
Aku tiba di kamarku sudah lewat tengah malam, sebelum turun dari mobilnya pria itu tidak membiarkan kesempatan pergi begitu saja, aku berada di mobilnya selama setengah jam, karena ciuman-ciumannya tidak berhenti sampai di situ. Dia berhenti ketika ponselnya berdering.
Aku memperbaiki rambutku yang acak-acakan, lalu mengambil kesempatan keluar dari mobilnya dan berlari sepanjang taman sampai ke dalam kamarku. Aku menutupnya cepat dan menguncinya.
Napasku tidak beraturan, aku memegang bibirku yang sudah sangat bengkak, dan menatap tanda merah kebiruan di dada atas bagian kiriku. Pria brengsek itu menandaiku.
®
"Kau dari mana saja Alex akhir-akhir ini aku jarang bertemu denganmu."
Nick yang menunggunya di ruang tengah keluarga Collagher bersama Ricky, Jhon dan seorang wanita yang berparas cantik polesan makeupnya membuatnya nampak seksi dengan gaun merah yang melekat ketat di tubuhnya.
"Aku sibuk, ada apa kalian kemari?" Alex mengambil minuman di atas meja yang sudah terisi dengan es batu.
"Kau lupa kawan, janji tetaplah janji, Jhon membawa Merry, adiknya kemari."
Wanita itu berjalan lalu memegang pundak Alex kemudian duduk di sebelahnya. "Aku tidak tahu kakak menjadikanku taruhan, tapi aku cukup senang jika itu kau Alex." Katanya dengan nada genit.
Alex hanya menatap wanita seksi ini di sebelahnya dan sedikit tersenyum padanya.
"Janji apa yang kau maksudkan? aku sudah bilang batalkan taruhan itu." Kata Alex dengan santai.
"Kenapa kau berkata begitu Alex, toh aku juga menyukainya, aku ingin bersamamu malam ini hem, gimana?" Dia memeluk Alex begitu erat di pinggangnya. Alex berpikir sebentar lalu menatap tubuh wanita di sebelahnya.
"Ok, aku akan bersamamu malam ini." Dia selama ini menahan hasratnya kepada Ruzy, sampai dia berciuman dengannya begitu kasar, toh ini adalah taruhan yang aku menangkan.
Mereka semua bermain biliar sementara Merry mulai bosan duduk menunggui Alex, dia kemudian berdiri dan memeluk pinggang Alex. "Kenapa kau begitu lama? Ayo kita pergi sekarang."
Jhon hanya menggeleng melihat adik perempuannya sebegitu genitnya terhadap seorang pria.
"Baiklah, kalian lanjutkan saja." kata Alex sambil memeluk merry menuju kamarnya.
Ketika mereka menuju keatas tangga tiga orang pelayan membawa nampan berisi dua botol minuman anggur dan beberapa buah-buahan untuk tamu dari keluarga ini, Ruzy membawa buah anggur sepiring penuh, Alex yang memeluk merry dengan mesra berhadapan dengan Ruzy yang membawa anggur di tangannya.
Ruzy tidak memperdulikannya, dia tetap berjalan ke ruang tamu, hanya Alex yang berhenti di tengah jalan sambil memeluk merry di tangannya.
Dia dengan kasar menarik tangan Merry menuju ke atas lalu mereka masuk ke dalam kamarnya. Dasar pria brengsek ****, setelah menciumku dia ternyata memiliki seorang wanita, dia betul-betul mempermainkanku.
Merry kemudian mulai menggerakkan tangannya di tubuh Alex lalu ingin mencium bibirnya. Seketika Alex mendorongnya, setelah bertemu dengan Ruzy, hasratnya pada wanita lain tiba-tiba menghilang, wajah cantik Ruzy yang melihatnya dengan wajah jijik membuatnya marah, dia hanya ingin tubuh Ruzy berada di pelukannya, bukan wanita lain.
"Pergilah Merry."Alex melepas jasnya lalu menatap Merry yang melotot memandangnya tidak percaya.
"Apa?? kau serius Alex? Aku datang kesini sesuai janji kakak terhadapmu." dengan nada Tidak percaya, dia merasa terhina karena tubuh seksinya di tolak oleh pria yang sudah di dambanya selama ini.
"Tapi Alex, aku menginginkanmu." dia tidak menyerah, dia kemudian memeluk Alex dari belakang.
