
Nesya buru-buru menuju kamar, ia tidak mau mood suaminya kembali buruk. Ia membuka pintu kamar tergesa-gesa, dilihatnya suaminya yang berdiri di depan jendela menengok ke arah luar. Bukannya apa, Nesya takut kalau suaminya kesambet kelamaan berdiri di depan jendela. Untungnya Nesya datang di saat yang tepat.
Nesya langsung melingkarkan tangannya di punggung suaminya. Ia memeluk dari belakang tubuh jangkung suaminya. Kepalanya yang hanya sampai di punggung mengusel-usel dengan maksud bercanda. Tapi entahlah! suami respon saja enggak! Sebegitu kecewanya kah suaminya atas keadaan ini.
"Aku kok ditinggalin sih?" tanya Nesya memecah keheningan.
"Aku akan ceritakan pada mama semuanya, aku nggak mau Mama terus-terusan nyalahin kamu karena belum hamil."
"Aku nggak setuju!" bantah Nesya.
Nolan melonggarkan tangan Nesya, ia berbalik dan melihat ke arah Nesya.
"Kenapa? Kamu mau nutupi semua dari Mama supaya Mama bisa terus-terusan nyalahin kamu! Aku nggak bisa Nes! Aku nggak akan biarkan mama menekan kamu lagi karena sesuatu yang memang bukan kesalahan kamu!"
"Sstttt ....," Nesya mengecup singkat bibir suaminya.
"Aku lebih suka kita minta mama mendoakan agar program kehamilan kita lancar, tanpa perlu memberi tahu siapa yang bermasalah atau nggak!"
"Nes," Nolan tak setuju dengan ide Nesya.
"Bang, kalo Mama tahu Abang bermasalah, itu akan semakin membuat Mama semakin panik dan mengila untuk mengurusi program hamil kita. Tekanan yang Bang No terima akan semakin besar, kalau nggak sesuai keinginan pasti mereka akan kecewa. Iya aku tahu, tujuannya memang baik. Tapi kita tidak bisa terus-terusan dipantau oleh Mama. Kita berhak kan menentukan jalan yang kita ambil sendiri untuk bisa punya anak."
Nolan berpikir, ucapan Nesya memang ada benarnya. Kenapa ia tak berpikir sampai kesitu, ia hanya berpikir hanya membuat orang - orang yang disayangi kecewa. Justru ia harus buktikan pada mereka, ia bisa mengatasi masalah rumah tangganya sendiri.
"Kamu bener Sayang," ucap Nolan.
Nesya mengalungkan tangan di leher suaminya.
"Kita akan jalani dengan bahagia program in, kita partner sukses punya anak. Kita tawakal dan berusaha, untuk keberhasilnya kita serakah pada Allah. Kan Abang sendiri yang bilang sama aku. Sekeras apapun kita berusaha, kalau Allah belum memberi amanah, itu nggak akan terjadi. Jadi kita nikmati aja sampai kabar bahagia itu datang dan membuat semua orang ikut bahagia." Nesya bertutur penuh keyakinan, tapi tujuan utamanya adalah tidak membuat suasana hati suaminya buruk.
"Sekarang istriku jadi pinter bikin hati adem ya," puji Nolan, setelah mendengar pernyataan Nesya malah membuatnya jadi bertekad untuk yakin dirinya bisa.
"Aku juga pinter yang lain," ucap Nesya dengan gaya mengoda melirik ke arah ranjang.
Nolan yang gemas dan moodnya kembali baik mengangkat tubuh istrinya menuju jalan kebenaran, eh ... menuju ranjang maksudnya untuk tidur.
...***************...
Karena tidak ada jadwal operasi, Nesya bisa berangkat ke rumah sakit bersama suaminya pagi ini. Tapi sebelum mereka pergi, keduanya harus sarapan dengan keluarga.
Nesya hanya perlu menyiapkan mental bertemu mama mertua yang kepo dengan pernyataan suaminya. Ia berharap Nolan bisa menangani masalah mama mertua.
