Flower On The River

Flower On The River
Vol 62



Malam itu juga Alyena dan Clara di bawa ke rumah sakit untuk mengobati luka-luka mereka. Meskipun sangat sakit karena perkelahian itu, tetapi Alyena puas, dia melawan mereka, meskipun pada akhirnya, dia di bantu juga oleh orang yang dia anggap ayahnya dan Alyena yakin bahwa pria yang menolongnya adalah ayahnya.


Dokter telah mengobati dua gadis itu, perban telah direkatkan dikening Alyena dan leher serta di beberapa bagian tubuhnya. Alyena melihat dari kejauhan kakaknya yang sedang berbicara dengan dokter, matanya kini terasa sangat berat dan dia pun tidur karena lelah menderanya.


Jafier berjalan di sisi tempat tidur, dia mendekati Alyena. Melihat beberapa luka yang membiru di pipinya. Dia kemudian mengecup keningnya. "Mimpi yang indah Alyena." Bisik Jafier.


Jafier sedang menelepon seseorang. "Ini aku, jangan biarkan mereka lolos, siapapun orang yang berusaha meringankan hukuman mereka bertiga, hancurkan. Kau mengerti." Jafier menutup ponselnya dan kembali duduk di sofa menatap Alyena.


***


Suara tangisan terdengar dari alang-alang di bawah bukit jalan raya. Suara wanita itu terdengar kesakitan, dia meringis dan menangis. Meminta tolong kepada siapapun juga.


Tolong aku, tolong ....."


Saat itu tim polisi menyusuri tempat kejadian perkara, sesuai dengan saksi dan bukti bahwa ketiga wanita ini menyerang dua mahasiswi ketika mereka pulang dari kuliah. Salah satunya belum tertangkap. Suara seorang wanita terdengar, dia menangis. Polisi menyusuri TKP dan akhirnya mereka menemukan wanita bernama Eryn. Wanita itu tampak mengerikan, rambutnya rontok di sembarang tempat. Wajahnya penuh dengan luka serta tubuhnya pun di penuhi luka-luka.


Mereka membawa wanita itu ke dalam mobil Ambulance, dia tampak mengenaskan, wajahnya bengkak di mana-mana sehingga siapapun tidak akan mengenalinya lagi. Dia menangis parau, sakit di tubuh dan wajahnya tidak tertahankan.


"Ayahku ... hubungi ayahku. Aku ingin ayah dan ibuku."


***


Alyena membuka kedua matanya, dia menatap samar langit-langit berwarna putih dan bau yang familiar, dia menengok ke kiri dan kanannya. "Uh, aku di rumah sakit lagi, ck ini sudah yang ketiga kalinya." Gumamnya


Alyena menatap gadis yang ada di sebelahnya, tampak Clara masih tidur pulas dengan selimutnya yang sedikit lagi jatuh di lantai karena tendangannya.


Seseorang mengambil selimut itu dan menyelimuti Clara.


"Nick? Kau di sini?" Ucap Alyena tersenyum.


Dia menghela napasnya. "Ya, aku di sini, kalian benar-benar tidak mendengarkan aku. Seharusnya kalian menungguku, jadi ...."


"Kita akan tampak konyol bersama." Sambung Clara terbangun karena suara Nick. Alyena terkekeh mendengarkan mereka.


Jafier mendekat kepada Alyena, dia tersenyum dan mengecup pipinya. "Kau sudah bangun? Apa sakit? Apa perlu aku memanggil dokter agar mereka memberimu penghilang rasa sakit?"


Alyena mengeggelengkan kepalanya. "Aku baik-baik saja. Luka seperti ini sebentar lagi akan sembuh koq, jangan khawatir." Bisik Alyena.


"Sudah tiga kali kau masuk ke rumah sakit, Alyena. Kau tahu betapa cemasnya aku? Apalagi luka-luka itu akan membekas, kau seorang wanita, luka-luka seperti ini tidak boleh membekas di tubuhmu. Siapa yang akan menikah denganmu jika kau penuh dengan luka-luka?" Ucap Willy yang baru saja masuk dan berdiri di belakang Jafier sambil bertolak pinggang menatap ketiga bocah ini.


"Siapa lagi kalau bukan aku." Ucap Jafier. "Tidak ada pria yang bisa menikahi Alyena selain aku. Mereka harus melangkahiku jika ingin merebut Alyena dariku."


Clara dan Nick terkikik, melihat wajah Edmund merah padam tidak bisa membalas kata-katanya.


Alyena mengangkat tangannya. "Pizza dan Cola." Nick dan Clara juga mengangkat tangannya. "Plus burger dan kentang goreng yang komplit." Ucap Nick.


