
"Bisakah kau memberikan waktumu untukku sebentar saja, Nona Alyena, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan." Ucap Kilian Regan.
"A-apa? Maaf aku tidak bisa, kakakku sedang menungguku." Ucap Alyena, memalingkan wajahnya, dia seakan tidak bisa menatap wajahnya.
"Aku tidak akan menyakitimu, kenapa kau begitu takut kepadaku, Alyena?" Tanyanya tiba-tiba.
"B-bukan begitu tuan Regan aku...
"Kilian, panggil aku Kilian." Ucapnya.
Tiba-tiba saja tangan yang hangat menarik pinggang Alyena dengan posesif lalu menariknya ke pelukannya.
"Maaf tuan Regan, kami terburu-buru, kami harus pergi." Ucap Jafier.
Tanpa menunggu jawabannya, Jafier menarik Alyena, dia kemudian masuk meninggalkan lelaki itu begitu saja, Alyena sempat berbalik dan menatap punggungnya.
Willy bersedekap dan menatap tajam keduanya ketika mereka baru saja tiba. "Kenapa kalian datang bersamaan, apa yang membuatmu begitu lama Alyena?" Tanya Willy dengan menatap tajam kepadanya.
"Kami bertemu dengan Kilian Regan di luar, kami sedikit mengobrol." Ucap Jafier.
"Benarkah? Apa yang membuatnya berlama-lama di Seattle? Bukankah dia harus mengurus perkebunan anggurnya, dan lagi pula kau tidak boleh bertemu pria itu Alyena, meskipun kau pernah bekerja dengannya tetapi kau tidak diizinkan berbicara dengannya, kau mengerti." Ucap Willy.
"Baik, kak Willy." Alyena mengintip kepada Audrey yang memberikan isyarat dan berbisik kepadanya.
"Apa yang dilakukan Jafier kepadamu, perhatikan bibirmu itu, terlihat bengkak."
Alyena menjadi panik dia segera meminum jusnya dan mencecapnya agar tidak ada yang memperhatikan bibirnya, dia kemudian memegangnya, terasa asing dan sedikit tebal, pikir Alyena.
Setelah makan siang, mereka akhirnya berpisah, Jafier mengantar mereka sampai masuk ke dalam mobil, membuat Willy heran melihat sikapnya.
"Ada apa denganmu, kau baik-baik saja? perhatianmu membuatku curiga." Tanyanya, ketika dia menutup pintu mobil tepat di samping Alyena.
"Sampai bertemu lagi." Dia melambaikan tangannya sesaat ketika Willy telah berada di jalan raya. Alyena berbalik sekali lagi, tetapi cepat-cepat duduk di kursinya dan memandang dari kaca mobil pemandangan di kota itu, jantungnya masih berdetak tidak karuan, pengalaman menyukai seseorang seperti ini baru di rasakannya dan itu membuat Alyena ingin selalu berada di sisinya dan ingin bertemu dengan Jafier.
~
Pria itu berada di ruangannya, dia sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya, tiba-tiba ingatannya kembali pada waktu mereka bertemu, ucapan Alvaro membuatnya geram, apalagi tatapan mata Alyena kepadanya tidak berubah sedikitpun.
Ketukan terdengar dari luar pintunya.
"Masuk."
Wanita itu masuk dengan senyum menghiasi wajahnya, akhir-akhir ini dia sangat sering datang mengunjungi mansion milik Kilian sambil membawa bekal makanan.
"Tidak usah memandangku seperti itu, aku akan segera pergi, aku hanya membawakan bekal makanan kesukaanmu."
"Berhenti melakukan hal seperti itu Susan." Ucap Kilian.
"Aku tahu kau menolakku, aku tahu, kau tidak perlu mengingatkannya, jadi jangan menghiraukanku, lakukan yang ingin kau lakukan dan aku akan melakukan keinginan hatiku," Ucapnya ceria.
"Lebih baik kau menerima lamaran Alfred, meskipun kau menungguku aku tidak akan bisa menerimamu susan, kau sudah kuanggap adik perempuanku sendiri, jadi sebaiknya kau pergi." Ucap Kilian dengan dingin.
