
Di perjalanan Nesya hanya diam, berbeda dengan tadi pagi sebelum mereka sarapan. Nolan mengenggam tangan Nesya yang melamun melihat ke arah jendela mobil.
"Tumben diam?" tanya Nolan membangunkan lamunan Nesya.
"Nggak apa-apa kok," Nesya bergelayut di lengan suaminya yang menyetir.
"Kamu kepikiran, omongan Mama?" tanya Nolan lagi.
"Sedikit," Nesya bangun dan kembali duduk bersandar di kursinya.
"Aku tuh serba salah mau ngomong sama Mama Bang. Mau ngomong gini salah, ngomong gitu salah. Aku tahu mama mau anak dari aku, tapi kondisi sekarang, tidak memungkinkan aku hamil, aku tuh dokter koas yang harus jaga dua puluh empat jam, kadang nahan lapar, nahan haus, kadang nahan ke toilet, kadang juga nahan nafas, oh yang terakhir lebay," ucap Nesya.
Nesya meraih tangan Nolan. "Seperti yang udah aku bilang di awal kan Bang No, aku mau ketika hamil aku sudah tidak punya beban dan hanya fokus pada kehamilan," ujar Nesya.
Nolan menepikan mobilnya di pinggir jalan, ia merasa, sepertinya harus bicara dengan istrinya. Ia mengengam balik tangan Nesya.
"Nes, kamu percaya kan sama takdir Allah. Ketika kita mencegah seperti apapun, kalau Allah sudah memberi kepercayaan sama kamu untuk di beri amanah pasti itu akan terjadi juga. Justru sebaliknya, ketika kita berusaha mati-matian tapi Allah belum mempercayai kita untuk di titipkan amanah pasti itu nggak akan terjadi." Nolan hanya mencoba memberi pengertian pada Nesya tanpa menyinggung keputusan yang di buat istrinya.
"Aku bukannya berpindah haluan nggak mendukung keputusan kamu Sayang. Aku hanya nggak mau kamu terbebani dengan semua ini. Kamu cukup pasrah aja Nes, Lagipula kalau Allah meqodar kamu hamil waktu dekat. Allah pasti sudah memberi pilihan yang terbaik. Kamu harus yakin, Allah pula yang akan melindungi dan menguatkan hambanya yang di amanahi," Nolan melakukan salah satu tugasnya memberi nasehat mendadak pada istrinya.
Tidak bisa dipungkiri Nolan juga mengharapkan kehamilan Nesya. Tapi caranya tidak seperti Mama Mitha yang terlalu menuntut. Tapi disisi lain, ia juga tidak mau mengikari janjinya pada si istri. Ia selalu siap, kapan saja istrinya ingin memulai program kehamilan.
"Ya Bang," jawab Nesya. hanya itu yang bisa ia jawab, ia butuh waktu merenungi perkataan suaminya.
"Kita jalan lagi." Nolan menarik tuas transmisi, menjalankan kembali mobilnya ke jalan raya.
Perjalanan kembali tenang dengan pergantian obrolan dengan topik yang lain. Tanpa terasa mobil Nolan sudah berhenti di depan lobby rumah sakit.
"Aku turun dulu," Nesya melepaskan seat belt, ia meraih punggung tangan suaminya lalu menciumnya.
Nolan membalas mencium kening si istri, "Kalau mau pulang kabari," ucap Nolan. Nesya mengangguk dan turun dari mobil.
Lambaian tangan Nesya mengantarkan kepergian suaminya. Nesya segera masuk ke rumah sakit, ia bersiap melakukan tugasnya yang mungkin hanya membantu dokter bedah penganti dokter Rakha di ruang praktek.
"Pagi," Nesya duduk di sampingnya masih malas menganti baju.
"Oh ya Dok, ada titipan dari apotek," Selia menyerahkan obat dengan dua strip berisi dua pil.
"Oh ya, makasih Kak Sel. Baru mau ambil di apotek," balas Nesya meraih obat pesanannya.
"Suaminya kelepasan ya Dok," goda Selia menyenggol siku Nesya
"Kak Seli mau tau aja," balas Nesya dengan tawa kecil.
Ya, pagi-pagi sekali Nesya sudah memesan pil Kontrasepsi darurat. Sepengetahuan Nesya, Guna pil kontrasepsi darurat ini untuk mencegah terjadi indung telur yang akan dibuahi setelah berhubungan suami istri. Harusnya di minum secepatnya setelah berhubungan, tapi masih bisa dicegah maksimal 72 jam. Nesya membolak-balikkan pil itu, kenapa ia jadi ragu untuk meminumnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC .....
jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘 kasih bunga juga Boleh 😘