Flower On The River

Flower On The River
Vol 2



Perusahaan itu berada di Negara Amerika serikat, tepatnya di New York city, seorang pria baru saja keluar dari mobilnya, dia berjalan santai, tatapannya tajam ke depan, setiap pegawai perusahaan yang melihatnya, mereka akan mundur dengan perlahan dan diam-diam, mereka takut melakukan kontak mata dengan pemilik perusahaan multi mega itu. Pria itu melangkahkan kakinya diikuti oleh pengawal dan sekretarisnya.


"Sir, rapat akan di mulai 5 menit lagi." Ucap Sekretaris yang berjalan di sampingnya. "Batalkan, aku ada urusan penting." ucapnya.


Wajah sekretaris itu melongo, tetapi segera mengiyakan semua perkataan bosnya itu, ucapannya adalah titah yang harus di laksanakannya, dan tanpa kompromi.


Mereka tiba di lantai atas perusahaan yang merupakan kantor miliknya. Ketiga wanita yang duduk dengan tidak nyaman di sana, segera berdiri ketika melihat sang pemilik perusahaan ini telah datang.


"Maaf sir ada tamu yang sedang menunggu anda."


"Siapa?"


"Dia Tuan Javier Alvaro." Ucap sekretaris itu sambil tertunduk.


"Biarkan dia masuk." Ucap William.


Pria itu berjalan menuju ke kantor William, suasananya tiba-tiba berubah ketika pria bernama Javier mulai berjalan dan mendekati kantor william, matanya menatap ke depan, tanpa memperdulikan ketiga sekertaris yang menyapanya. "Si..silahkan lewat sini tuan." Salah satu sekretaris itu membuka pintu kantor dan membiarkannya masuk.


"Selamat pagi William, sepertinya kau sibuk." Ucap pria itu dengan suara baritonnya yang berat, dia nampak tersenyum miring, melihat ekspresi william ketika dia datang sepagi ini ke kantornya.


"Pagi sekali kau datang Javier, ada masalah apa?" Tanyanya, Willy duduk di kursinya menatap satu-satunya teman yang cukup dekat dengannya, selain rekan bisnis, Javier Alvaro merupakan salah satu pemilik perusahaan terbesar di Eropa, dia juga teman ngobrol dan minum Willy.


Dia menyeringai, "Bukan hal yang penting, tetapi aku ingin membicarakan mengenai proyek besar yang berada di Swiss, kau tahu proyek besar yang telah di ambil alih oleh keluarga besar Regan?"


"Ya, aku tahu." Perusahaannya meningkat pesat apalagi perusahaan yang baru berkembang itu ingin menjalin kerja sama dengan perusahaanku." Ucap willy seakan yang dikatakannya hanya sebuah lelucon.


"Ya, perusahaan itu akhir-akhir ini berkembang pesat, entahlah tetapi sepertinya perusahaan itu akan bekerja sama dengan perusahaan yang selalu menjadi saingan besarmu, Willy." Ucap pria itu menyeringai. Willy menaikkan alisnya sambil mentautkan jemarinya, dia menatap pria yang duduk sambil menyilangkan kakinya menghadap ke depan.


"Bagaimana? Apa kau tertarik dengan usul yang akan aku katakan?" Ucap pria berambut hitam itu, wajahnya tampan, memiliki garis rahang yang tegas, sama halnya dengan mata dan alisnya yang tajam, usianya 32 tahun, pria single yang selalu di kejar-kejar oleh wanita manapun, tubuhya yang atletis dan tentu saja seksi. Status singlenya selalu menjadi incaran wanita-wanita kelas atas, apalagi jika mereka mendapatkan kesempatan hanya untuk sekedar ngobrol dengan pria ini, membuatnya bangga dan mereka akan menyombongkannya kepada wanita lain.


"Oke, tentu Javier kenapa tidak, akan menyenangkan bekerja sama denganmu."


Dia tersenyum dan berjabat tangan dengan Willy, "Kita akan bertemu lagi Willy, aku nanti akan datang secara resmi ke perusahaanmu."


~


"Haaah lelahnya, memetik anggur betul-betul menguras tenaga, tetapi aku lebih memilih memetiknya di bandingkan harus meracik anggur itu menjadi sebuah minuman." Ucap Alyna sambil mengangkat kembali tangannya ketika melihat setangkai buah anggur kehitaman yang terlihat menggiurkan, apalagi di terik matahari seperti ini.


"Bersabarlah Alyna, sebentar lagi kita akan makan siang, aku sudah membuat makan siang untuk kita bertiga." Ucap Rudith sambil menyenggol bahu Alyna.


