
Jafier masuk, dan dia betul-betul datang tepat ketika pembicaraan mereka selesai 10 menit. "Bagaimana, sudah selesai?" Ucapnya.
"Tidak juga. Masih banyak yang ingin kami bicarakan, tetapi mungkin lain kali, jika Alyena telah sembuh total." Ucapnya. Matanya tetap tenang menatap Jafier. Sementara Jafier menatapnya sambil tersenyum tipis.
"Semoga lekas sembuh, Alyena. Aku akan datang menjenguk lagi." Setelah pria itu pamit, dia pun pergi, sementara Jafier masih memandang punggung Kilian Regan dari belakang.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu ketika bersamanya, Alyena. Apa kau sekarang main mata dengan pria lain?" Ucap Jafier sambil mengangkat satu alisnya.
Alyena tertawa sambil mengangguk. "Apa maksudmu main mata seperti ini? Aku bahkan kesusahan memainkan mataku karena lebam jelek di pipiku yang belum menghilang." Ucap Alyena manja. Jafier duduk di tepi tempat tidur dan mengusap wajahnya. Dia memberikan kecupan kecil di pipinya.
"Lebam itu akan menghilang dengan cepat, kau akan menjadi cantik seperti biasanya." Ucap Jafier. Dia ingin berbaring bersama Alyena dan saling bercerita di atas tempat tidur. Tetapi tentu saja Willy tidak akan mengizinkan.
***
Alyena sudah boleh pulang dari rumah sakit. Sudah seminggu Alyena berada di rumah sakit dan itu membuatnya bosan setengah mati. Selain Nick dan Clara, tidak ada orang lain dari teman kampus Alyena yang menjenguknya, hal itu sengaja Willy lakukan, dia tidak mau Alyena jadi bahan pembicaraan teman-temannya ketika dia mulai berkuliah kembali.
"Aku senang sekali akhirnya aku bisa kembali ke rumah." Ucap Alyena sambil masuk ke ruang utama. Willy membawa Alyena ke kamarnya agar dia bisa beristirahat. Alyena berbalik kepada kakaknya.
"Kak Willy, aku ingin menelepon Jafier, bolehkan?" Ucapnya sambil mengharap. Matanya menatap Willy dengan penuh permohonan.
"Tsk, 10 menit, setelah itu kau harus beristirahat, dan memulihkan tubuhmu, agar kau cepat sembuh."
"Ok, aku hanya sebentar."
"Alyena meneleponnya. Deringan ketiga terdengar suara Jafier yang berat.
"Kau sudah kembali ke penthouse?"
"Ya, pagi ini kak willy mengeluarkan aku dari rumaj sakit, harusnya sore baru aku keluar tetapi, aku tidak bisa bertahan lagi. Aku ingin segera pulang."
"Aku berencana menjemputmu sepulang kerja, tetapi itu lebih baik, aku bisa langsung ke penthouse. Ada yang kau inginkan sebelum aku berangkat?"
"Mm, bagaimana kalau street Food? Aku sangat merindukannya, setiap hari kak Willy memberikanku sayuran. Aku ingin sekali makan burger atau Pizza. Aku akan sembunyi-sembunyi, kak Willy tidak akan tahu." Ucap Alyena senang.
"Oke, kita makan bersama."
Tiba-tiba ponsel di genggaman Alyena terlepas dan di ambil oleh Willy.
"Kalau kau membawa makanan itu, jangan datang. Aku akan membuatkan sendiri untuk Alyena, buatan rumah lebih sehat." Ucapnya.
"Tsk, oke baiklah, aku tidak akan membeli, yang penting aku di bolehkan datang. Aku juga mau mencoba home made buatanmu."
"Aku tutup."
Willy menutup ponselnya. dan memberikannya kepada Alyena. "Aku kan belum ngobrol sampai 10 menit, kak Willy, kenapa kau menutupnya?" Ucapnya jengkel.
"Sekarang ini, bocah itu sedang rapat penting, tapi dia masih bisa mengangkat teleponmu, dia betul-betul memanjakanmu. Dia harusnya tidak boleh melakukan itu."
