
Semakin gelap jalan yang dilaluinya di hutan, semakin nyata wajah ruzy di kepalanya, wajahnya semakin dirindukannya entah sejak kapan wanita bermata hazel telah memiliki hatinya meskipun dia tahu sampai kapanpun dia tidak akan pernah memilikinya.
Aku ingat hari itu...
Kami memasuki sebuah kedai tepatnya di rumah makan kecil di pinggiran kota pitthsburg, kami duduk menceritakan tentang perlombaan pacuan kuda, Alex baru kali ini kalah di depan jhon, aku tidak heran dengan kedipan dari wanita-wanita yang ada di sana, aku harus menjauhkannya tentu saja dari kebengisan Juan jika dia terbangun.
Mataku berkedip-kedip menatap wanita-wanita itu, mataku tiba-tiba menangkapnya mata hazel cerah dengan kulit seputih porselen, meskipun bajunya sedikit kumal, tetapi wajah cantiknya tidak akan pernah kulupakan, aku betul-betul harus menjauhkannya dari Juan, dia tidak akan tinggal diam jika melihatnya, dia akan menjadi koleksi berharganya.
Sebaiknya aku harus pergi dari sini sebelum dia terbangun. pikirku sambil kembali mengerlingnya dengan kecantikan yang betul-betul alami, betul-betul cantik. Aku tersenyum sedikit menatapnya yang melotot kepada makanannya yang mulai dingin.
Hari itu...
Aku tiba dikediaman Collagher menemui Alex seperti biasanya dan tanpa kusangka gadis itu ada disana dengan langkah ringannya yang sangat mempesona, menuangkan air kedalam gelas Alex, mataku tidak bisa beralih dari wajah cantiknya. Alex sampai memergokiku yang tengah memandangnya.
Kau tahu ruzy, kau tidak pernah lepas dari pengawasanku, bukan karena cinta gila Juan padamu, tapi diriku sendiri, aku mencintaimu sejak awal, tapi aku terlalu pengecut untuk membuatmu menjadi milikku. Ketakutanku dengan diriku yang tidak seperti orang normal lainnya, aku takut menyakitimu.
Nick berhenti di derasnya aliran sungai, melepas lelah sejak pelariannya dari bus yang akan mengantarnya ke LA, Nick mencipratkan air dingin di wajahnya.
"Hanya melihatmu...kumohon aku ingin memandangmu untuk terakhir kalinya ruzy, dan setelah itu aku akan pergi." gumamnya.
"Lihat ! siapa yang gila sekarang!" gumam Juan dari pantulan air .
~
Malam itu begitu gelap, hujan deras dan petir menyambar-nyambar membuat mereka yang mendengarnya akan terkejut dibuatnya. Alex akhirnya menutup buku yang sejak tadi dibacanya, dia lalu menatap jam di tangannya, tepat pukul 1 malam, Alex memijit keningnya. Tanpa sadar dia membaca dengan serius tanpa memperdulikan waktu.
Dia beranjak dari kursi kerjanya, dua hari lagi dia akan menikah dengan ruzy, seharusnya dia beristirahat agar tubuhnya menjadi segar.
Alex membuka kamar yang gelap itu dan memandang ruzy yang sudah tertidur lelap, dia membuka pakaiannya dan hanya mengenakan boxer kemudian dia menyusup di balik selimut yang dikenakan ruzy.
Tangannya meraih tubuh ruzy memeluknya erat dari belakang kemudian mengecup punggung dan puncak kepala Ruzy. Dia mencoba menutup matanya, tetapi rasa kantuknya tidak juga datang, dia kemudian merentangkan tubuhnya, tetapi denyutan diantara kakinya semakin liar.
"Sial ! apakah aku harus mandi di tengah malam begini?" Gumam alex menatap kamarnya yang dalam keadaan gelap.
Ruzy meraba wajah alex yang berada di sampingnya, lalu bergumam pelan di samping Alex.
"Kenapa kau belum tidur alex."
"Kau sudah bangun sayang?" kata alex senang, tanpa meminta izin, dia lalu bangkit mengecup ruzy dan dengan perlahan membuka bibirnya kemudian menjelajahi setiap inci dari ruzy, napas Alex semakin kasar dan keras, ruzy melenguh ketika alex mendesakkan dirinya diantara diri ruzy, guyuran hujan yang meraung-raung diluar sana menutupi desahan ruzy yang tidak bisa ditahannya.
Hingga pukul 3 pagi alex masih belum selesai dengan ruzy, beberapa kali ruzy dibuatnya hanyut dalam percintaannya dengan alex hingga ruzy meminta kepada alex untuk berhenti karena dia begitu lelah, tetapi setiap kali ruzy memohon agar alex membiarkan tubuhnya beristirahat, alex melanjutkan kembali percintaannya membuat ruzy mengeluh padanya.
~
Ruzy masih terlelap padahal hari sudah siang, dia kemudian membuka matanya yang kelelahan ketika mendengar tawa Willy yang menarik-narik selimutnya. Ruzy tersenyum menatap buah hatinya sedang duduk diantara dirinya dan Alex.
Bibi Emy meninggalkan Willy diantara kami berdua. "Mommy? serunya. Ruzy memeluknya dan mengecup pipinya yang menggemaskan.
Willy kemudian menarik-narik rambut Alex menyuruhnya untuk bangun, Alex menyipitkan matanya menatap Willy kemudian dengan tersenyum dia segera membaringkan Willy diantara mereka.
