
Please area 21+, bijaklah mencari bacaan. Part ini di sponsori oleh kompor runai dua tungku.
Kalian yang belum cukup umur skip aja ganti baca buku pelajaran biar tambah pinter.
Nolan pun tidak bisa berbaring - baring dengan tenang. Pasalnya, sudah 30 menit dari waktu ia selesai mandi. Nesya juga belum keluar dari kamar mandi. Sebenarnya apa yang di lakukan istrinya di dalam kamar mandi. Tidak mungkinkan dia tenggelam dalam bath up.
Nolan akan menunggu sampai sepuluh menit, kalau dia belum keluar juga, ia akan memaksa masuk kamar mandi. Kalau perlu ia ikut mandi lagi sekalian. Sudah halal juga, mau ngapain aja dengan istri nggak masalah.
Dari balik pintu kaca yang tertutup tirai, Nesya masih berdiri di depan kaca wastafel. Sudah lebih empat kali ia menganti baju yang akan ia kenakan. Ya, tas yang di bawa dari rumahnya, berisi baju yang kurang bahan. Ini pasti ulah bundanya, tapi bukan! pasti ini ulah Ninda. Mungkin manusia satu itu sengaja menukar isi tasnya. Nesya mulai frustasi, memang setelah ini ia akan polos. Eh .... Tapi ia ingin tampil elegan dulu di depan suami. Bukan tampilan mengiurkan seperti ikan salmon yang siap di terkam kucing.
Setelah memilah-milah pakaian yang berserakan di meja wastafel. Nesya memutuskan memakai dress tidur berbahan satin. Meskipun motifnya corak macan tutul, tapi itu tidak terlalu terbuka seperti yang lain. Hampir pakaian yang di dalam tasnya, lingerie yang mirip-mirip jaring ikan.
Ada juga pakaian dalam yang hanya tali, sama sekali tidak menutupi bagian tubuhnya, ini lebih mirip dengan bandana milik Aline. Nesya langsung membuang jauh-jauh, benda aneh itu. Ia menatap wajahnya di cermin. Menambahkan lip blam aroma Cherry. Tak lupa ia menghembuskan nafasnya di tangan lalu membau aromanya.
Perfect nggak sia-sia gosok gigi tiga kali.
Nesya melihat lagi bayangan di cermin, "malam ini aku harus seperti macan." Nesya menampakan wajah garang dan menirukan cara berjoget penyanyi yang ada embel-embel macan di depan kaca. Kepercayaan diri Nesya muncul ketika sendirian. Entah nanti sudah di kamar berdua, pasti ia langsung menciut karena tak kuat melihat pesona suaminya.
Dengan langkah semangat, ia mengatur nafas dan membuka pintu kamar mandi. Hawa ruangan yang dingin ini, kenapa membuat Nesya jadi panas dingin. Di tambah lampu di area tempat tidur menjadi lebih suram remang-remang. Nesya mendongak ke arah tempat tidur. Nesya melihat suaminya yang sudah terbaring.
Apa aku di tinggal tidur? karena kelamaan di kamar mandi? Neysa melihat ke jam dinding. Pukul 23.15. Tadi dia masuk kamar sekitar pukul sepuluh lebih. Berarti ia hampir satu jam di kamar mandi.
Nesya mempercepat langkah kalinya menuju ranjang. Nesya memperhatikan Nolan yang sudah memejamkan mata.
Astaga, aku ditinggal tidur! kelamaan di kamar mandi sih, mungkin Bang No kecapean. Berarti malam ini kita nggak jadi untuk Nana Nini. Nesya mendadak kecewa, padahal dirinya juga kelelahan. Tapi tak seharusnya istrinya di tinggal tidur. Ini kan malam pertamanya tidur satu ranjang. Nesya menyibak selimut dan menaiki ranjang dengan kesal.
Nolan langsung membuka mata ketika merasakan ranjangnya bergerak.
Nesya tersentak ada tangan yang menarik pinggangnya. Ia pun bisa merasakan wangi segar khas sampo seperti yang ia pakai. Nesya bisa merasakan hembusan nafas hangat di lekuk lehernya. Ia jadi kembali merinding merasakan kulit hangat sangat dekat dengannya.
"Kamu mandi apa tenggelam sayang, lama banget."
"Maaf. Aku malah kira Bang No udah ti-dur," ucap Nesya. Ia merebahkan kepalanya di dada suaminya.
