Dear Nolan

Dear Nolan
Hal Sederhana



"Owh ... Jadi Bang No nuduh Aku pakai pelet! gini-gini Nesya Nabilla orangnya fair Bang!"


Nolan yang tadi serius malah tertawa mendengar ucapan Nesya.


"Bisa nggak Nes kamu jangan bercanda." ucap Nolan.


"Bang No sendiri yang bilang. Nesya muter-muter di kepala Bang No pagi, siang, malam. Kata-kata Bang No seolah kayak tuduhan." Nesya menegaskan lagi kata-katanya.


"Bukan berarti pelet juga. Kalau benar gimana? akunya pengen mikirin kamu terus."


"Ya, jangan juga Bang No. Nanti gaji montir Bang No siapa yang mikirin kalau mikirin aku terus." Nesya ngeles dengan percaya diri.


Lagi-lagi Nolan melebarkan senyum, Nesya benar-benar membuatnya gila sekarang dengan semua elakannya.


Bilang mulai cinta sama aku, susah banget sih ngomongnya. Batin Nesya yang berpesta dengan hatinya.


Keheningan kembali terjadi ketika stereo memperdengarkan lagu kesukaan Nesya dari radio. Ia lebih memilih bernyanyi mengikuti irama lagu yang keluar. Itu sebenarnya hanya trik Nesya yang mengatasi kegugupannya. Sekarang ia merasa di atas Angin Nolan mulai bucin padanya. Tapi Nesya tetap harus sedikit jual mahal untuk melihat sejauh mana rasa cemburu Nolan.


"Udah buka," Nolan menunjuk rombong sate di dekat taman kota.


"Apa yang buka!" Nesya mengecilkan volume stereo.


Mobil tiba-tiba menepi di pinggir tanam kota.


"Nes, kita makan dulu nggak apa-apa?" tanya Nolan.


"Makan apa ya?" Nesya menyapu matanya, ia tidak melihat ada kafe atau restoran untuk di singgahi.


"Itu, sate! aku suka banget sate bapak itu. Kamu tunggu di mobil aku pesankan dulu." Nolan turun dari mobil tanpa menunggu persetujuan dari Nesya.


Nesya hanya pasrah. Nesya tahu Nolan bukan orang yang pelit apalagi tidak punya uang. Nolan tipe pria yang sederhana. Nesya menyadari mungkin Nolan lebih nyaman makan di pedagang kaki lima dengan gerobak. Ia bukan tipe pria yang memanjakan wanitanya untuk makan si cafe mahal dengan iringan musik. Saling menjaga image masing-masing ketika makan. Tapi Bang Nolan tipe pria yang menunjukkan dan mengenalkan siapa dirinya yang apa adanya.


"Ini Nes buat kamu?" Nolan masuk kembali ke dalam mobil, ia menyodorkan piring yang berisi tusukan sate lengkap dengan bumbu kacang.


Nesya menerima piring dari Nolan dan mengawasi sate itu dengan seksama. Nesya bukannya tidak suka dengan makanan Pinggir jalan tapi ia terbiasa dengan makan high class seperti kebiasaan keluarganya. Lagi pula di sisi lain makan sate akan terlihat sangat tidak elegan. Pasti bibirnya yang merona indah akan belepotan dengan bumbunya.


"Kamu nggak suka ya?" tanya Nolan. Ia mungkin sudah menghabiskan beberapa tusuk tapi piring Nesya masih utuh.


"Suka aja sih," ujar Nesya langsung mengambil satu tusukan dan memakannya seelegan mungkin.


Nolan tertawa melihat cara makan Nesya yang begitu pelan. Tapi tetap saja ada sisa bumbu di mulutnya. Kenapa hal kecil apapun yang dilakukan Nesya menjadi mengemaskan untuk Nolan.


Nolan mengambil tisue di dashboard mobil. Ia menyerahkan pada Nesya.