Wanita itu berhenti dari hal yang dilakukannya. Dia lalu berbalik menatap sebal Kilian, "Jangan menyuruhku untuk menyukai orang lain, kau sudah tahu dengan jelas bagaimana perasaanku, kau jahat sekali kilian." Wanita itu pergi dengan marah meninggalkan semua makanan yang berserakan di atas mejanya.
Kilian memegang kepalanya dan segera menghubungi kepala pelayannya agar membersihkan makanan yang berserakan itu.
~
Malam telah larut, dengan berharap cemas, Alyena menatap ponselnya yang belum berdering, dia begitu menantikan telepon dari Jafier.
Ponselnya bergetar, dia lalu menatap nama Jafier di atasnya. Alyena segera mengangkatnya
"Halo paman."
"Kau belum tidur?" Tanyanya.
"Aku menunggu telepon dari paman."
"Apa kau mencoba menggodaku agar aku segera menemuimu?"
"Meskipun aku ingin menemui paman, itu tidak akan mungkin, kak Audrey ada di sini dan sebentar lagi kak Willy akan segera pulang dari kantornya."
"Tidak ada yang bisa menghalangiku jika aku menginginkannya, Alyena." Ucapnya.
"Kau bisa keluar ke balkon sebentar? kau akan melihatku sebentar lagi."
Alyena terbangun dari pembaringannya, dia terduduk di atas tempat tidurnya.
"Paman ada di sini?" Ucapnya sambil terheran.
"Lihat saja."
Alyena segera berjalan ke luar balkon dia sangat terkejut ketika Jafier berada di samping balkon apartemen sambil melambai kepadanya.
"A-apa yang paman lakukan disana?" Ucap Alyena sambil membelalakkan matanya melihat Jafier berada di dekat apartemen milik Audrey.
"Aku ingin bertemu denganmu jadi aku datang ke sini," ucap Jafier menatap Alyena sambil tubuhnya menghadap ke balkon ke arah Alyena, dia menyandarkan tubuhnya di besi pembatas balkon.
"Di mana Audrey?" Tanyanya.
"Di ruangannya, sepertinya kakak sedang bekerja."
"Bagaimana dengan Willy, apa dia masih berada di Apartemen?"
"Kak Willy berangkat ke kantornya dari tadi, sepertinya besok atau lusa akan kembali, kak Willy sangat sibuk dia tidak bisa begitu lama bersama dengan kami." Ucap Alyena.
"Kupikir itu cukup, aku akan berada di depan pintu apartemen sebentar lagi."
"A-apa, paman Jafier apa yang akan kau lakukan." Dia menutup ponselnya dan segera pergi dari balkon. Dengan gelisah Alyena keluar dari kamarnya dan berjalan sangat pelan menuju ke pintu luar.
Dia menatap terus ke pintu kamar kakaknya Audrey dan perlahan membuka pintu apartemen itu, di sana telah berdiri jafier, dia segera masuk ke dalam apartemen dan menarik tangan Alyena menuju ke kamarnya.
Mata Alyena membeliak, kenekatannya membuat jantungnya berdegub tidak menentu, dia menutup kamar Alyena dan menguncinya.
"P-paman Jafier apa yang kau lakukan? Nanti....
Tubuh Alyena telah berada di pelukan pria itu, dia memeluknya dengan erat, jantung Alyena seakan ingin melompat keluar karena apa yang di lakukannya ini akan membuatnya menghadapi masalah dengan Audrey.
"Ukh sial, aku sangat merindukanmu, aku tidak bisa lagi menahannya." Bisik Jafier di tengkuk Alyena. Mereka berpelukan cukup lama menyandarkan tubuh mereka satu sama lain. Jafier melepaskan pelukannya, dia menarik dagu Alyena ke arahnya dan tersenyum kepadanya.
"Sekarang, apa yang akan kita lakukan, Alyena?"
"A-apa? Apa yang paman maksud?" Ucap Alyena dengan rona merah dikedua pipinya. Jafier tersenyum dan mengecup pipi merona itu.