Tepat pukul 1 siang, semua para pekerja itu akhirnya beristirahat, mereka makan siang dengan membawa bekal masing-masing. Keluarga itu menyediakan makan siang untuk para pekerja tetapi kebanyakan para pekerja lebih memilih makanan itu di jadikan uang lauk mereka selama bekerja, sehingga ada tambahan dari gaji perbulan, meskipun sedikit.


"Oh ya, kalian tahu? Ada gosip segar yang beredar lho, aku baru saja mendengarnya pagi ini." Ucap Nalia sambil menggoyangkan bahunya, dan terkikik senang.


"Gosip apa? Jangan suka menguping pembicaraan orang Nalia." Tegur Rudith sambil memasukkan roti di mulutnya, Alyna mendengarkan sambil ikut berdebar, mereka bertiga ini suka sekali bergosip.


"Putra pertama keluarga Regan akan datang ke Mansionnya di dekat perkebunan anggur ini, dan menurut wanita yang bergosip tadi pagi, Putra pertama mereka itu sangat tampan dan katanya tuan muda itu terkenal baik dan ramah kepada semua orang." Ucapnya sambil terkikik senang.


"Benarkah? Kapan tuan muda tampan itu tiba?" Tanya Rudith.


"Sore ini, aku penasaran ingin melihat wajahnya."


Alyena hanya tersenyum dan ikut mendengarkan gosip mereka, "Bagaimana Alyena, kau tertarik?" Ucap Rudith sambil mengangkat alisnya tinggi-tinggi.


"Hei, meskipun dia tampan, kudengar usianya sangat jauh dari kita semua, apalagi dia putra sulung keluarga regan, jadi mungkin sekitar 29 atau 30 tahun usia tuan muda itu."


"Siapa yang perduli dengan usia, Alyena? Ck ck, apa kau tidak tahu? Semakin matang usianya semakin dia berpengalaman, apalagi berpengalaman di atas tempat tidur." Ucap Judith, membuat Nalia terkikik senang dan memukul-mukul bahu temannya ini.


"Ck kalian ini, jadi apa yang akan kalian lakukan jika dia betul-betul datang, apa rencana kalian?" Tanya Alyena sambil mencomot satu sandwich ke dalam mulutnya.


"Astaga, Alyena kami tidak memiliki rencana apapun, meskipun kami menyukainya, tetapi tentu saja kami tidak berani mencari perhatian tuan muda Regan. Menatap ketampanannya saja kita sudah beruntung, sayang."


"Mana mungkin dia akan menatap pekerja rendahan seperti kita ini, sayang sekali, yang bisa kita lakukan hanyalah berkhayal di tempat tidur hangat kita." mereka berdua terkikik, melihat teman-temannya seperti itu membuat Alyna mendengus. Saat ini yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana dia mengumpulkan uang untuk berangkat ke kota besar itu dan mencari kakaknya, dia tidak begitu perduli mengenai siapa tuan muda tampan pemilik perkebunan anggur ini.


Bunyi bel panjang terdengar seantero perkebunan, mereka semua segera bersiap-siap untuk kembali bekerja, mereka berdua masih saling mendorong dan berbincang mengenai tuan muda itu, Alyena menatap kebun anggur yang sangat luas itu, luas perkebunan keluarga Regan bukan main-main, mereka menghasilkan anggur berton-ton dan menjadikannya Wine dan mendistributorkan ke berbagai negara di Eropa.


Sore itu mereka semua selesai bekerja, mereka merapikan semua peralatan dan segera mengganti seragam mereka dengan pakaian yang mereka gunakan ketika berangkat kerja.


"Bagaimana kalau kita bermalam di rumah Alyena malam ini?" Ucap Rudith. Nalia lalu menggelengkan kepalanya. "Nanti saja kalau kita libur akhir pekan, aku lelah sekali, malam ini aku ingin segera pulang dan langsung tidur, punggungku terasa mau patah." Ucapnya.


"Ehhm oke, janji ya akhir pekan ini, bagaimana Alyena?" tanyanya.


"Sesuka kalian saja, pintuku selalu terbuka untuk kalian." Ucap Alyena sambil menguap, dia pun sangat lelah dan ingin segera berbaring di tempat tidur empuknya. Mereka saling melambai ketika di persimpangan jalan, meskipun jarak rumah mereka masing-masing tidak begitu jauh.


