
Pukul 9 pagi Alyena akan pulang ke penthouse bersama William dan Jafier, meskipun mereka bersikap canggung dan tidak seakrab dulu. Mereka berbicara dengan sopan seperti seorang yang tidak saling kenal, padahal mereka saling tahu sisi buruk masing-masing.
Alyena bersandar di kursi mobil, dia ingin tertawa tetapi dia menahannya, sangat lucu melihat mereka bercakap dengan tampang sinis dan ucapan sarkas yang terkadang mencela, karena mereka tahu sifat mereka berdua masing-masing.
Alyena berbalik, dia tidak mau melihat adegan saling canggung itu. Dia terkejut. Tatapannya jatuh pada seorang wanita yang berdiri di belakang gedung rumah sakit melihat tajam kepadanya.
Rudith
Alyena melihatnya, dan Rudith pun melihat Alyena. Tatapan tajam membunuh terlihat dari sinar matanya. Alyena kemudian membuka ponselnya berharap dia memiliki nomor telepon rumah Nalia, dia ingin menanyakan apa sebenarnya yang terjadi ketika Rudith datang ke York, apakah ide gilanya itu semata karena cintanya kepada Kilian Regan? Gadis itu sakit, dia harus mendapatkan perawatan secepatnya, melihat keadaannya seperti itu, Alyena yakin Rudith memiliki penyakit mental yang parah.
"Ada apa Alyena, sejak tadi kau diam saja, sayang?" Ucap Jafier memperhatikan dari kaca spion, terlihat Alyena diam dengan ekspresi resah di wajahnya.
"Haa? Aku baik-baik saja, cuma aku ingin cepat sampai dan beristirahat."
Willy melirik jengkel ketika mendengar ungkapan sayang Jafier kepada Alyena, "Kita akan segera sampai."
Sesampainya di penthouse ketika Jafier dan Willy meninggalkan Alyena seorang diri di kamar, dia lalu segera bergerak membongkar lacinya dan mencari kartunya yang dulu di dalam lemari penyimpanannya, baju-baju serta buku yang di bawanya dari Gimmelwald masih tersimpan di lemari khususnya, dia mengambil buku catatan lamanya dan segera membukanya berharap menemukan nomor Nalia.
"Bagus, aku masih menyimpan nomornya." Alyena segera menekan nomor rumah Nalia dan untung saja masih tersambung.
"Halo, dengan keluarga Own di sini." Terdengar suara seorang gadis di telepon.
"Halo Nalia, ini aku Alyena."
Suara itu terdiam dan tidak lama terdengar umpatan keras dari Nalia.
"Hell, Alyena. Kamu ada di mana. Kau pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun. Aku pikir dalam seminggu kau akan meneleponku, kami semua mengkhawatirkanmu."
"Aku baik Nalia. Aku minta maaf karena pergi begitu saja, waktu itu aku sangat kesepian, kau selalu bersama dengan Rudith dan mengabaikan aku."
"Rudith si J4lang itu? aku menamparnya, dia berani merebut brian dan menciumnya di depanku, aku berusaha berbicara denganmu tetapi kau selalu tidak ada di rumah. Oh ya ngomong-ngomong soal Rudith berhati-hatilah dengan gadis itu, dia gila, Alyena. Maksudku dia sakit, dia menderita sakit mental akut, terakhir aku mendengar tentangnya ketika orang tuanya membawanya ke psikiater di Inggris, dia mencoba melarikan diri, dan menyerang dokter di sana. Tetapi ayahnya membawa dia kembali ke rumahnya. Kemudian dia mulai membaik dalam beberapa minggu, lalu kembali bekerja di perkebunan, tetapi sayang sekali dia menyerang salah satu pelayan di mansion tuan Regan yang ditugaskan oleh Nona susan ke York, inggris. Aku tidak tahu sekarang mengenai Rudith, orang tuanya masih mencari-carinya, dia terobsesi dengan tuan Kilian sangat parah."
"Dia ada di york, Nalia. Dia menyerangku waktu aku makan siang bersama teman-temanku, mungkin sekarang dia menyewa flat di kota ini karena dia di usir dari mansion Kilian, dia menyerangnya ketika dia tidur."
"A-apa? B-baiklah aku akan segera menghubungi orang tuanya, sebaiknya kau berhati-hati Alyena, dokter yang di serangnya hampir saja mati karena kehabisan darah, dia menyerangnya dengan bulpoin yang ada di atas meja dan menusuk di lehernya, ketika dia kambuh dia sangat mengerikan, dia bisa membunuh seseorang, berhati-hatilah."
"Ok. Aku akan berhati-hati, jaga dirimu Nalia. Kita pasti akan bertemu lagi."
"Aku juga merindukanmu, aku akan menunggumu."
Alyena menutup ponselnya dan dia menyapu kedua lengannya dengan tangannya, dia bergidik mendengarnya. "Rudith sakit jiwa dan sekarang keberadaannya tidak di ketahui. Aku akan bicara dengan kak Willy." Gumamnya.
****
Alyena tertidur dengan lelapnya malam itu, setelah makan dan minum obat, Alyena tertidur. Mimpi itu serasa nyata, Alyena melihat sosok Rudith di dalam kamarnya, dia berdiri di ujung tempat tidurnya dan berdiri di sana memandangnya dengan memegang pisau di tangannya. Tubuh Alyena seakan terkunci, dia tidak bisa bergerak. Dia berusaha minta tolong dan memanggil William dan Audry, tetapi mereka tidak ada untuk menolongnya.
"Alyena bangun !" Seseorang memanggilnya dan dia Audry, setelah kembali dari kota Manchester. Dia akhirnya kembali ke penthouse setelah mendengar kabar Alyena terluka.
