Dear Nolan

Dear Nolan
Akar Masalah



Nolan mengingat Bu Tari. Ya! Nesya mungkin di Panti. Nolan dengan cepat memutar kemudi menuju panti. Karena mengendarai dengan kecepatan tinggi menerobos pagi. Nolan tak butuh lama sampai di depan halaman panti. Nolan bernafas lega seperti keluar dari air, melihat mobil Nesya yang terparkir di halaman dekat dengan rumah Bu Tari.


Ia segera turun dari mobil, dan menuju ke ruangan Bu Tari.


Tok ... tok ... tok


Bu Tari muncul dari balik pintu. Nesya langsung memegang pundak Bu Tari.


"Bu Tari, apa Nesya di sini!" tanya Nolan panik.


"Ya Bang No, Nesya disini dari semalam."


Nolan bernafas lega. "Mana dia Bu Tari, kenapa dia pergi tanpa pamit."


"Ayo Bang No ikut saya." Bu Tari berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Bu Tari menunjuk Nesya yang terduduk sambil terpejam di sebuah Sofa. Nolan memperhatikan Nesya yang memakai baju yang masih sama dengan semalam.


"Bang No, Billa baru tidur setelah sholat subuh. Dia menangis semalaman," ucap Bu Tari sambil menepis air dari ujung matanya. Semalam Bu Tari juga tak bisa tidur karena mendengar Nesya yang terus sesegukan di sampingnya.


"Bu Tari sebenarnya apa yang terjadi pada Nesya?" tanya Nolan.


"Bang No, bila sudah tahu siapa orang tua kandungnya yang selama saya dan orang tuanya rahasiakan."


"Jadi Nesya, bukan anak yatim piatu?" tanya Nolan lagi.


"Bukan! Billa anak kandung seseorang yang juga menyayanginya. Tapi Billa masih belum bisa menerima kenyataan untuk itu. Dia sangat terpukul."


Sebenarnya Nolan ingin bertanya lebih jauh. Tapi apa itu tidak terlalu berlebihan mencampuri urusan Nesya yang belum sah jadi istrinya.


"Bu Tari, Saya ingin mengangkat Nesya biar tidurnya lebih nyaman," ucap Nolan.


"Bawa ke kamar Bang No," ucap Bu Tari.


Nolan mengambil tubuh Nesya yang lemas karena tertidur. Ia mungkin sangat mengantuk karena tak terbangun sama sekali meskipun sudah di angkat oleh Nolan.


Nolan membaringkan Nesya dengan pelan di ranjang. Ia mengamati wajah Nesya yang pucat dan manis ketika tidur. Nolan mencium pelan kening Nesya karena tak tahan melihat wajah lembut Nesya.


Ia akan menunggu Nesya sampai terbangun. Bi Tari menceritakan semua tentang tadi malam kepada Nolan. Nolan jadi ikut sedih merasakan pasti untuk saat ini perasaan Nesya sedang sangat sakit. Ia merasa di telantarkan oleh ibu kandungannya. Ia juga menghubungi keluarga Nesya agar tak cemas dengan keadaan Nesya yang sudah ia temukan. Ia juga meminta agar keluarga tetap tenang dan membiarkan Nesya sendiri untuk sementara waktu.


"Bu Tari, apa aku tertidur terlalu lama. Siapa yang membawaku ke dalam, apa mang maman. " Nesya masih mengucek matanya muncul di ruang tamu.


Bu Tari dan Nolan langsung spontan menoleh. Nesya memperhatikan siapa yang sedang bersama Bu tari. Entah kenapa ia sangat ingin bersandar pada orang yang sekarang ada di depannya. Nesya kembali mengingat masalahnya, dan matanya kembali basah dengan tetesan air mata. Nolan berdiri dan mendekati Nesya.


Nolan menghapus air mata Nesya yang menetes. Sungguh ini untuk pertama kalinya Nolan melihat sisi lain dari Nesya. Ia tak pernah melihat kekasihnya bisa serapuh ini. Hati ikut perih melihat keadaan Nesya.


"Aku cemas banget nggak dengar kabar dari kamu semalaman," ujar Nolan.


Nesya langsung menyadarkan kepalanya di pundak kekasihnya, ia merasa sekarang Nolan lah orang yang bisa ia jadikan sandaran. Nolan mengajak Nesya untuk duduk. Nolan merangkul pundak Nesya mencoba menenangkan.


Nesya menggelengkan kepalanya. "Disini rumahku, aku akan tetap disini."


Nolan saling pandang dengan Bu Tari.


"Nesya terlepas apa yang terjadi, mereka berdua sangat mencemaskan kamu!" Nolan masih membujuk Nesya.


Nesya meletakan kunci mobil di meja. "Bang No, aku minta tolong. Suruh Jono atau siapapun kembali mobil ini pada Bu Serena."


"Nesya! biarkan Tante Serena menjelaskan pada kamu apa yang terjadi. Kamu jangan seperti ini."


"Kalau hanya untuk menebus rasa bersalah untuk apa Bang No, seperti apakah seharusnya seseorang ibu. Dia akan melakukan apapun untuk anaknya bukan. Seorang ibu akan mengorbankan apapun untuk anaknya kan, tapi tidak dengan ibuku dia membuangku. Sepuluh tahun kemudian dia datang dan menjadikan dirinya seperti malaikat untuk anak yang sudah dia buang!" Nesya mengatakan dengan begitu emosi.


Nolan sadar saat ini perasaan Nesya sedang kalut. Ia butuh waktu untuk bisa menerima semuanya.


"Nesya tidak ada ibu yang tidak menginginkan anaknya. Mungkin Bunda kamu punya alasan." Nolan membujuk Nesya.


"Bukan seperti itu Nak, Bu Serena bukan seperti itu Nak." Bu Tari mencoba menenangkan Nesya.


"Seperti apa Bu Tari! Bu Serena tidak mengakui semua perbuatannya. Datang seolah menjadi malaikat untuk anak yang dia buang! seperti itulah kenyataannya Bu Tari!"


"Nesya!" Suara dari ambang pintu yang mengagetkan semua di ruang tamu.


Adrian masuk ke ruang tamu bersama yang lain. Nolan juga memberitahukan keberadaan Nesya pada Adrian. Adrian salah satu orang yang cemas Nesya pergi tanpa kabar.


"Semua tidak akan terjadi pada Seren, jika bukan karena aku Nes. Akulah akar masalah dari masa lalu Seren." Ungkapan Adrian sukses membuat semua mata berpaling melihat ke arahnya.


.


.


.


.


.


.


TBC...


Jeng ... jeng ...jeng


Ei udah Up 3 bab... Ei nafas dulu ya...🤧🤧 nyesek


Jangan lupa tinggalkan like komen vote 😘😘 nanti Up lagi