Flower On The River

Flower On The River
Vol 39



Pria itu menatap langit malam dari balkon hotel, dia tidak peduli dengan semua yang ada di sekitarnya, hanya berdiri di balkon itu sambil menyesap winenya, sesuatu membuatnya berbalik ketika mendengar suara ribut dari pintu masuk.


"Trus, kita akan kemana, Nick."


"Cari tempat duduk, dan kalian bisa mengambil makanan di sana dan membawanya ke meja ini."


"Kau pikir kami seidiot itu? tentu saja kami akan bersenang-senang dan berkenalan dengan pria-pria tampan yang sejak tadi melirik ke arah kita."


Pria itu menatapnya berulang kali dengan pandangan terkejut, dia berjalan sebentar dan memperhatikannya dalam jarak cukup dekat, matanya tertuju pada sosok gadis cantik yang berdiri bersama dengan temannya dengan wajah sangat mempesona, ketika dia masuk, para pria menatapnya, dan salah satunya telah berani mendekatinya terang-terangan.


"Alyena, aku akhirnya mendapatkanmu."


~


"Bagaimana dengan dansa? anda tidak akan menolaknya bukan?" Ucap pria bemata hijau itu sambil tersenyum mengulurkan tangannya kepada Alyena. Semantara Clara mengedikkan bahunya kepadanya, menyuruhnya mengambil tangan pria itu. Alyena dengan ragu mengulurkannya, sebelum tangan Alyena sampai kepada lelaki itu, satu tangan yang lebih besar memegangnya erat, pandangannya tajam seakan ingin membunuh pria yang berani menyentuhnya.


Alyena terkejut begitupun Clara dan Nick. Dia menarik tangan Alyena hingga dia berdiri di depannya. "Maaf sekali, karena nona ini sedang bersamaku, kami harus pergi." Jafier menarik tangan Alyena meninggalkan mereka bertiga yang menganga dengan kedatangan Jafier.


"P-paman." Ucap Alyena, dia berusaha berjalan cepat karena Jafier menariknya, menjauh dari keramaian. Mereka berada di salah satu taman yang mirip seperti labirin dengan lampu Crystal sebagai penghiasnya. Pria itu memegang tangan Alyena erat dan berhenti ketika di sana tidak ada orang sama sekali. Dia mengambil napas panjang dan menghembuskannya.


"Apa kabar Alyena, sudah lama sekali kita tidak bertemu." Ucapnya. Dia memerangkap Alyena dengan kedua tangannya, sedangkan Alyena bersandar pada pohon labirin yang telah di pangkas sedemikian rupa.


"Paman Jafier, lepaskan tanganmu, aku akan bicara tapi jangan bersikap seperti ini." Suaranya terdengar panik.


"Kau akan menjelaskan seperti apa Alyena? kau lari dariku, kau tahu bagaimana aku mencarimu selama 8 bulan ini? aku tidak tahu jika William memiliki kemampuan menyembunyikan seseorang sehebat ini, sampai aku memeriksa satu persatu kota di inggris, dan ternyata kau tinggal di York, itu adalah list terakhir dari daftar pencarianku." Senyumnya, matannya tidak terlepas dari wajah Alyena.


Kedua tangannya memegang pinggang Alyena dan menariknya ke arahnya, dia memeluknya perlahan dengan hati-hati, karena ingatan terakhirnya terhadap Alyena masih sangat membekas ketika dia menangis di penthousenya, Jafier memeluknya perlahan, ketika tubuh mereka semakin dekat dan menempel dengan sempurna, Jafier mempererat pelukannya, hingga Alyena dapat merasakan debaran jantung pria ini.


Tubuh mereka saling memeluk erat, Jafier menundukkan kepalanya dan menghirup aroma Alyena dan memiringkan wajahnya di leher jenjangnya. "Aku merindukanmu Alyena, bagaimana denganmu?" Jantung Alyena pun berdebar sangat kencang, selama ini dia berusaha melupakan sosok Jafier, karena itu yang diinginkan kakaknya William, tetapi semakin dia ingin melupakannya, semakin terasa dan nyata kerinduan yang dia rasakan, meskipun dia selalu mengahalau wajah Jafier dari ingatannya, sudah saatnya dia jujur akan perasaannya.


Alyena perlahan menatap mata jernih itu, mereka saling menatap dalam keheningan.


"Aku...aku merindukanmu, paman." Bisik Alyena. Mata Jafier membelalak ketika mendengarnya, dia semakin memeluk Alyena erat bahkan tubuh Alyena sampai terangkat dan kakinya melayang diudara.


Jafier melepaskan pelukannya, dia menatap wajah cantiknya yang di telah dipoles oleh make-up, Alyena tersenyum ketika mata mereka bertemu.


"Kau tersenyum?"