Dia menarik dagu Alyena ke arahnya dan menundukkan kepalanya, jafier menciumnya dengan mengeluarkan segala kerinduannya, bibir Alyena seakan menghipnotis Jafier agar tidak melepasnya, ciuman intens jafier membuat Alyena hanyut di dalam dekapannya, sekali lagi Jafier menguasai bibir Alyena, mengeksplor setiap incinya dan mengulumnya dengan intens, Alyena tidak kuat dengan ciuman itu, dia berusaha melepaskan pertautan bibir mereka, tetapi Jafier mengangkat tubuhnya dan melanjutkannya, hingga Alyena tidak mampu lagi merasakan kedekatan seintens itu, dia terkulai di pelukan Jafier dan tertidur dipelukannya.
"Bagaimana bisa kau tertidur dalam keadaan seperti ini?" Ucap jafier menghembuskan napasnya dan mengangkat tubuh Alyena lalu membaringkannya di atas tempat tidur dan menyelimutinya.
"Ck kenapa dia datang di waktu yang tidak tepat." Langkah kakinya terdengar menuju ke pintu kamar Alyena, Jafier lalu berjalan pelan dan berdiri di balik pintu kamar Alyena.
Willy ingin membuka kamar Alyena.
"Dikunci? Kenapa Alyena mengunci kamarnya?" Ucap Willy, dia kemudian pergi dan masuk ke dalam ruangannya.
Situasi seperti ini baru pertama kalinya bagi Jafier, dia merasa seperti remaja nakal yang sedang sembunyi dari orang tuanya. Dengan sangat perlahan dia membuka pintu kamar Alyena dan segera keluar dari apartemennya.
~
Alyena bangun pagi-pagi sekali, dia mengedipkan matanya beberapa kali, Alyena masih belum cukup sadar dari bangun tidurnya, dia lalu mengerjap dan mengucek matanya, ingatan terakhirnya membuat Alyena panik, dia sama sekali tidak ingat bagaimana dia jatuh tertidur.
Alyena memeriksa ruangannya dan mencari Jafier, pipinya merona merah mengingat kejadian semalam, "Apa aku tertidur ketika kami berciuman? Ughh bagaimana bisa aku tertidur dengan situasi seperti itu." Alyena menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dia begitu malu, mengapa dirinya begitu berani apalagi di apartemen ini ada kak Audrey.
Suara ketukan terdengar dari balik pintu kamar Alyena, dengan cepat Alyena membukanya.
"Segeralah keluar, kita akan sarapan dan akan kembali ke mansion, penyusup itu sudah tertangkap, jadi kita bisa kembali dengan aman." Ucap Willy kepada Alyena. Dia mengangguk, wajahnya seketika berubah ragu bercampur takut.
"Apa betul dia sudah tertangkap? Siapa yang di tangkapnya?" Ucap Alyena bingung.
Setelah sarapan, mereka berangkat pagi-pagi sekali ke mansion, sebelum pergi Alyena melirik tetangga apartemen sebelah, mungkin paman Jafier masih ada di dalam sana, sebentar lagi aku akan menghubunginya. Pikirnya.
Pagi itu hanya Willy dan Alyena saja yang kembali ke mansion, sedangkan Audrey tetap berada di apartemennya karena jarak kantor dan apartemennya cukup dekat di bandingkan jarak dari mansion ke kantornya.
Mobil mereka melaju menembus jalanan yang lengang, pagi-pagi sekali mereka telah kembali ke mansion, Alyena mengingat kembali Kilian Regan yang berbicara dengannya ketika di perpustakaan. Sebenarnya dia tidak begitu takut dengan pria itu, hanya saja memorinya selama di perkebunan membuatnya selalu berjengit ketika melihatnya, apalagi selama ini mereka tidak pernah berbincang, pria itu hanya membawanya dan bertemu dengannya jika ada wine yang baru saja masuk di gudang penyimpanan anggur di perkebunan atau bertemu hanya untuk makan siang.
Alyena menghembuskan napasnya, dia tidak sadar sejak tadi Willy memperhatikannya.
"Kau baik-baik saja Alyena? Apa kau khawatir penyusup itu akan masuk lagi ke dalam mansion?" Tanyanya.
"Tidak, bukan itu." Jawabnya.
"Jadi apa yang kau khawatirkan? Katakan kepadaku." Ucap Willy, dia mengemudi sesekali menatap Alyena yang duduk di sampingnya.
"Tidak ada yang aku khawatirkan, aku cukup senang bisa kembali ke mansion, aku juga ingin melanjutkan belajarku." Ucap Alyena.