"Lap dulu tuh mulut kamu Nes."


Nesya yang merasa malu, langsung mengambil tisu dari Nolan dan mengelap mulutnya. Nesya juga memperhatikan Nolan yang mulutnya belepotan. Dengan spontan Nesya mengambil tisu dan menyapukan ke ujung bibir Nolan.


"Bang No, juga belepotan." Nesya masih mengusap tisu di ujung bibir Nolan.


Sedangkan yang di usap hanya diam seperti patung merasakan kerja jantungnya bekerja lebih cepat. Hingga Nesya sudah membuang tisu ke luar jendela.


"Bang No, kenapa diam!" Nesya membangun lamunan Nolan.


Nolan langsung tersontak kaget hingga ia batuk tersedak. Nesya yang panik mencari air langsung saja menyerahkan botol juice bekas miliknya. Nolan meneguk saja minuman pemberian Nesya, karena merasa ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokannya.


"Udah baikan?" tanya Nesya melihat Nolan yang sudah berhenti batuk.


"Ya, kamu bikin jantung aku mau copot Nes!" ucap Nolan.


"Ya udah, makan! habis itu kita pulang udah mau senja," ucap Nolan mengakhiri perdebatan dengan Nesya, yang pasti akan mempengaruhi kerja jantungnya lagi.


Nesya menyelesaikan sisa sate yang tinggal beberapa tusuk. Usai Keduanya menikmati sate, Nolan melajukan kendaraannya.


Nolan meneguk sisa jus yang diberikan Nesya. Nesya memperhatikan botol juicenya.


"Bang No, tadi itu jusnya bekas aku loh." Nesya mencoba mengingatkan.


"Memang kenapa?" Nolan masih meyetir dengan melihat Nesya sekilas.


"Kata orang dulu, minum satu gelas yang sama itu kayak ciuman tak langsung," ucap Nesya lalu menutup mulutnya dengan tangan.


"Ya nggak apa-apa dong sekarang ciuman tak langsung, nanti kalau sudah halal aku coba yang langsung." Nolan berucap yang keluar begitu saja.


"Ih, apaan sih! gombalanmu bikin ginjalku geli bro!" ucap Nesya menyamarkan rasa malu-malu dan rona merah di wajahnya.


Nolan lagi - lagi tertawa entah kenapa ketika bersama Nesya, ia seperti hilang kesadaran.


"Aku serius, aku nggak suka gombal-gombal."


Nesya tak bisa berkata apa-apa lagi, hatinya sudah berbunga seperti di penuhi bunga edelweis.


Ini kayak pengungkapan cinta tak langsung nggak sih? Plis Nesya kamu jangan ke buru geer nanti kalau nggak sesuai ekspektasi jadi sakit kenanya kayak kejatuhan kelapa.


Tanpa terasa mobil sudah berhenti di depan pagar rumah Nesya.


"Makasih ya Bang No," ucap Nesya.


"Nes, besok aku jemput lagi nggak apa-apa?" tanya Nolan.


"Iya boleh, tapi pagian dikit, kalau telat semenit saja aku tinggal naik ojol." Canda Nesya mengertak Nolan.


Nolan mengeryitkan dahinya. "Iya! ya udah kamu turun. Udah adzan Magrib. Biasanya waktu-waktu begini banyak setannya. Apalagi kita berdua gini."


"Iya, iya. Aku turun...." Nesya membuka seat belt.


Kali ini Nolan tidak seperti sopir angkot yang langsung pergi melesat begitu saja ketika penumpang turun. Nolan membuka kaca mobil dan Nesya bisa berdadah-dadah manja pada Nolan hingga mobilnya mulai melesat menjauhinya.


Udah mulai kena racun cinta aku kayaknya. Nesya tersenyum bahagia melenggang masuk ke dalam rumah.


.


.


.


.


.


TBC


uwuh ya😘😘😘😘


jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote dear 😘