Dear Nolan

Dear Nolan
Selalu Salah



Suara azan magrib masih sayup-sayup ditelinga Nesya. Ia mengerjapkan mata berusaha mengumpul kesadarannya. Ia gerakan tangannya yang seperti mati rasa karena berat menahan tumpuan. Kakinya juga terasa kebas karena di tindih sesuatu.


Nesya mendapati suaminya yang masih memejamkan mata di bawah kepalanya. Nesya mengelus rambut suaminya, belum berharap untuk membangunkan suaminya.


Astaghfirullahaladzim, Pikiran langsung mengarah ke ponsel. Pukul berapa ini? Bagaimana ia bisa lupa! Papa mertuanya menyuruhnya pulang sebelum senja.


Nesya berusaha dengan pelan menjauhkan kepala dan tangan suaminya yang melilit erat di tubuhnya. Nesya tahu suaminya masih kurang sehat siang tadi.


Nesya berhasil meraih tasnya, ia melihat puluhan panggilan dan pesan dari papa mertua karena ponsel sengaja di silent. Ia melihat jendela langit mulai gelap. Ini pasti sudah masuk waktu Magrib.


Dengan mengumpulkan semua sikap kuatnya, Nesya membuka pesan dari Papa mertua. Untung saja dia sudah pemanasan melawan hinaan papa mertua. Jadi ia cukup tenang membaca pesan yang berisi hampir semuanya umpatan.


Tamatlah riwayatmu Nesya! Kalau ia pulang kerumah sudah pasti ia akan di maki hidup-hidup!


"Sayang ....," suara lirih Nolan mencari-cari keberadaan Nesya.


"Bang udah bangun. Udah baikan?" tanya Nesya menghampiri suaminya. Nolan hanya mengangguk sepertinya keadaannya belum sepenuhnya sadar.


"Gawat bang! Gawat!" seru Nesya panik.


"Kenapa?" balas Nolan santai.


"Papa ngamuk! Kita berdua ketiduran, lupa kalau hari ini papa ajak kita makan malam diluar!" Masih keadaan panik.


"Oh," balas Nolan santai.


"Ih ... kok gitu saja balasnya Bang! Kita bisa di telanjangi berdua nanti sampai rumah."


"Terlanjur juga Sayang, mau bagaimana lagi. Nanti juga kalau lelah papa diam sendiri."


"Kalau Abang mah enak aja, nasibku Bang! Pasti nanti istrimu semakin di cap menantu durjana!" Nesya masih panik, tahu kan papa mertua. lihat dirinya diam saja, salah! Apa kabar ini, yang jelas-jelas melanggar perintah. Pasti nanti dirinya lagi yang di tuduh memprovokasi bang No untuk melawan papanya.


"Udah sayang! Nggak usah di pikirin. Sekarang kita sholat terus pulang."


"Bang!" Nesya menahan lengan suaminya dengan wajah berbinar masih merasa takut.


"Nggak apa-apa ada suamimu," balas Nolan. Nesya akhirnya mengangguk pasrah, ia sedikit lega.


...****************...


Menempuh perjalanan beberapa menit dari bengkel. Nolan dan Nesya sudah tiba di rumah keluarga Adiguna.


Nesya mengeratkan genggaman tangannya ketika memasuki rumah besar itu. Dari luar terlihat tenang di dalam sana. Tapi entah, apakah setelah masuk, keadaan rumah akan bisa setenang sekarang.


"Baru pulang kalian!" Pak Hendarawan sukses membuat jantung Nesya mau pindah dari tempatnya.


"Iya Pa, papa nggak jadi makan malam?" tanya Nolan dengan santai tanpa melihat ekspresi menyeramkan Papanya.


"Papa kan sudah bilang, Pak Raharja hanya akan makan malam jika papa bersama kalian! Dan kalian nggak pernah bisa menghormati Papa! Kalian selalu buat Papa kecewa! Apa ini yang kalian mau! Papa tidak bisa tenang di Masa pensiun!" Nada suara Pak Hendrawan mengema di seluruh ruangan.


"Maaf Pa, bukan maksud kita seperti itu. Nesya dan Bang No beristirahat karena kondisi keadaan Bang No yang kurang sehat," sahut Nesya memberanikan diri mengeluarkan suara.


