Dear Nolan

Dear Nolan
Berbagi Tips



Setelah acara makan malam, rumah keluarga Adiguna kembali sepi. Hanya ada beberapa orang berpakaian seragam membersikan rumah. Nesya harus membiasakan diri dengan keadaan di rumah mertua sebelum ia pindah ke rumahnya.


Sebelum kembali ke kamar, ia melihat papa mertua yang sedang asyik membaca sesuatu di ruang tengah. Bukan kah ini waktu yang tepat untuk mengambil hati Papa mertua.


"Bang No," Nesya menghentikan langkah Nolan menaiki tangga.


"Papa suka minum teh atau kopi?" tanya Nesya lagi.


Nolan menatap Nesya heran, kenapa istrinya tiba-tiba menanyakan minuman kesukaan Papanya. "Biasa Papa suka teh. Memangnya kenapa?"


"Bang No ke kamar dulu sebentar lagi aku nyusul. Aku mau buat teh untuk Papa. Sejak disini aku belum pernah ngobrol sama Papa."


Nolan sedikit heran, tapi tidak ada salahnya Nesya mengakrabkan diri dengan Papa mertua.


"Ya udah. Jangan lama - lama!" gertak Nolan di telinga istrinya. Nesya menepuk lengan suaminya, semenjak menikah suami jadi jinak sekali pokoknya.


Nesya menuruni tangga menuju dapur. Waw ... dapur rumah keluarga mertua ini memang sangat besar. Di dapur yang besar ini, tentu Nesya binggung dimana letak teh, gula, susu. Tidak ada pula pelayan yang berkeliaran. Ia menggaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia mulai membuka jejeran kabinet dari ujung. Ya, selama belum ada pelayanan yang lewat, Nesya akan menjelajahi isi kabinet atas.


"Hai Nes, cari apa?"


Nesya menoleh ke sumber suara yang tidak asing baginya.


"Kak Abel!" seru Nesya girang menemukan penyelamat. Nesya langsung meraih tangan Abel.


"Kak Abel. Kakak tahu dimana letak teh, kopi dan susu di dapur ini? Aku bingung kabinet banyak."


"Kenapa nggak minta di bikinkan pelayan aja!" tegas Abel.


"Aku mau buat sendiri kak, khusus untuk Papa mertua."


Abel tersenyum manis, manis sekali Nesya membuat teh untuk Papa. "Tunggu sebentar. Aku juga nggak tahu dimana letak gula." Abel menekan tombol di dekat kompor dapur.


"Kalau kamu butuh pelayan tekan tombol ini, terus berbicara."


"Bisa ke dapur bersih sekarang!" kata Abel pada alat yang seperti pengeras suara itu.


Nesya mengangguk mengerti sekarang, begitu caranya kalau memanggil pelayan rumah ini. Setahu Nesya ada dua puluhan lebih Asisten rumah tangga di rumah ini yang lebih sering di panggil pelayan. Tak lama dua orang perempuan datang tergopoh-gopoh.


"Maaf Nona, ada yang bisa di bantu?" tanya wanita dewasa yang terlihat seperti Asisten rumah tangga. Abel menunjuk ke arah Nesya.


"Saya mau buat teh untuk Papa, bisa siapkan bahannya." Kedua perempuan itu mengangguk. Segera meninggalkan Nesya menuju kabinet.


"Sekalian siapkan juga cemilannya ya," sambung Nesya.


Dua orang ART sudah datang meletak perlengkapan membuat teh berserta biskuit kacang.


"Makasih," ucap Nesya.


"Sama - sama Nona." Kedua pelayan tersenyum manis. Abel memperbolehkan keduanya meninggalkan Nesya dan dirinya.


"Kak Abel sendiri ngapain di dapur?" tanya Nesya sambil mulai memasukkan gula dalam cangkir.


"Mau buatkan susu Almond untuk bang Davin."


"Oh ... rajin ya kak," balas Nesya.


"Semenjak pindah ke Ibukota bang Davin sering manja sama istrinya masalah makanan atau minuman."


"Kak boleh tanya nggak?"


Abel menoleh ke arah Nesya. "Boleh, asal jangan soal sejarah aku belum belajar."


"Lah, candaan kita sama!" Nesya terkekeh karena ia juga sering mengunakan ungkapan itu ketika ditanya seseorang.


"Itu aku tahu dari om Adrian," Abel ikut terkekeh.


"Ya udah kita tos, kita satu guru." Nesya mengangkat tangannya.


"Memang kamu mau tanya apa?" Nesya sebenarnya malu, tapi apa salah meminta tips dari Kakak ipar yang sudah menjadi menantu senior di rumah Adiguna ini.


"Kak Abel sama Papa bisa akrab gitu. Ada saran nggak gimana Kakak bisa merebut hati mertua kayak gitu. Jujur sampai sekarang aku sama Papa belum pernah ngobrol." Nesya memberanikan diri bertanya meskipun sebenarnya itu pertanyaan sedikit aneh.


Abel tertawa pelan. "Nesya, Nesya. Nggak ada saran sih untuk hal merebut perhatian metua. Kamu cukup jadi diri kamu sendiri. Mertua, orang tua kedua kita setelah menikah. Jadi sama halnya kewajiban dengan orang tua kita, kita harus hormati, sayangin, buat mereka bahagia, jadi pendengar yang baik untuk mereka. Ya seperti itulah Nes." Tutur Abel.


"Ya kak Abel," jawab Nesya tidak puas dengan jawaban kakak iparnya.


"Dulu aku juga gitu Nes, Papa jutek sama aku karena batal jodohin Bang Davin sama sepupu aku, tapi setelah kita menikah dan seiring berjalan waktu Papa baik sama aku, kita jadi akrab sendiri. Apalagi setelah ada Arzen mereka jadi tambah senang." Abel bercerita dengan semangat.


Nesya membalas dengan senyuman. Lembut, cantik, tegas, anggun, baik, pantes aja kak Abel dulu di cintai jadi rebutan kakak dan adik keluarga ini.


"Nes kamu akan dicintai di keluarga ini dengan cara kamu sendiri, kamu nggak boleh berubah jadi siapapun. Kamu adalah Nesya si dokter cantik periang yang bisa meluluhkan hati keras Nolan. Pasti kamu juga bisa merebut hati semua orang di rumah ini. Kecuali Bang Davin hatinya udah di gadai di samping hati aku!" canda Abel.


Nesya tertawa, Kak Abel selain baik gemesin banget, Untung aja bang Davin yang bisa dapatin hatinya. Coba kalau bukan! Nggak akan ada cerita mengejar cinta suamiku yang sosorable itu.


"Nes," Abel membangunkan Lamunan Nesya yang tertawa sendiri.


Nesya tersentak, "Maaf Kak, lagi keinget suami."


"Ya udah, aku duluan ya! Bang Davin udah nunggu susunya," ucap Abel menunjuk gelas warna putih di tangannya. "Sana temui Papa!" titah Abel.


Nesya mengangkat nampan berisi teh buatan tangannya sendiri berserta biskuit kacang. Ia pun berjalan beriringan dengan Abel tapi berbeda Arah.


Projek memikat hati mertua dimulai, Nesya menyemangati dirinya sendiri. Namanya juga usaha, apapun nanti hasilnya itu urusan nanti.


.


.


.


.


.


.


.


.TBC.......


Sabar dear nanti aku lanjut 😘