
"Ada apa Ruzy, kau terlihat sakit". Kata bibi Emy suatu hari ketika kami makan siang di dapur.
Aku hanya menatapnya dan tersenyum menggelengkan kepalaku. "Aku cuma letih sedikit bibi, aku tidak apa-apa".
Bibi Emy lalu menyuruh Ruzy berganti baju. "Aku bodoh sekali, kau sudah hampir sebulan di sini, tapi aku tidak pernah membawamu jalan-jalan". kata bibi dengan wajah minta maaf pada Ruzy.
Dengan senang Ruzy berganti baju, dia memakai dress panjang berwarna kuning cantik bermotif bunga-bunga, dress musim panas yang merupakan pemberian bibi Emy sewaktu ulang tahunnya ke 20, dia sangat senang, karena baru kali ini bibi Emy mengajaknya jalan-jalan, meskipun jalan-jalannya ke pasar dengan membeli beberapa belanjaan untuk persediaan keluarga Collagher tapi itu membuat Ruzy terlihat senang.
Dengan dress kuning, rambutnya yang coklat kemerahan setengah di kuncir sehingga beberapa rambutnya yang panjang terlepas, Ruzy begitu mempesona karena kulitnya yang seputih porselen terlihat lebih bercahaya lagi ketika terkena sinar matahari pagi.
Bibi Emy telah menunggunya di taman, Ruzy sedikit kesal melihat bibinya menunggu di tempat peristirahatan keluarga itu sambil berbincang dengan seorang pria tampan yang tinggi, rambutnya berwarna abu-abu terlihat sangat menarik dengan penampilannya yang rapi dan berjas putih.
Langkah kakiku membuat mereka berdua berbalik, bibi Emy tersenyum melihatku. Pria itu hanya menatapku sambil tersenyum sopan padaku.
"Oh ya dokter Cornelis, ini ponakanku Ruzy Wilhelm sebulan yang lalu dia datang dari Swiss membantuku yang sehabis sakit". Pria itu tersenyum sopan dengan wajah berseri-seri, lalu mengulurkan tangannya padaku.
"Max Cornelis, nona Ruzy". dia menjabat tanganku, mata birunya yang sebiru laut terlihat bercahaya ketika melihatku. "Aku tidak tahu kau punya ponakan yang begitu sangat cantik". Kata dokter itu pada bibi Emy.
Bibi Emy hanya tersenyum dengan komentar pria bernama max itu. Aku tersenyum sopan tanpa berbicara sedikitpun.
"Kami harus pergi dokter max, aku minta maaf telah menahan anda, silahkan masuk ke dalam, nyonya Collagher pasti sudah menunggu anda.
"Tidak apa-apa, aku juga ingin tahu perkembangan kesehatan anda". Dia kemudian menatap Ruzy sekilas lalu berjalan menuju pintu depan keluarga Collagher yang besar itu.
"Kau lihat kan Ruzy! dokter itu begitu baik sopan dan tampan", aku merindukan menantu seperti dia". Aku tertawa mendengar gurauannya. "Ih bibi koq berkata seperti itu"?
"Apa yang salah sayang? seandainya itu mungkin kau sangatlah cocok bersanding dengannya, kau begitu cantik di bandingkan separuh gadis yang ada di Pittsburgh".
Aku tertawa mendengar pujian bibi yang berlebihan itu. Kami tertawa-tawa sampai di pintu gerbang, rob membukakan kami pintu sambil membungkuk ke arah kami tanda sopan santun bagi seorang lady.
tawaku tiba-tiba menghilang melihat tiga ekor kuda dengan pria-pria yang mengendarainya, aku melirik sekilas dan setelah itu menunduk tidak mau melihat pria brengsek itu.
Alex menghentikan kudanya, lalu menatap tajam kearah kami, bibi Emy memberi salam dengan sedikit menunduk. "Kalian ingin pergi"? tanyanya dengan suara khasnya yang dalam dan serak.
"Iya tuan, kami akan pergi belanja untuk persediaan dapur yang hampir habis". Jawab bibi Emy.
Alex memandang ruzy sangat intens sampai-sampai bibi Emy menyadarinya begitupun kedua sahabatnya Nick dan Ricky yang berada di belakangnya.
