Flower On The River

Flower On The River
Vol 58



izinkan aku menikahi Alyena. Aku mencintainya dan dia mencintaiku."


Ucapan Jafier masih terus terbayang di memori Willy. Matanya mengarah ketempat tidur Alyena. "Tch, mengapa Jafier begitu terburu-buru? Aku harus memikirkannya lebih jauh lagi. Aku tidak mau membuat kesalahan."


Malam itu Willy menemani Alyena di rumah sakit. Dia melarang keras Jafier menginap dan menemani Alyena. Dia butuh penyembuhan total agar luka-lukanya segera sembuh. Dia juga menyuruh Audry untuk kembali ke penthouse dan beristirahat, jadi besok dia bisa membawakan pakaian ganti untuknya dan untuk Alyena.


Mata Willy mulai memberat. Dia tertidur di sofa. Dia merasakan langkah seseorang mendekat. Dia membuka matanya lalu menatap seorang wanita mendekat ke Alyena. Wanita itu sangat cantik, dengan kulit seputih porselen dengan wajahnya yang tidak terlupakan, wanita yang sangat di rindukannya.


Mom?


Willy terbangun, tangannya seperti menggapai udara yang kosong, dia menghembuskan napasnya. "Aku bermimpi, baru kali ini aku memimpikan mom." Ucap Willy. Dia berdiri dan menuang air di gelas lalu meneguknya. Dia mendekat ke tepi tempat tidur Alyena dan melihatnya bergumam-gumam.


Willy mengusap rambut Alyena dengan lembut agar mimpi buruknya dapat menghilang. Alyena kembali tertidur pulas. Willy duduk di sebelah adiknya sambil menjawab pesan-pesan yang masuk.


Ada panggilan telepon dari Kilian Regan, tepat ketika dia tertidur dan tidak menyadari jika ponselnya berdering beberapa kali. Setelah itu di gantikan dengan pesan masuk di ponselnya.


Aku mendengar kabar tentang Alyena, aku turut menyesal dan bersalah atas kejadian yang menimpanya. Aku seharusnya mengirim pelayan yang mengaku teman Alyena itu agar kembali ke kampung halamannya. Sekali lagi aku minta maaf, William.


Willy memijit-mijit keningnya dan membalas pesan itu dengan singkat, dia mengatakan jangan memikirkannya, tidak usah khawatir. Untungnya Alyena tidak apa-apa, dia akan segera sembuh. Dia mengirimnya, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Aku berharap gadis gila itu merasakan jera karena perbuatannya sendiri."


***


Apa yang diinginkan Willy sepertinya salah besar. Wanita itu siuman dan mendapatkan perawatan, kepalanya masih sakit akibat pukulan keras yang di terimanya, tetapi dia terlihat baik-baik saja, dia bahkan bisa berbicara dengan lancar. Dia kini berada di ruang tersembunyi.


Pengawal itu begitu heran dengan kegilaan wanita itu. Dia sangat keras kepala, bahkan dia lebih rela di pukul di bandingkan harus mengakui kesalahannya. Dia berteriak-teriak bahwa Alyena lah yang salah. Alyena yang menghancurkan hidupnya hingga berakhir seperti ini. Karena Alyena pula Kilian Regan membencinya dan menatapnya dengan Jijik.


Matanya tajam menatap mereka. Gadis ini harus mengakuinya sebelum di bawa ke kantor polisi, agar mereka memiliki bukti kuat. Meskipun luka-luka Alyena bisa menjadi bukti kekerasan yang di alaminya, tetapi mereka sama-sama terluka dan sama-sama saling serang. Untuk itu Willy perlu bukti pengakuan gadis itu agar segalanya menjadi mudah dan dia akan mendapatkan hukuman berat.


"Cukup !"


Mereka berbalik. "Bukan begitu caranya menghadapi rusa kecil ini, kalian bahkan tidak bisa menghadapi rusa kecil jika dia sudah berubah dan memiliki tanduk. Iya kan?" Senyum Audry kepada Rudith.


