
Dokter max baru saja selesai dari memeriksa nyonya Collagher, beberapa hari ini dia terkena demam karena kejadian yang terjadi dirumahnya.
"Bagaimana keadaan ibuku dokter max?"
Ellena menunggu di luar kamar selagi dokter max memeriksa nyonya Collagher.
"Dia terkena demam, dan shock berat, berikan kepada nyonya Collagher obat ini jika demamnya kembali kambuh."
Ellena mengantar dokter max menuju ruang tamu, mereka berbincang selagi Ruzy melewati mereka dengan membawa vas bunga dan di taruhnya ke ruang tengah keluarga. Mata dokter max tentu saja tidak lepas dari ruzy sehingga dia tidak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Ellena padanya.
"Dokter max kau mendengarku?" dia menatap heran kepadanya.
"Eh..ya tentu aku mendengarmu, aku kira sebaiknya kita berhati-hati karena pelakunya belum di temukan, sejauh ini sudah tiga yang menjadi korbannya, apa kau merasakan atau melihat sesuatu yang aneh nona ellena?"
Ellena menggeleng, "tidak ada sama sekali, semua nampak normal." Mata ellena menatap Ruzy dari kejauhan.
"Terima kasih sudah datang dokter max", Dia menyalaminya lalu pergi menuju Ruzy.
Wajah dokter max terus memandangi ruzy dan melihat kalau Ellena menghampirinya. "Menatap sesuatu?" Suara itu berasal dari belakang dokter max, dia melihat Nick yang bersedekap sambil menatapnya.
"Halo tuan Nick, tidak....aku tidak menatap sesuatu, mereka saling menatap, tinggi mereka tidak jauh berbeda, nick melengkung kan bibirnya wajah tidak sukanya memandang dokter max seperti mendengus, lalu menatap kedua wanita itu yang sedang berbincang. "Sebaiknya aku pergi tuan Nick, selamat siang." Nick hanya menatapnya tanpa mengucapkan sesuatu.
Dokter max berbalik memandang curiga pria dengan aksen Eropa itu, rambut pirang dengan mata coklat, ada yang tidak biasa dari pria itu, pikir dokter max sambil melaju membawa mobilnya meninggalkan kediaman Collagher.
~
"Kau Ruzy bukan?" Ellena menghampiri Ruzy yang mengatur bunga di ruang tengah seorang diri. Wajah Ruzy nampak terkejut ketika dipanggil namanya. "Eh, iya nona". Ellena memandangnya begitu lama, "Sepertinya usia kita tidak jauh berbeda." tanyanya.
Dengan ragu ruzy menjawab pertanyaannya. "Sepertinya begitu nona ellena."
Dia tersenyum kepadanya.
"Kemarilah aku ingin berbincang denganmu."
"Baik nona."
Ruzy mengikuti ellena sampai ke kamarnya. Sementara dua orang pelayan yang sedang membereskan kamar nyonya Collagher menatap ruzy dengan pandangan tidak suka.
Mereka saling menatap pancaran kebencian dari wajah keduanya membuat ruzy mengalihkan pandangannya.
"Wanita itu betul-betul hebat ya kalau sedang mencari perhatian, aku ingin tahu bagaimana caranya?" mereka berbisik dan terkikik mengejek dengan sengaja mengeraskan suaranya agar ruzy mendengarnya.
Dengan sedikit ragu Ruzy duduk diteras depan di kamar nona ellena. Dia menuangkan secangkir teh untuknya, "Sudah berapa lama kau bekerja di sini ruzy?" tanyanya.
"Baru beberapa bulan ini nona." jawab Ruzy sedikit kikuk. Ellena tersenyum padanya.
"Sepertinya kakak betul-betul tertarik padamu ruzy, aku tidak pernah melihatnya seperti itu." Kata-katanya membuat Ruzy duduk tidak nyaman.
"Bagaimana denganmu? kau menyukai kakakku?" Ruzy terkejut dengan pertanyaannya, "Eh..aku..aku..," Ellena menggeleng lalu tersenyum, "Kau tidak perlu menjawabnya Ruzy, aku tahu kakak pasti selalu memaksamu, tanpa memperdulikan perasaanmu, dia tipe pria yang tidak suka di tolak, dan dia tukang paksa bukan?!" Matanya membulat menceritakan Alex pada Ruzy, seketika Ruzy tersenyum mendengarnya.
"Apa yang kau ceritakan pada Ruzy, ellena? kau tidak menjelek-jelekkanku bukan?" Alex menatap kedua wanita itu yang sedang tertawa, ellena tidak mendengar Alex masuk ke kamarnya.
