
Mobil Willy melaju kencang, dia masih mendengar suara parau dan serak itu. Telunjuknya bergerak-gerak di stir mobil. Dia memikirkan kalimat pria itu.
Selama ini aku tidak berada di sisi Alyena karena aku takut, Juan akan bangun dari tidurnya jika dia melihat putrinya.
"Mungkin itu alasannya mengapa selama ini dia tidak menemui Alyena. Dia takut dengan menatap putrinya, sisi juan akan kembali terbangun karena ingin menemui Alyena. Tidak akan kubiarkan. Seperti yang di katakan pria itu. Aku harus mengawasi Alyena, dia tidak boleh mencari ayahnya dan menduga bahwa ayahnya masih hidup."
****
"Alyena, menikah denganku." Ucap Jafier ketika Jafier sedang menyuap Alyena. Mulutnya yang membuka untuk memasukkan makanan berhenti di udara.
"J-jangan bercanda." Ucap Alyena sambil memasukkan makanan ke mulutnya dan mengunyahnya. Dia memalingkan wajahnya karena malu.
"Aku tidak bercanda. Kita menikah, Willy harus menyetujui pernikahan kita." Ucap Jafier. Alyena bersemu, pipinya memerah. Dia menganggukkan kepalanya, melompat ke tubuhnya dan memeluk Jafier. Bibir mereka saling menyatu dengan erat, hingga Nick menarik tirai di antaranya, agar dia tidak melihat pemandangan saling tarik menarik itu.
Mereka melepaskan ciumannya tepat ketika Willy masuk ke dalam ruangan perawatan Alyena.
"Kakak lama sekali." Ucap Alyena, lalu memperbaiki posisi duduknya.
"Ngomong-ngomong paman Jafier sudah membeli makanan. Paman Willy lama sekali, sudah hampir 3 jam kami menunggu paman." Ucap Nick.
Wajah Willy terlihat pucat, dia lalu mengangguk dan segera mengambil botol air dan meneguknya.
"Kau baik-baik saja Willy?" Tanya Jafier.
"Aku baik, ada yang ingin aku katakan kepadamu, tunggu dulu. Aku juga akan menelepon Audry." Bisiknya.
Alyena melihatnya curiga. Kakaknya terlihat khawatir. Dia mencoba mencuri dengar apa yang sedang mereka perbincangkan, tetapi suara mereka sama sekali tidak terdengar.
"Kak Willy cerita apa sih, kenapa serius sekali, wajah kakak seperti baru lihat hantu." Ucap Alyena memperhatikannya.
Dia tersenyum. "Aku tidak apa-apa. Tidurlah, kau sudah minum obatkan?" Ucap Willy. Alyena menganggukkan kepalanya. Dia kemudian berbaring, sementara itu Willy menarik tirai penutup agar Alyena bisa tertidur lelap.
***
Wajah khawatir terpeta di wajah Willy. Kurang dari 20 menit Audry tiba, dia membuka pintu dan masuk. Dia perlahan mengintip dari tirai bilik Alyena dan melihatnya sudah tertidur.
"Sudah berapa kali Alyena mendapatkan serangan seperti ini, tubuhnya lama-lama di penuhi luka." Ucap Audry jengkel. Dia menatap Willy dan melihatnya berwajah pucat.
"Kak Willy, kau baik-baik saja? kenapa wajahmu sangat pucat?" Ucap Audry lalu matanya berpindah kepada Jafier ingin mengetahui apa yang terjadi.
"Aku memanggil kalian karena ada sesuatu yang ingin kusampaikan. Kalian tahu ayah Alyena bukan?" Ucap Willy. Mereka berdua mengangguk.
"Tentu kami tahu, dia pria buronan yang di cari di seluruh negara. Tetapi kini pria itu telah wafat." Ucap Audry.
"Aku mengetahuinya tentu saja, Ayah Alyena memiliki kepribadian lain yang sadis bernama Juan, bukan?" Ucap Jafier.
"Kalian benar, dan malam ini aku bertemu dengannya." Mereka berdua mematung.
"Apa maksudmu bertemu dengannya, Willy?"
Willy menatap mereka berdua dengan wajah horor. "Dia masih hidup, ternyata dia masih hidup. Dia sengaja meninggalkan Alyena dan hidup sendirian, karena sisi mengerikan dari dirinya akan kembali bangkit, jadi dia harus pergi menjauh dari Alyena."
"Kau yakin?" Ucap Jafier tidak percaya.
"Aku yakin tentu saja, dia berpesan agar aku menjaga Alyena dengan baik dan melarang Alyena mencarinya. Dia bermaksud menyerahkan dirinya ke kantor polisi, tapi siapa yang tahu apa yang akan di lakukannya ketika pria bernama Juan menguasai tubuhnya, dia pasti menentang keinginan Nick untuk menyerahkan dirinya ke kantor polisi." Ucap Willy.
"Jadi apa yang harus kita lakukan?" Tanya Jafier.