"Kalian selalu cari alasan!" ucap Pak Hendrawan semakin keras.


"Pa, tenang Pa. Alasan mereka sudah jelas, keadaan Nolan kurang sehat." Mama Mitha tiba-tiba datang menghampiri Pak Hendrawan mencoba menenangkan.


"Mama benar Pa, yang sudah berlalu biarlah berlalu Pa, Pak Raharja pasti ngerti!" seru Nolan.


"Dalam kondisi seperti ini. Sangat sulit mencari investor! Pak Raharja mau menginvestasikan dananya dengan sukarela. Papa memberikan yang terbaik untuk rekan Papa. Tapi Kalian! sudah membuat Pak Raharja kecewa!" Pak Hendrawan menunjuk Nolan dan Nesya benar-benar marah kali ini.


"Pak, kalau memang dia berniat berinvestasi karena bisnis, apapun yang terjadi pasti tidak ada pengaruhnya Pa!"


"Sekali lagi Nesya minta maaf Pa, kita sama sekali nggak bermaksud ingin mengecewakan Papa," ucap Nesya berusaha membuat suasana tenang.


"Ini semua karena kamu Nes! Kamu yang udah banyak mempengaruhi Nolan! Nolan jadi penurut sama kamu dan pembangkang orang tuanya. Atau itu memang siasat kamu memecah belah keluarga Adiguna dan kemudian ingin menjadi ratu di keluarga kaya seperti mimpi anak panti asuhan!"


Nesya hanya bisa mematung mendengar tuduhan tanpa dasar papa mertua, sakit! itu yang bisa Nesya rasakan.


"Pa, jangan ngawur Pa. Papa sedang emosi makanya bicara ngelantur!" Nolan jadi emosi mendengar ucapan Papanya.


"Memang seperti itu kenyataan No, Nesya mulai mengeluarkan sikap aslinya sebagai anak yang adopsi yang tidak jelas asal usulnya!"


Sungguh! Ini ucapan yang menusuk hati Nesya, ia memanglah menghabiskan masa kecilnya di panti asuhan, tapi ia bersumpah demi apapun, dia selalu mendapat pelajaran hidup yang baik dari penghuni tempatnya tinggal.


"Papa sudah keterlaluan Pa! Papa menanyakan asal usul Nesya. Apa papa tahu, siapa Nesya sebenarnya! Nesya an ...." Tangan Nesya mengengam erat tangan suaminya sebelum bicara.


Nolan melihat ke arah Nesya, Nesya menggelengkan kepalaya dengan linangan air mata yang mulai jatuh di pipinya.


Bagi Nesya, cukup hanya orang yang terlibat tahu aib bundanya. Kebenaran tentang dirinya biarlah menjadi masa kelam yang tak akan pernah di ungkit lagi. Itulah janjinya pada bundanya.


Nolan pun batal melanjutkan ucapannya.


"Maaf Pa, Ma, bukan bermaksud membantah Nesya permisi."


"Sayang kamu nggak apa-apa?" Nolan Panik. Nesya menggelengkan kepalanya dan berjalan cepat akan menaiki tangga.


Entah kenapa ia mendadak jadi begitu emosional menghadapi cibiran apapun tentang dirinya. Biasanya ia selalu tak ambil pusing dan tak terlalu memikirkan omongan buruk tentang dirinya.


Kali ini kenapa dadanya begitu sesak setiap mengungkit ayah kandungannya. Kepalanya mendadak berat, sekepergiannya perdebatan suami dan mertuanya masih saja terdengar ditelinganya. Mendadak kepalanya berat, pandanganya kabur dan tubuhnya melemah.


Kenapa ini? Kenapa rasanya seperti berputar-putar, tolong jangan pingsan di saat yang tidak tepat seperti ini .


Bukkk


"Nesya!" teriak Mama Mitha panik yang menyadari menantunya pingsan di bawah anak tangga.


Nolan yang menyadarkan kepanikan mamanya langsung melihat ke arah istrinya yang sudah tergeletak di lantai.


"Ya Allah Sayang." Nolan berlari menghampiri Nesya dan segera mengangkat tubuhnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC......


Mangap2 dear Ei baru up lagi setelah sekian purnama....🙏🙏🙏🙏🙏