"Kakak? Aku tidak mendengarmu masuk, tenang saja aku hanya menceritakan kenyataan yang sebenarnya, kau tidak perlu khawatir." Alex berdecak mengambil kursi dan ikut bergabung bersama mereka, "Jangan mendengarnya ruzy, itu semuanya tidak benar." Katanya sambil menuang teh di cangkir Ruzy lalu mulai meminumnya. "Kakak, teh ini milik ruzy, kau sungguh tidak sopan." Tegur ellena pada kakaknya.
Ruzy hanya tersenyum menatap mereka, ponsel ellena berdering, "Ugh mengapa Jhon selalu meneleponku? dan dia tidak akan berhenti sampai aku mengangkatnya." Dia meninggalkan kamar lalu mengangkat telepon meninggalkan ruzy dan alex berdua.
"Minumlah Ruzy", dia memberikan bekas cangkirnya kepada Ruzy. Dia menuangkan teh lalu menatapnya.
"Kau tidak mau karena ini bekas cangkirku?" dia lalu melengkungkan bibirnya, "Padahal selama ini kita sering kali berciuman, bekas cangkir ini bukanlah masalah Ruzy." Wajah Ruzy memerah, dia tidak suka mengingat kejadian-kejadian itu.
"Em.... sebaiknya aku pergi, masih banyak yang harus aku kerjakan tuan Alex." Dia berdiri dari tempat duduknya, tapi Alex tentu saja tidak akan membiarkan Ruzy pergi begitu saja.
Dia menarik tangannya lalu membuatnya duduk di atas pangkuannya. "Lepaskan aku tuan Alex". Ruzy memberontak di tubuh Alex, "Jangan bergerak-gerak Ruzy atau aku akan melemparmu ke tempat tidur." Desisnya.
Dengan cepat Alex mencium bibir ruzy di pelukannya, memaksanya membuka bibirnya, ruzy tidak bisa bernapas, cengkramannya sangat kuat di tubuhnya, Alex mengerang tanpa disadarinya dia mengangkat tubuh Ruzy lalu menempatkannya di tempat tidur ellena, ruzy memeluk leher alex, ciuman alex begitu panas di bibir ruzy, ciuman-ciumannya kini berpindah-pindah di tubuh ruzy, membuatnya hanyut dalam dekapan alex, desahan ruzy membuat alex menggeram di tubuh ruzy, siang itu begitu panas bagi mereka. Bagian atasan baju yang dikenakan ruzy sudah tidak karuan lagi, sehingga menampakkan lekuk tubuhnya, tubuh Ruzy melengkung karena ciuman alex tepat di dadanya, beberapa tanda merah telah alex sematkan ke tubuh ruzy, suara desahan dari keduanya membuat mereka hanyut tanpa memperdulikan di kamar siapa mereka sedang bermesraan.
"Well, sebenarnya aku lebih suka punya ponakan lebih cepat, tapi tidak disini di kamarku."
Dia menyilangkan kedua tangannya menatap mereka bergumul saling memeluk satu sama lain begitu erat diatas tempat tidurnya. ruzy begitu terkejut dengan cepat dia mendorong Alex dari atas tubuhnya yang mulus dan tanpa pakaian yang menutupinya.
"Sial ! ellena, kenapa kau begitu mengganggu?" kata alex menatap tajam ellena dan memperhatikan ruzy yang sempoyongan dan memperbaiki bajunya yang sudah terjatuh sampai kepinggangnya.
"Jangan begitu mudah memberikan dirimu padanya ruzy, sampai brengsek ini menyematkan cincin di jarimu." Ellena membantu ruzy memperbaiki bajunya yang sudah tidak karuan dan hampir robek.
"Ma..maafkan aku nona ellena." Kata ruzy malu sambil menutup matanya.
"Untuk apa kau meminta maaf padanya? kata Alex kesal, aku melakukannya karena aku betul-betul menyukaimu rumah." Alex memakai bajunya lalu dengan cepat memegang tangannya dan menariknya. Wajah ruzy memucat, apa yang dia lakukan? bagaimana jika seseorang melihat mereka?
"Lepaskan aku...alex, lepaskan aku." Ruzy menarik lengannya keras sehingga dia terhempas dan terjatuh di lantai.
Alex memegang rambutnya yang berantakan lalu menunduk ingin kembali menarik tangan ruzy. Air mata membasahi pipinya, dia mendorong Alex dan berlari keluar dari kamar ellena.