Dear Nolan

Dear Nolan
Linglung



Ketiganya kini keluar dari bioskop dengan puas setelah dua jam menonton film ala disney. Entah kenapa Nolan tak berhenti menyunggingkan bibirnya karena melihat kencannya hari ini meskipun mereka tidak pergi berdua.


Aline begitu akrab dengan Nolan seolah seperti bapak yang terpisah dari anaknya. Nesya hanya bisa mengekor di belakang Nolan karena langkah kakinya sungguh sulit di imbangi Nesya. Tapi sesekali Nolan berhenti mengimbangi Nesya yang selalu tertinggal ketika berjalan.


"Kita makan dulu yuk," ucap Nolan.


"Bang No, kali ini aku yang pilih tempat makan boleh? aku pengen masakan Jepang."


Nesya bukan nggak mau makan di tempat sederhana seperti saat Nolan biasa makan denganya. Tapi di sedang di Mall sekalian saja makan di Mall.


"Ya boleh, mau makan dimana?" tanya Nolan.


Nesya menunjuk resto makanan Jepang. "Itu, aku pengen makan Oku, ramen, okuzono, shusi, bansan."


Nolan mengeryitkan dahinya. "Nes, itu semua nama makanan?"


"Iya Bang No," jawab Nesya.


"Kayak nama tokoh kartun," jawab Nolan.


"Ih ... namanya juga makanan Jepang, kalau makanan Sunda namanya nasi liwet," seru Nesya.


Nolan memang jarang makan makanan Jepang, Korea atau sejenisnya. Ia lebih suka makan makanan tanah air, jadi wajar makan dengan nama yang aneh dia tidak tahu.


Berada di dalam resto masakan Jepang pilihan Nesya. Ketiganya memilih duduk di kursi sofa dekat pintu masuk. Nesya mulai memencet di iPad yang diberikan pelayan resto. Ia mulai memilih makanan yang sudah dalam isi kepalanya. Untuk Aline dia memesan ramen yang tidak pedas karena Nesya yakin anak kecil seperti Aline tidak suka dengan sushi dan sejenisnya.


"Kamu sering makan disini?" tanya Nolan.


"Jarang, baru berapa kali, biasanya aku juga makan Korean food sama temen aku," jawab Nesya.


"Dimana? cewe apa cowok?" tanya Nolan. Sifat prosesifhya mulai terpancing.


"Random, teman kerja Bang. Kita juga makannya rame-rame. Ada yang sudah Berkeluarga, ada yang sudah punya pacar ada juga yang jomblo kayak aku."


Nolan sudah terbiasa mendengar jawaban panjang dari Nesya untuk pertanyaan yang singkat.


Tak lama makanan yang di pesan Nesya datang. Nesya dengan semangat mengambil sumpit, karena tidak ada sendok di sini.


"Aline makan mie," celoteh Aline mengambil mangkok mie.


"Selamat makan Aline," balas Nesya.


Nolam hanya memandang heran makanan yang di depannya. Jujur saja, Nolan tidak nafsu melihat makanan yang menurutnya aneh. Nolan memilih mengambil mangkok ramen. Setidaknya itu isinya mie, Mungkin rasanya tidak jauh beda dengan bakmi yang ia beli dekat bengkelnya. wadahnya mengunakan mangkok, ia bisa makan menggunakan sendok, tidak seperti Nesya yang sepertinya sudah lihai makan dengan sumpit.


"Coba ini deh namanya Oku, enak." Nesya menyodorkan sumpit di depan mulut Nolan.


"Nggak, kamu makan aja!" Nolan menggeleng melihat daging ikan yang masih merah dan malu juga sebenarnya.


"Buka mulut nggak!" Nesya memasang wajah sedikit garang tapi dilanjutkan senyum manis.


Nolan pun langsung menyambar sumpit di depannya meskipun ada perasaan malu, tapi sepertinya tidak untuk Nesya.


"Enak kan?" tanya Nesya.


"Ya standar sih," balas Nolan.


"Coba Lagi yang ini." Nesya kembali menyodorkan sumpit di depan Nolan. Lagi-lagi Nolan menerima suapan Nesya.


Nolan kali ini menelan dengan ekspresi aneh.


"Enak?" tanya Nesya ragu.


"Kayak ban, masih juga enakan rendang," jawab Nolan.


Nesya mengeryitkan dahinya, ia mencoba memakan daging itu. "Enak kok, emang Bang No pernah makan ban?"