Willy mengusap kepala Alyena, dia kembali melirik kepada Alyena, ada sesuatu yang di sembunyikannya, Darko sangat yakin itu. Mereka telah tiba di mansion, para pelayan dan pengawal telah berkumpul di depan mansion, ada beberapa perubahan yang di lihat oleh Alyena, kepala pengawal telah berganti, pengawal telah bertambah dan di depan mansion di jaga oleh bodyguard di setiap sudut, mereka terlihat lebih menyeramkan dengan tubuh besar dan kekar. Willy dan Alyena segera keluar dari dalam mobil, mereka berdiri di sana sambil memperhatikan para pelayan dan pengawal yang telah berkumpul.
Sebelum mereka masuk, Willy berbicara kepada semua penghuni mansion, mereka menunduk dan mendengarkan setiap ucapannya.
"Kalian telah menyaksikan hukuman yang telah aku berikan kepada seorang pengkhianat, apalagi dia menyusup ke dalam mansionku dan melakukan kejahatan, aku tidak akan mentolerir siapapun dia, aku akan menghukumnya."
Setelah pidato panjang Willy, mereka segera masuk ke dalam dan sarapan, Alyena cukup diam hari ini, dia terus memikirkan Jafier semalam dan memikirkan bagaimana cara dia keluar dari kamarnya semalam, sementara ada kak Audry dan kak Willy di luar sana.
"Sejak tadi kau diam saja, katakan kepadaku jika kau ingin mengatakan sesuatu Alyena, jangan diam saja, hem?"
"Apa kakak tahu siapa penyusup itu?" tanyanya.
"Kau ingin mengetahuinya?"
Alyena mengangguk, "Ya, aku ingin mengetahuinya, siapa dia?"
Apakah kakak tahu kalau tuan Regan yang masuk ke dalam mansion?
"Hem, dia adalah kepala pengawal di mansion ini, aku tidak begitu mengenal kepala pengawal itu, dia rekomendasi dari kepala pengawal sebelumnya, sepertinya dia bekerja dengan seseorang, tetapi Sharp sama sekali bungkam, dia lebih merelakan lidahnya di potong dibandingkan harus mengungkap siapa dalangnya." Ucap Willy tanpa menatap wajah terkejut Alyena.
"L-lidahnya di potong?" Ucapnya gugup.
Willy tertawa, "Itu hanya perumpamaan Alyena, aku tidak memotong lidah seseorang, aku hanya membawanya ke kantor polisi dan memenjarakannya, kau pikir kakak sesadis itu, tapi...kakak bisa melakukannya jika itu untuk melindungimu, Alyena." Ucap Willy.
Rupanya tuan regan belum ketahuan oleh kak Willy, aku tidak bermaksud melindunginya, aku melakukannya karena aku pernah bekerja di tempatnya dan dia setidaknya memperlakukan aku dengan baik, sebelum pria itu menciumku.
~
Setelah belajar seharian, Alyena berjalan-jalan dan duduk di kursi taman, dia lagi-lagi berjalan ke tempat bunga-bunga indah beraneka ragam di sana, salah satu favorit Alyena adalah bunga Rose merah yang juga di sukai oleh ibunya, dia menunduk dan mencium aromanya, setelah itu dia memotretnya.
"Selamat pagi Nona." Suara itu mengagetkan Alyena dia berbalik dan menatap pria tua yang pernah di jumpainya di kebun ini.
"Selamat pagi."
"Ah, aku senang sekali nona kembali lagi ke mansion, syurkurlah anda tidak apa-apa, aku mendengar penyusup memasuki mansion."
"iya aku baik-baik saja terima kasih, jangan khawatir, kak Willy telah menangkap penyusupnya." Ucap Alyena.
"Anda sangat mirip dengan Nyonya dan tuan Nick, aku seakan-akan bertemu kembali dengannya, sudah begitu lama aku tidak lagi melihat tuan muda, aku tidak menyangka dia pergi seperti itu, dia bahkan mendahuluiku pergi selamanya." Ucapnya dengan sedih yang tulus.
"Boleh aku memanggil anda kakek?" ucap Alyena.
Pria tua itu tersenyum, "Tentu saja Nona."
