Dear Nolan

Dear Nolan
Berbagi Tips



Nolan sudah tiba dirumahnya, ia langsung melangkah masuk dengan langkah ringan. Di rumahnya kini, semua orang juga mulai sibuk mengurusi Pernikahannya. Terutama sang Mama yang setiap hari harus bertengkar dengan WO karena ketidak cocokan masalah pendapat dengan Bu Serena.


Nolan menyadari mempersiapkan pernikahannya kali ini, jauh lebih rumit dan sibuk dari pada pernikahan kakaknya dulu. Tapi Nolan bersyukur tidak dilibatkan masalah Pernikahan. Meskipun sesekali di mintai pendapat masalah pakaian yang akan di kenakan, tapi selebihnya ia mengikuti saja keinginan keluarganya yang mengadakan pesta pernikahan besar. Bahkan keluarganya juga menolak dana yang di berikan Nolan. Mungkin uang yang di berikan Nolan hanya di anggap tidak seberapa. Bukannya apa, Nolan sudah terbiasa hidup mandiri tanpa mengandalkan orang tuanya meskipun kaya.


Tapi untuk kali ini, Nolan mengalah saja keinginan orang tuanya. Toh ... keluarga Nesya juga menginginkan pesta besar. Apalagi Pak Hendrawan, sekarang ia malah sibuk memastikan pesta pernikahan Nolan nantinya adalah pesta yang termewah di kota ini di tahun ini. Dimata Nolan apa yang dilakukan keluarga terlalu berlebihan. Tapi begitulah cara kaum sosialita menunjukkan keunggulan keluarganya.


Ia urungkan niatnya yang ingin menegur Papanya yang sibuk menelepon. Ia melangkah saja menaiki tangga menuju kamar. Belum sempat masuk ke dalam kamar, ia melihat Davin yang sedang mengendong Arzen di balkon utama lantai dua.


Kakaknya mungkin baru tiba tadi pagi. Kedua kakaknya akan menginap dua minggu untuk acara pernikahan Nolan.


"Arzen tidur?" tanya Nolan yang sengaja mendatangi Davin.


"Hai uncle, Arzen jenuh di kamar. Makanya aku ajak keluar," balas Davin.


"Udah mau senja Bang, nggak baik diluar rumah. Sini! Aku mau gendong Arzen." Nolan meraih saja tubuh mungil dari gendongan ayahnya.


Keduanya masuk ke dalam ruangan dan duduk bersantai di sofa ruang tengah. Nolan tak henti bercanda dengan Arzen, di iringi tawa bayi mungil ini yang membuat Nolan lupa lelahnya mengurusi Pernikahan.


"Bentar lagi kamu juga bakalan punya yang kayak Arzen No," ucap Davin.


"Ya mudahan Bang," jawab Nolan.


"Oh ya Bang, ada referensi tempat honeymoon nggak, pulau pribadi kayak abang dulu juga nggak apa-apa, aku nggak bakat cari tempat romantis." Nolan sebenarnya malu bertanya seperti itu, tapi sepertinya ia bertanya pada orang yang tepat.


"Jadi kamu belum dapat tempat berbulan madu? pernikahan kamu tinggal seminggu lagi No!" seru Davin kaget. Waktu ia nikah tempat untuk berbulan madulah yang pertama ia cari.


"Ya Bang, aku takut nggak sesuai keinginan Nesya. Tapi tadi dia bilang ingin ke pulau ada lautnya."


"Mau di dalam atau luar negeri? tapi di negeri kita banyak kok pulau - pulau keren yang bisa di sewa."


"Ya terserah aja Bang, buat aku pulau apa aja oke, yang penting bisa berdua sama Nesya."


Davin tertawa renyah melihat adiknya. Bisa juga adiknya jadi bucin sama wanita.


"Oke, masalah bulan madu kamu biar jadi urusan Abang, kamu persiapkan stamina aja biar kuat dan fit." Davin lagi-lagi mengoda adiknya.


"Apa sih Bang, pasti kuat lah. Aku rutin olahraga. Sebelumnya makasih Bang udah bantu cari tempat bulan madu."


Davin mengangguk sambil mengacungkan jempol.


"No, kayaknya abang juga Mau berbagi tips buat kamu, biar calon istri kamu nanti cepat hamil." Davinn menepuk bahu Nolan, berkata dengan semangat.


"Maminya mana Bang? ini Arzen amankan dulu, sebelum telinganya mendengar bapaknya bicara hal tak senonoh." Nolan menyerahkan Arzen pada Davin.


"Hahaha ... maminya di kamar, oke, tunggu. Sebentar lagi abang balik." Davin berdiri menuju kamarnya.