"Aku tidak tahu kalau dia sedang rapat, harusnya Jafier tidak usah mengangkat teleponku jika dia sedang sibuk." Alyena merasa bersalah.
Jafier menutup ponselnya, dia kemudian melanjutkan kembali rapatnya yang sempat tertunda karena menerima panggilan telepon. Tidak lama setelah rapat selesai. Dia lalu beranjak pergi dengan terburu-buru.
"Ck, siapa wanita yang bahkan membuat tuan Alvaro menjawab teleponnya saat kita sedang rapat?" Ucap seorang wanita.
"Aku pikir tuan Alvaro memiliki seorang kekasih, beruntung sekali wanita itu, aku ingin melihat bagaimana wajahnya, sampai tuan Alvaro tergila-gila padanya."
Wanita berambut merah yang merupakan rekan bisnis dari perusahaan di HB. Collagher tidak sengaja mendengarkan perbincangan mereka. Sejak tadi, dia memang mengawasi Jafier Alvaro, setidaknya sebagai rekan bisnis di perusahaan yang berbeda, sewajarnya jika dia mengajaknya minum bersama, tetapi sepertinya tidak ada waktu, bahkan untuk menyapanya.
"Siapa wanita itu? Aku sungguh penasaran."
***
Pukul 08.17 Perusahaan HB.Collagher
Willy baru saja masuk ke gedung perusahaannya, setiap orang menyapanya dan tentu saja semua wanita juga menatap dan berusaha menyapanya mencari perhatian kepada pria lajang tampan itu.
Tiga orang wanita berkumpul di lobi ketika Willy baru saja masuk ke dalam Lift, mereka dengan cepat mencari tempat agar bisa berada dalam satu lift yang sama.
Wanita berambut coklat tersenyum kepada Willy semanis mungkin, Willy hanya memberikan anggukan seadanya. Dia bukan pria dingin atau mengabaikan para karyawannya, dia pria sibuk tidak punya waktu untuk mengobrol atau sekedar menyapa dan membicarakan hal yang tidak berguna. Setelah mencapai lantai ke 24, ketiga wanita itu keluar dari Lift dan memberikan salam kepada Willy. Pintu lift akhirnya menutup.
"Menurut temanku, dia sangat dekat dengan adiknya bahkan dia bisa mengacuhkan seluruh wanita hanya untuk adik tersayangnya. Bukankah itu lucu sekali, dia bahkan mengangkat telepon adiknya saat sedang rapat penting."
"Benarkah?" Ucap salah satu wanita dengan membulatkan matanya. "Tapi, itu kan berlebihan, iya kan?"
Seorang wanita berambut merah dengan postur tubuh indah, tengah berpikir. "Jika kau berkata seperti itu. Aku penasaran ingin melihat wajahnya, dia pasti gadis manja yang hanya menempel pada kakaknya, bukan hanya itu saja, sepertinya tuan Alvaro memiliki hubungan special dengan adik tuan William, dia persis melakukan apa yang dilakukan tuan William." ucap wanita itu.
"Mengabaikan rapat dan mengangkat teleponnya ketika wanita itu menelepon, meskipun dia adiknya, aku ingin sekali mengajarnya menjadi wanita tidak manja dan melepaskan kakaknya." Gerutu wanita itu.
***
Wajah tidak sabar terlihat pada Alyena ketika Willy menahan Jafier di luar restaurant. Sejak tadi dia menunggu Jafier, tetapi Willy masih mengajaknya ngobrol, entah apa yang mereka obrolkan.
"Huuff. Apa yang mereka bicarakan ya, kenapa lama sekali?" Alyena menatap jam di pergelangan tangannya dan meminum sedikit jusnya. Dia masih melihat kakaknya berbicara serius dengan Jafier dan membuat Alyena menunggu.
"Permisi?"
Suara itu membuat Alyena mengangkat kepalanya, lalu menatap seorang wanita sedang menyapanya.
"Mm, apa kau adik tuan William Collagher?" Tanya wanita itu.
"Ya, aku adiknya." Jawab Alyena.
