Dear Nolan

Dear Nolan
Sapa atau nggak?



Berada di atas motor, tak membuat pikiran Nolan terus fokus ke jalanan. Sesekali teringat saat beberapa waktu lalu ketika bertamu ke rumah dosennya.


Bagaimana tidak seseorang berteriak melihat dirinya, apalagi sambil mengucapkan takbir. Apakah perempuan itu punya indera ke enam yang bisa melihat makhluk astral? Bisa jadi dia melihat jin yang menempel padanya. Perempuan itu sungguh lucu.


Tanpa Nolan sadari bibirnya melebar membentuk senyuman mengingat perempuan itu. Nolan bukan tidak ingat siapa perempuan itu meskipun wajahnya nampak polos tanpa makeup. Meskipun ia tidak terlalu memperdulikan sesuatu yang tidak penting tapi ia gampang mengingat sesuatu. Ia bahkan ingat ada jerawat di atas bibirnya perempuan itu di wajah polosnya, yang dia tak lain adalah si penolong anak kucing.


Sejenak pikirannya menilik ingin mencari tahu lebih. Apakah dia anak dari pak Adrian atau adiknya? tunggu bukankah dia selalu membahasnya masalah panti ketika berbicara dengannya? Siapa dia sebenarnya? Sial, Nolan mengumpat dalam hati, ia selalu saja lupa nama perempuan itu. Syarini bukan! tentu saja bukan. Nas ... bukan juga! masa iya Nasi.


Ia hanya mengingatkan namannya ada huruf N dan Sa. Nolan menggelengkan kepalanya tak mau lagi berpikir tentang nama perempuan itu yang membuatnya pusing.


Langkahnya pagi ini, mendadak ringan. Ia seperti mendapatkan hiburan tersendiri pagi ini ketika bertamu di rumah Pak Adrian.


"Pagi Bos," sapa montir yang melihat kedatangan Nolan. Nolan hanya melambaikan tangan pada Montir-montirnya dan pergi menaiki tangga ke ruangannya.


"Pagi Bang No," Sapa Rika melihat Bosnya menuju ruangan. Ia staff perempuan bagian administrasi. Nolan hanya mengangguk karena Mbak Rika lebih tua darinya.


Nolan segera membuka komputernya, entah kenapa hari ini sejenak ia bisa melupakan wajah di layar komputernya. Bibirnya menyungging lagi mengingat ekspresi perempuan penolong anak kucing. Foto Abel sudah tak terlalu menarik untuk semangat paginya kali ini.


Perempuan itu aneh tapi ...


Nolan tak berani membayangkan lebih. Si penolong anak kucing berhasil membuatnya tersenyum sendiri pagi ini.


Sementara di lantai bawah area workshop, Nesya langsung memasukkan mobilnya ke dalam workshop. Ia turun dari mobil sambil matanya melirik kesana kemari.


Nesya mendapat info sekarang dari kakaknya kalau Nolan adalah mahasiswa skripsi bimbingannya. Nesya mendapatkan sedikit angin segar sekarang. Setidaknya itu cukup membantu.


"Pagi Mbak, ada yang bisa di bantu." Montir menghampiri Nesya. Nesya tersontak kaget.


"Ya, Mbaknya yang waktu itu. Lagi bahagia nggak Mbak." Si montir memainkan mata menginginkan maksud lain.


Tentu saja Nesya tahu itu montir yang pernah ia beri Tip.


Montir SKSD itu mencolek Nesya yang matanya celingak-celinguk kesana kemari. "Mbak, kenapa diam. Mau apa kesini?"


"Mau beli ayam Bakar!" gertak Nesya kesal pada sang montir menganggu aktivitas yang sedang menjadi teropong.


"Waduh! Mbaknya ngantuk Nih."


"Ya jelas mau servis lah, pakai tanya lagi."


"Bisa aja mbaknya. Apa yang rusak Mbak." montir mulai membuka kap mobil.


"Cek aja Mas, katanya tarikannya berat!" balas Nesya.


"Mas, Bosnya sering kesini ya?" tanya Nesya cari kesempatan.


"Ngomong-ngomong Bosnya udah ada pasangannya belum ya. Sepertinya di masih muda." Nesya mulai mengorek info lagi.


"Mbaknya kepo ya," goda si Montir.


Nesya jadi malu, "Nanti saya kasih Masnya tip, kita jadi teman yuk."


Sejenak Nesya berpikir, bisa juga nih si Montir jadi partner misinya. Si Montir akan bertemu Nolan setiap hari, bisalah dia di jadikan mata-mata gitu. Bayangan Nesya dalam hati.


Mas Montir Terkekeh. "Iya Mbak iya. Bang No, kayaknya jomblo mbak. Dia nggak pernah bawa cewek."


Alhamdulillah kita senasib, mak dia jomblo. Teriak Nesya dalam hati sambil mengepalkan tangannya kegirangan.


Sementara di atas lantai dua. Nolan merenggang otot-otot tangannya sambil merebahkan tubuhnya usia membaca laporan penghasilan kemarin.


Tapi matanya terfokus pada satu objek yang mengenakan baju warna pink di workshop. Ia mengamati dengan seksama. Benar! itu adalah si penyelamatan anak kucing. Tapi tampilannya berbeda dengan pagi tadi ketika mereka bertemu. Ia pun menyunggingkan bibirnya lagi. Berapa banyak mobilnya, apakah setiap hari mobile rusak?


Dia ada hubungan dengan Pak Adrian. Apa aku sapa saja dia atau sekedar berkenalan?


Setidaknya ia menunjukkan rasa sopan mungkin kedepannya hal itu bisa bermanfaat untuk skripsinya. Nolan berdiri, tapi dia ragu bagaimana akan bersikap. Bagaimana kalau dirinya tak sadar dan keceplosan melontarkan kata kasar.


Ia duduk lagi ingin membatalkan niatnya. Nolan maju mundur untuk menyapa Nesya. Untuk keduanya kalinya dia akan menyapa lawan jenis, karena perempuan pertama yang berani ia ajak bicara adalah Abel.


Nolan meraih kuaci di atas meja. Ia akan menghitung biji kuaci untuk mengambil keputusannya.


"Sapa, nggak ...." Katanya mulai meletakkan biji kuaci


.


.


.


.


.


.


.


Next


jangan lupa untuk tinggalkan jejak, like koment Vote 😘😘😘 makasih.