"Jangan menyalahkan aku Willy! daddy hanya berusaha memberikan adik untukmu".
gumamnya di telinga Willy. Ruzy menyipitkan matanya, dia kesal dengan alex, tubuhnya terasa remuk dan sangat letih, tubuhnya tidak boleh memiliki tanda kebiruan ketika dia mengenakan gaun pengantinnya nanti.
"Kita harus tidur terpisah sampai kita selesai menikah Alex." Kata ruzy ketus padanya.
"Apa yang salah sayang, kenapa kita harus tidur terpisah?" wajah alex seperti tidak merasa bersalah sama sekali.
"Lihat tubuhku alex penuh dengan gigitan dan kecupanmu, bagaimana aku bisa mengenakan gaun pengantinku nanti?" Willy menatap wajah ibunya lalu menatap wajah ayahnya, kemudian dia menggumam-gumam seakan-akan mereka bercakap-cakap dengannya.
Semalam Alex sangat kasar dan berlebihan, sekali dia memulai dia enggan untuk berhenti.
"Maafkan aku sayang." Alex terduduk tubuhnya terasa segar dia lalu menggeliat dan memutari tempat tidur itu lalu menghampiri Ruzy.
"Kau marah? bisiknya, ruzy tidak bergerak dari tempat tidurnya dia hanya memunggungi Alex.
"Maafkan aku sayang, kumohon, hem." Ruzy kemudian melirik alex lalu dengan mudahnya dia menganggukkan kepalanya. alex lalu tersenyum senang dia kemudian mengecup Ruzy.
~
Villa itu sudah diberi tanda garis polisi, tempatnya benar-benar lapuk dan hancur, Nick menerobos masuk dan membaringkan tubuhnya yang kelelahan di kamar tidurnya, seketika dia tertidur pulas, kepalanya sakit kembali, dia berteriak-teriak menahan kesakitannya.
Waktu menunjukkan pukul 1 malam, Nick duduk ditepi tempat tidur memandang didalam kegelapan. Cahaya terasa bersinar di pelupuk matanya, wajah ruzy seketika muncul begitu saja seperti memori yang diputar ulang didalam ingatannya.
Bibirnya yang kering bersenandung dengan pelan, ingatannya membawanya kembali ke tepi sungai, ketika ruzy sedang beristirahat dan memejamkan matanya yang terlihat lelah karena menjemur seharian kain-kain besar dan panjang itu. Dia bersandar di pohon yang rindang lalu tertidur sebentar, kain-kain yang menumpuk itu masih ada tergeletak di sampingnya. Dia tersenyum menatapnya dari seberang sungai, ruzy bagai udara segar di tengah hutan yang gelap dan bagai bunga di atas sungai.
Tangannya yang besar mengambil kain-kain putih itu kemudian tanpa sepengetahuan ruzy, nick membantu menyelesaikan pekerjaannya sehingga ruzy dapat beristirahat setelah ia bangun.
Nick berjongkok dihadapannya, menatap wajah cantiknya, dan mengecupnya dia tersenyum kemudian dia kembali sembunyi di dalam hutan lalu mengawasinya.
~
Ruzy berniat tidur lebih awal kali ini, setelah Willy tertidur dikamarnya dia segera masuk kedalam kamar dan menguncinya sebelum alex masuk. Suara ketukan terdengar dari kamar ruzy.
"Ruzy kau menguncinya? Ruzy ! ketukan Alex makin kuat ketika ruzy tidak menggubrisnya.
"Tidurlah bersama Willy malam ini." Teriaknya tanpa memperdulikan permohonan Alex padanya.
"Dia betul-betul menguncinya." Kata alex menyerah dan menyeret kakinya ke kamar Willy. Dia berbaring di sisi Willy mengecup keningnya lalu tertidur pulas bersama Willy.
~
Angin malam menerobos di sisi jendela kamar ruzy, hujan kembali mengguyur kota itu dengan derasnya, ruangan menjadi gelap gulita, ruzy bangun dari tidurnya ia menatap tirai putih yang berterbangan, dengan telanjang kaki dia hendak mengunci jendelanya, tiba-tiba tangan besar mendekapnya, ruzy hendak berbalik tetapi tangannya memeluk erat tubuh ruzy yang meronta.
"Sstt...ini aku Ruzy, nick." suaranya begitu pelan napasnya sangat terasa di leher ruzy.
"Lepas..lepaskan aku Nick." tiba-tiba mulutnya tertutup oleh tangan besar itu.
"Jangan bersuara ruzy aku tidak akan menyakitimu, percayalah kumohon." desaknya.
Ruzy berhenti memberontak, kini tubuhnya berdiri kaku di pelukan Nick.
"Si..siapa kau?" Tanya ruzy dengan tubuh bergetar.
"Nick, aku nick...bukan Juan..kau tidak mengenal suaraku?" bisiknya.
Dengan perlahan dia memutar tubuh ruzy menatapnya lekat-lekat, tanpa berkata-kata apapun pada ruzy hanya menatapnya, nick merekam wajahnya...dia tersenyum sedih, kemudian dia mendaratkan ciumannya kepada ruzy dengan sedikit paksa, meskipun ruzy menolaknya, tapi tangan nick memegang rahang ruzy, bibirnya begitu dingin, dia melepas ciumannya pada ruzy kemudian mengecup keningnya.
"Selamat tinggal ruzy." Dia berbalik sebentar dan menghilang di kegelapan malam.