Nolan mempererat tangan yang melingkar di perut Nesya. Ia menyibakan rambut istrinya yang menutupi pundaknya, ia mencium pundak istrinya, menghirup aroma tubuhnya yang manis dan begitu membangkitkan rasa panas dalam tubuhnya.
"Aku nggak mungkin ninggalin kamu tidur Nes," ujar Nolan pelan di telinga Nesya.
"Baguslah kalau be-gitu," ucapnya senang dengan sedikit terbata. Nesya mulai berbicara kacau karena ia merasakan desiran hangat menyelimuti tubuhnya dari setiap kecupan di lekuk lehernya.
"Nes, kamu masih capek? Malam ini kamu mau istirahat dulu atau kita ...." Nolan tak meneruskan ucapannya, ia tak mau egois memaksa kehendaknya. Baginya untuk hari pertama menjadi suami istri, bisa memeluk Nesya sampai pagi itu sudah cukup.
"Aku nggak lelah, badanku udah agak segar," balas Nesya. Mungkin dengan jawabannya bisa mewakili maksudnya.
Nolan benar- benar terbius dengan Nesya malam ini. Aroma tubuh istrinya yang mengoda, wajah Nesya yang berseri merah alami tanpa makeup, membuat hasrat primitif Pria ini memanas. Tak peduli lelah yang di rasakan, ia hanya ingin istrinya malam ini. Ia ingin menjadikan Nesya miliknya seutuhnya.
Dibelainya dengan sayang pipi Nesya. "Nes, kalau aku ingin kamu malam ini, kamu nggak keberatan kalau kita menunaikan hak dan kewajiban kita." Nolan dengan hati-hati, ia tak bisa menunggu sampai besok pagi, jika Nesya mengijinkan Nolan langsung bergerak cepat.
Nesya langsung mengecup bibir pria mempesona di depannya. Tentu ia siap, sekarang atau nanti ia juga akan melepaskannya dengan suaminya. Nesya melepas kecupan yang belum di sambut suaminya. Nesya mengangguk artinya setuju.
Nolan langsung membaringkan Nesya dengan pelan. Ia seperti di sulutkan api oleh istrinya, karena hawa tubuhnya yang panas. Nolan menciumi kening istrinya, terus mencium setiap centi wajah merona itu.
Nesya memejamkan mata, entah kenapa setiap sentuhan Nolan membuatnya seperti mendapat kejut listrik yang membuatnya ingin melenguh terbuai. Ia tidak lebay, ada alarm alami mengirim ke kepala Nesya untuk menikmati sentuhan suaminya.
Bibir keduanya saling bertemu, Nolan merasakan aroma chery di bibir manis Nesya. Ia mulai menyatukan semakin dalam, tapi Nesya lebih dominan karena selalu membalas ciumannya. indera perasanya mulai menerobos masuk rongga mulut istrinya dan saling membelit disana dengan milik Istrinya.
Bibirnya kini berpindah menelusuri ceruk leher istrinya, mencium setiap jengkal pemukaan kulit putih itu. Nesya mulai mengeluarkan suara-suara eluhan kepasrahan, membuat desiran hangat dalam tubuh Nolan mengebu ingin segera memiliki seutuhnya istrinya. Tangan Nolan secara refleks menyentuh gundukan di dada istrinya.
Punggung Nesya melengkung ketika merasakan sensasi luar biasa ketika tangan suaminya menyentuh tubuh atasnya itu.
Nolan sudah melepaskan kaos yang melekat di badannya. Kini ia menyingkap ke atas dress macan tutu milik Nesya. Dengan cepat dres itu lolos dari tubuh Nesya dan terserak di lantai. Nolan menganggumi pahatan Sang Pencipta yang begitu indah. Nesya hanya bisa pasrah ketika kain pembungkus tubuh atasnya juga mulai lolos dari tubuhnya.
Naluri alami mengiring Nolan untuk membungkam tubuh atas istrinya itu dengan mulutnya. Nesya mencengkeram erat seprei merasakan hal menakjubkan yang belum pernah ia rasakan. Nolan tak menyerah disitu, ia terus menyusuri seluruh permukaan kulit anugerah indah yang diberikan padanya.
Inilah waktunya, menyatukan cinta keduanya Bukti kekuatan akan cinta yang tak bisa ia bendung.
.
.
.
.
.
.
Next.....
Mangap2 seyeng bab selanjutnya ei potong mau ei repisi dulu🙈 daripada review lama🤧
aduh Ei nggak sanggup baca pikiran Ei langsung traveloka.....