Flower On The River

Flower On The River
Suara Misterius 2



Pagi itu sinar matahari begitu terang, dedaunan masih basah bekas hujan semalaman. Ruzy sedang mengangkat kain-kain besar yang kebasahan kemarin. Kain-kain itu begitu berat, dia membasuh peluhnya yang menetes di wajahnya, tubuhnya begitu berat dan rasa mengantuk masih menyergapnya, suara aneh semalam membuatnya susah untuk memejamkan matanya.


Suara langkah kaki membuat ruzy sembunyi di balik kain-kain panjang sehingga orang yang lewat tidak akan dapat melihatnya.


"Kemungkinan itu mungkin ada kan? bukannya aku menakutimu ellena, tapi sebaiknya kita mencarinya di dalam hutan", Suara pria yang ringan dengan aksen Inggris berbicara kepada ellena.


"Aku takut memikirkannya ricky, semoga saja tidak, Cendy..menjadi korban??aku bahkan tidak mau membayangkannya, aku seperti bersalah seharusnya aku membatalkan pertemuan kami saat hujan deras waktu itu." Langkah dari beberapa orang yang masuk ke dalam hutan, mereka tengah berbincang mengenai Cendy yang menghilang entah kemana.


"Jangan menakutinya ricky, sikap horormu itu


tidak lepas dari kepalamu, itulah mengapa aku benci menonton film horor, seakan-akan tiap gerak gerik kita di intai". Nick membalas sambil memetik beberapa tanaman berry yang sudah matang di dekat hutan.


"Entahlah, tapi sebaiknya kita memeriksanya kan?" kata ricky antusias. Mereka bertiga memasuki hutan setelah puas berkuda, rencana ini begitu saja hinggap di pikiran Ricky.


'Klak...' ruzy berbalik cepat, samar terdengar suara itu lagi, jantungnya berdegup, ruzy berlari kecil melihat mereka bertiga sudah menghilang di kedalaman hutan. "Mengapa suara itu terdengar? suara aneh itu akhir-akhir ini sering kudengar." ruzy masih berdiri menghadap ke hutan dan bergumam sendiri.


"Apakah bergumam menjadi hobi barumu Ruzy!"


Ruzy berbalik dan memandang alex yang tengah menatapnya sambil melirik kain-kain besar dihadapannya.


"Mana yang lainnya? mengapa cuma kau sendiri yang mengerjakannya?" tanyanya dengan nada marah. Ruzy berjalan tidak mengindahkan ucapan alex, menganggap tidak ada seorangpun ada di sana, dia tetap menjemur tanpa melihatnya. alex berdecak menatapnya, berjalan beberapa langkah sambil meraih tangan Ruzy.


"Kau marah padaku?" tanyanya.


Ruzy menatapnya, lalu menghempaskan tangan Alex yang memegangnya. "Mengapa aku harus marah? apa yang kau lakukan bukan urusanku." Jawab Ruzy dengan ketus.


"Oh ya? ucapanmu tidak sesuai dengan perilaku manismu ruzy." Mata alex berkilat memandangnya. "Kau cemburu karena wanita itu menciumku?" Alex menyunggingkan senyum miringnya.


Wajah Ruzy menatap tidak percaya kepada Alex, seperti ada yang melemparkan cucian kotor di wajahnya.


"Cemburu? aku? harusnya kau periksakan kepalamu itu tuan Alex, kau terlalu narsis."


jawab Ruzy dengan ketus. Wajahnya memerah karena yang dikatakan alex membuatnya sedikit ragu akan dirinya, apakah dia memang cemburu? sejak tadi malam wajah alex selalu memenuhi pikirannya.


Alex melengkungkan bibirnya, "Aku suka jika kau berbicara ketus kepadaku ruzy, membuatku ingin segera membungkam bibir cantikmu." Dia berjalan lalu menghentikan tangan Ruzy yang ingin berjemur.


'Klak.....


