
Hari itu telah tiba, Alyena akan berangkat ke sekolah, meskipun sebentar lagi dia menyelesaikan studynya tetapi merasakan masa-masa sekolah pun ingin di rasakan oleh Alyena di kota besar ini, pagi itu Willy mengantar langsung Alyena ke sekolah barunya, dia akan berada di sekolah itu hanya sebentar saja.
"Apa kau gugup?" Willy menoleh melihat Alyena yang duduk di sampingnya.
"Hem? sedikit, mungkin karena sebentar lagi aku akan menemui orang-orang yang seusiaku." Ucap Alyena.
"Segera hubungi aku jika sesuatu terjadi di sekolah, jangan pernah menyembunyikan apapun dari kakak, hem?"
"Baik, kak Willy."
Mobil mereka akhirnya berhenti di salah satu sekolah favorit di Seattle, sekolah itu merupakan sekolah yang banyak menerima sumbangan terbesar dari berbagai keluarga besar di Seattle, salah satunya sumbangan dari keluarga Collagher, dengan koneksi yang dimiliki oleh Willy, Alyena akan sekolah di sana, dan itu merupakan kebanggaan bagi sekolah itu.
Jam pelajaran sebentar lagi dimulai, seorang wanita tua berdiri di sana menyambut kedatangan Willy dan Alyena, dia menyapanya dan memberikan sambutan hormat, Alyena masuk dan sebentar berbalik dan melambai kepada Willy. Dia menatap bangunan tinggi itu, meskipun gugup dia mencoba berjalan dan menghadapinya senormal mungkin. Alyena di bawa oleh seorang wanita yang di yakini Alyena adalah kepala sekolah, dia membawa Alyena di salah satu kelas.
"Masuklah pelajaran sebentar lagi akan di mulai, setelah selesai berikan kertas ini kepada Sir Lean."
"Baik."
Alyena akhirnya masuk ke dalam kelas yang berisikan 25 murid laki-laki dan perempuan, untungnya saja mereka memiliki seragam sekolah, sehingga Alyena tampak sama seperti mereka, tidak sama di sekolah-sekolah lain, kadang ada sekolah yang membebaskan pakaian yang akan digunakan siswanya, tetapi ada juga yang mengharuskan mengenakan seragam, termasuk sekolah ini.
Beberapa murid menatapnya, wajah baru yang pertama kali muncul menjadi perhatian mereka, untung saja salah satu pengajar masuk, jadi tidak perlu ada perkenalan.
Alyena memperhatikan dengan serius, dia membuka buku-bukunya dan dia sangat tertarik dengan pelajarannya, setelah setengah jam pelajaran berlangsung, mereka di wajibkan untuk membaca pada halaman tertentu dan guru itu keluar sebentar selama muridnya membaca.
Tiba-tiba saja tiga orang wanita telah berdiri di depan meja Alyena, mereka mengenakan seragam ketat dan minim, sepertinya seragam mereka lebih di perkecil lagi. "Kau anak baru? kenapa kau masuk sekolah di saat semester akhir seperti ini, apa kau pembuat masalah?"
Alyena menggelengkan kepalanya, tidak menyangka di hari pertamanya dia menghadapi gadis-gadis pembully. Mereka memperhatikan wajah Alyena, lalu memegang rambut coklatnya. "Terawat dengan baik, dan begitu wangi, kau berasal dari keluarga mana?" tanyanya.
Alyena menatap mereka, "Aku Alyena Collagher." Jawabnya. Sontak mereka melepaskan tangan yang memegang rambut Alyena, mereka mundur dengan rapi, tatapannya heran dan terlihat takut.
"Kau berasal dari Collagher? jadi apa kau mengenal William Collagher?" Tanya mereka takut-takut.
"Kalian mengenal kakakku?" Ucap Alyena. Mereka kemudian tidak berbicara apa-apa lagi, mereka duduk tanpa berkomentar, dan membaca bukunya seperti yang di suruhkan oleh guru mereka.
"Ada apa dengan mereka? kenapa mereka takut mendengar nama kakak?" Gumam Alyena.
Alyena memperhatikan, mereka menatap Alyena sembunyi-sembunyi, setelah itu mereka lalu menghadap kedepan dan tidak berbalik lagi.
Hari telah menjelang siang, bell berbunyi dan semua siswa keluar dari ruangan, mereka sama sekali tidak mencoba berbicara dengan Alyena, hingga Alyena terlihat bingung. Sebelum Alyena pulang, dia ingin mampir ka kantin sekolah, tempat itu sangat luas di peruntukkan untuk semua kelas, dia berjalan dan membeli burger dan Cola dia ingin makan semua itu di dalam mobil.