Willy menggelengkan kepalanya dan segera pergi dari ruangan. "Apa kalian harap aku membeli semua makanan tidak sehat itu? Makanan siap saji untuk orang sakit? Tentu saja aku harus membeli makanan yang sehat." Gumam Willy.


"Dia selalu menghindar jika aku membahas masalah pernikahan kita berdua." Ucap Jafier. Sementara itu Alyena merona mendengarnya.


"Siapa yang membuat ide kalian satu kamar seperti ini? lihat, suasananya menjadi canggung, mereka bermesraan, mungkin sebentar lagi paman akan mencium Alyena. Aku mungkin akan terprovokasi Clara, jadi jangan salahkan aku jika nanti aku juga menciummu." Ucap Nick. Clara mencubit pipi Nick keras.


"Menjauh sana, jangan mengganggu orang sakit, Bodoh."


***


Willy baru saja melewati koridor rumah sakit, dia menunggu Lift untuk turun ke lantai bawah. Setelah tiba di lantai bawah, suara ribut-ribut terdengar di salah satu kamar VIP. Dengan jelas dia mendengar nama Collagher di dalam ruangan itu di sebut-sebut.


"Aku tidak terima, putriku menjadi babak belur seperti ini, apa salah putriku. Dia hanya wanita lembut yang mudah terbujuk oleh teman-temannya, lihat wajahnya, lihat ! Aku bahkan tidak mengenali wajah putriku sendiri, saya tidak bisa terima, saya tidak akan memaafkan mereka yang melakukan hal keji ini, putriku babak belur seperti ini. Aku akan melaporkan balik perlakukan mereka kepada polisi. Mereka pikir aku takut?"


"Tuan, kebetulan sekali tuan Collagher ada di sini, anda bisa menemuinya langsung."


"Siapa kau bilang, tuan siapa? Collagher?"


"Ya tuan, Putri anda menyerang adik tuan Collagher, mereka sama-sama bertarung dan sama-sama di rawat di rumah sakit ini."


"J-jadi kau ingin bilang putriku menyerang adik tuan Collagher dan sama-sama di rawat? Kau gila ya? berani sekali kau menghajar adik tuan Collagher, bodoh! Dia bisa menghancurkan perusahaan kita dalam semalam. Aku tidak mau tahu. Kau urus masalahmu sendiri."


"Tch dasar pengecut." Gumam Willy.


****


Willy berjalan di pelataran parkiran yang sunyi, malam telah gelap dan tempat itu juga sangat sepi. Willy menuju mobilnya dan hendak membuka pintu mobilnya. Suara aneh terdengar di belakangnya. Willy menatap tempat itu. Dia kemudian memperhatikan di sekilingnya. Willy hendak masuk ke dalam mobil ketika gemerisik dari arah belakang membuatnya terkejut dan siaga.


Jangan berbalik Willy, ini aku. Nick, ayah Alyena.


Wajah willy seketika pucat, dia membeku di tempatnya berdiri, tengkuknya seakan meremang ketika mendengarkan langsung suaranya. Suara parau dan sedikit serak, terdengar jelas bagaimana suaranya terdengar sesak.


Kau hanya perlu mendengar ini. Aku ingin menyampaikan hal ini kepadamu, sebelum juan datang lagi. Jaga putriku baik-baik, jangan biarkan putriku mencariku, dia pasti curiga, yang menolongnya waktu itu adalah aku. Jangan biarkan dia mencariku lagi, katakan padanya aku telah mati. Aku sama sekali tidak bisa menampakkan wajahku lagi kepada putriku Alyena, biarlah dia tahu bahwa ayahnya sudah lama mati. Jaga dia baik-baik Willy. Selama ini aku tidak berada di sisi Alyena karena aku takut, Juan akan bangun dari tidurnya jika dia melihat putrinya. Aku... akan menyerahkan diriku ke penjara dan menghabiskan sisa waktuku disana sebelum Juan terbangun. Selamat tinggal, aku berjanji tidak akan menampakkan diriku lagi di hadapan Alyena.


Willy masih berdiri kaku, angin dingin menerpa tubuhnya. Suara kaki yang berjalan dengan kesusahan perlahan menjauh. Willy mencoba berbalik dan mencarinya, tetapi dia sudah tidak ada, seakan di telan angin malam.


Tangan Willy masih bergetar ketika dia masuk ke dalam mobilnya, dia mencoba menyalakan mobilnya dengan cepat mengemudikannya. "Dia hidup, pria itu masih hidup. Aku tidak akan khawatir jika Nick yang muncul, tetapi jika Juan yang datang, aku yakin dia akan menampakkan wajahnya di depan Alyena.