
Nolan mulai panik saat berkendara, karena wajah Nesya tak ketenang tadi. Nolan mulai melihat peluh keluar dari dahi Nesya. Digenggamnya tangan sang istri yang mulai dingin.
Sesekali Nesya meremas tangan suaminya merasakan sesuatu yang lain di perutnya.
"Bang, kenapa mendadak sakit ya!" Nesya semakin kuat meremas tangan suaminya.
"Tuh kan benar apa kata Mama! Nesya udah mau Brojol. Cepat No!" Mama Mitha semakin panik.
"Sabar ya sayang, sakit banget Ya, ini udah mau sampai rumah sakit!" Nolan mengelus perut Nesya sambil dengan gugup ia masih terus melajukan kendaraannya.
"Bang, Ma, makin lama makin jadi sakitnya, Agak cepat sedikit Bang!" Nesya mulai meninggikan suaranya.
Mama Mitha membantu mengelus perut Nesya dari Jok belakang.
"Sebentar lagi Sayang, aku ngebut ya," Nolan jadi semakin panik, bagaimana kalau Nesya beneran udah di jalan.
"Kayaknya udah pembukaan lima, kontraksinya kuat banget Bang! Kalau Brojol disini Bang No bantu keluarkan anak kita Ya!"
"Hush, ngelantur kamu Sayang, bentar lagi kita sampai, kamu tahan sebentar!"
"Udah nggak tahan Bang! Ini kayaknya twins berebutan mau keluar!"
"Jangan Sayang Aku bisa pingsan!"
Karena tidak mau istrinya melahirkan di mobil, Nolan semakin melajukan kendaraannya. Akhirnya Nolan tiba di depan UGD rumah sakit tempat Nesya co-ast.
Dengan sigap Nolan mengangkat tubuh Nesya dan mengendongnya ke ruang UGD.
"Tolong! Istri Saya mau melahirkan!" teriak Nolan ketika di ruang UGD.
Dengan sekejap para perawat mendatangi Nesya dan Nolan sambil membawa brankar. Dengan pelan Nolan meletakkan tubuh Nesya. Tangan Nesya terus mengengam tangan suaminya. Wajahnya kesakitan Nesya membuat Nolan jadi pilu.
"Sakit banget Bang!"
"Sabar sayang!" Nolan hanya bisa mencium kening Nesya.
"Dokter Nesya, sudah terasa kontraksinya ya." Dokter Widya datang dengan terburu-buru.
"Ya dok, mendadak sekali dok."
Ia langsung memeriksa jalan lahir Nesya. "Sudah hampir pembukaan lengkap, ayo kita bawa ke ruang bersalin."
Brankar Nesya pun di dorong menuju lift ke lantai empat. Nesya terus merintih karena merasakan sakit luar biasa' yang baru pertama kali ia rasakan.
"Ini karena perbuatan Abang!" celoteh nyeleneh Nesya sambil merintih.
"Perbuatan kita berdualah Sayang! Kalau aku berbuat sendiri kan nggak jadi!" hibur Nolan.
"Abang!"
Dokter Widya tertawa renyah melihat Nesya. "Sebentar lagi dokter Nesya, ambil nafas biar meredakan sakitnya."
"Kamu istighfar Sayang, tenang-tenang!"
Nesys sudah tak bisa berkata lagi ketika gelombang rasa sakit semakin kita ia rasakan. Desakan sesuatu yang ingin keluar dari jalan lahirnya semakin kuat mendorong.
"Bang, anak kita berebut mau keluar." Nesya mengeratkan genggaman tangannya.
Dokter Widya memeriksa lagi jalan lahir di bayi.
"Ya Nes, mengejan tiga kali kalau sakitnya datang, kepala bayi sudah terlihat."
"Kamu bisa sayang," Nolan membantu mengusap keringat Nesya yang mulai bercucuran. Ia terus mencium kening Nesya
yang mulai mengambil ancang-ancang untuk mengeluarkan baby twins.
Nolan hanya pasrah tangan kanan Nesya menarik rambutnya seperti mau lepas. Dan tangan lainnya mengengam kuat tangannya seperti ingin mematahkannya. Ketika kontraksinya semakin kuat.
"Bang jangan ketawa ya, melihat wajahku yang cantik ini jadi berubah aneh waktu mengejan."
Nolan hanya mengeleng, bisa-bisanya Nesya berbicara seperti itu saat kondisi mendesak seperti ini.
Nesya mulai mengikuti instruksi dokter Widya, sekuat tenaga Nesya mengeluarkan bayinya.
Sedangkan Nolan hanya bisa berdoa dan pasrah ketika serangan kuku singa mulai turun dari rambut ke wajah.
Ia malah ingin sekali mengantikan posisi Nesya yang kesakitan ini, jika bisa.
Tangisan bayi yang meleking terdengar, Nesya bernafas lega. Satu bayinya keluar dengan selamat.
"Selamat, Bayi pertama laki-laki dok."