Ruzy dengan cepat berbalik mencari sumber suara, "Ada apa? kau mendengar sesuatu?" tanya alex kepadanya.


"Apa yang kau lakukan di sana alex? mencari mangsa yang baru?" Suara itu terdengar dari arah belakangnya, mereka bertiga baru saja keluar dari hutan.


"Ini ide ricky, katanya kita harus mencari cendy di dalam hutan bisa saja dia ada di sana!" kata Nick.


"Apa yang kau bicarakan rick? kau ingin mengatakan cendy menjadi korban seperti mereka yang di temukan di dalam hutan? kalian berbicara omong kosong." Kata Alex memandang tidak percaya kepada mereka.


"Kakak, mengapa kau ada di sini?" tanya ellena dengan curiga menatap Alex lalu menatap ruzy.


"Aku berbicara dengan ruzy." Jawab Alex tenang.


"Ruzy? yang kakak maksudkan dia"? sambil menunjuk ruzy yang salah tingkah sambil masih memegang kain-kain di tangannya.


"Kenapa kakak berbicara dengannya?" tanya ellena penuh selidik.


Alex menyunggingkan senyumnya. "Kenapa ellena, apa yang ingin kau ketahui? Aku tertarik pada ruzy, apa sudah cukup pertanyaanya?" Mata tajamnya menatap mereka bertiga menantang siapa saja yang ingin berkata sesuatu padanya.


Mata ellena membulat, lalu matanya yang coklat menatap penuh perhatian pada ruzy yang berdiri dengan kikuk. "Namamu ruzy?" tanya ellena padanya. ruzy menatap ellena dan sedikit tersenyum padanya.


"Iya, nama saya Ruzy, nona." Wajah ruzy lalu tertunduk.


"Kau sangat cantik ruzy, pantas saja kakak tertarik padamu." Alex mendesis menatap ellena. Nick memiringkan wajahnya menatap Alex lalu menatap ruzy, dia lalu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dia lalu mengingat dokter max yang juga tertarik pada ruzy.


"Baiklah berhenti bertanya padanya dan kembalilah ke rumah, ellena." Dia setengah mendorong ellena menjauh dari ruzy.


"Lain kali kita akan berbincang ruzy", memberi Senyum hangat pada Ruzy, dan melambai padanya. ruzy hanya tersenyum kecil menatap kepergiannya.


"Tidak bisakah kau tersenyum seperti itu padaku?" kata alex yang sedari tadi memperhatikan ruzy. Mata ruzy berkilat tajam pada Alex, Lalu kembali menjemur kain-kain yang tinggal sedikit itu.


"Wanita itu menciumku begitu saja, aku tertidur dan dia...kau tahu selanjutnya." Alex seperti perlu menjelaskan semua itu kepada Ruzy.


"Apa yang wanita itu lakukan padamu bukan urusanku tuan Alex." Katanya tajam, Dia lalu mengambil keranjang yang sudah kosong dan hendak pergi meninggalkannya.


Alex mencegatnya, lalu berdiri menjulang dihadapannya, "Berhenti mengacuhkanku Ruzy." Ditatapnya ruzy dengan tajam, tangan Alex dengan kasar memegang dagu ruzy dan mengangkatnya agar dia menatap Alex. "Apa yang kau inginkan tuan Alex? aku seorang pelayan, dan kau pasti tidak lupa siapa dirimu!"


Rahang Alex mengeras lalu cengkramannya di dagu ruzy semakin erat, dia menariknya ke wajahnya agar lebih dekat.


"Terima kasih telah mengingatkanku kalau kau seorang pelayan ruzy ! jadi aku bisa memperlakukanmu dengan semauku saja bukan!?" bentaknya.


Dia melepas dagu Ruzy lalu pergi dengan marah meninggalkan ruzy yang diam membeku, ruzy duduk di depan sungai memijat kepalanya, apa yang sebenarnya yang diinginkan Alex, tertarik padaku bukan berarti aku harus menerima semua perlakuanmu yang seenaknya padaku Alex.