"Oh, dia ponakanku tuan alex, dia datang dari swiss, dia datang membantuku karena kesehatanku sedikit tergganggu". Bibi Emy kelihatan kaku ketika berbicara dengannya berbeda sekali ketika berbicara dengan dokter max dia kelihatan santai.
Bibi Emy yang keheranan mendengar pertanyaan pria yang biasanya angkuh dan pemarah ini tiba-tiba begitu perhatian. "Ka...kami naik bis di depan situ tuan Alex". sambil menunjuk halte yang harus di tempuh 20 menit perjalanan menuju ke sana.
"Tunggulah di sini biar aku mengantar kalian, aku juga ingin keluar". kata Alex dengan cepat turun dari kudanya dan memberikannya pada rob penjaga gerbang.
Teman-teman Alex melongo keheranan melihat tingkah laku Alex yang tidak biasanya, tapi Ricky hanya tersenyum miring memandangnya dia tahu ada sesuatu antara Alex dan gadis cantik itu.
Aku memegang tangan bibi Emy begitu erat, lalu sedikit bersembunyi di belakangnya.
"Kau memiliki ponakan sangat cantik"! kata Nick yang tersenyum sopan pada bibi Emy.
Bibi Emy hanya tersenyum mendengar pujian-pujian dari pria ini.
Mereka berdua masuk ke dalam kediaman keluarga Collagher, bibi Emy lalu berkata dengan sedikit agak keras yang membuatku sedikit tertawa. "Jangan pernah mendekat pada pria-pria itu, mereka memang tampan tapi mereka pria brengsek apalagi dengan gadis cantik".
Nick dan ricky yang mendengar kata-kata bibi emy, langsung saja tertawa-tawa.
©
Kami berdua berakhir di mobil tuan brengsek ini, aku mencoba duduk di belakang bersama bibi Emy tapi menurut bibi Emy tidak sopan kita berdua duduk di belakang, dia seperti sopir jika kita duduk bersama di sini, jadi di sinilah aku duduk bersampingan dengannya.
Dia begitu diam, sangat berbeda jika hanya kami berdua saja, kata-katanya penuh ancaman dan ciumannya yang seenaknya padaku.
Pria ini melirik padaku selama di perjalanan, aku tidak berani menatapnya, tidak ingin membuat kesalahpahaman dihadapan bibi Emy.
Kami akhirnya sampai di pasar tradisional, aku dan bibi Emy turun dari mobilnya. Kami menunduk dan mengucapkan terimakasih padanya, dia lalu naik ke atas mobilnya dan pergi, tapi sebelum dia pergi senyuman misterius di tujukan padaku. Jantungku berdetak, apalagi yang di rencanakan tuan brengsek ini padaku? aku cepat-cepat memalingkan wajahku.
Kami berjalan-jalan sebentar mengelilingi pasar itu, berbagai macam pernak-pernik di pasar tradisional itu, berbagai bahan makanan di jual di sana, tempatnya begitu luas, dan banyak kios-kios di sana, wangi makanan menguar di pasar itu, aku tersenyum mendengar teriakan-teriakan penjual memanggil kami, sangat berbeda dengan Swiss yang sangat tenang hanya semilir angin dan rerumputan serta gemuruh dari pegunungan Alpen terdengar dari puncak gunung.
"Ruzy, bibi ingin membeli beberapa ikan di dalam pasar duduklah sebentar di kios ini, jangan kemana-mana, nanti bibi jemput".
"Tenang saja bibi, aku akan menunggu di sini". Senyumku menenangkannya. Bibi akhirnya pergi aku menatap ramainya orang-orang berlalu lalang, sambil menyaksikan komedi putar untuk anak-anak yang disediakan di sana tanpa kusadari langkah kaki itu berdiri tepat di hadapanku.
Aku sontak berbalik dan menatapnya. Wajah tampan ini menarik paksa tanganku pergi ke suatu tempat.
"Lepaskan aku... atau aku akan berteriak". Dia hanya tersenyum miring, "teriaklah, kau selalu mengancamku dengan kata-kata yang sama sayang".
"Ikut aku Ruzy". perintahnya.