Rudith meludah dengan keras. sengaja memperlihatkan kejijikannya, matanya menatap sinis kepada Audry. "Aha, kau pastilah kakak tersayang Alyena. Dia pastilah adik yang membosankan selalu bersembunyi di bawah ketiak baumu. Aku yakin saat ini Alyena masih belum sadar, bukan? kupikir cekikan ku ampuh juga. Sampai dia hampir kehilangan nyawanya kalau saja tidak ada yang memukul kepalaku dengan cara pengecut."


"Dasar wanita gila, j4lang kotor." Ucap Audry dengan tamparan keras mendarat di pipi gadis itu yang sudah membiru. Dia kembali berbalik menatap Audry dengan senyum mengerikan di wajahnya.


Audry memikirkan cara menjatuhkan mental gadis ini. Dan itu salah satu keahliannya. Menyerang dari dalam. Menyerang orang yang terpenting dalam hidupnya. Langkah sepatu Audry terdengar di ruangan itu. Dia tersenyum kepada Rudith.


"Aku ingin tahu bagaimana wajah Kilian ketika melihat wajahmu sekarang ini? Wajah gadis yang menyukainya dengan cara ironis, dia masuk ke dalam kamarnya mengendap-endap dan mencuri ciuman seorang pria yang ingin sekali di milikinya, tetapi sayang sekali, dia hanyalah si buruk rupa menjijikkan yang diusir oleh orang yang paling di cintainya." Ucap Audry dengan wajah menjengkelkan di depan Rudith.


Tebakan Audry benar. Gadis itu bereaksi dengan kata-katanya. Kemarahannya tersulut, seakan ingin mencakar Audry sekarang juga.


"Apakah pantas aku bersama Kilian? Apakah tuan kilian suatu hari akan memandangku? Rudith kecil menangis sambil menghayalkan Kilian Regan menjadi miliknya." Audry mengangkat Alisnya satu dan tersenyum miring.


"Hati busukmu itu bisa juga mencintai. Aku yakin Kilian akan melarikan diri keluar negeri, jika dia mengetahui apa yang tersimpan di hati gadis kecil yang terganggu otaknya karena kerusakan otak yang parah."


"KAU ! KAU TIDAK AKAN KUBIARKAN, LIHAT SAJA. AKU AKAN MEMBUNUH ADIKMU, ALYENA DAN MEMBUATMU MENYESALI SETIAP PERKATAANMU PADAKU."


Napasnya naik turun seirama dengan kemarahannya. Audry tersenyum dengan wajah mengerikan menatap Rudith.


"Sebelum kau melakukan keinginan busukmu itu, kau akan mati di tanganku. Aku akan membuatmu sengsara di bawah pengawasanku." Ucap Audry.


"Kurung dan rantai dia. Sampai dia mengakui kesalahannya, jika dia masih diam. Biarkan dia membusuk selamanya di tempat ini." Ucap Audry.


***


Dia berbalik dan melihat Willy sedang duduk dengan pakaian santai. Kemeja Flanel dengan warna nude dengan garis kotak-kotak serta di padu dengan celana jeans. Willy terlihat segar dan santai, dia duduk di sofa sambil membuka-buka tabletnya. Dia melirik ke arah Alyena dan segera berdiri ketika melihat Alyena telah bangun.


"Kakak tidak berangkat kerja?" Itu adalah Alyena kalimat pertama kali ketika menyapa kakaknya di pagi itu.


"Hm, kau menginginkan aku berangkat kerja? kenapa aku jadi sedih mendengarnya ya." Ucap Willy terlihat sedikit terluka.


"Haha, bukan itu maksudku, biasanya kan kakak sibuk, jam segini sudah ada di kantor." Willy tersenyum dan mengusap rambut Alyena.


"Mana mungkin aku pergi kerja sementara adik kesayanganku masih terluka seperti ini, lagi pula siapa yang akan berada di sisimu kalau bukan aku?" Ucap Willy.


Pintu terbuka, Jafier masuk dengan senyum tampan di wajahnya. "Aku selalu siap berada di sisi Alyena. Jadi kau bisa pergi kapan saja Willy." Ucapnya sambil menyimpan berbagai barang di atas meja.


"Pagi sekali. Kenapa kau menjeguk pasien pagi-pagi seperti ini, banyak hal yang ingin dilakukan Alyena. Misalnya dia ingin buang air kecil dan mengganti bajunya."


