
Senandung terdengar dari seorang pria dengan irama yang suram dan bergema disepanjang koridor yang gelap, langkah kakinya begitu berat dan suara napasnya yang bersahutan menyeret seorang wanita yang sedang pingsan. Dia bersenandung dengan senang, mengangkat tubuh tak berdaya itu ke ruangan sempit yang gelap, dia membaringkannya begitu saja di atas tempat tidur kecil, memandang wanita itu sekejap lalu menguncinya di jeruji besi yang dingin.
Mengambil sebatang rokok, lalu menghisapnya dia duduk dengan wajah senang menatap korbannya yang tidak berdaya. Suara tetesan air membuat wanita itu terbangun, wajahnya penuh luka dan seluruh tubuhnya sakit dan membiru, dengan bingung dia mencoba duduk lalu memandang keadaan sekitarnya.
"Dimana ini"? suaranya ketakutan dan bergetar keluar dari bibirnya yang berdarah. "Siapa disitu tolong lepaskan aku". 'Klak...
Seketika wajahnya memucat tak berdaya, wajah pria yang berdiri dihadapannya membuatnya bungkam. "Kau..kau.....lepaskan aku brengsek"!!. teriaknya.
"Ssst, hehe berperilakulah dengan baik sayang atau kau lebih memilih tempat yang lebih mengerikan di Banding sel ini? Klak.....
Pria itu masuk ke dalam sel menatap mangsanya, wajah permohonan dari Cendy tidak membuatnya luluh, seucap kata dibisikkan di telinga Cendy, 'Klak....,suara aneh yang keluar dari mulutnya membuat Cendy ketakutan, mata Cendy terbelalak menjauh darinya tapi tidak ada gunanya.
Kesunyian malam begitu mencekam suara langkah kaki terdengar menggema diiringi tetesan air hujan, pria itu memandang dirinya lewat pantulan cermin, sikapnya kembali normal dia berjalan dengan santai, menyembunyikan siapa dirinya dan kembali ke kediaman keluarga Collagher.
~
Teriakan kembali terdengar di kediaman Collagher, wajah membiru dan beku tergeletak begitu saja di hutan belakang, subuh tadi rob memeriksa setiap sudut kediaman Collagher sebelum malam menjelang dan pagi menyambut, tubuh wanita dengan baju yang tidak berbentuk lagi, wajahnya lebam mengerikan. Mereka semua keluar dan melihat cendy tengah tergeletak tidak berdaya di atas papan. Nyonya Collagher menutup wajahnya, ellena terduduk menangis memandang sahabat egoisnya ini telah tiada.
Ramai di kediaman Collagher, beberapa polisi telah berada di sana begitupun detektif yang datang tempo hari. Pembunuhan beruntun terjadi di rumah ini, wajah detektif menatap curiga semua orang yang tinggal di kediaman Collagher.
Wajah Alex mengeras, mengapa pembunuh sialan itu melakukan aksinya di kediaman Collagher!? Wajahnya kini menatap curiga siapa saja yang berlalu lalang di rumahnya.
Mereka mengumpulkan semua pelayan di halaman belakang rumahnya, menatap satu persatu wajah yang tinggal di kediamannya, Ruzy berdiri di samping bibi emy, mereka semua berdiri gelisah saling melontarkan pertanyaan tentang situasi mereka lewat mata mereka.
"Berapa pelayan yang ada di sini Mr.Ollie?" tanya Alex padanya.
"Mereka semua berjumlah 23 orang tuan Alex,
rata-rata dari mereka sudah bekerja di sini cukup lama kecuali ruzy dia baru bekerja beberapa bulan di sini." Matanya memandang ruzy yang menunduk memegang tangan bibi Emy .
Mereka semua berdiri dihadapan para pelayan, nyonya Collagher ellena alex beserta ricky serta nick. "Apa yang dikatakan polisi itu Alex?" Rick memandang Alex yang sedang memijit dahinya.
"Polisi masih mengumpulkan bukti-bukti mereka masih mempelajari motif pembunuhnya dan kenapa semuanya terjadi di rumahku, sepertinya mereka masih menduga-duga pembunuhnya salah satu penghuni di Collagher.'
Wajah nyonya Collagher memucat, sepertinya dia akan pingsan. "Mom istirahatlah di dalam, mom sangat pucat, biar aku mengantar ibu."
Ellena membawa ibunya yang baru saja di tunjuk-tunjuk oleh nyonya hudson ibu dari Cendy. Wajah shocknya tidak kalah hebat dengan nyonya hudson.