"Aku tidak menyangka mengatakan rindu kepada paman." Ucapnya sambil menunduk. Jafier mengangkat dagunya agar mata mereka saling bertemu. Senyuman Jafier sangat tampan di mata Alyena. Dia akhirnya memberikan ciumannya kepada Alyena dengan lembut, Alyena segera membalas ciumannya dan mengalungkan kedua tangannya di leher Jafier. Bibir mereka saling mencecap sampai-sampai mereka seperti lupa untuk bernapas. Jafier mengangkat kepalanya dan melepaskan ciumannya, dia berhenti sebelum dia melakukannya dengan kasar dan nantinya akan menyakiti Alyena.


Alyena menarik kerah jas Jafier hingga wajahnya sedikit menunduk, dia menciumnya dan tentu saja ciuman Alyena di sambut oleh Jafier.


Napas mereka saling bersahutan seiring bibir mereka tidak berhenti untuk saling memagut. Jafier mendengar suara bisik-bisik dari arah sampingnya, dan dia melepaskan bibirnya, tetapi masih memegang dan memeluk Alyena yang bersandar di dadanya.


"Keluar."


Suara Jafier jelas, dia tahu ada seseorang yang berdiri di sana dan sedang mengintip mereka. Dua orang yang bersembunyi lalu keluar, dia adalah Clara dan Nick. Mata Alyena melebar ketika melihat mereka.


"Aku melihatmu Alyena, kau menarik jasnya dan menciumnya." Ucap Nick. Alyena merona pipinya menjadi merah, dia tidak menyangka dia akan melakukan hal seperti itu.


"Kalian lagi." Ucap Jafier.


"K-kami memiliki tanggung jawab untuk menjaga Alyena, J-jadi jangan marah dan tersinggung paman, apalagi itu adalah anda ruan Jafier Alvaro." Ucap Nick.


"Denganku? ada apa denganku? aku bisa menjaga Alyena, masih banyak yang ingin aku bicarakan dengannya, jadi sebaiknya kalian pergi dulu, biar nanti aku yang akan mengantarnya...


"Jangan dulu paman, kak Willy nanti akan melakukan sesuatu, seperti memindahkan aku kuliah atau pindah penthouse lagi, aku sudah cukup nyaman di kampusku yang sekarang."


"Ok baiklah, nanti aku akan berbicara dengan Willy supaya dia berhenti berlari dariku." Ucapnya.


"Kalau begitu sejam lagi kami akan menjemputmu Alyena." Ucap Clara. Mereka berdua pergi dan meninggalkan Jafier dan Alyena.


Jafier berjalan bersama dengan Alyena di taman labirin itu, Jafier memegang tangannya, dia tersenyum dan mencari tempat untuk saling bercerita, mereka berhenti di bangku taman, di sana Alyena dan Jafier sedang duduk saling berpegangan tangan.


"Kau baik-baik saja?" Tanyanya.


"Aku baik." Ucap Alyena. "Bagaimana dengan paman?"


"Kau pikir aku bagaimana ketika sepanjang hariku hanya memikirkanmu dan berusaha untuk mencari kalian."


Alyena menatapnya, jantungnya masih berdegub setiap kali dia melihat wajahnya yang kini di tumbuhi cukup banyak janggut yang jarang di cukurnya. Dia kembali merangkul Alyena dan memeluknya. Gunakan ini, kau pasti dingin." Jafier melepaskan jasnya dan memakaikannya di tubuh Alyena.


"Aku akan mengantarmu kepada dua temanmu, dan sebaiknya kalian kembali sebelum kemalaman, nanti William khawatir, aku juga khawatir, apalagi pria-pria memperhatikanmu sejak tadi dan selalu melihat kearahmu." Ucapnya tidak suka.


"Kita akan bertemu lagi, percayalah sekarang ini aku menahan sekuat tenaga untuk tidak membawamu lari dari William, tetapi aku menahannya sekuat tenaga agar dirimu dan hubunganku dengan William kembali membaik, aku tidak akan menyentuhmu sampai hari pernikahan kita, kau percaya padaku, Hem?" Ucap Jafier sambil menarik dagu Alyena agar dia menatapnya.


Dengan wajah merona, Alyena menganggukkan kepalanya. "Mm, aku mengerti."


"Satu hal lagi, aku ingin mulai sekarang jangan memanggilku paman, panggil aku dengan namaku." Ucapnya.


"A-apa? tapi aku sudah terbiasa memanggil dengan paman."


Jafier menggelengkan kepalanya, "Panggil namaku, aku ingin mendengarnya, lagi pula aku tidak setua itu, untuk di panggil paman."


"Jafier." bisik Alyena.


"Aku tidak mendengarnya, ulangi sekali lagi." Pintanya sambil menahan senyumnya melihat rona kemerahan di wajah cantik Alyena.