"Apakah kakek mengetahui masa lalu ayahku? mengapa dia di panggil seorang buronan?" tanya Alyena, dia mengingat seorang wanita yang pernah di cakarnya berteriak menyebut buronan kepada ayahnya, apa maksud semua itu?
Tampak pria tua itu ragu untuk mengatakannya, dia tertunduk seperti berpikir keras apakah bijaksana mengatakan masa lalu tuan Nick yang mengerikan.
"Alyena?"
Suara itu membuat Alyena berbalik, dia menatap Jafier berjalan ke arahnya, dia kembali menatap kakek itu, tetapi kakek itu telah pergi.
"Apa yang kau lakukan di sini seorang diri, sayang?" Ucap Jafier, tidak biasanya dia hanya menyapanya saja, dia bahkan menjaga jarak kepada Alyena, seakan seseorang mengawasinya dari kejauhan.
"Aku hanya menyukai bunga-bunga di taman ini, ada apa paman, kenapa paman bersikap seperti itu?" Ucap Alyena, dia kemudian menatap dari kejauhan kakaknya Willy sedang menggunakan teropong memantau Jafier dari kejauhan.
Alyena terkikik, "Kak Willy lucu sekali, sampai menggunakan teropong segala." Ucap Alyena terkekeh.
"Jadi kau menganggap Willy yang berlebihan itu lucu? aku sama sekali tidak bisa menyentuhmu jika sikapnya seperti itu, bagaimana dia akan melepasmu jika dia terlalu posesif." Ucap Jafier sambil menggelengkan kepalanya.
"Mau berjalan-jalan, paman?" Ucap Alyena mengajaknya berjalan-jalan mengelilingi mansion untuk menghindari pengawasan Willy.
"Tentu," Mereka berjalan menjauhi area taman bunga, meskipun Willy mengomel dan segera menelepon Jafier agar mereka tidak berjalan terlalu jauh. "Gara-gara Willy sialan itu, aku bahkan tidak bisa memegang tanganmu." Ucap Jafier.
Alyena terkekeh, pipinya merona mendengar panggilan sayang dari Jafier untuknya, ketika mereka sudah jauh dari pengawasan Willy, Alyena tiba-tiba memeluk Jafier, mereka berada di dalam taman yang di tumbuhi banyak pepohonan pinus. "Kau merindukanku?" bisik Jafier.
"Hem? ya aku sangat merindukan paman, oh ya bagaimana semalam paman bisa keluar dari apartemen, padahal kak Willy dan Audry ada di luar sana." Tanyanya.
"Jangan khawatir aku bisa keluar dari sana semalam, tanpa mereka tahu, apalagi terpaksa aku harus pergi karena ada seseorang yang jatuh tertidur karena ciumanku." bisik Jafier di telinga Alyena.
Pipi Alyena merah merona, dia menyembunyikan wajahnya di tubuh Jafier, kepalanya tepat berada di dadanya, jafier sekali lagi mengangkat tubuh Alyena dan mensejajarkan wajah mereka, tatapannya lembut memandang wajah cantik Alyena. Dia memberikan kecupan hangat di bibir Alyena membuatnya kembali hanyut dalam ciuman Jafier, tubuhnya seakan meleleh ketika Jafier menyentuhnya, Alyena mengerang merasakan bibir Jafier terlalu mendominasinya, dia kesulitan bernapas.
""B-berhenti paman, uhh," Jafier melepaskan ciumannya ketika merasakan Alyena mendorongnya, dia kesulitan menahan serangan Jafier. Kaki Alyena terasa seperti Jelly, dia tidak memiliki tenaga sama sekali.
"Kau baik-baik saja Alyena?" Ucap Jafier, dia menurunkan Alyena dari pelukannya. "Aku baik-baik saja, paman." Ucapnya, napasnya masih belum beraturan, kakinya terasa lemas tak bertenaga, tubuhnya dipegang oleh Jafier jika tidak, dia akan terjatuh.
Jafier masih memerangkap tubuh Alyena di balik peopohonan, dia kembali melanjutkan serangannya di bibir Alyena, mengecupnya berirama membuat Alyena semakin terlena dan tanpa sadar dia mendesah. Suara desahan yang keluar dari bibirnya membuatnya terkesiap dia lalu mendorong Jafier dan menutup bibirnya, "S-suara apa itu tadi yang keluar dari bibirku." gumam Alyena.