Merry yang tidak menyangka akan diusir seperti itu, tersinggung dan merasa terhina lalu mengambil tasnya dan membuka pintu kamar Alex dan membantingnya keras.
Merry mengomel sambil berjalan di koridor rumah itu dan berpapasan dengan beberapa pelayan yang menunduk padanya, Ruzy mengintip dan melihat wajah wanita yang bersama Alex tadi kelihatan marah dan ngomel sepanjang jalan.
"Dia di tolak oleh tuan Alex." Kata Jessy yang terkikik.
"Wanita genit itu sudah dari dulu mengincarnya, semenjak nona Emely pergi, dia ingin menggantikannya." Kata Joan yang juga berbisik.
"Emely? siapa wanita itu?" kata Ruzy padanya.
"Kau tidak tahu ya, dia itu tunangan tuan Alex tetapi tuan Alex juga menolaknya, tuan Alex berkata Emely bukan tipenya, dan sebaiknya pergi dari hadapannya atau dia akan membuat ayahnya bangkrut. Kata Jessy yang melahap semua gosip di rumah itu.
"Sampai-sampai ada gosip kalau tuan Alex itu menyukai...." seketika pembicaraan terhenti karena nyonya Collagher beserta pelayan yang lainnya berjalan dari arah taman menuju ruang tamu. Mereka semua menunduk.
Ruzy yang penasaran akan kelanjutan cerita Jessy, ia mengejarnya sembari memancing-mancingngya agar dia bercerita kembali.
"Dia menyukai siapa Jessy?" tanyaku.
Jessy dengan wajah prihatin menatap Ruzy, "Rupanya kau juga suka bergosip?"
"Cepatlah Ceritakan," pintaku.
"Ada gosip dia itu mother complex, dia tidak bisa menjauh dari ibunya, dia juga mencari wanita seperti ibunya, kurang lebih seperti itu, dengan kata lain tidak ada satu wanitapun yang membuat tuan Alex serius atau membawa seorang wanita ke tempat tidurnya."
Ruzy melotot mendengar cerita Jessy, 'Jadi bagaimana denganku'? dia tidak henti-hentinya mencumbuiku bahkan mengancamku akan di bawanya ketempat tidurnya.
©
Ruzy membawa keranjang yang sudah kosong sambil memikirkan cerita Jessy, kalau dia selalu menolak wanita-wanita cantik, lalu mengapa dia bersikap begitu padanya, pikiran bahwa tuan Alex menyukainya di depaknya jauh-jauh ide itu gila, dan sebuah khayalan, pria brengsek itu menyukainya? aku pastilah bermimpi sikap arogan pemarah tukang perintah dan sikap pemaksa dan kasarnya membuat siapa saja akan berusaha menjauhi pria tampan itu.
Ruzy mengambil satu persatu kain besar itu di dalam hutan, lalu sepasang tangan yang besar dan panjang memeluknya dari belakang. "Sedang memikirkan apa Hem"? Ruzy berbalik mendengar suara pria serak dan dalam berbisik di telinganya.
"Lepaskan aku!" Ruzy mendorongnya dengan tangannya.
"Kenapa! kau marah? Dia membalik tubuh Ruzy lalu memegang dagunya dan memaksakan untuk memandangnya. "Aku tidak marah, siapa yang marah?"
"Kau cemburu"? Dia setengah tersenyum lalu menatap mata melotot ruzy, "Cemburu? Aku sama sekali tidak cemburu?" ruzy menepisnya.
Lalu dengan cepat Alex mengangkat tubuh Ruzy menjauh dari hutan itu menuju tamannya yang tidak jauh letaknya, dia membaringkannya di atas rerumputan yang di penuhi bunga-bunga.
Ruzy berusaha bangun tetapi kedua tangannya di pegangnya, "Jangan bergerak Ruzy." Dengan cepat bibir Alex menutup bibir Ruzy, menjelajahinya dan mengeksplor bibir kecilnya. Tubuh Ruzy bergerak-gerak di bawah tubuh Alex, "Berhenti bergerak atau aku akan melakukan lebih dari ini."
Suara langkah kaki terdengar di taman itu bibir Alex terlepas dari bibir Ruzy keduanya saling pandang, mereka berdua mengintip dari balik bunga rose yang lebat....