"Pagi Pa," sapa Nolan pada Papa yang masih sibuk dengan tabletnya tanpa Mama tercinta.
"Pagi Nak," jawab Pak Hendrawan.
"Pagi Pa," sapa Nesya.
"Hmmm ...," balas Pak Hendrawan tanpa melihat Nesya.
Nesya langsung duduk saja di kursi, ia sudah terbiasa di anggap makhluk tak kasat mata oleh Papa mertua.
Tak lama berselang Mama Mitha datang dengan secangkir teh yang diletakan di depan Pak Hendrawan.
Mama Mitha menatap bergantian Nolan dan Nesya seolah meminta penjelasan. Nesya sudah menduga kalau Mama Mitha pasti belum bisa move on dari semalam sebelum salah satu dari mereka ada yang memberi argumen.
"Ma, nanti selesai sarapan. Ada yang mau aku omongin," ucap Nolan.
"Ya, harus No, kamu jelaskan sesuatu sama Mama!"
Keempat orang di meja makan ini, menikmati sarapan dengan tenang.
Usai sarapan Nolan mengajak Mama Mitha ke kursi taman dekat kolam renang. Bicara di tempat terbuka akan membuat pikiran semakin rileks.
"Ma, jadi gini. Aku sama Nesya sudah dua hari ini menjalani program kehamilan."
"Serius! Nesya mau hamil?" tanya Mama Mitha terkejut.
"Ya Ma, Nesya nggak mau menunda untuk punya anak, ia ingin semuanya berjalan alami," ucap Nolan.
"Bener Nes! Kamu mau hamil?" tanya Mama Mitha dengan wajah bahagia.
Nesya mengangguk tak menyangka Mama mertua sebahagia itu, apalagi kalau Nesya beneran hamil. Mama Mertua langsung memeluk Nesya dengan erat. Nesya pun membalas memeluk wanita glamor ini.
"Mama senang banget Nes," ucap Mama Mitha mencium kening Nesya.
"Kita minta doanya ya Ma, semoga keinginan aku sama Bang No, bisa segera terwujud," ucap Nesya.
"Pasti Nak, jadi kalian sudah ketemu dokter?" tanya Mama Mitha.
"Sudah Ma," jawab Nolan.
"Terus, Gimana hasilnya, Kalian berdua pasti subur 'kan," seru Mama Mitha masih dengan tawa ceria.
Nolan dan Nesya saling pandang.
"InsyaAllah Ma," jawab Nesya, sebelum suaminya salah ucap dan bisa merusak momen bahagia ini.
"Dokter siapa? Kalian harus pilih dokter kandungan terbaik atau Mama aja yang pilihkan dokter terbaik untuk kalian," ucap Mama Mitha.
Nolan menghembuskan nafas kasar, lagi - lagi Mama tercinta mau ikut-ikutan masalah program hamil.
"Ma, untuk masalah program kehamilan aku dan Nesya, lebih baik kami berdua yang pikirkan. Kita hanya minta doa saja dari Mama semoga keinginan kita bisa segera terkabul." Tutur Nolan.
"Tapi No ...," bantah Mama Mitha.
"Ma, Mama harus percaya sama kita, mama cukup mendukung dan mendoakan!" sela Nolan.
"Ya udah!" jawab Mama Mitha pasrah kali ini.
"Ma, aku sama Nesya akan berusaha, tapi tetap yang menentukan semuanya adalah Allah. Sang Pemilik Kehidupan."
"Ya No, Mama akan selalu berdoa supaya Mama cepat dapat cucu," ucap Mama Mitha memegangi pipi putranya.
"Ya udah Ma, kita pergi dulu." Nolan berdiri, tangan kanannya meraih tangan Nesya mengajaknya bangkit.
Mungkin ini langkah pertama Nesya dan Nolan untuk bisa bernafas dengan tenang dirumah keluarga Adiguna. Ia berharap Mama mertua tidak akan lagi mempersoalkan masalah anak. Dengan begitu ia berharap program kehamilanya akan berjalan sesuai yang diharapkan.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.....
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘😘 loph u dear