"Alhamdulillah," seru Nesya dan Nolan bersamaan.
Kondisi Nesya sudah sangat kelelahan, tapi perjuangan belum usai karena si kembar yang satu sudah memunculkan kepala untuk di keluarkan.
"Ayo Sayang, satu lagi! Kamu bisa!" Nolan terus mengusap kepala Nesya yang banjir keringat dan tak mampu berkata apa-apa.
Dengan sisa tenaga yang ada, Nesya berusaha mengeluarkan satu bayinya lagi dengan bantuan dokter.
"Sakit Bang!" Tangan Nesya kembali meraih kepala suaminya untuk mendekat ke wajahnya.
Nolan pun mengikhlaskan telinganya yang seperti mau putus karena sekarang dijewer keras oleh istrinya.
"Oe ... oe ..." Dengan mengejan keras, bayi twins perempuan akhirnya keluar dengan tangisan melengking.
Nesya melepas tangan suaminya yang di gigit kuat-kuat saat megejan terakhir tadi. Nolan mengelus tangannya yang usai di Gigit induk macan sebelum mengendong bayinya.
"Dua bayinya sehat dokter Nes, Anda hebat." Dokter Widya menyerahkan bayi twinslaki-laki pada Nolan.
Dengan linangan air mata ia meraih tubuh mungil itu. Ia tidak menyangka sekarang menjadi ayah dari darah dagingnya sendiri. Segeralah di kumandangkan azan di telinga kanan dan Iqamah di telinga kiri. Nolan menciumi pipi bayi mungil yang beratnya masing-masing 2.1kg itu.
Dokter menyuruh Nolan untuk memberikan bayi nya pada Neysa untuk melakukan IMD. Lanjut ia meraih bayi perempuannya mengadzani ditelinga kanan dan Iqamah di telinga kiri seperti kakaknya.
Kedua bayi kembar kini menempel di dada Nesya. Rasa sakit dan lemahnya seolah hilang melihat kedua bayinya. Air mata bahagianya tak sanggup lagi ia bendung.
"Terimakasih sayang, sudah bertaruh nyawa untuk melahirkan twins ke dunia," ucap Nolan terus menciumi kening Nesya dan kedua bayinya.
"Ya Bang! Anak mirip siapa sih ini, aku berharapnya salah satu mirip jaehyun, kenapa aku lihat-lihat pada mirip Abang semua sih." Keluh Nesya.
"Ya ampun Sayang, bapaknya kan Aku! Masa mirip siapa tadi kamu bilang."
"Jaehyun! Ya Bang, nggak usah marah, aku kan bercanda!"
"Kamu sih kita Lagi Serius kamu malah aneh-aneh."
"Oe ....oe...!" kedua bayi kompak menangis.
"Tuh, anak kita nggak terima kalau ayahnya marah." Rengek Nesya manja sambil menepuk punggung menenangkan bayinya.
"Bukan sayang! anak kita nggak terima disamakan dengan laki-laki idola kamu di bandingkan ayahnya. Sini Ayah mau gendong!" Nolan meraih satu bayinya yang menangis.
"Abang tetap hot Daddy paling ganteng kok."
Nesya hanya tersenyum kecut melihat suaminya yang selalu cemburuan. Tapi ia begitu bangga, Nolan yang tergolong Daddy baru, bisa dengan cekatan tanpa gugup mengendong bayi lahir.
Mungkin suaminya sudah terbiasa membantu bayi-bayi terlantar di panti asuhan. Sehingga tidak ada kecanggungan mengendong bayi baru lahir. Ajaibnya bayi perempuan Langsung tenang dalam dekapan ayahnya.
"Abang nama bayi-bayi kita udah siap belum?"
"Udah sayang! Nanti kalau sudah pindah ruangan kita umumkan pada keluarga kita."
Nesya mengangguk, bayi-bayi Nesya di ambil lagi oleh perawat untuk melakukan pemeriksaan sebelum di bawa ke ruang rawat inap. Nesya juga masih menyelesaikan perawatan dan pemulihan pasca melahirkan sebelum di pindah ke rumah rawat inap.
Nolan pun di persilahkan keluar untuk menemui keluarganya sambil menunggu Nesya menerima perawatan.
Nolan keluar dari ruang bersalin, ia terkejut semua keluarganya dan keluarga Nesya berkumpul di depan.
"No, Nesya gimana? Bayinya gimana?" ucap Bunda Serena panik karena tak bisa masuk.
"No, Nesya dan cucu Mama baik-baik saja kan, tadi kita susah mendengar suara bayinya," desak Mama Mitha.
"Semuanya, ini memang sangat mendadak sekali di luar prediksi, tapi Alhamdulillah Nesya dan kedua bayi kita sehat dan selamat." Seru Nolan.
"Alhamdulillah," seru semua orang yang ada di depan ruang bersalin.
.
.
.
.
.
.
.
TBC .....
aduh Ei jadi seneng sendiri ya,😘😘😘😘 foto baby twins nyusul Ya deat.