Dear Nolan

Dear Nolan
Berubah



Nesya berharap Papa mertua tidak beraksi berlebihan melihat dirinya mengantikan Mama mertua yang sedang puyeng.


Nesya melihat dua orang pria beda generasi yang saling peluk memeluk. Apa ia sudah boleh pergi? Nampaknya papa mertua masih asik peluk memeluk belum menyadari keberadaannya. Nesya berdiri saja seperti guci antik sambil menunggu perintah selanjutnya dari Papa mertua.


Papa mertua mulai melihat ke arah Nesya dengan tatapan aneh. Nesya hanya menunduk siap menerima ocehan atau instruksi berikutnya.


"Nes, kamu masuk," seru Pak Hendrawan pada Nesya.


"Ya Pa," jawab Nesya.


Ia mengangguk pada tamu Papa mertua bermaksud pamit, walaupun baru pertama bertemu, Nesya merasakan sesuatu yang dekat dengan pria dewasa yang disebut Papa mertua Pak Raharja itu. Nesya menepis pikiran anehnya, mungkin itu hanya perasaannya saja.


Pria itu pun juga terus menatap Nesya seolah tak ingin perempuan muda itu pergi meninggalkannya. Hingga ia lupa tujuannya ke rumah Pak Hendrawan untuk beramah tamah sambil membicarakan kontrak kerjasama.


"Pak Bimantara," sapa Pak Hendrawan membangunkan tatapan kosong tamunya meratapi kepergian menantunya.


"Ya Pak Hendra," jawab pria itu beralih melihat pak Hendrawan.


"Mari, mari kita bicara," ucap Pak Hendrawan mempersilahkan tamunya duduk.


Sementara disisi ruangan yang berbeda, Nesya menaiki anak tangga dengan perasaan campur aduk. Nesya merasa ada sesuatu yang masih bercongkol di kepalanya. Ia seperti pernah bertemu bapak itu, tapi dimana? Mungkin saja itu pasiennya di rumah sakit? Nesya coba menepis pikiran - pikiran aneh yang mulai merambati kepalanya.


"Aduh!" celetuk Nesya menabrak dada datar yang ia kenal.


"Kenapa melamun?" tanya Nolan pada Nesya. Istrinya kelihatan linglung sampai-sampai tak menyadari ada dirinya.


Nesya memeluk tubuh suaminya mencari ketenangan.


"Aku penasaran sama teman Papa?" jawab Nesya jujur.


Nolan mengeryitkan dahi, ia melonggarkan pelukan Nesya dan menatap istrinya itu.


Nolan yang penasaran melihat sekilas dari atas balkon ke arah ruang tamu, ia memperhatikan orang yang di maksud Istri tercinta.


"Kenapa kamu penasaran sama teman Papa! Dia lebih ganteng dari suamimu! Kamu naksir sama Om-om!" Nolan menampakkan wajah kaku merasa mulai disulutkan istrinya api cemburu.


Nesya memukul lengan suaminya. "Ih Bang No apaan sih! Bukan begitu maksud aku! Aku merasa ada sesuatu yang berbeda saja! Istrimu juga susah mau jelasinya gimana?"


"Kita bicara di kamar aja!" sambung Nesya kini mengandeng lengan suaminya menuju kamar.


Nolan menutup pintu kamar. Ia masih menunggu penjelasan dari Nesya.


"Tadi kamu mau ngomong apa Nes?" tanya Nolan sambil merangkul pinggang Nesya.


Nesya memeluk erat suaminya. Entah kenapa, Nesya mendadak mendadak memikirkan seorang ayah. Bukan ayah Doni yang sudah menganggap Nesya seperti anaknya sendiri, tapi ayah kandungnya. Memang Nesya berjanji dalam hati tidak akan mengingat semua tentang ayah biologisnya. Hal itu hanya akan membangkitkan kenangan buruk ibunya. Tapi apakah salahnya jika ia ingin tahu saja siapa ayahnya.


"Bang No, aku bukan anak yang terlahir dari pecahan batu meteor yang jatuh ke bumi seperti kera sakti kan,"


Nolan terkekeh mendengar ocehan aneh istrinya. "Bukan dong Sayang, mana mungkin ada kera secantik kamu,"


"Ih ...," Nesya mencubit perut suaminya gemas.


"Memang kenapa sih Nes, kenapa kamu jadi aneh mendadak begini sih."


"Bang No, aku juga terlahir dari benih seorang pria kan. Meskipun aku sudah mendengar semua kejadiannya. Apakah sekarang salah, kalau aku ingin tahu siapa ayah kandungku. Aku juga tidak mau membuka luka lama Bunda. Tapi aku hanya ingin tahu saja, siapa pria yang sudah menodai Bunda. Apakah aku salah?" Tiba-tiba bulir bening keluar dari ujung mata Nesya.


Nolan melonggarkan pelukannya, ia menunduk menatap sang istri. Setelah bertemu dengan tamu Papanya kenapa istrinya menjadi aneh dan memikirkan ayah biologisnya.


Nolan menghapus air mata Nesya dengan jempol tangannya. "Sayang, tidak ada yang salah dengan keinginan kamu. Apa tidak sebaiknya, melupakan masa lalu dan menatap masa depan, kamu sudah punya ayah penganti yang luar biasa seperti Ayah Doni, kamu punya Pak Adrian yang menyayangi dan melindungi kamu seperti anaknya sendiri. Kenapa kamu harus sedih memikirkan orang yang sudah menyakiti orang-orang yang kamu sayang, dan juga entah dia peduli dengan kamu atau tidak! Lebih baik kita memikirkan kebahagiaan mereka, orang-orang yang menyayangi kamu!"


Nesya mengangguk dengan mengukir senyum di bibirnya, ia mulai sedikit tenang mendengar pertuah suaminya.


Suara ketukan pintu membuyarkan obrolan kedua orang ini.


"Sebentar Sayang, aku buka pintu dulu." Nolan melepaskan pelukan istrinya menuju pintu.


Pelayan perempuan menunduk ketika pintu kamar terbuka. "Maaf Den, Tuan besar panggil Non Nesya untuk bergabung bersama tamunya."


"Papa ajak Nesya, untuk gabung tamunya?" tanya Nolan heran. Pelayan perempuan itu mengangguk.


Hubungan Papa dan istrinya selama ini terlihat tidak terlalu harmonis. Apalagi mengajak untuk bergabung tamunya, pasti Nesya punya peran penting, Nolan sangat paham siapa Hendrawan Adiguna Papanya. Sebenarnya siapa tamu papanya yang bisa membuat istri dan Papanya berubah drastis.


"Ya sudah, bilang Papa sebentar lagi kita turun!" Seru Nolan.


Pelayan itu pun menunduk dan pergi.


.


.


.


.


.


.


TBC .....


Nanggung ya😁


sabar ya Dear terloph nunggu Up selanjutnya dari Ei...


400 like Ei usahakan up lagi deh pagi 😘


Zen : Malak nih🤔


Thor : Sekali- kali 😁


Zen : bentar thor, pinjem dulu jempol tetangga 😁


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