"Hai, kau baru di sini ya? Apa kau terkejut dengan mereka yang menghindarimu? kau tahu? aku ingin tertawa ketika ketiga B1tch itu ketakutan ketika mendengar nama Collagher, umurku terasa panjang ketika gadis-gadis sok kaya itu mundur seperti kelinci yang ketakutan."
Alyena hanya menatapnya heran, seorang anak laki-laki berkacamata menghampirinya dan terus berbicara kepadanya tanpa berhenti.
"Aku belum memperkenalkan si jenius ini, Hai namaku Nick Wedny, aku sekelas denganmu, kalau kau mau, kita bisa makan di sana, kau ingin makan itu bukan?" Sambil menunjuk makanan yang di pegang Alyena.
"Ya, aku ingin makan."
Mereka mengambil salah satu meja dan duduk di sana, "Oh ya, kenapa mereka bersikap seperti itu ketika mereka mendengar nama Collagher?" Tanya Alyena.
"Kau tidak tahu? sungguh kau tidak tahu mengenai kakakmu yang hebat itu?" Ucapnya tidak percaya, pria berkacamata itu memperbaiki letak kacamatanya dan mengambil napas dan mulai bercerita.
"William Collagher atau kakakmu itu dia adalah penyumbang terbesar di sekolah ini, bisa di katakan sekolah ini sampai pada level seperti ini karena dukungan keluarga Collagher, kau lihat siapa yang mengantarmu tadi masuk ke dalam kelas?"
"Ya, apakah dia kepala sekolah?" Tanya Alyena.
"Yup, tebakanmu benar, sangat jarang atau tidak sama sekali kepala sekolah mengantar murid baru langsung ke dalam kelas, semua menatap penasaran kepadamu, dan yang paling terpenting sebagian yang bersekolah di sini adalah karyawan atau ayah ibu mereka yang bekerja kepada kepada tuan William, atau bahkan teman bisnisnya." Ucap Pria bernama sama dengan ayah Alyena.
"Tapi kenapa mereka malah menghindariku?" Tanyanya.
"Karena mereka tidak mau mencari masalah, sekali saja terdengar laporan yang tidak menyenangkan darimu, kau akan lihat bagaimana Tuan William mengatasi mereka semua.
"Jadi, bagaimana kalau mulai sekarang kita berteman, kau bisa bertanya apapun padaku, semua informasi di sekolah ini sudah aku lahap, aku pun jago di sains dan matematika, kalau kau memiliki kendala apapun hubungi aku." Dia lalu mengeluarkan kartu namanya, hal itu membuat Alyena tertawa, dia tidak menyangka bertemu anak laki-laki konyol seperti ini, biasanya karakter seperti dirinya hanya ada di sebuah film-film, dia menyenangkan untuk di ajak berbicara, dan dia terlihat baik cuma saja dia terlalu cerewet untuk ukuran seorang pria.
~
Willy sedang makan siang bersama dengan Jafier dan seorang rekan bisnisnya yang terlihat cukup akrab. Dia menelepon seorang pengawal yang terus mengawasi Alyena kemanapun dan apapun yang Alyena lakukan di sekolah itu, meskipun Willy awalnya tenang-tenang saja ketika membawa Alyena ke sekolah tetapi setelah mendengar berbagai kabar mengenai kasus anak-anak sekolah yang membully anak lemah, saat itu dia sangat khawatir, dia menyesal menyetujui Alyena untuk bersekolah umum di bandingkan Home school, setelah merasa was-was dan khawatir dia akhirnya memerintahkan seorang pengawal terus memantau kegiatan Alyena dan melaporkannya kepadanya.
"Bagaimana? Apa yang sekarang Alyena lakukan?" Suara Willy terdengar mendesak, dia sedang menelepon seseorang dan menerima informasi dari orang itu.
"Nona Alyena sedang berbincang dengan seorang teman kelasnya di kantin, tuan Collagher, mereka terlihat makan bersama."
"Makan bersama, apa gadis itu terlihat berteman baik dengan Alyenaku?"
"Maafkan aku tuan, tetapi dia teman kelas pria, Nona Alyena, dia adalah seorang laki-laki."
"Apa maksudmu seorang laki-laki, apa dia mengganggunya?" Ucap William kini berdiri dari tempat duduknya.
Jafier yang menyaksikan kekhawatiran willy membuatnya menggelengkan kepalanya, tetapi setelah mengetahui Alyena berbicara dengan seorang pria, dia merasa sedikit khawatir, bagaimana jika anak lelaki remaja yang masih labil itu bertingkah kurang ajar kepada Alyena? dia lalu terlihat khawatir.