"Kau bermimpi buruk Alyena," Ucap Audry menyeka keringat di kening Alyena. "Kau baik-baik saja?" Tanyanya.
"Aku baik. Baru kali ini aku bermimpi buruk." Ucap Alyena sambil memeluk Audry. Dia menepuk-nepuk punggung Alyena.
"Kau memimpikan apa sampai ketakutan seperti itu?"
"Gadis yang menyerangku yang bernama Rudith. Aku memimpikannya, dia berdiri di sudut tempat tidurku dan dia memegang pisau di tangannya."
"Kau pasti memikirkannya sampai-sampai kau memimpikan gadis itu, Willy sudah menceritakan mengenai dia. Kata Willy dia sangat terobsesi dengan Kilian Regan sampai-sampai dia memecatnya."
Audry tidak bersuara, Alyena lalu melepaskan pelukannya dan menatap wajahnya. "Kak Audry kau baik-baik saja?" Ucap Alyena memperhatikan ekspresi terkejut di wajah Audry.
"Kapan kau mendapat informasi ini, Alyena?"
"Haa? siang tadi."
Dia menghembuskan napasnya. "Gadis itu sangat berbahaya, Alyena. Kali ini jangan kemana-mana sebelum gadis itu di temukan."
Mereka berdua berbalik ketika mendengar seseorang berdiri di ambang pintu sambil membawa susu hangat dan cemilan malam untuk Alyena.
"Kak Willy? Ada apa ...."
"Kapan kau menelepon temanmu itu."
"Tadi siang."
"Apa yang di katakan temanmu yang kau telepon, katakan semuanya Alyena." Wajah Willy terlihat sangat khawatir.
"Kata Nalia. Aku harus berhati-hati padanya, dia sedang menderita sakit mental yang akut, orang tuanya membawanya ke london untuk berobat tetapi dia menyerang dokter itu hingga hampir tewas."
"Sekarang gadis gila itu menargetkanmu, Alyena. Kau tidak boleh keluar dulu dari penthouse, sebelum gadis itu tertangkap, dia berbahaya. Sangat berbahaya." Ucap Willy.
"A-aku melihatnya tadi siang. Dia berdiri di belakang gedung rumah sakit sambil menatap mobil yang kita kendarai tadi." Willy memijat keningnya, sedangkan Audry terlihat khawatir.
"Aku akan meningkatkan keamanan penthouse ini. Aku tidak akan membiarkan kau keluar dari rumah sampai gadis itu di tangkap."
"Baik kak Willy."
Willy memeriksa kamar tidur Alyena dengan seksama, dia memeriksa lemari pakaiannya, kamar mandinya, balkon dan di bawah tempat tidurnya. Dia kemudian berdiri di balkon dan memandang di sekitarnya. Kamar Alyena ada di lantai 2, tidak ada celah yang bisa di lakukannya untuk naik ke balkon ini, tetapi untuk berjaga-jaga. Willy akan memasang cctv dan penjaga tepat di halaman mansion yang menghadap ke balkon Alyena.
Willy segera menutup balkonnya dan menguncinya. Dia kemudian keluar kamar dan menelepon seseorang.
Pagi harinya penjagaan betul-betul di perketat, penjaga bertambah dan siapapun yang masuk harus melalui beberapa kali pemeriksaan. Sementara itu Alyena menghembuskan napas ketika dia betul-betul terkurung di dalam penthouse tanpa bisa keluar sama sekali dari sana. Dia menghubungi Nick dan Clara dan menjelaskan situasinya. Setelah perkuliahan mereka selesai. Mereka berdua datang ke penthouse Alyena.
"Ugh, penjaga itu memeriksaku tiga kali, dia bahkan membawa anjing penjaga yang mengendusku, Oh ya ini untukmu, tanpa cream bukan?"
"Thanks," Ucap Alyena mengambil minuman Milkshake Bubble coklat yang di pesan kepada Nick.
"Kau harus bersabar, karena semua tindakan paman Willy untuk menjaga keselamatanmu, aku pribadi setuju dengannya, setelah kau menceritakan mengenai gadis itu, aku merinding, bayangkan saja jika seorang gadis gila berusaha menyerangmu dan berusaha melukaimu kapan saja, itu sangat horor buatku, hidup kita tidak akan tenang. Jadi sebaiknya kau bersabar, dan tinggal di rumah sampai gadis itu di tangkap."
"Ya, Clara benar. Aku setuju dengannya."
***
Flat kecil kusam yang berada di gank-gank jalan tertutup dengan plastik sampah yang bertumpuk, terlihat sangat kotor. Gadis itu berada didalam kamar kecil itu. Dia sedang menatap ponselnya, wajah Kilian Regan terlihat bersamanya. Dia kemudian berlari ke dalam toilet ketika mengingat wajah Alyena.
"Sial, aku sampai muntah hanya karena mengingat wajah Alyena, j4lang itu."
Sebelum wanita itu kulenyapkan aku akan mengalami semua hal ini, aku sama sekali tidak bisa tenang hanya dengan melihat dirinya hidup bahagia.
Dia mengambil Jaketnya dan mengenakan jeansnya dan segera keluar dari flat untuk makan siang dan melakukan pengintaian, keuangannya tentu saja menipis tetapi berkat uang pelayan tua itu, dia bisa menambah uang sakunya, sebelum dia pergi, dia mencuri uang kepala pelayan itu. Dia bersiul sambil memegang ikatan dollar ditangannya.
"Anggap saja ini kompensasi dari omelanmu tiap hari." Senyum mengembang di wajahnya. Gadis itu keluar dari kamarnya dan mengunci flatnya. Dia turun ke bawah dan akan melakukan pengintaian kepada Alyena, jika dia memiliki kesempatan maka hari itu juga dia akan melenyapkan gadis itu.