
Nolan mondar-mandir di kamarnya, ia tidak tenang sekarang. Sudah puluhan kali ia menelpon Nesya tapi tidak ada jawaban. Apalagi membalas pesannya. Ia berpikir positif mungkin Nesya sudah tidur. Tapi tidak biasanya dia tidur dulu tanpa mengirimkan pesan. Mungkin dia kelelahan dan lupa mengirim pesan. Nolan berusaha meyakinkan dirinya.
Ia pun menuju tempat tidur dan mencoba memejamkan mata. Ia menarik selimut sampai ke dada mencoba tidak panik. Sudah berusaha memejamkan mata, tetap saja dia bolak-balik memeriksa ponselnya. Nolan melihat ponselnya lebih sering dari biasanya. Nihil, tidak ada satu pesan pun yang masuk dari Nesya. Pesannya pun belum ada satupun yang di baca.
Kemana kamu Nes? Kenapa nggak hubungi aku dulu sebelum tidur.
Ia mencoba berpikir positif, tapi tetap saja ia tidak bisa tenang sebelum mendengar suara Nesya. Tak biasanya dia tidur cepat usai magang. Ia biasanya menulis kegiatan selama di rumah sakit sebelum tidur.
Nolan masih berusaha memejamkan matanya dan berharap pagi segera datang agar dirinya cepat menemui Nesya. Kali ini matanya saja yang terpejam tapi hatinya tidak.
...****************...
Ditempat yang berbeda, Nesya sudah kehilangan arah. Ia tak tahu harus mencari kebenaran dimana lagi mengenai dirinya setelah tahu semuanya. Tidak mungkin ia ke rumah Adrian, pasti bundanya dengan sangat mudah menemukannya.
Nesya memutar kemudi menuju panti asuhan tempatnya berasal. Tepatnya, tempat ibu kandungnya meninggalkannya. Nesya terus menyeka air matanya yang tak berhenti menetes. Ia mencoba memandang jalan dengan tenang meskipun pikiran sedang gelap.
Mobil Nesya masuk ke halaman panti di malam yang sangat larut ini. Nesya turun dari mobil dengan keadaan dirinya yang entah seperti apa sekarang, karena ia tak berhenti menangis sejak membaca keterangan kelahiran itu.
Tok ... tok ... tok Nesya mengetuk pintu kamar rumah Bu Tari.
Nesya terus mengetuk pintu tanpa perduli sudah semalam apa sekarang. Dalam pikiran Nesya sekarang, ia hanya ingin tahu kebenaran ibu kandungannya.
Bu Tari dengan keadaan setengah mengantuk muncul dari pintu. Ia mencoba menyadari Nesya yang datang kerumahnya.
"Billa ... ngapain semalam ini kami kesini." Bu Tari nampak terkejut melihat kedatangan Nesya selarut ini. Terlebih kondisi yang terlihat sangat lesu dan sedih, tidak seperti Nesya yang di kenalnya.
"Ayo masuk Billa," Bu Tari merangkul Nesya yang hanya mematung untuk menuntunya masuk ke dalam rumahnya.
Keduanya duduk di sofa, Nesya masih tak berhenti menangis. Hal ini membuat Bu Tari semakin kuatir melihat keadaan Nesya.
"Billa, kenapa kamu semalam ini datang kesini, kenapa juga kamu seperti ini, nak" Bu Tari menghapus air mata Nesya.
Nesya hanya diam belum memberi jawaban.
"Nak, ada apa sebenarnya. Cerita sama ibu." Bu Tari mencoba lagi berbicara dengan Nesya.
Nesya menatap Bu Tari. "Bu Tari. Apa benar Bu Serena, ibu kandungku.
"Tidak ada yang bisa tutupi lagi Nak. Ya Nak, ibu Serena adalah ibu kandungmu yang menitipkan kamu pada ibu Dua puluh satu tahun lalu."
Hati Nesya seperti di sayat. Ia tidak pernah merasakan rasa sakit seperti sekarang. Dalam pikiran Nesya hanya bisa berpikir, bagaimana ada seorang ibu yang seperti itu. Bagaimana ada ibu yang tega meninggalkan anaknya pada orang lain. Apakah orang seperti itu masih pantas di panggil ibu.
Nesya menangis sesenggukan karena sesak sekali yang dirasakan di dadanya saat ini. Bu Tari meraih tubuh Nesya, memeluknya mencoba menenangkan. Bu Tari memang sudah menganggap Nesya sepeeri anak kandungnya sendiri.
"Billa, setiap orang punya masa lalu. Bu Serena pasti punya alasan nitipkan kamu sama ibu di sini."
Nesya malah semakin kencang menangis di pelukan Bu Tari mendengar penuturannya.
"Apapun alasannya, ibu seperti apa yang tega meninggalkan anaknya Bu. Apakah ada ibu baik yang seperti itu."
Nesya masih belum bisa berpikir jernih perasaan sakit masih menyelimuti hati dan pikirannya.
"Billa percaya sama ibu. Tidak ada di dunia ini ibu yang ingin menelantarkan anaknya. Semua ibu ingin yang terbaik untuknya anaknya. Begitu pula yang dengan ibu Serena." Bu Tari masih mencoba memberi pengertian pada Nesya.
"Entahlah Bu Tari, tetap saja perbuatannya sulit Nesya terima dan maafkan."
"Billa, ini sudah malam. Sebaiknya kamu tidur dan beristirahat. Besok ibu akan cerita sama kamu, bagaimana kamu bisa di sini." Bu Tari lagi-lagi menghapus air mata Nesya.
Nesya hanya mengangguk, ia cukup sadar diri sudah menganggu ketenangan orang malam-malam begini.
.
.
.
.
.
TBC.....