Alyena masuk kerumahnya yang cukup besar untuk di tinggali seorang diri, tanpa ragu dia menghempaskan tubuhnya di atas sofa empuk dan menutup kedua matanya. "Aku harus membuat makan malam dan setelah itu beristirahat." Ucapnya, dia menatap dirinya di depan cermin, wajah pucat tampak terlihat di wajahnya yang lelah setelah habis bekerja, kulitnya tidak sama seperti dengan teman-temannya yang lain, kulitnya sangat putih meskipun tidak seperti ibunya yang seputih porselen, wajah cantiknya terlihat lelah, setelah selesai mandi, Alyna segera mengenakan pakaian tidurnya dan bersiap-siap untuk tidur. Entah mengapa jantungnya berdebar-debar, seperti sesuatu yang besar akan menantinya.


"Ck, tidur tidur, berhenti berhayal Alyena." Ucapnya kepada dirinya sendiri.


•••


Keluarga itu terkenal dengan perkebunan anggur terbesar di Swiss dengan luas kebunnya mencapai 7 juta hektar, kebun anggur yang betul-betul luas. Keluarga Regan memiliki seorang putra bernama Kilian Regan, seorang tuan muda yang baru saja kembali dari London dan kembali ke Swiss untuk mengurusi perkebunan keluarganya, dia merupakan pewaris satu-satunya keluarga Regan.


Sore itu tiga mobil mewah telah tiba di kediaman itu, semua pelayan menyambut tuan muda itu, dia keluar dari mobilnya dan tersenyum ramah kepada mereka semua yang menyambutnya.


"Selamat datang tuan muda, aku tidak menyangka anda lebih memilih untuk tinggal di mansion dingin ini." Ucap pria tua yang bernama Bernette, dia kepala pelayan di Mansion itu.


"Lama tidak berjumpa denganmu Bernet, kau tidak berubah sejak terakhir aku melihatmu." Ucap Kilian.


"Terima kasih untuk perhatiannya tuan muda, anda pasti lelah, silahkan masuk." Ucap kepala pelayan itu. Seluruh pelayan di sana heboh dengan ketampanan tuan muda mereka, tanpa takut, mereka saling mendorong dan saling berbisik, membuat kepala pelayan itu berbalik dan memberikan teguran keras lewat matanya.


"Aku akan beristirahat di kamarku, Bernet." Ucapnya.


"Baik tuan."


"Jangan membangunkanku untuk makan malam."


"Baik tuan."


Tuan muda itu lalu beranjak dan masuk ke ruangannya, dia melangkah ke balkon luas yang berada di lantai dua, dia membuka pintu balkonnya lebar-lebar, dia menatap perkebunan anggur yang terbentang luas di hadapannya, dia dapat melihat masih ada pekerja yang berada di kebun anggur itu.


Tuan muda itu bernama Killian Regan, dia merupakan putra sulung dari keluarga besar Regan, usianya 29 tahun, tentu saja dia memiliki wajah yang tampan dan memiliki senyum menawan, mampu membuat wanita merona tanpa di minta, pria itu menatap perkebunan luas itu, membuat senyumnya mengembang. "Akhirnya perkebunan ini berkembang juga, aku pikir ayah akan menjualnya dan menyia-nyiakan kesempatan untuk memproduksi anggur terbaik di desa Gimmelwald ini." Ucapnya.


•••


Telepon berdering di atas nakas, Willy mengambilnya dan menyingkirkan tangan seorang wanita yang melingkar di pinggangnya, dia seperti melilit tubuh willy dengan tubuhnya.


"Halo Audry, Ada apa?" tanya Willy, dia menutup matanya karena masih pusing, dia minum-minum semalaman bersama wanita yang masih tidur di sampingnya, dia mengernyit karena merasakan hembusan napas dari wanita yang tidur di sebelahnya, dia bahkan tidak tahu siapa nama wanita di sebelahnya ini, dia kemudian bangun dari tidurnya dan menyingkirkan kaki wanita itu.


"Aku sedang dalam perjalanan bisnis, kenapa?"


"Sepertinya kau sibuk, aku berencana ke pemakaman ayah besok, kau ingin ikut?" tanya Audry.


"Entahlah Audrey, besok aku ada rapat penting, sepertinya aku tidak bisa." Ucap Willy sambil memijat-mijat kepalanya.


"Sudahlah, kau selalu sibuk, aku tutup, Oh ya satu hal lagi, wanita di sampingmu itu siapa? apa dia kekasihmu?"


"Entah, aku bahkan tidak tahu namanya."


Bunyi telepon yang di tutup keras dari seberang telepon membuat Willy berdecak, dia kemudian berjalan dan melilitkan handuk di pinggulnya, dia mengambil liontin yang di taruhnya di atas meja dan menatapnya, "Mom, maafkan aku." Ucap Willy memandang wajah cantik ibunya ketika masih muda dulu, dia kembali menyimpannya di atas meja, dan melangkah ke kamar mandi, nama ibunya tertulis jelas di liontin itu, Ruzy Chandellier.