
Nesya berjalan menuruni tangga bersama suami tercinta. Kali ini, seperti hari bebas untuk Nolan. Nesya memberikan kebebasan untuk suaminya memilih makanan yang diinginkan untuk makan malam ini saja.
Nolan memutuskan untuk makan malam saja bersama keluarganya. Padahal ia ingin sekali makan sate di luar. Tapi ia tidak ingin merusak masa-masa cleaning food yang diberikan istrinya. Akhirnya ia memilih saja makan bersama di rumah dengan keluarganya.
"Malam Ma Pa," sapa Nolan.
"Malam Nak," sahut Pak Hendrawan dan Mama Mitha bersamaan.
Nesya memilih menunduk dan tersenyum pada kedua mertuanya. Kalau pun Nesya menyapa Papa mertua pasti beliau menganggap dirinya hanya seperti menantu yang tak kasat mata.
Nesya melirik ke arah Mama Mitha yang terlihat lebih pendiam dan ada guratan sedih dimatanya. Kalau Mama Mitha terus begitu, itu terlihat sangat mencolok kalau menyembunyikan sesuatu. Satu-satunya harapan Nesya hanyalah, mama Mitha bisa menahan diri untuk bertindak berlebihan setidaknya setelah pemeriksaan berikutnya.
"Ma, Mama sakit?" tanya Nolan. Ia memperhatikan Mama tercinta yang lebih diam dari biasanya.
"Nggak No, Mama nggak apa-apa. Mungkin Mama hanya lelah saja, biasa faktor usia," jawab Mama Mitha mencoba memaksakan senyum.
"Mama istirahat yang cukup," balas Nolan mulai panik.
Nesya sudah menduga kalau suaminya pasti merasa curiga dengan sikap Mamanya yang terlalu mencolok menunjukkan kesedihan.
"Putramu benar Ma, jangan terlalu banyak melakukan kegiatan dengan ibu sosialita," balas Pak Hendrawan. Mama Mitha hanya mengangguk, beliau sama sekali tidak punya semangat untuk bicara.
Keluarga ini pun melanjutkan acara makan malam dengan tenang.
Entah kenapa Nesya malah jadi merindukan omelan Mama Mitha yang selalu mengajak berdebat masalah anak. Ia jadi tidak tega juga melihat kondisi Mama Mitha yang begitu berubah drastis, Mama mertua seperti kehilangan gigi taringnya yang dipakai menerkam mangsa. Beliau jauh lebih diam dan merenung.
"Oh ya. Papa mau duluan, sebentar lagi Papa mau kedatangan tamu!" Pak Hendrawan meneguk air minumnya.
"Siapa Pa?" tanya Mama Mitha.
"Penerus keluarga Raharja, perwakilan dari grup Rahardja di negeri tetangga. Perusahaan yang berhasil Papa rangkul untuk berkerja sama dengan perusahaan kita di kondisi sulit seperti ini," cerita Pak Hendrawan.
"Papa juga jangan terlalu keras untuk kerja. Inget umur Pa, biarlah bawahan Papa yang ngurus," tegur Nolan.
"Tenang Nak, jutsru Papa mau menjalin banyak relasi untuk kestabilan perusahaan sebelum Papa pensiun."
Nolan hanya menggelengkan kepala, tahu kalau yang ada dalam isi kepala Papanya hanya bisnis dan memperbanyak keuntungan.
"Kenapa bertemu di rumah Pa?" tanya Nolan lagi.
"Biar kita lebih akrab dulu, beliau sangat sibuk, ada waktu hanya weekend, makanya papa undang ke rumah. Mumpung Pak Raharja masih di kota kita," ujar Pak Hendrawan.
"Ma, nanti temui dulu Pak Raharja. Papa siapkan berkas sebentar," sambung Pak Hendrawan. Mama Mitha mengangguk.
Pak Hendrawan bangkit dan meninggalkan Meja makan. Anggota keluarga yang lain masih menyelesaikan makan malamnya.
"Maaf Nyonya," pelayan perempuan menghampiri Mama Mitha.
"Ada apa?"
"Ya sudah!" jawab Mama Mitha. Pelayan itupun segera pergi.
Mama Mitha melihat kearah menantunya yang selesai menghabiskan makan malamnya.
"Nes, kamu bisa gantikan Mama nyambut tamu Papa, Mama mendadak pusing juga pengen ke kamar mandi," ucap Mama Mitha.
Nesya spontan terkejut. Bukannya ia tak mau menuruti keinginan mama mertua, tapi apakah Papa mertua setuju dengan pilihan Mama mertua. Nesya hanya takut Papa Hendrawan semakin acuh padanya kalau tahu dirinya lancang mengantikan Mama Mitha.
"Sayang kamu gantikan mama temui tamu Papa, di keluarga kita perempuan yang biasa menyambut tamu. Papa pasti ngerti." Nolan mengenggam tangan Nesya meyakinkan. Ia tahu kalau Nesya pasti merasa sungkan dengan Papanya.
Nesya mengangguk ketika suaminya yang sudah memberi titah. Ia bangkit menunju ruang tamu.
Seorang pelayan membuka pintu untuk orang itu. Nesya masih menunggu di balik di pintu sesuai arahan Mama mertua.
"Selamat malam Pak, selamat datang di rumah keluarga Hendrawan Adiguna," sapa Nesya pada pria yang muncul dari balik pintu. Ternyata teman Papa mertuanya tidak terlalu tua dilihat dari wajahnya, mungkin pria dewasa itu seumuran dengan kakaknya.
Pria itu tersenyum dengan tatapan terpanah ke arah Nesya. Sungguh wajah perempuan di hadapannya membuatnya teringat wajah seseorang di masa lalu. Tepatnya tatapan matanya yang membuatnya tak tenang bertahun-tahun.
Nesya pun merasa melihat bayangan dirinya ada dalam pria dewasa di depannya. Bagaimana tidak, bentuk dagunya mirip, bentuk hidungnya pun juga, apalagi bentuk alisnya. Alis Nesya memang sudah di lukis, tapi ia begitu hapal bentuk aslinya. Sungguh, jika ini adalah kebetulan. Ini adalah kebetulan yang langka. Bener apa kata pepatah, manusia mempunyai tujuh kembaran di dunia.
"Silahkan duduk Pak, sebentar lagi Papa akan menemui Anda," ucap Nesya.
"I-ya ...," jawab pria itu terbata, masih terkesima dengan perempuan yang ada di hadapannya.
Suara derap kaki terdengar terburu dari belakang Nesya.
"Pak Raharja, selamat datang di gubuk Hendrawan Adiguna," sapa Pak Hendrawan merentangkan tangan pada rekan bisnis barunya.
Nesya berharap Papa mertua tidak beraksi berlebihan melihat dirinya mengantikan Mama mertua yang lagi puyeng.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.....
Nanti Ei lanjut dear 😘😘