"Aku akan mengawasi Alyena, tidak akan kubiarkan dia memiliki ide untuk mencari ayahnya." Malam itu mereka berbincang hingga larut malam. Semakin larut, semakin tambah mencekam dan mengerikan, hingga Audry memutuskan menginap di rumah sakit, Ruangan perawatan Alyena sangat luas dan cukup untuk mereka semua.
***
Wanita itu kini tersadar, dia membuka matanya dan kondisinya terlihat baik-baik saja. Rambutnya telah kembali normal dengan menyesuaikan potongannya, wajahnya tidak bengkak lagi, dan beberapa luka di tubuhnya telah di perban, dia berusaha bangun dari tidurnya.
"Di mana Ayah dan Ibu?" Ucap wanita itu.
"Kau sudah bangun? sepertinya ayahmu sibuk mengurus perusahaannya, beberapa rekan kerjanya tiba-tiba memutus kontrak kerja samanya setelah mendengar pemilik HB Collagher menarik sejumlah dana miliknya jika mereka memiliki koneksi dengan perusahaan ayahmu." Ucap sang ibu.
"Sebaiknya kau meminta maaf dengan gadis itu, jika tidak. Satu persatu rekan bisnis ayahmu menarik diri darinya. Apa kau tidak kasihan dengan ayahmu yang memohon-mohon agar mereka tidak membatalkan kerja sama mereka."
Wanita itu memalingkan wajahnya. Tch, dasar kotor. Apa begini cara mereka menghadapiku? dasar pengecut, bagaimanapun aku tidak akan memaafkan gadis kurang ajar itu. Aku masih belum puas untuk menghajarnya, pikirnya.
Dia bangun dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi, dia menatap wajahnya yang masih terlihat dengan jelas lebam yang mulai menyembuh di wajahnya. Dia lalu memegang rambutnya. Pendek dan kusut, dia menatap benci bayangan di wajahnya. Gara-gara wanita itu. Rambut kebanggaannya, yang sangat di jaganya harus di potong sependek ini.
"Tidak akan kubiarkan, kita lihat saja. Aku tidak akan melakukan setengah-setengah, kali ini kau akan mati di tanganku." Ucapnya. Dia menatap bayangnnya di cermin, lalu tersenyum.
"Gadis kecil itu berada di ruangan lain di rumah sakit ini, hmph bagus. Kita akan lihat dia sedang apa dan kali ini aku tidak akan membiarkannya."
***
Pagi itu Alyena terbangun, dia melihat kakaknya Willy dan Audry sedang tidur. Dia tersenyum melihat mereka.
"Kau sudah bangun?" Ucap Jafier yang baru saja keluar dari kamar mandi. Alyena mengangguk dan menerima kecupan singkat di keningnya. Jafier duduk di samping Alyena sambil memegang tangannya.
"Kau lapar? Aku akan membelikan sesuatu untukmu." Ucap Jafier. Alyena menggelengkan kepalanya.
"Nanti saja, aku tidak lapar." Ucapnya. "Erm, jangan mendekat Jafier, aku belum sikat gigi." Ucap Alyena menutup mulutnya lalu memalingkan wajahnya ketika Jafier mulai mendekati wajahnya.
"Apa yang kalian lakukan?" Suara itu mengagetkan Jafier dan Alyena. Willy baru saja terbangun. Matanya menatap tajam kepada Jafier.
"Kami hanya mengobrol koq, kak." Jawab Alyena.
"Aku juga mendengarnya, mereka hanya mengobrol sedikit." Ucap Clara yang juga sudah bangun. Hari ini dia sudah keluar dari rumah sakit. Ayah dan ibunya baru saja tiba di York dan mereka akan segera membawa pulang putrinya untuk di rawat.
Audry lalu terbangun, dia meregangkan tubuhnya, semalam dia bisa saja pulang, meskipun sangat larut tetapi karena cerita Willy yang menakutkan. Audry memutuskan untuk tinggal dan menginap. "Aku bermimpi buruk semalam gara-gara Willy. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Kisah mommy ketika menjalin cinta bersama ayah dan tanpa mereka ketahui pembunuh itu ada di sekitar mereka, mengambil para wanita dan menghabisinya."
Audry dengan malas mengangkat bokongnya dan segera ke kamar mandi. "Willy dan Jafier di mana?" Ucap Audry dengan suara serak dan mata belum terbuka lebar.
"Mereka keluar sebentar, mungkin pergi membeli sarapan."
"Oh ya." Sambil menatap sarapan pagi yang dihidangkan di depan Alyena. "Habiskan sarapanmu Alyena. Makan semua bubur itu." Ucapnya.
"Tch, bubur ini membunuhku." gumam Clara ketika melihat sarapannya yang ada di depan hidungnya.
Tuas pintu kamar Alyena bergoyang, seseorang membuka pintu itu dengan perlahan. Alyena dan Clara yang sedang sarapan menatap seseorang yang tersenyum miring kepada mereka berdua.
"Rupanya dua tikus kecil sedang sarapan di sini ya."