Nolan menengguk gelas di depannya. "Minuman apa ini Nes, kayak rasa-rasa daun." Nolan melihat aneh ke arah Nesya.


"Lidah Bang No kurang oriental banget ya. Ini namanya matcha atau green tea, enak!" Nesya ikut meneguk gelas di depannya.


"Teh tapi rasanya seperti jus daun?" balas Nolan lagi.


"Bukan, memangnya aku mau samain bang No sama kambing kasih jus Daun!" balas Nesya. Nolan terkekeh.


Nolan pun menyuruh Nesya melanjutkan makan, ia cukup sadar tidak akan memang berdebat dengan Nesya.


Setelah cukup mengisi perut ketiganya menuju tempat parkir. Aline kini juga sudah dengan lelapnya tertidur di bahu Nolan dalam gendongannya.


Dengan pelan Nolan menaruh Aline di kursi penumpang belakang. Ia menyelimuti Aline agar tidak terbangun dengan jaketnya yang bersih, kebetulan tertinggal di mobil.


Mobil perlahan meninggalkan mall, menyusuri jalaanan malam kota yang gemerlap indah seperti pasangan di dalam mobil ini.


"Aline nyenyak banget tidurnya, tadi di mall dia kayak nemu bapak yang sudah nggak ketemu bertahun-tahun." Nesya menengok ke arah kursi belakang.


"Kalau Aline aku suka banget sama judesnya, dia mirip banget sama kak Tiara, gemes jadinya," ucap Nesya.


"Kalau kamu punya anak pengen mirip siapa?"


"Mirip bapaknya kayaknya seru?" ujar Nesya.


"Mirip aku dong?"


"Hedehh ... kok mirip bang No? maksudnya anak aku nanti anak bang No juga!" ucap Nesya yang keluar begitu saja.


"Kalau jodoh?" balas Nolan.


Blush. Ada yang memerah wajahnya langsung merona merah.


"Gitu ya?" Ucap Nesya lagi-lagi menutupi rasa meronanya. Nolan hanya bisa mengangguk.


"Btw, makasih ya Bang No untuk hari ini," ucap Nesya.


"Aku juga makasih Nes, kamu udah jadi semangat aku memulai hari."


Blush. Mendadak wajah Nesya merona lagi.


"Aku jadi kayak iklan mie instan aja, penyemangat harimu." Nesya mengelak menutupi rona malu diwajahnya.


Nolan terkekeh pelan. "Bener kata kakak kamu?"


"Apa? kak Adrian buka aib aku ya?" selidik Nesya dengan matanya menatap tajam ke arah Nesya.


"Kamu nggak bisa kalem," ucap Nolan.


"Nanti kalau aku jadi pengantin baru bisa kalem," jawab Nesya.


"Jadi pengen jadiin kamu pengantin biar lihat kamu kalem."


"Kenapa nggak?" balas Nesya menutup mulutnya.


Nolan tidak meneruskan membalas kalimat Nesya. Karena mendadak ia menjadi malu sendiri. Sama halnya dengan Nesya mendadak jadi lebih diam kehabisan bahan pembicaraan.


Mobil keduanya kini tiba di depan halaman rumah.


"Makasih ya sekali lagi untuk hari ini," ucap Nesya.


"Nesya!"


Nesya batal membuka pintu dan berbalik ke arah Nolan. Ia menarik lengan Nesya. Tiba-tiba ada dorongan apa ya membuat ingin mengecup kening Nesya.


Nesya merasakan ada sesuatu yang hangat menyentuh jidatnya. Ia mendadak beku setelah kejadian sekilas itu.


"Be My Angel," ucapan singkat terdengar di telinga Nesya. Nesya masih terpaku dan mencoba mengimbangi dirinya yang oleng seperti selesai tersetrum segat listrik.


"Aku keluar dulu," kata Nesya menjadi salah tingkah.


Adrian mendatangi mobil Nolan untuk mengambil Aline. Ia mengawasi langkah Nesya yang terlihat sempoyongan melangkah setelah turun dari mobil.


"No, Nesya kamu apain jadi linglung gitu," ucap Adrian menunjuk Nesya masuk ke dalam rumah.


"Nggak di apa-apain Pak," jawan Nolan jadi mendadak cemas. apa yang dilakukannya tadi salah ya?


"Awas aja kalau Nesya kenapa-kenapa? ya udah balik sana makasih ya." Adrian mengambil Aline dari gendongannya Nolan.


.


.


.


.


.


.


.


TBC....


Nesya segitunya ya😘😘😘


Jangan lupa tinggalkan jejak dear like koment vote 😘