nona, kami akan mengganti kopimu, maafkan kesalahan kami, silahkan duduk di sebelah sana." Ucapnya, wajah pria berkacamata itu sedikit pucat dan keringat menetes di keningnya.
"Tetapi yang menabrakku tadi paman ini, bukan anda, kenapa anda yang meminta maaf?" Ucap Alyena dengan heran.
"L-lewat sini nona, sebaiknya anda ikuti kata-kata saya." Ucapnya panik
Pria itu mengangkat tangannya, menyuruh manager Cafe itu berhenti bicara, dia kemudian berdiri menjulang di depan gadis itu, tatapannya seakan dapat menelan Alyena bulat-bulat, dia menyilangkan tangan di hadapannya.
"Jadi kau ingin apa gadis kecil."
Apa dia bilang, gadis kecil?
Dengan berani Alyena bersedekap, tanpa takut dia menatap langsung wajah pria tinggi itu, "Minta maaf, aku ingin anda meminta maaf, bukankah jika kita melakukan kesalahan sewajarnya kita harus meminta maaf?" Ucap Alyena tanpa rasa takut sedikitpun.
Pria itu memandang wajah Alyena tanpa berkedip, matanya tajam menatap langsung manik mata Alyena sehingga dia tidak bisa berpaling, tanpa sadar bulu kuduk Alyena meremang, pria di hadapannya ini terlihat menakutkan. Alyena menelan ludahnya, tetapi tetap kukuh berdiri di sana menjadi pusat perhatian orang-orang.
"N-nona sudahlah, sebaiknya anda duduk di sana kami akan....
Ucapan manager Cafe itu berhenti, ketika tiba-tiba tatapan pria itu beralih kepadanya, menyuruhnya untuk diam.
"Jadi, kau ingin aku meminta maaf?" tanyanya.
"Tentu saja, paman harus meminta maaf." Ucap Alyena, sebenarnya dia ingin sekali memalingkan wajahnya, dia tidak mau bertatapan dengan pria di hadapannya ini.
"kalau begitu duduklah, dan aku akan mengatakan permintaan maafku." Ucapnya sambil melirik kursi tempat duduknya.
Kenapa aku harus duduk? Tch, siapa yang mau duduk bersama paman ini?
"Lupakan, aku sedang buru-buru, anda tidak perlu meminta maaf." ucap Alyena sambil mendengus, dia ingin beranjak pergi tetapi tiba-tiba tangannya di pegang erat oleh pria itu. Mata Alyena melotot melihat tangannya di pegang, baru kali ini seseorang memegang tangannya.
Dengan refleks Alyena menendang kaki pria itu dengan cukup keras, tetapi tangannya tidak juga terlepas, wajah kesakitan dari pria itupun tidak terlihat, Alyena kembali menatap wajahnya, dia sama sekali tidak berekspresi atau mengeluh karena tendangan kecil Alyena.
"Duduk !" perintahnya.
"Tidak mau, lepaskan tanganku." Ucap Alyena, dia kembali melakukan serangan lain karena pegangan tangan pria itu semakin erat.
Dia pikir aku takut? lihat saja.
Alyena merubah taktiknya, dia kemudian menggigit tangan pria itu sehingga terlepas begitu saja, melihat tangannya telah terlepas, Alyena lalu berlari keluar dari Cafe. "Tch, paman itu aneh, dia mengerikan." Ucapnya.
Pintu Cafe terbuka tampak willy baru saja masuk dan melihat Javier Alfaro sedang berdiri di sana sambil memegang tangannya, dan menatap seorang manager cafe sedang menggigit jari-jarinya dengan wajah pucat.
"Apa sesuatu terjadi?" tanyanya.