Nolan menggelengkan kepalanya, tentu saja dia dan Kakaknya dua manusia yang sangat berbeda. Sebelum menikah dengan Abel, wanita mana yang belum di kencani Kakaknya. Kakaknya mungkin sudah sangat berpengalaman masalah wanita dari model dan tipe manapun. Jam terbangnya sangat kalah jauh dengan kakaknya. Ia saja selama masa puber sampai sekarang hanya dekat dan mau bicara dengan dua wanita. Abel sahabat yang sekarang jadi kakak iparnya dan Nesya wanita yang akan jadi ibu dari anak-anaknya.


Nolan jadi senyum-senyum sendiri, tak menyangka sebentar lagi ia akan jadi suami yang harus bertanggung jawab atas seseorang. Tidak ada salahnya belajar dari kakaknya masalah memahami wanita.


"Jadi gini No," ucap Davin yang datang lagi lebih cepat. Ia langsung duduk di samping Nolan.


"Ya Bang gimana? Bang Davin mau berbagi apa?" Davin sukses membuat Nolan penasaran.


"No, sebentar lagi kamu dan Nesya udah sah, jadi mau ngapain aja udah bisa dan halal. Apalagi mantap-mantap!"


"Apaan sih Bang!" jawab Nolan mendadak salah tingkah.


Ia jadi merindukan Nesya, apalagi sebentar lagi ia tidak bisa bertemu. Karena mengikuti adat keluarga yang sedikit kolot yaitu pingitan. Ia tidak boleh bertemu Nesya selama seminggu sebelum acara akad nikah. Siapa yang tak kesal? lagi sayang-sayangnya pengen di manja calon istri.


Davin menimpuk kepala Nolan, adiknya ini masih saja malu-malu membicarakan masalah mantap-mantap, dia kan sudah dewasa. Apalagi sebentar lagi akan praktek juga. Bagaimana bisa kalau nggak belajar dulu dari yang pengalaman. Eh ....


"Lanjut nggak! di kasih ilmu gratis loh!" canda Davin.


"Ya bang iya," ucap Nolan malu sebenarnya. Tapi tak apalah mendapatkan kuliah gratis.


"Kalo punya istri nanti. Tahan bicara kasar, puji bagian tubuhnya yang kamu suka, buat dia melayang dulu karena ucapan. Setelah dia di atas angin langsung sosor tanpa ampun." Davin malah tertawa melihat wajah polos adiknya.


Nolan menelan ludahnya, ia refleks memegang bibirnya. Ciuman dengan Nesya nanti akan menjadi ciuman pertamanya. Harus berkesan dan indah.


"Setelah itu No, kamu bisa mulai menjalankan tugas benda pusaka. Pelan-pelan, susah buat gol kalau baru pertama. Pasti kamu nggak akan tega lihat istrimu. Tapi tega nggak tega, kamu harus tega asal tetap pelan, jangan buat trauma. Kalau dia truama, nggak dapat doubel malam itu." Davin berkata dengan semangat.


Bukannya bersemangat Nolan malah merinding. Ia takut menyakiti Nesya, tapi namanya suami istri sudah selayaknya menjalani hak dan kewajiban kan.


Nolan hanya menjadi pendengar yang baik sepanjang Davin berbicara dan memberi sedikit tips menjadi harmonis dengan berhubungan suami istri. Nolan ambil saja baiknya dan buang buruknya.


"Abang!" Abel muncul tiba-tiba bergabung dengan dua pria di sofa. Keduanya pun saling pandang dan berhenti membicarakan topik tadi.


"Sini Sayang, Abang lagi berbagi ilmu sama Nolan." Davin meraih pinggang Abel, hingga Abel terduduk di pangkuannya dengan posisi miring. Davin langsung melingkarkan tangan di perut Abel dan menyadarkan kepalanya dengan santai di bawah leher Abel.


Abel sebenarnya malu posisi begini di depan Nolan yang masih melajang. Tapi jika ia tak melingkarkan juga tangan di leher suaminya, ia bisa terjungkal.


Kumandang adzan magrib menyelamatkan mata Nolan dari pemandangan menyesatkan di depannya. Dua orang di depannya mempengaruhi mata pria belum beristri seperti dirinya.


"Bubar yuk, sholat - sholat. Kalian berdua bikin sakit mata orang yang mau nikah!" Nolan bangkit dari sofa.


"Cieh ... cieh emosi, sabar No Bentar lagi juga bisa begini, lebih malah!" Davin lagi-lagi mengoda Nolan.


Abel mencubit paha Davin. "Abang ih ... kasihan Nolan jadi kangen Nesya dia." Davin hanya terkekeh saja.


.


.


.


.


.


.


.


TBC......


Si abang, mentang-mentang udah punya bini, bang No jadi galau kan, mana di pingit pula 🙄


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