Wanita itu berbalik lalu menatap ke meja seberang dan menganggukkan kepalanya. Seperti memberikan isyarat kepada wanita lainnya yang duduk tidak jauh darinya.
"Bagaimana kalau bergabung bersama kami sambil menunggu tuan William dan tuan Jafier mengobrol? Kau pasti bosan menunggu sendirian, mereka mungkin akan mengobrol cukup lama."
Alyena mengerutkan alisnya, dia tidak suka bergabung dengan orang yang baru saja di temui. "Tidak apa-apa, saya bisa menunggu mereka sebentar lagi." Ucap Alyena sesopan mungkin.
"Ah benarkah? Kau pasti tidak tahu. Kami ini karyawan yang bekerja dengan tuan William, bagaimana jika kau ikut dengan kami, kau tidak bosan duduk sendirian di sini?" Dia tidak menyerah, dia masih berusaha membujuk Alyena.
"Tidak, aku akan menunggu di sini saja." Ucap Alyena lalu mengetik pesan di ponselnya.
"Ah, oke kalau begitu. Tapi bolehkah aku memberitahumu kalau tuan William itu orang sibuk, dia selalu mengadakan pertemuan penting setiap saat, jadi, sebaiknya jangan meneleponnya di waktu-waktu jam kantornya itu akan mengganggunya."
Alyena tersenyum tidak percaya. "Aku akan meneleponnya kapanpun aku mau, dan jika kau tidak menyukainya, kenapa tidak kau sendiri yang menegurnya jika itu mengganggu anda." Ucap Alyena jengkel. Dia mengabaikan wanita itu dan membuka-buka ponselnya.
Wanita itu pergi dengan wajah kesal, dia kembali ke tempat duduknya.
"Bagaimana? Apa yang gadis itu katakan?" Tanya dua wanita lain yang duduk semeja dengannya.
"Seperti katamu, dia adik yang menjengkelkan dan angkuh, dia mengatakan akan menelepon kakaknya kapanpun dia mau." Wanita itu memukul-mukul bahunya karena merasa jengkel.
"Untuk saat ini biarkan saja dulu, jika ada kesempatan yang lain, aku akan mengajar gadis itu agar tidak menjadi gangguan bagi kakaknya. Sangat sulit mendekati tuan William jika mempunyai adik menjengkelkan sepertinya."
Wanita berambut merah itu sekali lagi menengok ke tempat gadis itu. Dia tersenyum lalu menatapnya dari kejauhan.
"Sepertinya aku juga akan bergerak jika kesempatan datang padaku." Matanya terpaku pada dua sosok tampan yang masuk ke dalam restaurant. Mereka terlihat memanjakan gadis itu.
Mereka sedang makan sambil berbincang, ketika tiga orang wanita menyapa Willy dan Jafier. Mereka tersenyum dan berbicara formal kepada mereka.
"Selamat malam tuan Collagher dan tuan Alvaro. Kebetulan sekali, kami juga sedang makan malam di sini, dan kebetulan melihat anda."
William menatap ketiga wanita itu dan berbicara seperlunya saja. "Oh ya, selamat malam." Alyena menatap ketiga wanita itu. Wanita yang memperingatinya tentang menelepon ketika mereka sedang rapat. "Kami baru saja memesan makanan, sir. Apa boleh kami ikut bergabung, kalau anda tidak keberatan." Ucap salah satu wanita itu dengan berani.
"Ah, kakak. Bukankah tadi anda yang memperingatiku, untuk tidak menelepon kak Willy kapanpun aku mau. Karena dia sangat sibuk dan aku akan mengganggunya? Aku tidak tahu kalau wanita di tempatmu bekerja suka ikut campur dengan masalah keluarga orang lain, perhatian sekali." Ucap Alyena sambil tersenyum. Jafier menatap tajam kepada mereka semua.
"Haha, itu hanya bercanda saja Nona, kami hanya ingin ...."
"Pergi."
Mereka semua memandang ke arah Jafier. "M-maaf tuan, sepertinya ini salah paham."
"Pergi. Sebelum saya memanggil keamanan."
Tanpa mengucapkan apa-apa lagi mereka kembali ke tempat duduk mereka dengan menahan rasa malu.