"Sepertinya mereka berteman baik, oh sebentar tuan, mereka akan keluar kantin, nona Alyena akan segera pulang, pengawal yang menjemput nona telah datang."
"Ikuti dia, jika laki-laki itu berbuat kurang ajar sergap saja dia dan tangkap dia untukku."
"Baik tuan."
"Bagaimana keadaan Alyena, kau terlihat khawatir sekali Will," Ucap jafier yang duduk di hadapannya, dia ingin mengetahui secara lengkap mengenai informasi dari William.
"Dia adikku." Ucap Willy.
Sementara dua temannya yang lain tertawa, "Mengapa anda terlihat begitu khawatir? saranku kepada anda, karena saya juga memiliki seorang anak, jangan terlalu mengekang adik anda, atau dia akan memberontak, anak zaman sekarang tidak bisa di tebak, pengalaman mereka bahkan lebih hebat dibandingkan usia seperti kita.
"Apa maksud anda dengan pengalaman anak zaman sekarang?" Tanya Willy terlihat jelas wajahnya yang khawatir.
"Jangan terlalu di pikirkan, semuanya akan baik-baik saja jika mereka belajar dengan baik atau ada seseorang yang selalu membimbing mereka. William mendengar dengan seksama seperti seorang ayah yang sangat takut anaknya mengenal dunia luar yang kejam.
Ponselnya kembali berdering, pengawal yang mengikuti Alyena telah mengirimkan beberapa foto kepada William. Mereka berdua bicara dengan santai dan terlihat bebas, Alyena terlihat tersenyum sementara anak laki-laki berkacamata itu berbicara sambil menggerak-gerakkan tangannya seperti menjelaskan sesuatu.
"Hem, apa ini temannya?" Seperti aku pernah melihat wajahnya." Ucap Willy, matanya tiba-tiba terarah pada pria yang duduk di dekatnya, anak laki-laki itu seperti mencloning wajahnya.
"Apakah anda mengenal anak ini tuan Wedny?" tanya Willy.
"Ah, tentu saja aku tahu, dia Nick, putraku kenapa fotonya ada di sana?" ucapnya lagi.
~
"Jemputanku sudah ada di sana, sampai jumpa." Ucap Alyena, anak laki-laki bernama Nick melambai kepada Alyena dan segera naik ke atas motornya yang terlihat keren.
"Nick sepertinya baik, meskipun dia cerewet sekali, tapi aku dengan mudah akan mendapatkan informasi darinya mengenai apa saja di sekolah itu." Ucap Alyena sambil tersenyum senang.
Terdengar klakson mobil berhenti di sampingnya ketika dia berjalan, jendela mobilnya terbuka, memperlihatkan wajah Jafier sambil mengenakan kacamatanya.
"Masuk." Ucapnya.
"Paman Jafier?" Ucap Alyena sambil menatap kiri dan kanan, mencari-cari mobil yang akan menjemputnya.
Alyena masuk ke dalam mobil, dia lalu duduk dan tersenyum ketika melihat Jafier yang menjemputnya. "Paman tidak sibuk? paman bahkan datang menjemputku." Ucap Alyena menatap Jafier yang sedang mengendarai mobilnya.
"Kita akan makan siang dulu, setelah itu aku akan mengantarmu ke mansion."
"Ok paman."
Jafier membawa Alyena di salah satu restaurant, mereka masuk ke dalam, Jafier masuk ke ruangan khusus VIP yang tertutup. Ruangan itu cukup besar untuk mereka berdua, mereka duduk di depan meja makan, pelayan itu lalu keluar sebelum Jafier memesan.
"Mereka akan datang kalau kita selesai memesan, kau ingin makan apa?" tanyanya.
"Erm, aku tidak tahu mana yang lezat, bagaimana kalau paman yang pilihkan?" Ucap Alyena.
Sebelum mereka memesan, Jafier menarik tangan Alyena dan mendudukkannya ke pangkuannya. "Bagaimana kau di sekolah hari ini?"
"Emm baik, setidaknya ada seorang teman kelasku yang berani mengajakku berbicara, karena nama Kakak sangat di kenal baik di sana, jadi sepertinya mereka ketakutan dan mundur, hanya Nick saja yang menyapaku, kami tadi sempat berbincang sebentar.
"Oh ya, apa yang kalian bicarakan?" tanyanya.
