Flower On The River

Flower On The River
Terhipnotis Olehnya



Alex Collagher


Aku tidak mengerti dengan diriku, kenapa setiap aku melihat pelayan itu, diriku seperti terhipnotis? setelah melihatnya di sungai, dia tidak pernah berhenti menyusup kedalam pikiranku, seperti ada sengatan listrik yang menjalar di tubuhku ketika aku mendekat padanya, aku seperti tidak bisa membiarkannya begitu saja, kali ini aku menciumnya di gudang itu begitu lama, dia seperti anggur sangat manis dan memabukkan.


Alex menatap tanaman yang bersulur dari kamarnya yang merambat ke pagar kayu, setelah mandi sambil menyesap anggur di tangannya. ingatan wajah pelayan itu yang marah dan menamparku membuatku semakin ingin mengganggunya.


Dia tersenyum lalu memegang wajahnya yang di tampar oleh ruzy, dia lalu tertawa, sambil menyesap kembali anggurnya, "Kau membuat permainan semakin menarik Ruzy." Seringai jahat terpeta di wajahnya.


Ruzy berlari dan meletakkan begitu saja kentang dan botol anggur di dapur, ia begitu marah. Ruzy masuk di kamarnya, tubuhnya terasa panas dingin, ciuman yang dirasakannya tadi masih terasa di bibirnya. dia memegang bibirnya yang membengkak.


"Aku membencinya, pria brengsek." bisiknya


°°°


Malam telah tiba, para pelayan di kediaman keluarga Collagher begitu sibuk mempersiapkan makan malam.


"Ruzy apa kau sedang tidak enak badan?" tanya bibi Emy padaku.


"Aku baik-baik saja koq bibi." Sambil tersenyum untuk menyakinkan bibinya. Tapi bibi Emy tidak mempercayainya, dia mendorong Ruzy keluar dari dapur dan menyuruhnya beristirahat di kamarnya.


Aku menatap koridor menuju ke luar ruangan, berjalan melewatinya dan menatap air mancur dari tengah taman dihiasi dengan lampu, aku memandanginya tak berapa lama aku berjalan sedikit, lalu tanpa sengaja menatap gudang itu, lalu mengingat kembali ciumannya.


Aku berjalan cepat, kamarku berada di belakang dari kediaman keluarga Collagher.


"Kenapa di jalan ini begitu gelap? mengapa tidak ada lampu di sekitar sini?" gumamku, sambil menengok kanan dan kiri, aku berjalan tergesa-gesa, aku takut dengan kegelapan malam, lalu tanpa sengaja menabrak seseorang. Aku jatuh terduduk di tanah yang kering.


"Kau tidak apa-apa?" Suara seseorang yang kukenali menarik lenganku.


Aku berdiri sempoyongan, lalu menatap orang yang menabrakku.


"Kenapa kau berjalan dengan terburu-buru?" suara serak dan berat itu seperti mengkhawatirkanku, aku dengan cepat menghempaskan tangannya di lenganku.


Aku mundur beberapa langkah dan tanpa memperdulikannya aku tetap berjalan menuju kamarku. Dia kemudian menarikku keras menuju taman.


"Apa yang kau lakukan? lepaskan tanganku!" dia menarikku menuju taman, aku berusaha melepas tangannya, tapi dia terlalu kuat. Di taman itu penuh dengan bunga-bunga yang indah, suara air sungai terdengar dari taman itu, dia berhenti dan menatapku, dia menarikku di tubuhnya, aku berusaha melepaskan tangannya, "Apa yang kau lakukan?" bentakku kepadanya.


"Kau ingin tahu?" bisiknya.


Dia mengangkat tubuhku, aku berusaha memberontak, tapi tidak ada gunanya, dia tidak melepasku. Wangi napasnya menerpa wajahku, dia kembali mencium bibirku tetapi dengan lembut, dengan beberapa kali kecupan, kemudian ciumannya begitu mendesak. Aku kewalahan menerima semua itu, dia melepas ciumannya, lalu menatapku dan tersenyum. "Mengapa aku begitu menginginkanmu?"


Seringainya membuatku begitu marah, pria ini mempermainkanku, apa karena aku hanya seorang pelayan jadi dia begitu seenaknya padaku.


Matanya menyipit, aku membuang wajahku ke samping tanpa mau melihat wajahnya. Gerakannya di tubuhku membuatku merasa tidak nyaman, wangi dari tubuhnya yang sehabis mandi sangat menggangguku, aku tidak ingin menjadi terpesona pada ketampanannya.


Dengan tiba-tiba dia kembali menciumku dengan kasar, pria ini begitu memaksa, aku sampai tidak bisa merasakan tubuhku sendiri. Dia menggeram di bibirku, mata hitam gelapnya mengeksplor bibirku, aku memukul-mukul dan mendorongnya, kemudian dia mengangkat tubuhku ke pelukannya, lalu membawaku ketempat lebih dalam dari taman yang jarang di datangi orang-orang.


Napasnya yang tidak beraturan begitu keras dan Pancaran matanya yang kelaparan membuatku takut padanya, tangannya mulai bergerak di tubuhku, aku mencoba menepisnya, tetapi lengannya yang kuat menahanku dibalik pepohonan dan di antara bunga-bunga yang ada di situ, handphonenya berdering dengan beberapa kali deringan, sehingga dengan menggeram dia melepaskan bibirnya dariku dengan kasar.


Ketika dia mengangkat ponselnya, aku mengambil kesempatan ini untuk lari darinya, aku menendang kakinya, lalu secepatnya berlari menjauh, aku mendengar makian darinya dari kejauhan.


"Rasakan itu, pria brengsek". Aku terus berlari menuju kamarku dan dengan cepat menguncinya.


°°°


"Apa kau sedang bersenang-senang Alex"? tanya seseorang dari seberang telepon. "Ada apa Nick"? Suaraku lebih tinggi dari biasanya, dia betul-betul menggangguku, ingin sekali kuhajar bocah ini, pikir Alex yang masih merasakan sakit di bagian kakinya yang di tendang oleh ruzy.


"Jangan meneleponku kalau tidak penting Nick". kataku kasar.


"Baiklah aku akan segera ke sana". Aku berjalan terseok-seok, denyutan di kakiku masih terasa, gadis itu kuat juga. Aku menggelengkan kepalaku, ada apa dengan diriku, aku tidak pernah seperti ini sebelumnya.