"Ukh kakak? kenapa menyebutkan buang air kecil segala sih." Alyena terlihat merona karena malu. Dia memalingkan wajahnya kepada mereka berdua. Jafier tersenyum melihatnya. Alyena tampak meggemaskan dengan sikap malu-malunya.


"Untuk itu sebaiknya kalian keluar dulu. Banyak hal yang ingin dilakukan wanita di pagi hari." Audry baru saja datang bersama Nick dan Clara. Setelah mengobrol dengan Alyena sebentar, para pria keluar dari kamar, sementara Alyena di bantu oleh Audry berganti baju, dan membersihkan sedikit tubuhnya dari rasa gerah.


Setelah berganti pakaian, Alyena sarapan bersama dengan yang lain, di dalam kamar itu cukup ramai sehingga Audry dan Willy keluar dari ruangan memberikan kesempatan kepada teman-teman Alyena untuk sedikit bercerita.


"Aku tidak menyangka gadis mengerikan itu menungguku ketika sepulang kuliah, kalian tahu? dia bersembunyi di belakang taman kampus, ketika aku masuk ke dalam mobil, dia juga turut masuk. Ugh mengerikan sekali. Kalian lihat wajahnya? Dia seperti sedang sakit dan berkeliaran membawa senjata tajam." Ucap Clara.


"Dia memang sakit. Temanku dari Gimmelwald memberitahuku, dia harus segera di obati, jika tidak. Dia akan semakin parah." Ucap Alyena.


"Jangan mengkhawatirkan gadis itu. Kau cukup fokus pada kesembuhanmu." Ucap Jafier, dia duduk di samping Alyena.


Ketukan terdengar dari pintu. Membuat mereka berbalik ketika melihat siapa yang datang. Dia adalah Kilian Regan. Pria itu membawa bunga dan bingkisan di tangannya. Pandangan tajam terlihat dari wajah Jafier, sementara Kilian tidak mempedulikannya. Dia hanya menatap Alyena dan luka-luka di wajah dan tangannya


"Bagaimana keadaanmu, Alyena." Ucap Kilian memberikan bunga itu kepada Alyena sedangkan bingkisan yang di bawanya diambil oleh Clara dan di taruh di atas meja.


"Aku lumayan baikan sekarang." Jawabnya.


"Aku ingin bicara sebentar kepada Alyena." Ucap Kilian kepada mereka. Nick dan Clara keluar tanpa di suruh dua kali, mereka memberikan tatapan penuh arti kepada Alyena.


"Jika kau tidak keberatan, bisakah kau pergi? Aku ingin berbicara dengan Alyena." Ucap Kilian kepada Jafier.


"10 menit. Tidak lebih dari itu, aku akan masuk sebentar lagi." Ucap Jafier menatap tajam kepada Kilian. Dia segera keluar dari kamar dan menunggu di depan pintu masuk.


Kilian sedikit tersenyum minta maaf kepada Alyena. Dia memandangnya dengan tatapan mata bersalah. "Seharusnya aku mengirim gadis itu langsung ke kampung halamannya. Dia gadis berbahaya." Ucap Kilian.


"Bukan salah anda, dia melakukan tindakan mengerikan ini, itu karena keinginannya sendiri. Sudah sejak lama kami memang tidak memiliki hubungan baik. Apalagi ketika dia melihat anda mengobrol denganku, hal itu menyulut emosinya. Dia sangat menyukai dan mengagumi anda, itu semua di mulai sejak kami bekerja di perkebunan. Saat itu, dia tahu bahwa anda sering mengundangku untuk makan, hal itu membuatnya marah dan tidak terima."


Alyena bisa melihat wajah horor yang di perlihatkan Kilian, dan itu tampak lucu. Alyena lalu melanjutkan. "Wanita itu menyimpan semua foto-foto anda dengan berbagai pose di ponselnya, anda tidak tahu?"


Terlihat Kilian Regan merinding dan wajah mengerikan terlihat di wajahnya.


"Semua foto-foto itu di simpan di ponselnya, mungkin dia memotret anda ketika dia masih bekerja di mansion anda, dia bahkan bisa memasuki kamar pribadi anda dan mengambil beberapa foto.


"B-benarkah?" Ucap Kilian dengan wajah jijik dan horor yang di perlihatkan di wajahnya.