"Jafier." Ucap Alyena dengan suara cukup keras.


"Bagus, mulai sekarang panggil namaku dengan Jafier."


"Ok, pam...maksudku Jafier."


Jafier mengantar Alyena masuk ke dalam ruangan pesta, setelah itu mereka bertemu dengan Nick dan Clara yang sedang berdansa dan mereka terdengar sangat ribut hingga mengganggu pasangan dansa lainnya.


"Mau berdansa denganku?" Tanya Jafier.


"Tentu saja." Senyum Alyena, dia menyambut tangan Jafier dan mereka berdansa dengan iringan musik yang slow dan membuat mereka terhanyut dengan suasananya.


Alyena menatap wajah pria yang menatapnya dengan lembut. "Kau semakin cantik, Alyena." Ucapnya. Alyena hanya tersenyum menanggapi ucapannya.


"Oh ya, jangan bicarakan tentang aku kepada William, aku sendiri yang akan menyelesaikan masalahku kepada William, aku akan berusaha bagaimanapun juga untuk membuatnya kembali seperti dulu, membuatnya agar dia merestui hubungan kita." Ucap Jafier.


***


Clara dan Nick menatap Alyena dengan pandangan menyelidik. "Apa yang kalian lakukan di balik taman labirin, Alyena? dan berhenti tersenyum sendiri dengan wajah merona, nanti ada yang mengiramu sinting." Ucap Nick. Mereka telah berada di dalam mobil Limousine setelah Jafier mengantar mereka sampai masuk ke dalam mobil.


"Apa yang kami lakukan, seperti apa yang kalian bayangkan di pikiran kalian." Ucap Alyena sambil tersenyum.


"A-apa yang aku bayangkan? apa kau serius melakukannya?" Ucap Nick.


"Memang apa yang kau bayangkan di kepala kotormu itu, sesuatu yang erotis yang mereka lakukan di balik taman seperti yang terjadi di novel atau di film-film? khayalanmu ngaco." Ucap Clara.


"Mereka hanya saling berciuman, setelah itu paman itu melepaskan ciumannya kepada Alyena tetapi Alyena malah menarik jasnya hingga mereka kembali berciuman." Ucap Nick.


"K-kalian berdua hentikan, apa sih yang kalian bicarakan." Ucap Alyena sambil mengintip ke arah supir di hadapannya.


"Itu bukan yang kau bayangkan, itu yang kau lihat tadi di taman, ketika kita bersembunyi." Kata Clara sambil mendengus.


"Jangan khawatir Alyena, apa yang kupikirkan tidak seperti yang di pikirkan oleh Nick, aku hanya membayangkan kalian menempel erat satu sama lain seperti lem yang tidak mau terlepas, bukan pikiran erotis seperti yang dibayangkan Nick."


"Hei, kami hanya bercerita dan duduk di taman." Ucap Alyena sambil menggelengkan kepalanya.


"Oh ya, berarti paman itu telah berusaha keras, untuk menahan dirinya, jika tidak, dia pasti sudah membawamu pergi dan memerangkapmu di kamarnya." Ucap Clara.


"Berhenti membicarakan dia, dan satu hal lagi kak William tidak boleh tahu kalau malam ini aku bertemu dengan Jafier di pesta tadi." Ucap Alyena.


"Jafier?" Clara dan Nick mengucapkan bersama-sama. "Kau tidak memanggilnya dengan sebutan paman lagi?" dengus Nick.


"Mm tidak, dia ingin aku memanggilnya dengan namanya." Ucap Alyena dengan merona.


~


Malam itu Jafier berada di penthousenya, dia sangat bahagia akhirnya dia dapat bertemu dengan Alyena, gadis yang dicintainya. Dia kemudian ingin menelepon William dan menatap nomor ponselnya. "Hmm, belum waktunya, nanti dia akan mengamuk lagi, aku akan mendekatinya perlahan-lahan." Ucap Jafier.


***


Kilian Regan masih berada di Manhattan, sama halnya dengan Jafier, dia juga mencari keberadaan Alyena, apalagi dia pergi sudah begitu lama, seakan-akan telah menghilang. Sesaat sebelum dia balik dari kantornya, seseorang meneleponnya.


"Aku melihatnya tuan, gadis yang anda cari ternyata berada di York, inggris." Ucapnya.


"Benarkah? Bagus."


Dia menutup ponselnya dan segera keluar dari kantornya. "Meskipun terlambat, saatnya tiba giliranku bergerak." Kilian lalu mengambil penerbangan pertama menuju ke Inggris saat itu juga, dan kebetulan yang sangat menguntungkan untuknya karena kali ini perusahaan William akan bekerja sama dengan perusahaan Kilian. Sehingga dia memiliki akses untuk lebih dekat dengan keluarga Collagher.