"Banyak, dia sangat suka dengan sains jadi kami membahas mengenai pelajaran itu, dia juga berbicara mengenai jarak antara rumahnya ke sekolah, dan dia menghitungnya dengan cepat dengan menggunakan rumus yang dihapalnya di luar kepalanya.
Tiba-tiba saja Jafier tertawa membuat Alyena terkejut. "Kenapa paman tertawa? tanyanya.
"Tidak apa-apa aku hanya mengingat hal yang lucu." Tadi, jafier sangat khawatir seperti halnya William, dia lalu bergegas menjemput Alyena dan memastikan dia baik-baik saja.
"Aku merindukanmu Alyena, hemm aku merindukan wangimi." Ucap Jafier sambil memeluk tubuhya, dia menyusupkan wajahnya di rahang Alyena dan mengecupnya.
"Aku juga merindukan paman." Balas Alyena dengan pipi merah merona. Jafier menarik Alyena lebih dekat kepadanya, dia menyentuhkan hidungnya ke hidung Alyena dan memberikan kecupan-kecupan kecil di wajahnya.
Pipi Alyena merona, Jafier masih mengecup setiap sisi wajahnya, hingga saat dia sampai ke bibirnya, dia menciumnya dengan lembut dan hati-hati, ciuman itu mampu menghipnotis Alyena, tubuhnya bergerak sendiri ingin mendapatkan lebih dari sekedar ciuman yang lembut, dia yang tidak berpengalaman memegang kedua pipi Jafier dan memberikan ciumannya. Jafier membalasnya, merasakan keintenans mereka berdua, tangannya memegang erat kepala Alyena dan mencicipi keseluruhan Alyena.
Ciuman mereka cukup panjang hingga hanya terdengar kecupan di ruangan tertutup itu, ponsel jafier berdering, membuat keduanya tersadar dari ciuman panjang mereka. Jafier melepaskan bibirnya, dia mengambil ponselnya yang sejak tadi berdering. Dia segera mengangkatnya, sambil memperhatikan bibir Alyena yang terlihat bengkak dan napasnya yang masih cepat. Matanya sayu tidak bisa menahan berat tubuhnya, dia lalu menyandarkan kepalanya di dadanya mencoba bernapas dengan normal.
"Halo Jafier, kenapa kau membawa Alyena bersamamu begitu saja, aku sangat khawatir, kalian ada dimana?"
"Tenanglah Willy, aku hanya membawa Alyena makan siang di salah satu restaurant, setelah itu aku akan membawanya kembali ke mansion." Ucap Jafier.
"Kau tidak melakukan apa-apa kepadanya kan Jafier."
"Sebaiknya kau datang kalau kau begitu mengkhawatirkannya."
"Aku akan menunggu di mansion saja, jangan berlama-lama di luar, setelah ini Alyena ada kelas privat di mansion, kau harus segera membawanya pulang."
"Ok, Ok tenanglah."
Jafier menutup ponselnya, seketika Alyena bangun dari tempat bersandarnya di dada Jafier. "Apa yang kakak katakan?" tanyanya.
"Dia ingin kita segera kembali ke mansion." Ucap Jafier.
"Oke tapi kita makan dulu, aku lapar." Ucap Alyena sambil bersandar manja di tubuh Jafier, mereka menghabiskan waktu bersama selama mungkin. Setelah makan siang yang membutuhkan waktu cukup lama, Alyena pergi ke kamar mandi dan menatap dirinya, dia mencuci tangannya di dekat westafel, dia mencium wangi dirinya seperti Cologne yang biasa di gunakan Jafier.
Suara langkah kaki dari kamar mandi membuat Alyena terkejut, ternyata selain dirinya ada seorang wanita yang berada di dalam toilet, dia tiba-tiba saja tersenyum kepada Alyena lalu berjalan dan juga mencuci tangannya.
"Aku suka wangi parfum milikmu, tetapi sepertinya wangi itu seperti aku sangat mengenalnya." Dia tersenyum angkuh, dia lalu menatap Alyena dari ujung kaki sampai ujung kepala, dia lalu tersenyum miring, sudut mulutnya terangkat dan memandang Alyena meremehkan. "Jadi, kau gadis yang telah merebut Jafier dariku? hanya seorang bocah? Ck, ini sama sekali lelucon yang tidak menarik."
"Siapa anda Nyonya?" tanya Alyena, tetapi dia sudah bisa menebak siapa wanita ini, dia pun mengenal Jafier, seakan mengenalnya dengan sangat baik.
"Aku kekasih Jafier, aku cinta pertama Jafier, sepertinya kau harus mendapat peringatan keras dariku anak kecil, jangan bermain-main dengan milik orang lain."