"Sebentar lagi mereka akan meminta keterangan kepada kalian semua, jadi jangan ada yang beranjak dari tempat ini." Kata Nick kepada semua pelayan yang ada di halaman belakang. Wajah ruzy menatap alex yang menunduk sepertinya kepalanya sedang sakit. 'Klak ....
Bunyi itu membuat wajah ruzy membeku, diantara puluhan orang yang ada di sana dia tidak tahu siapa yang mengeluarkan suara aneh itu suara itu begitu jelas. Dia terus mencari-cari dengan menatap seluruh wajah mereka. "Ada apa Ruzy"? bibi Emy memperhatikan ruzy yang memucat.
"Apa? oh..tidak ada apa-apa bibi, aku hanya kecapean saja, kita sudah terlalu lama berdiri di sini."
Setelah proses yang panjang dari beberapa polisi yang menanyakan satu persatu dari mereka, akhirnya semuanya kembali mengerjakan tugasnya. ruzy berjalan, mengangkat pakaian-pakaian yang selesai di cucinya bersama Jessy, tetapi hanya ruzy yang membawa satu keranjang yang akan di jemurnya di belakang rumah dekat tepi hutan.
Suara desiran air dari sungai itu membuat ruzy sedikit rileks, dia sangat tegang dengan kejadian tadi. Dia terduduk memandang aliran sungai setelah menjemur pakaian-pakaian itu.
"Kau baik-baik saja ruzy?" Suara serak dan berat itu membuat Ruzy berbalik menatap Alex yang duduk begitu saja di sampingnya.
"Tempat ini begitu indah bukan? jika saja kejadian itu tidak terjadi di sini!" Kata Alex dengan rahang mengeras, sontak tangannya mengepal, ingin sekali dia menemukan brengsek yang telah membuat rumahnya menjadi tempat pembunuhan.
"Kau baik-baik saja tuan Alex?" Kata Ruzy menatap Alex yang memucat.
Alex berbalik menatap Ruzy, tiba-tiba dia menyandarkan kepalanya di bahu Ruzy dan menutup matanya. "Biarkan aku seperti ini untuk beberapa menit Ruzy, aku sangat lelah". Ruzy tidak mengatakan apapun hanya membiarkan Alex bersandar di bahunya.
Mata Alex terbuka, dia berbalik kearah Ruzy menatapnya begitu lama, sementara Ruzy juga larut dengan wajah tampan yang tampak letih itu. Alex mendekati wajah Ruzy, memiringkan kepalanya, hendak mencium Ruzy. Tubuh Ruzy seakan tidak mengikuti alarm di kepalanya untuk menghindari ciuman tuan muda ini, mereka akhirnya merekatkan bibir mereka di bawah pohon pinus untuk beberapa lama. Alex melepaskan bibir ruzy, dan menyapu bibir ruzy sambil menatapnya.
"Kenapa kau begitu mempengaruhiku Ruzy", kata Alex yang masih memegang bibirnya dengan sapuan jempolnya. Gerakan memutar di bibir Ruzy yang merah membuatnya mengerang, dia kembali mendaratkan ciumannya, kali ini dengan sedikit kasar dia menyerang bibir Ruzy.....
Napas mereka beradu di bawah pohon Pinus dekat sungai, kepala Ruzy disandarkan di dada Alex dia memeluknya begitu erat, dan mencium puncak kepala Ruzy.
"Jangan berjalan-jalan sendirian kali ini ruzy, tempat ini tidak aman lagi, kau mengerti?" Dia mengeratkan pelukannya pada Ruzy. Dia mengangguk pada Alex tanpa menatapnya.
'Klak.....klak.....
Ruzy dengan spontan terduduk lalu tubuhnya berputar mencari sumber suara aneh itu. "Ada apa Ruzy"? tanya Alex melihat ruzy duduk dengan wajah memucat.
"Suara itu, suara itu sering kali aku mendengarnya". kata Ruzy menatap alex.
"Suara apa yang kau maksud Ruzy?" Alex mengernyit menatapnya.
"Kau tidak mendengarnya? sejak pembunuhan terjadi di sini, aku sering mendengar suara aneh itu di sekitar hutan ketika aku menjemur pakaian di sini."
Wajah Alex memucat, rahangnya menjadi kaku, bibirnya menjadi tipis, dia lalu tiba-tiba berdiri, "Seharusnya kau katakan lebih cepat jika kau mendengar suara-suara aneh itu Ruzy, kau bisa saja dalam bahaya", bentaknya.
'Klak...klak.....Suara aneh itu berada di dalam hutan. Kini Alex mendengar suara itu bersama Ruzy, matanya menjadi tajam menatap hutan.
"Ayo ! kita kembali." kata Alex menarik tangan Ruzy.
Wajah dibalik hutan terkekeh, melihat wajah pucat mereka berdua.